Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H itu 31 Agust 2011

Berbagai Argumentasi Bahwa Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432H adalah 31 Agust 2011

.

1.    Taat kepada Ulil Amri

“ Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (penguasa) di antara kalian.” (QS. An-Nisa`: 59)

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda: “ Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa), baik pada sesuatu yang dia suka atau benci. Akan tetapi jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no.7144 dan Muslim no. 1839)

Telah cukuplah landasan dalil di atas sebagai dasar amal kami berlebaran rabu 31 agust 2011. Akan berdampak positif dalam kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat. Tidak menimbulkan kekacauan dan perpecahan di antara umat islam.

Ulama Suriah Prof Said Ramadhan al Buthi menyatakan bahwa perorangan maupun lembaga masyarakat tidak berhak menentukan awal bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. penentuan awal puasa dan Lebaran, menjadi wewenang dan tugas pemerintah, maka perorangan maupun lembaga masyarakat disarankan tidak mengambil wewenang tersebut. , hal itu hanya akan menimbulkan kerancuan dan kebingungan umat. [https://orgawam.wordpress.com/2007/10/14/penentuan-ramadan-dan-lebaran-hak-pemerintah/]

.

2.    Berbagai perhitungan hisab dan kenyataan rukyatul hilal

Berbagai perhitungan hisab dan kenyataan rukyatul hilal menyatakan bahwa hari raya idul fitri memang jatuh hari rabu 31 agust 2011

Lihat https://orgawam.wordpress.com/2011/08/09/mungkin-hari-raya-idul-fitri-1-syawal-1432-h-ini-beda-lagi/

Dan ketika sidang itsbat29 Agust 2011 menetapkan bahwa  1 Syawwal 1432 H bagi Indonesia bertepatan dengan Rabu 31 Agustus 2011, faktanya dari ratusan titik observasi di Indonesia (baik negeri atau swadaya), tak satupun yang melaporkan terlihatnya hilaal. Kecuali dari dua tempat, yakni Cakung (Jakata) dan Jepara (Jawa Tengah), namun keduanya ditolak forum sidang itsbat karena tidak kuat.

.

Berbagai Bantahan Terhadap 30 Agust 2011

.

1.    Klaim rukyat Cakung dan Jepara

Klaim rukyat dari Cakung (Jakarta) dan Jepara adalah kasus salah lihat. Dari peta visibilitas (lihat Gambar atas) dan software simulasi menunjukkan bahwa hilal tidak mungkin terlihat dari Indonesia. Saat matahari tenggelam (sunset, maghrib) di Jakarta pukul 17.53 wib, posisi bulan adalah Azimuth:    273° 22.885′ dan Altitude:    1° 29.767′. Bulan akan tenggelam pukul 18.01 wib, hanya 8 menit sesudah matahari tenggelam.

Gambar bawah adalah visualisasi/simulasi hilal dari Jakarta saat sunset. Dari Gambar di bawah, klaim terlihatnya hilal pada posisi 4 derajat sekian, kemungkinan besar itu adalah planet Venus yang tampak terang di atas Matahari. Posisi Venus saat itu adalah pada  Altitude:    3° 6.483′. Lihat Gambar di bawah ini,

Berikut adalah Catatan Bapak Ma’rufin Sudibyo,

Laporan Cakung berasal dari tim observasi ponpes al-Husiniyah di Cakung (Jakarta timur), salah satu ponpes yang menggeluti ilmu falak secara intens. Saat observasi, Cakung melaporkan telah melihat hilaal pada ketinggian lebih dari 4 derajat sejak pukul 17:40 WIB. Laporan ini ditolak sebab kredibilitasnya sangat meragukan.

Pertama, laporan Cakung didasarkan pada perhitungan dengan sistem pendekatan (hisab taqriby) yang disebut hisab Sullam, yang terkenal dengan ketidakakuratannya.

Kedua, hilaal dinyatakan terlihat pada pukul 17:40 WIB adalah tidak mungkin, karena Matahari saja baru terbenam di Jakarta pada pukul 17:53 WIB sementara secara konseptual hilaal harusnya terlihat pasca terbenamnya Matahari.

Dan yang ketiga, angka tinggi hilaal yang disajikan Cakung sebenarnya bukanlah hasil fakta observasi, melainkan hasil perhitungan semata, dengan cara mencari selisih antara waktu terbenamnya Matahari dengan waktu ijtima’ menurut hisab Sullam untuk kemudian dikalikan 0,5.

Laporan Jepara berasal dari pengamat tunggal di lokasi observasi pantai Kartini Jepara, yang menjadi pos observasi gabungan dari tim Kudus, Demak dan (sebagian) Semarang. Meskipun langit barat di sini relatif lebih cerah (bila dibandingkan dengan Logending), namun terdapat kejanggalan dalam dinamika pelaporan. Dari puluhan pengamat yang melaksanakan tugasnya, hanya satu yang melaporkan hilaal terlihat dengan mata tanpa alat apapun, itupun pelaporan dinyatakan 10 menit pasca ia mengaku melihat. Sehingga disimpulkan bahwa pengamat tunggal tersebut pun merasa ragu dengan yang dilihatnya, karena tidak spontan bersaksi. Sementara perbandingan dengan hasil observasi yang berbasiskan alat bantu justru menyatakan hal sebaliknya.

Sumber: [http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150351186909595]

.

2.    Malaysia dan Singapura

Catatan kami: Klaim rukyat dari Malaysia adalah juga kasus salah lihat. Peta visibilitas menyatakan bahwa hilal not possible. Gambar bawah adalah visualisasi/simulasi hilal dari Butterworth, Malaysia saat sunset 19.26 waktu malaysia. Saat matahari tenggelam (sunset, maghrib) pukul 19.26 tersebut, posisi bulan adalah Azimuth:    272° 53.329′ dan Altitude:    0° 38.141′. Posisi hilal (bulan) bahkan berada lebih rendah dari pada posisi ketika rukyat dari Jakarta, sehingga ini jauh lebih sulit di-rukyat. Bulan akan tenggelam pukul 19.30wib, (4 menit sesudah matahari). Lihat Gambar di bawah ini,

Masih Catatan Bapak Ma’rufin Sudibyo,

Malaysia menetapkan 1 Syawwal berdasarkan dua unsur. Pertama, umur Bulan (yakni selisih antara waktu konjungsi hingga terbenamnya Matahari) telah lebih dari 8 jam. Dan yang kedua, ada yang melaporkan hilaal terlihat.

Unsur pertama merupakan derivasi dari kriteria MABIMS, yang juga dipergunakan di Indonesia, dan sayangnya kriteria ini disusun dengan pendekatan hilaal asumtif, dengan asumsi-asumsi tertentu dan bukan berdasakan fakta observasi yang valid dan reliabel.

Dan unsur yang kedua, jelas merupakan kasus salah lihat. Sebab rata-rata ketinggian Bulan di Malaysia lebih rendah dibanding sebagian besar wilayah Indonesia. Ketinggian Bulan di Malaysia bisa disetarakan dengan tinggi Bulan di Papua karena berada pada satu garis tinggi yang sama.

Keputusan Singapura adalah tidak jelas dasarnya, namun ditengarai merujuk kepada keputusan Malaysia atau Saudi Arabia. Dan karena keputusan Malaysia didasarkan atas kasus salah lihat, maka keputusan Singapura pun terlanjur memasuki ranah kasus salah lihat pula.

Sumber: [http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150351186909595]

.

3.    Follow Saudi

Catatan kami: Klaim rukyat dari Arab Saudi adalah juga kasus salah lihat. Sudah sering Arab Saudi melakukan hal ini (kasus salah lihat), karena otoritas pemerintah-nya yang sembarang menerima klaim rukyat, tanpa validasi. Jelas bahwa peta visibilitas menyatakan bahwa hilal not possible. Gambar bawah adalah visualisasi/simulasi hilal dari Tabuk, Arab Saudi saat sunset. Saat matahari tenggelam (sunset, maghrib) pukul 17.59 waktu setempat, ketinggian bulan bahkan telah minus, yaitu Altitude:   -0° 56.322′ (dan Azimuth:    272° 6.766′). Lihat Gambar di bawah ini,

Masih Catatan Bapak Ma’rufin Sudibyo,

Sementara Saudi Arabia menempati posisi unik. Sebagai negara yang menjadi rujukan, khususnya bagi kawasan Timur Tengah dan Eropa, Saudi Arabia tidak memperlihatkan perilaku sebagai rujukan yang baik dalam hal penentuan 1 Syawwal. Meski terdapat kesepakatan di kalangan negara-negara Timur Tengah mengenai kriteria penanggalan Hijriyyah (yang lebih mendekati konsepsi ilmiah kontemporer dibandingkan Indonesia dan Asia Tenggara), namun Saudi Arabia sering menjengkelkan karena kerap jalan sendiri dan melabrak kriteria yang disepakati. Sementara itu terdapat kesepakatan pula bahwa negara-negara Timur Tengah merujuk ke Saudi Arabia.

Saudi Arabia menggunakan kalender Ummul Qura yang kontroversial, namun khusus untuk penetapan dua hari raya dan awal Ramadhan menggunakan dasar laporan terlihatnya hilaal. Dan pada Senin 29 Agustus 2011, hilaal dilaporkan teramati oleh pengamat dalam wilayah Saudi Arabia. Dengan mudah bisa kita lihat penetapan Saudi Arabia (lagi-lagi) adalah kasus salah lihat. Dasarnya, Saudi Arabia pada 29 Agustus 2011 berada dalam situasi ekstrim sehingga rata-rata ketinggian Bulannya jauh lebih rendah dibanding Malaysia, apalagi dibandingkan Indonesia. Di Makkah saja, ketinggian Bulannya mendekati 0 derajat. Dengan kondisi demikian, intensitas cahaya hilaal di Saudi Arabia jelas jauh lebih rendah dibanding intensitas cahaya senja, tak peduli apakah langit dalam kondisi sangat sempurna sekalipun. Sehingga jelas keputusan Saudi Arabia adalah kasus salah lihat.

Sumber: [http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150351186909595]

.

Berikut Catatan Bapak Mutoha,

Penetapan Saudi tersebut konon berdasarkan pada laporan rukyat hilal pada Senin, 29 Agustus lalu oleh beberapa orang saksi yang telah disumpah padahal saat itu kedudukan hilal baru setinggi 0,5° di atas ufuk saat Matahari terbenam.

Keputusan Saudi menerima ‘klaim rukyat’ dalam kondisi hilal ‘not possible sighting’ menurut kriteria sains ini  memang sudah bisa diprediksi sebelumnya dan itu bukan kali pertama Mahkamah Agung Saudi  bertindak ‘tidak ilmiah’ seperti ini (baca : http://rukyatulhilal.org/visibilitas/indonesia/1432/syawwal/ ) Kontroversi tehadap keputusan Saudi yang kerap kali menerima kesaksian hilal saat ‘not possible sighting’ atau bahkan hilal masih di bawah ufuk memang sudah lama menjadi bahan diskusi para pakar falak dunia di forum Islamic Crescent Observation Project (ICOP) yang berpusat di Jordania dan Forum Moonsighting Committee Worldwide (MCW) yang berpusat di USA.  Sementara di Indonesia yang mayoritas penduduknya  muslim dan banyak memiliki pakar falak ini justru kasus ini tidak begitu populer.

Pada prinsipnya para pakar tersebut menyayangkan sikap otoritas Saudi yang hanya mendasarkan pada pengakuan seorang saksi apalagi saksi tersebut  ternyata hanya orang awam (badui) yang notebene bukan petugas resmi dari kerajaan yang memiliki kompetensi dalam bidangnya. Bahkan setiap laporan saksi tanpa pernah dilakukan klarifikasi dan uji materi tentang validitas laporan tersebut.

Sumber: http://rukyatulhilal.org/artikel/kesaksian-mustahil-rukyat-saudi-syawwal-1432.html

.

Kenyataannya berbagai negara yang berhari raya 30 agust, hampir semuanya adalah “Follow Saudi”. Hanya Malaysia, Nigeria, Turki, Tunisia, dan beberapa kelompok di USA yang tidak ber“Follow Saudi”. Sehingga ketika terjadi kasus salah lihat, maka salah  pula negara-negara yang mengikutinya. Lihat di http://moonsighting.com/1432shw.html

August 30, 2011 (Tuesday):
1.    Afghanistan (Follow Saudi)
2.    Albania (Follow Saudi)
3.    Armenia (Follow Saudi)
4.    Austria (Follow Saudi)
5.    Azerbaijan (Follow Saudi)
6.    Bahrian (Follow Saudi)
7.    Bangladesh (Some areas follow Saudi)
8.    Belgium (Follow Saudi)
9.    Bolivia (Follow Saudi)
10.    Bosnia and Hercegovina (Follow Saudi)
11.    Bulgaria (Follow Saudi)
12.    Canada – Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America OR follow news from other countries
13.    Chechnia (Follow Saudi)
14.    Chile (Local Sighting)
15.    China (Local Sighting that we believe erroneous this time)
16.    Cosovo (Follow Saudi)
17.    Denmark (Follow Saudi)
18.    Egypt – Moon Born before sunset & moon sets at least 5 minutes after sunset
19.    Finland (Follow Saudi)
20.    France (Follow Saudi)
21.    Georgia (Follow Saudi)
22.    Hungary (Follow Saudi)
23.    Iceland (Follow Saudi)
24.    Iraq (Follow Saudi)
25.    Ireland (Follow Saudi)
26.    Italy (Follow Saudi)
27.    Jordan (Follow Saudi)
28.    Kazakhstan (Follow Saudi)
29.    Kuwait (Follow Saudi)
30.    Kyrgizstan (Follow Saudi)
31.    Lebanon (Follow Saudi)
32.    Luxembourg (Follow Saudi)
33.    Malaysia – Age > 8 hours, altitude > 2°, elongation > 3°
34.    Mauritania (Follow Saudi)
35.    Montenegro (Follow Saudi)
36.    Mozambique (Local Sighting)
37.    Netherlands (Follow Saudi)
38.    Nigeria (Announced)
39.    Norway (Follow Saudi)
40.    Palestine (Follow Saudi)
41.    Philippines (Follow Saudi)
42.    Qatar (Follow Saudi)
43.    Romania (Follow Saudi)
44.    Russia (Follow Saudi)
45.    Saudi Arabia (Local Sighting – Official Announcement)
46.    Spain (Follow Saudi)
47.    Sudan (Follow Saudi)
48.    Sweden (Follow Saudi)
49.    Switzerland (Follow Saudi)
50.    Syria (Follow Saudi)
51.    Tajikistan (Follow Saudi)
52.    Taiwan (Follow Saudi)
53.    Tatarstan (Follow Saudi)
54.    Tunisia – Criteria of age, or altitude, or sunset-moonset lag
55.    Turkey – Altitude > 5°, elongation > 8°
56.    Turkmenistan (Follow Saudi)
57.    U.A.E. (Follow Saudi)
58.    UK (Follow Saudi) [Coordination Committee of Major Islamic Centres and Mosques of London]
59.    USA – Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America. The criteria are Moon must be born before Sunset in Makkah, and moonset after sunset in Makkah. These criteria are not applicable for Eid-al-Adha, for which it is relied on Saudi Announcement of Hajj.
60.    Uzbekistan (Follow Saudi)
61.    Yemen (Follow Saudi)

.

Sementara itu ada sebuah situs lain,

http://www.makkahcalendar.org/en/when-is-shawwal-Aid-El-Fitr-1432-2011-islamiccalendar-dates.php

Semula saya kira ini adalah website resmi Negara Arab Saudi, namun belakangan sadar bahwa situs ini mungkin adalah website tidak resmi yang juga mengajukan argumen (saran argumen) untuk penentuan  hari raya. Berikut tulisannya,

In August 2011, the New Moon will be born on the 29th at 03:05, Universal Time (GMT). The local time in Makkah is then 06:05. It is important to note that the hegirian month does not begin at conjunction, i.e. when the New Moon is born. The crescent has actually to be sighted in the evening sky. According to our calendar, this sighting can either be at Makkah itself, or at any point to the west of Makkah, before the Morning Prayer in Makkah (concept of intermediate or limiting horizon). On the evening of 29th August the new moon will be invisible in Makkah itself so we have to examine visibility to the west of Makkah.

Catatan: Website ini juga mengakui bahwa 29 agust hilal tak mungkin terlihat.

The visibility curve for 29th August shows – to the west of Makkah – a large part of South America covered with either a blue zone (naked eye visibility under good observational conditions) or a green zone (easy naked eye visibility) covering the south of Chile and of Argentina. The blue zone is so vast that good observational coniditons will certainly be achieved some part. The reader can verify this by a simple look at the visibility curve here. The new moon is invisible in Makkah to the naked eye but it is visible before fajr in Makkah at coordinates 30° South, 70° West, the horizon that we have used. This concept is all the more valid since the Islamic day starts at fajr and not at sunset (maghrib). So, according to our calendar, in Makkah Ramadan will end on 29th August 2011 and the 1st of Shawwal can be celebrated on 30th August 2011.

Koordinate  30° South, 70° West itu adalah Chile (atau sekitar Chile, Amerika Selatan). Sepertinya situs ini menyarankan untuk rukyat global yang belum pernah dipakai di Arab Saudi sendiri.

Kemudian di sana dikatakan bahwa, Islamic day starts at fajr and not at sunset (maghrib). Ini yang aneh. Setahu saya,  di dalam islam hari baru (tanggal baru) dihitung mulai maghrib, bukan subuh. Ini berdasar pada hadits yg terkenal tentang penentuan awal puasa dan awal syawal.

Strictly speaking, the Makkah Calendar is applicable to Makkah Only. However, we are certain that our calendar is valid for many countries. Our visibility curves represent the condtions at local sunset at each point. The visibility curve for Shawwal shows that – on 29th August 2011 – the New Moon will be visibile with the naked eye in a large part of South America, specially south of the equator. Thus in all the countries situated in this part of the earth, the 1st of Shawwal will be on 30th August 2011 at the same time as in Makkah.

For countries to the east of Makkah, as well as for many more countries to the west of Makkah we are publishing separately a list of countries which can celebrate Aid El Fitr on 30th August 2011. This list is published together with detailed calculations which justify it. Please click here to see the list of countries where Aid El Fitr 1432 should be celebrated on August 30th 2011.

Dan justru menurut list yang disarankan 30 Agust 2011 pun, Indonesia tidak termasuk. Lihat di

http://www.makkahcalendar.org/en/Aid-El-Fitr-1432-2011-date-timetable-countrylist-30August2011.php

.

1 Syawal 1432H = 29 Agustus 2011 ?

Hari ini 13 Sept 2011 ada sebuah berita/artikel di kompas bahwa 12 September adalah Purnama, sehingga kalau ditarik mundur 15 hari akan ketemu bahwa 1 Syawal adalah 29 Agustus.

12 September Purnama Artinya 1 Syawal 29 Agustus

JAKARTA, KOMPAS.com – Hari Senin (12/9/2011) malam, fase kemunculan bulan dalam pandangan manusia di bumi sudah 100 persen alias puncak bulan purnama. Jika dihitung mundur 15 hari ke belakang, maka Senin, 29 Agustus 2011, semestinya sudah memasuki 1 Syawal 1432 Hijriyah.
………………………………..

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2011/09/13/07352857/12.September.Purnama.Artinya.1.Syawal.29.Agustus

Benarkah demikian?

Memang benar bahwa 12 September 2011 terjadi Full Moon (Bulan Purnama). Demikian juga ramalan perhitungan hisab (astronomi). Demikian juga para ahli pastilah telah mengetahui hal tersebut sebelumnya. Sebagai contoh, kami cek (buka) sebuah website astronomi yang meramalkan posisi benda-benda langit yang terus ter-update secara bulanan.

Situs ini pun meramalkan hal yang sama. Bulan purnama terjadi pukul 9.26 UT (atau 16.26 wib). Berikut kami cuplik sebagian tulisannya,

Sky Calendar — September 2011 (http://skymaps.com/articles/n1109.html)

9     Mercury 0.67° N. of Regulus
12     Full Moon at 9:26 UT.

Terlihat bahwa pada 12 Sept 2011 terjadi Full Moon pada pukul 9.26 UT. Situs yang sama menampilkan bulan sebelumnya (agustus 2011). Di sana tertulis New Moon (Bulan Baru Astronomi) pada pukul 3.04 UT (10.24 wib).

Sky Calendar — August 2011 (http://skymaps.com/articles/n1108.html)

27     Moon near Beehive cluster (morning sky) at 3h UT.
29     New Moon at 3:04 UT. Start of lunation 1097.

30     Moon at perigee (closest to Earth) at 18h UT (360,858 km; 33.1′).

Terlihat bahwa pada 29 Agust 2011 terjadi New Moon pada pukul 3.04 UT (10.24 wib). Saya kira itu sudah sangat sesuai/pass. Perhitungan hisab (software) kami, dan juga para pakar menghasilkan angka yang sama, bahwa new moon terjadi pada 3.04 UT (10.24 wib). Tak ada masalah. Lihat di : https://orgawam.wordpress.com/2011/08/09/mungkin-hari-raya-idul-fitri-1-syawal-1432-h-ini-beda-lagi/

Lalu bagaimana bisa tanggal 1 Syawal 1432H adalah 31 Agust 2011 ?  So .. cerita seperti artikel kami sebelumnya.

Perhitungan yang sama menghasilkan bahwa saat maghrib di hari yang sama (29 Agust) bulan masih terlalu rendah walau telah di belakang matahari, sehingga hilal tidak bisa di-rukyat. Artinya keesokan harinya adalah masih 30 ramadhan. Bulan baru hijrah ditentukan bukan oleh conjunction (new moon/bulan baru astronomi), tetapi oleh adanya kepastian penampakan hilal setelah conjunction (new moon) terjadi.

Perhitungan yang sama menghasilkan bahwa 29 Agust 2011 maghrib bulan sabit (hilal) tidak akan nampak, dan observasi langsung (rukyatul hilal)  juga telah memastikan bahwa 29 Agust 2011 saat maghrib bulan sabit (hilal) memang tidak nampak. Maka 1 Syawal 1432H adalah 31 Agust 2011.

.

wallahu a’lam.

6 thoughts on “Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H itu 31 Agust 2011

  1. Aslmkm wr wb, afwan semuanya, kita tidak boleh menyindir atau menyalahkan satu sama lain, afwan lagi faktanya 2 pekan setelah ramadhan tepatnya malam selasa terjadi bulan purnama. dalam footer diberbagai media seperi tv one, metro tv, dsb. bahwa lembaga lapan dan lembaga kompetenlainya di indonesia mengakui bahwa yang benar i’dul fitri tgl 30(hari selasa) namun berita ini tidak di ekspos dan seharusnya pemerintah menyampaikan ke masyarakat seperti negara-negara lain yang i’dul fitrinya hari rabu. jzk

    • kalo cara hitung / hisab hilal caranya mundur seperti anda repot, kalo memang takterlihat hilal pdakhir bulan romadlan kecuali harusmengomplikan bl rmd 30 hr maka itu keputusan yang ilmiyah faktuil dan kredibel.. bgmn harus meralat ??

      –> Ini sungguh perkara bid’ah dengan metode yg sangat aneh .. tidak ada dalil awal bulan ditentukan dengan bulan purnama sesudahnya. Dalam sejarah pun tak pernah ada.

      Saya kira penjelasan artikel sudah cukup jelas.

  2. salaam salaam

    jika suatu umat memakai hisab (perhitungan), maka 1 syawal adalah 30 Agustus (New Moon)
    jika suatu umat memakai rukyat (penglihatan), maka 1 syawal adalah 31 Agustus (Crescent)

    yang perlu kita tahu adalah arti hhilal itu apakah New Moon ataukah Crescent

    002,189 : akan ditanyakan (kepada) engkau tentang hhillal, katakan ia (hhillal) memiliki tempat-tempat waqtu nya, bagi manusia dan pertemuan (konjungsi/kesejajaran/synodic), dan tiada kecantikan dengan supaya memberikan rumah-rumah (hhillal) dari punggung nya, tetapi kecantikan sesiapa yang bertaqwa, dan berikanlah rumah-rumah (hhillal) dari pintu-pintu nya, dan bertaqwa lah (kepada) Allahh, agar kamu beruntung

    menurut ayat ini, kita harus memberikan mawaaqiytu hhillal (buyuwt) dari pintunya, yakni tanggal 30 agustus, meski mata tidak melihat, tapi kita kan punya perhitungan, sepertinya makna hhilal adalah kesejajaran (pertemuan/konjungsi/synodic) antara bumi dan matahari

    bukankah sariy’u lhisab adalah salah satu nama Allahh, yang segera dalam perhitungan

    janganlah kita memberikan waktu hhillal dari punggungnya

    –> yg 31 itu pun pakai hisab juga mas dan kemudian dipastikan dengan rukyat .. dan dalil tentang awal bulan baru telah jelas (undoubtedly) disabdakan baginda Nabi saw. Al Qur’an yg anda sebutkan itu pun selaras dengannya.

    “Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan sabit) dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) 30 hari.” (HR Bukhari-Muslim).

    Jika anda mengemukakan dalil al Qur’an tetapi menolak dalil hadits/sabda Nabi saw .. apakah namanya?

    Maaf kl tak berkenan.

    • صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته
      “Berpuasalah kamu karena melihat dia [hilal] dan berbukalah kamu karena melihat dia [hilal].” (HR Bukhari no 1776; Muslim no 1809; At-Tirmidzi no 624; An-Nasa`i no 2087).

      Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda :

      إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غُمَّ عليكم فاقدروا له

      “Jika kamu melihat dia (hilal) maka berpuasalah kamu, dan jika kamu melihat dia (hilal) maka berbukalah, jika pandangan kamu terhalang mendung maka perkirakanlah.” (HR Bukhari no 1767; Muslim no 1799; An-Nasa`i no 2094; Ahmad no 7526).
      i
      صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا

      “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, dan laksanakan manasik kamu karena melihat hilal. Lalu jika pandanganmu tertutup mendung, maka sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika ada dua saksi yang bersaksi, maka berpuasalah dan berbukalah kamu.” (HR An-Nasa`i, no 2087).

      Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab

      ini ditegaskan Dalam hadis Rasulullah Saw bersabda dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari
      ”.
      pandangan al quran

      .Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

      Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi.

      Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s