Shalawat Imam Nawawi

Sekedar mengungkapkan bahwa sebagaimana kanjeng Nabi Muhammad saw memperkenankan umatnya untuk meng-create teks shalawat, banyak sahabat yang mengamalkan shalawat dengan teks-nya masing-masing. Demikian juga dengan para tabi’in, para tabi’it-tabi’in, dan para ulama dan shalihin.

Berikut adalah salah satu teks shalawat yang merupakan kreasi al Imam Nawawi (w.676 H), seorang ulama madzab Syafi’i.

Shalawat Imam Nawawi

Salam untukmu wahai rasul Allah.
Salam untukmu wahai nabi Allah. Salam untukmu wahai pilihan Allah.
Salam untukmu wahai sebaik-baik makhluk Allah.
Salam untukmu wahai kekasih Allah.
Salam untukmu wahai pemberi peringatan.
Salam untukmu wahai pembazaaberita gembira.
Salam untukmu wahai kesucian.
Salam untukmu wahai orang suci.
Salam untukmu wahni nabi pembawa rahmut.
Salam untukmu wahai Abal-Qasim.
Salam untukmu wahai rasul Tuhan alam semesta.
Salam untukmu wahai penghulu para rasul dan penutup para nabi.
Salam untukmu wahai pemimpin barisan orang-orang yang kemilau tangan dan wajah mereka.
Salam untukmu dan untuk keluargamu, ahl baitmu, istri- istrimu, anak- cucumu dan sahabat-sahabatmu semua.
Salam untukmu dan untuk semua nabi serta seluruh hamba-hamba Allah yang saleh Semoga Allah membalas kebaikanmu pada kami, wahai utusan
Allah, dengan balasan yang lebih utama daripada yang diberikan AIIah atas kebaikan nabi atau rasul kepada urnatnya. Semoga Allahbershalawat untukmu setiap kali orang yang ingat menyebut namamu dan orang yang lalai melalaikanmu dengan shalawat yang lebih utama, lebih sempurna dan lebih baik dari shalawatMu yang diberikan kepada seseorang dari seluruh makhluk-Mu.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa engkau adalah hambaNya, rasulNya, dan seorang makhluk yang telah dipilih-Nya . Aku juga bersaksi bahwa engkau telah menyampaiknn risalah . Telah menyampaikan amanah. Telah menasehati umat manusia. Dan telah berjuang di jalan Allah dengan sepenuh jiwa dan raga.

Ya Allah, berikanlah kepadanya wasilah dan fadhilah. Tempatkanlah dia dalam ‘keduduknn terpuji’ pada hari kebangkitan seperti yang telah Engkau janjikan. Berikanlah kepadanya puncak tertinggi dari doa dan permohonan orang-orang yang berdoa. Ya Allahbershalawatlah untuk Muhammad, hamba dan rasul-Mu, nabi yang ummi, dan atas kelunrga Muhammad, istri-istri dan anak-cucunya dan berkatilah Muhammad, sang pembawa berita yang ummi, juga keluarga Muhammad, istri-istri dan keturunan-nya, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga lbrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah bagi seluruh alam.”

Shalawat yang agung ini, yang berisi cara bersalam dan bershalawat untuk Nabi saw pada saat menziarahi kuburan beliau, disebutkan oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab Manasiknya.

Setelah membuka pembicaraan beliau berkata: “Seorang peziarah hendaknya mengarahkan pandangan ke arah bawah tembok kuburan beliau, dengan menundukkan pandangan penuh penghormatan, khidmat dan pengagungan, mengosongkan hati dari segala keterkaitan dengan dunia, menghadirkan seluruh rasa akan kehadiran seseorang yang sedang berada di hadapannya, ialu memanggil salam dengan suara sedang, dengan mengatakan: Salam untukmu wahai rasul Allah, salam untukmu wahai nabi Allah …dst.”

Kemudian beliau, setelah menyebutkan semua lafazh shalawat ini berkata: “Siapa yang tidak bisa menghafal seluruh bacaan shalawat ini atau waktunya sempit, maka cukup membaca sebagiannya, minimal: Salam bagimu, wahai rasul Allah, semoga Allah merahmati dan melimpahkan kedamaian untukmu.”

Beliau rnelanjutkan: sebuah nasehat yang begitu indah adalah suatu cerita yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat kami dari al-‘Utba, ia berkata: “Suatu hari aku duduk di tepi kuburan Nabi saw, lalu seorang A’rabi datang dan berkata: Salam untukmu, wahai rasul Allah. Aku telah rnendengar AIIah SWT berfirman: “Kalau saja mereka ketika berbuat zhalim pada diri mereka sendiri datang kepadamu dan memohon ampun kepada Allah lalu Rasul memohonkan ampun untuk mereka, niscaya akan mereka dapati bahwa Allah Maha menerima taubat dan Mahakasih.” Sekarang aku datangkepadamu memohon ampun terhadap dosaku dengan menjadikanmu syafaat pada Tuhanku.” Lalu ia mulai melantunkan puisi:

Wahai sebaik-baik orang yang jasadnya dikubur di tanah yang keras, dengan jasadnya tanah ini menjadi mulia dan terhormat

Jiwaku menjadi jaminan bagi engkau yang berada di dalam kubur ini
Di dalamnya ada harga diri kedermawanan dan kemurahan hati
Engkaulah pemberi syafaat dan syafaatmu selalu diharapkan ketika di atas titian dan kaki-kaki tergelincir
Dan salamku untuk dua orang sahabatmu: aku tidak akan pernah melupakan keduanya.
Salamku untuk kalian semua selama pena kalimatNya terus mengalir.

Kemudian ia pergi, dan kedua mataku tidak kuasa menahan kantuk, hingga akhirnya terlelap dan dalam tidur aku bermimpi Rasulullah saw. Beliau bersabda : Kejarlah A’rabi itu dan sampaikan berita gernbira kepadanya, bahwa AIIah SWT telah mengampuni dosa-dosany a.

Bukti yang mengokohkan adanya tuntutan untuk bertawassul pada Nabi saw, dan bahwa itu adalah tradisi yarrg telah dilakukan oleh kaum salaf yang saleh-saleh, para nabi dan para wali serta yang lain, adalah sebuah hadis yang diturunkan oleh al-Hakim dan ia sahehkan bahwa Nabi saw bersabda: ” setelah Adam melakukan kesalahan dia berkata: Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu atas nama Muhammad saw, tidakkah Engkau berkenan mengampuniku?” Allah berfirman: “Hei Adam, dari mana kau tahu nama Muhammad, padahal aku belum menciptakannya?” Adam berkata: “Tuhanku, setelah Engkau menciptakanku dengan tanganMu dan Kau tiupkan ruhMu kepadaku, aku angkat kepalaku, maka aku lihat di atas tiang-tiang penyangga ‘Arsy tertulis: La ilaha Illnllah Muhammsdurrasulullah (Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Maka aku tahu bahwa tentulah nama yang digandengkan dengan namaMu adalah makhluk yang paling Engkau cintai.Maka Allah SWT berfirman: Engkau benar, wahai Adam bahwa dia adalah makhluk terkasihKu. Dan ketika kamu memohon kepadaku dengan narnanya maka Aku sungguh telah mengampuni dosamu. Andaikata tidak karena Muhammad, niscaya Aku tidak menciptakanmu.

An-Nasa’i dan at-Tirrnidzi menurunkan sebuah hadis yang kemudian ia tegaskan kesahehannya, bahwa seorang laki- iaki buta datang kepada Nabi saw. Ia berkata: “Berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhksn kebutaanku.” Nabi bersabda: ” Jika kau rnau aku akan berdoa dan jika mau kau bersabar saja, karena itu lebih baik bagimu.” Orang buta itu berkata: “Berdoa saja.” Maka Nabi saw menyuruhnya berwudhu’ dengan baik, lalu ia berdoa dengan doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku berdoa dan menghadap-kan wajahku kepadaMu dengan membawa nabi-Mu  Muhammad saw, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap Tuhanku bersamamu dalam kebutuhanku, agar Dia memeruthi permintaanku. Ya Allah jadikanlah ia sebagai syafa’at bagiku.”

Imam Baihaqi juga menshahihkan hadis ini dan menambah redaksi:”Maka diapun berdiri dan bisa melihat.”

Imam Ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad jayyid (baik) bahwa Nabi saw dalam doanya menyebutkan “Atas nama nabiMu dan para nabi sebelumku.” Dan tidak ada perbedaan antara sebutan tawassul, istighatsah, tasyaffu’ dan tawajjuh pada Nabi saw atau pada para nabi yang lain.

Sebagian mereka menganggap baik membaca ayat 56 surah Al-Ahzab bahwa Allah dan para malaikatNya sama- sama bershalawat pada Nabi saw, bersama salam di atas, kemudian juga membaca:

“Allah telah bershalawat untukmu, wahai rasul Allah,” 70 x.

Disebutkan sebuah pernyataan dari sebagian ulama terdahulu bahwa Nabi saw diseru oleh seseorang: “Semoga shalawat Allah untukmu, wahai Muhammad,” rnaka malaikat berkata:”Semoga Allah bershalawat untukmu, wahai Fulan. Tidak ada hajatmu yang terkabul pada hari ini.” Karena haram hukumnya memanggil Nabi saw dengan nama beliau.

Sebagian ulama berkata, bahwa alasan keharamannya adalah ketika penyebutan tidak dibarengi dengan pembacaan shalawat dan salam: asumsi ini adalah argumentasi yang tertolak secara nash dan logika. Hadis di atas adalah pengecualian, karena adanya penjelasan Nabi saw yang mengizinkan atau rnendiamkan hal tersebut.

.

.

wallahu a’lam.

Sumber: Afdhal as-Shalawat ‘ala Sayyid as-Sadat, oleh Yusuf ibn Ismail an-Nabhani, versi terjemah: Bershalawat untu Mendapat Keberkahan Hidup, Muzammal Noer, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2003.

5 thoughts on “Shalawat Imam Nawawi

  1. assalamu`alaikum..salam ukhuwah, alafu ana mau izin buat kopas y? sebelum dan sesudahnya ane ucapin Jazakallah syukron katsir

    –> wa’alaikum salam wrwb.silakan .. jangan lupa link.

  2. AsSalamu’alaikum..wr.wb
    Allahumma sholli ‘ala muhammad…
    Penulis yg budiman…
    Aq mau tanya…
    Klo sholawat shulthon itu bunyi,y bagai mana..
    Sekalian kterangan/asal usul,y
    Sebelum,y terima kasih
    Smga kta semua selalu mendapatkan barokah dari Allah dan kekak akan mendapatkan syafa,at Rasulullah..
    Amiin ya Allah

  3. Pingback: shalawat kepadamu « wildworldwords

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s