Bid’ah dalam Diagram Venn

Bid’ah secara umum bermakna mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Inilah yang dikenal sebagai makna bid’ah secara bahasa, yang ditulis diberbagai media/ web saat ini.

Kemudian adapula makna bid’ah yang lain, yaitu bid’ah secara istilah. Makna Bid’ah Secara Istilah disandarkan pada definisi yang diberikan oleh Imam Syathibi, yaitu bahwa makna bid’ah secara istilah adalah suatu cara baru dalam agama yang menandingi syari’at dimana tujuan dibuatnya adalah untuk membuat nilai lebih dalam beribadah kepada Allah.

Selanjutnya Imam Syatibi memakai istilah bid’ah dengan makna ini. Hanya makna ini, bukan makna secara bahasa. Dan inilah bid’ah yang sesat, sebagaimana hadits Rasulullah saw tentang bid’ah yang terkenal.

Diagram Venn di bawah ini mencoba menjelaskannya. Dari diagram tampak bahwa bid’ah istilah masuk dalam bagian dari bid’ah secara bahasa. Ada juga pendapat mengatakan makna bid’ah sebagai terpecah menjadi dua kategori, secara bahasa dan secara istilah.

Namun saya cenderung memilih pembagian bahwa makna bid’ah istilah merupakan bagian dari bid’ah secara bahasa. Definisi bid’ah scr bahasa yang mendefinisikan secara umum menguatkan hal ini. Dan makna bid’ah secara istilah mengkhususkan makna hanya sebagai dalam kacamata syar’i.

BID’AH yang sudah pasti terlarang adalah bid’ah secara istilah, yaitu bid’ah dalam kacamata syariat, yang oleh Imam Syatibi dikatakan sebagai bid’ah saja (bukan bid’ah syayi’ah, dlalalah, dsb. Hanya BID’AH). Dan ini pula maksud hadits Rasulullah saw tentang bid’ah yang sesat.

.

Ketika bid’ah diklasifikasi menjadi dua bagian besar, yaitu bid’ah terpuji dan tercela, maka Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki menjelaskan bahwa pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah yang baik dan buruk (BOLEH dan TERLARANG) itu hanya berlaku untuk pengertian bid’ah yang ditinjau dari segi bahasa (dari kitab mafahim …). Dan semua telah sepakat bahwa bid’ah dalam kacamata syara’ (bid’ah secara istilah) tidak lain adalah sesat dan fitnah yang tercela.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa pendapat bid’ah terbagi menjadi hasanah dan sayyiah adalah pendapat yang sangat cermat dan hati-hati. Karena pendapat ini memandang kepada setiap hal baru untuk mematuhi hukum syari’at dan kaidah-kaidah agama, dan mengharuskan kaum muslimin untuk menyelaraskan semua urusan dunia, baik yang bersifat umum atau khusus, sesuai dengan syariat Islam, agar mengetahui hukum Islam yang terdapat di dalamnya, betapapun besarnya bid’ah itu. Sikap semacam ini tidak mungkin direalisasikan kecuali dengan mengklasifikasikan bid’ah dengan tepat dan telah mendapat pertimbangan dari para aimmatul ushul.

Diagram Venn berikut mencoba menggambarkan apa yang dimaksudkan.

.

.

Dari diagram di atas, tampak bahwa secara umum bid’ah terbagi menjadi dua kategori besar; terlarang dan boleh. Ini selaras dengan kategori menurut Imam Syafi’i yang membagi ‘perkara baru’ (al-bid‘ah) dan ‘perkara baru yang diadakan’ (al-muhdathât) sebagai ‘baik’ atau ‘buruk bergantung kepada apakah perkara itu selaras dengan Shari‘at atau tidak.

Imam al-Shâfi’i rhm berkata bahwa bid‘ah itu dua jenis, yaitu bid‘ah yang dipuji (bid‘ah mahmûdah) dan bid‘ah yang dikeji (bid‘ah mazmûmah). Apa yang selaras dengan Sunnah itu dipuji (mahmûdah) dan apa yang bertentangan itu dikeji (mazmûmah). Beliau mengakomodasi dalil dari kenyataan Sayidina ‘Umar ibn al-Khattâb ra kepada jemaah yang mengerjakan Sembahyang Terawih di bulan Ramadân dengan katanya: “Alangkah cantiknya bid‘ah ini!”.

Tampak Imam Syafi’i tidak membahas bid’ah hanya dari aspek istilah saja, tetapi beliau membahas secara umum. Apabila diagram di atas dilepas “aspek bid’ah istilah”-nya (kita tidak melihat bid’ah hanya dari aspek istilah saja, tetapi dilihat semuanya secara umum), maka akan tampak diagram venn seperti di bawah. Inilah selaras dengan maksud Imam Syafi’i.

Kedua-dua diagram Venn di atas (Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki) dan di bawah (Imam Syafi’i) pada hakekatnya adalah sama. Perbedaan hanyalah bahwa diagram di atas ditampakkan bagian bid’ah secara istilah, sedangkan diagram di bawah tidak dimunculkan (disembunyikan).

.

.

Selanjutnya Imâm al-`Izz Ibn `Abd al-Salâm jmenyebut bahawa Bid‘ah itu ada lima jenis, sama sebagaimana yang diputuskan para fuqaha dalam amalan perbuatan seeorang, yaitu: Wâjib, Harâm, Sunat , Makrûh, dan mubâh. Hal ini dikarenakan kalau kita ditanya tentang status hukum suatu perkara, maka di dalam islam hanya dikenal status hukum yang lima itu. Tidak ada status hukum bernama bid’ah. Maka setiap perkara (termasuk perkara yang baru, yang notabene adalah bid’ah secr bahasa) pasti dapat dimasukkan ke dalam ke lima status hukum tersebut.

Pembagian ini memperhalus 2 (dua) klasifikasi di atas menjadi 5 (lima), yaitu ke status hukum standard (haram, makruh, mubah, sunnah, wajib). Lantas di manakah status bid’ah istilah (syara’) menurut Imam Syatibi? Bid’ah dari kacamata syara’ tetap berada dalam kategori haram, termasuk di dalam klasifikasi haram.

Diagram Venn berikut berusaha menjelaskan.

.

.

Catatan:

Makna bid’ah menurut Imam Syatibi telah jelas, yaitu membatasi hanya pada kacamata syar’i. Makna bid’ah menurut Imam Syafi’i rhm telah jelas pula, yaitu secara bahasa (umum).

Kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang memakai makna bid’ah menurut Imam Syatibi, untuk memandang setiap perkara bid’ah dalam makna menurut Imam Syafi’i. Akibatnya semua bid’ah (makna Imam Syafi’i) di-vonis sesat semua. Ini adalah kesalahan yang fatal.

.

Tentang bid’ah diniyyah (agama) dan bid’ah dunyawiyyah

Ada sekelompok umat Islam (mereka adalah dari kelompok salafi/wahabi) yang mengkritik secara pedas adanya pembagian bid’ah kepada bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Namun mereka justru membagi bid’ah menjadi 2 (dua) kategori pula, yaitu bid’ah diniyyah dan bid’ah dunyawiyyah. Mengenai hal ini, sayyid Muhammad ibn Alwi al Maliki berkata, [lihat dalam kitab mafahim …, ada terjemahnya di blog ini ]

…. klasifikasi bid’ah kepada diniyyah dan dunyawiyyah, secara pasti tidak pernah ada pada masa tasyri’ – dari mana kiasifikasi semacam itu lahir? Dari manakah penamaan baru tersebut timbul’?

…….. dengan definisi atau klasifikasi mengenai bid’ah yang mereka kemukakan itu berarti setiap bid’ah – atau hal-hal baru – dalam urusan duniawi itu (pasti) dibolehkan. Tentu saja hal itu sangat membahayakan. Perkataan mereka itu jelas mengandung fitnah dan bencana atau musibah besar.

Ketika mereka tak dapat menunjukkan hujah/ dalil berdasarkan Q H ataupun kitab-kitab salaf, maka hal ini adalah hasil pemikiran (ijtihad) yang baru berdasarkan akal (ra’yi). Itu diperbolehkan asalkan selaras dengan dua sumber utama, Q n H. Namun … mengenai hal ini pula, menurut pengalaman, orang-orang tersebut tak dapat menjawab setiap kali ditanyakan,

Di dalam agama yg mulia ini, adakah perkara duniawi yang bukan merupakan perkara diniyah (agama)?

Jika ada, kapan suatu amal perbuatan menjadi urusan duniawi, kapan pula menjadi urusan diniyyah? Apa ukuran yang membedakannya?

Sehingga kami pun tak dapat mem-visualisasi-kannya ke dalam diagram yang sama. Demikianlah .. hujah mereka lemah sekali.

.

Semoga manfaat.

Wallahu a’lam

12 thoughts on “Bid’ah dalam Diagram Venn

  1. alhamdulillah, terimaksih. Memperjelas posisi yang selama ini debatable dan ‘remang-remang’ bagi kami. Nafian mubarokan.

    –> sama2 mas .. ini ku dapat setelah menyimak penjelasan dari sayyid Muhammad ibn Alwi al Maliki dari kitabnya Mafahim (ada terjemahnya di blog ini juga). Kepada beliaulah kita berterima kasih. Al fatihah.

  2. sebenarnya pembahasan-pembahasan semacam ini sangat bagus untuk menambah pemahaman umat muslim yang sekarang banyak sekali dirisaukan dengan masalah bid’ah sampai-sampai isu ini kadang juga menyebabkan perselisihan dan pertentangan yang merupakan bibit perpecahan dikalangan umat. Hal yang penting harus disadari adalah ukhuwah harus di jaga, ikhtilaf adalah sunatullah dan caci maki serta perpecahan adalah terlarang.

    –> Setuju mas … kebenaran hanya dapat diterima dengan hati yg lapang, terbuka. Insya Allah kami pun menghindari caci maki. Semoga umat islam semakin berjaya.

  3. kang mas sufi… banyaklah belajar..telah dinasehatkan para ulama dari jalan yang ditempuh oleh ulama’ mas banyak yang perlu dibenahi!!

    • anto.. yang jelas bid’ah itu pemahaman saudara yang kaku…yang menganggap benar diri sendiri.. bahkan ibnu taimiyah punya penjelasan sendiri mengenai bidah…

  4. kalo sekolah itu bid’ah apa bukan? itu urusan agama atau bukan? kalau sekolah agama itu bid’ah atau bukan? kan soal dakwah? dakwah = ibadah, katanya sih… kalo sekolah itu bid’ah, berarti bang anto juga berdosa, dholalah juga.
    sekolah itu kan metode…. bisa dipake untuk mengajarkan agama, bisa juga ilmu aplikatif dunia. lha kalo yang seperti ini bid’ah juga apaa ndak?
    trus, sekarang ada bank syariah. itu bid’ah juga apa gak ?
    kalo ndak ada bank syariah umat islam malah terjebak riba’. tapi di jaman rasul saw gak ada tuh bank syariah…. hayo…? jadi saya setuju dengan penulis.

  5. Pingback: Syarah Hadits “Kullu bid’atin dlalalah” « Catatan harian seorang muslim

  6. Terhadap saudara-saudara yang berpandangan setiap bid’ah itu pasti dhalalah dan tidak ada hasanah gak usah diladeni. Karena mereka itu pembohong besar. Padahal mereka pun saban hari mengamalkan sesuatu yang bid’ah. Contoh, mereka juga baca buku-buku terjemahan dalam bahasa latin, baca buku-buku hadits terjemah, apalagi mereka juga baca buku-buku fikih. Emamng buku fikih itu bukan produk bid’ah apa?

  7. Pingback: Penjelasan Hadits Tentang Bid’ah Dhalalah (sesat) « دين الاسلام

  8. Mungkin berguna…..
    Setiap Bid’ah adalah sesat maksudnya bida’ah dalam tata cara peribadatan ( Kayfiat ) atau menyerupai peribadatan atau yang menandingi yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala….., hal ini sejalan dengan tauhid Muhammadarrosullah, dan mengenai pemahaman bid’ah secara lughah ( Bahasa/Umum ) adalah mengadakan sesuatu yang baru… seperti sholat menurut lughah ( Bahasa/Umum ) adalah Do’a….. , dalam penerapan konsep bid’ah yang terdapat dlm hadis muslim tersebut adalah ditujukan dalam masalah syari, hal ini juga didukung dengan hadis muslim bahwa beramal/ibadah tanpa menuruti/mengikuti caraku ia tertolak…. , dan yang selamat adalah yang mengikuti ( aku dan sahabatku…) dan banyak lagi keterangan….lainnya yang sejalan ,…, hal ini juga dapat dilihat dari beberapa sikap sahabat yang banyak mengikari perkara-perkara baru dalam ibadah seperti ibnu mas’ud ra, abdullah bin umar ra dll…., dan juga termasuk imam mazhab… jika kita menilik kembali sejarah perjalanan hidup mereka …. yang sering mengingkari perbuatan amaliah baru…dan pemikiran2 menyimpang dari manhaj salafussoleh …., baik akidah maupun amaliah…..,
    pada fase sahabat ra, tabiin, dan tabiut tabiin…. pergeseran aqidah dan amaliah sangat2…jarang terjadi.. kalau pun terjadi seperti masa sahabat umar dan lainnya…yang menjadi dasar sebagian kalangan kaum muslimin menganggap ada pengecualian atas bid’ah dalam syariat…, hal ini terbantah dengan hadist rasullah ( mengikuti sunnahku dan mengikuti sunnah khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk )..artinya kesepakatan para sahabat ( ijma’ ) sudah mendapat legalitas dan bisa dijadikan dalil sebagai dasar ibadah ( Apakah kita bisa disamakan dengan kholafaurasyidin yang mendapat legalitas..sehingga dibolehkan membuat cara baru? )….., adapun perkataan sahabat Umar ra ini adalah sebaik2 bid’ah perlu diteliti dengan seksama..apakah masuk kategori lughah ( bahasa/umum ) ….atau menurut istilah… kalau kita mencoba bermain sedikit dengan logika seandainya ini dipahami secara istilah oleh umar ra…. mungkin umar ra…dan para sahabat sudah banyak melakukan ritual-ritual ibadah yang baru…, termasuk imam mazhab….,
    mengapa ketiga generasi ini sebagai standard ( ukuran ) ? karena hal ini sudah ada jaminan lewat lisan rosullah sendiri yaitu ( Khoirunnas korni…dst ) menjelaskan tiga generasi umat yang terbaik….. , secara sederhana dan tidak berbelit… seolah2 rosullah berpesan ” ikutilah caraku beragama seperti ketiga generasi tersebut beragama ” dan itulah ISLAM…..
    Karena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s