Tanda-tanda Ulama Akhirat

Dan orang-orang yang beruntung dan didekatkan (kepada Allah) adalah ulama akhirat. Ikutilah para ulama akhirat ini, dan jangan terjebak dengan ulama-ulama dunia (ulama yang buruk). Ulama akhirat benar-benar mengajak kepada kebahagiaan akhirat.

Artikel ini ringkasan dari sebagian kecil isi kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al Ghazali. Dalam kitab ini, ulama akhirat mempunyai tanda-tanda, sebagian dari padanya adalah :

.
a. Ia tidak mencari dunia dengan ilmunya.

Hasan rahimahullah berkata: ”Tersiksanya para ulama adalah kematian hati. Sedangkan kematian hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat”.

Sahl rahimahullah berkata: “Ilmu seluruhnya adalah dunia kecuali pengamalannya. Sedangkan amal itu seluruhnya beterbangan (lenyap) kecuali amal yang ikhlas.

Firman Allah swt tentang ulama dunia,

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali Imran:187)

Firman Allah swt tentang ulama akhirat,

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran:199)

“Barangsiapa yang menuntut ilmu dari apa yang untuk mencari keridlaan Allah Ta’ala itu untuk mencari harta benda dunia maka ia tidak mendapatkan bau syurga pada hari Kiyamat”. [HR. Abu Dawud, Ibn Majah]

“Ulama umat ini ada dua orang yaitu seseorang yang dikarunia ilmu oleh Allah lalu ia memberikannya kepada manusia dan ia tidak mengambil ketamakan (kelobaan) atasnya, dan ia tidak membeli (menukar) harga dengannya. Itulah orang yang dimohonkan rahmat oleh burung di udara, ikan di air, binatang bumi dan para malaikat yang mulia yang mencatat. Pada hari Kiyamat ia diajukan kepada Allah sebagai orang yang mulia sehingga ia menemani para rasul. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah di dunia lalu ia kikir terhadap hamba Allah, dan ia mengambil atasnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya. Orang itu pada hari Kiyamat akan dikenakan kendali dengan kendali dari api. Seorang penyeru menyeru di atas makhluk, ”Ini Fulan bin Fulan di dunia diberi ilmu oleh Allah lalu ia kikir atas para hamba-Nya, ia mengambilnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya, maka ia disiksa sehingga selesai perhitungan (amal) manusia”. [at Tabhrani]

Janganlah kamu duduk di sisi orang ‘alim kecuali orang ‘alim yang mengajakmu dari lima macam kepada lima macam, yaitu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya’ kepada ikhlas, dari gemar (kepada dunia) kepada zuhud, dari kesombongan kepada merendahkan diri, dan dari permusuhan kepada nasihat. [HR. Abu Nuaim dan Ibnul Jauzi]

.

Sebagian ulama ada yang menyimpan ilmunya maka ia tidak senang ilmu itu didapat pada orang lain, itulah orang yang di tingkatan pertama dari neraka.

Sebagian ulama ada orang yang di dalam ilmunya seperti kedudukan raja (penguasa). Jika sedikit dari ilmunya ditolak atau diremehkan sedikit saja dari haknya maka ia marah. Itulah orang di dalam tingkat kedua dari neraka

Sebagian dari ulama ada orang yang memberikan ilmunya dan haditsnya yang asing-asing untuk orang-orang mulia dan kaya dan ia tidak melihat kepada orang yang menghajatkannya itu pantas untuk menjadi ahlinya, maka itulah (ia) di dalam tingkatan yang ketiga dari neraka.

Sebagian dari ulama ada orang yang menegakkan dirinya untuk berfatwa lalu ia memberi fatwa dengan kesalahan padahal Allah Ta’ala membenci orang-orang yang membebankan dirinya. Itulah orang yang berada di tingkat ke empat dari neraka.

Sebagian dari ulama ada orang yang berbicara dengan perkataan Yahudi dan Nasrani agar ilmunya dipandang banyak dan mengalir terus (seperti hujan deras: pent), dan itulah orang yang berada di tingkat ke lima dari neraka

Sebagian ulama ada orang yang menjadikan ilmunya sebagai keperwiraan, keutamaan dan disebut-sebut di kalangan manusia. Itulah orang yang di tingkat enam dari neraka.

Sebagian ulama ada orang yang menarik kecemerlangan dan kekaguman. Jika ia memberi nasihat maka ia kasar dan jika diberi nasihat maka ia enggan. Itulah orang yang di neraka tingkat tujuh.

.

Perbandingan antara orang yang mencari harta benda dunia dengan ahli ilmu yang mencari keridlaan Allah di dalam al Qur’an,

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Qashash:79-80)

Maka ahli ilmu mengetahui untuk mengutamakan akhirat atas dunia.

.

b. Perbuatannya selaras dengan perkataannya

Ia tidak memerintahkan sesuatu amal perbuatan yang ia sendiri tidak mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. As Shaaf: 3)

Sabda baginda Nabi saw: “Pada malam saya diperjalankan di malam hari, saya melewati suatu kaum yang bibirnya digunting dengan gunting dari api. Lalu saya bertanya: “Siapakah kamu sekalian ?”. Mereka menjawab: “Kami adalah dahulu memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami melarang kemungkaran namun kami melakukannya”. [HR. Ibnu Hibban]

Asy Sya’bi berkata: “Pada hari Kiyamat suatu kaum dari penghuni syurga menampakkan kepada suatu kaum dari penghuni neraka. Mereka bertanya kepada suatu kaum dari neraka itu: “Apakah yang menjadikan kamu masuk neraka? Kami dimasukkan oleh Allah ke syurga hanya karena keutamaan pendidikan dan ajaranmu?”. Suatu kaum dari neraka itu menjawab: “sesungguhnya dahulu kami memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami mencegah dari keburukan namun kami menjalankannya”.

Hatim al Asham rahimahullah berkata: “Pada hari Kiyamat tidak ada orang yang paling menyesal dari pada seseorang yang mengajarkan ilmu kepada manusia lalu mereka mengamalkannya sedangkan ia tidak mengamalkannya. Mereka beruntung dengan sebab pengamalan itu, sedang ia binasa”.

Ibnu Mas’ud berkata: “Akan datang suatu masa pada manusia di mana kemanisan hati dirasakan asin. Maka pada hari itu orang ‘alim dan orang yang belajar tidak mengamalkan ilmunya. Hati Ulama mereka seperti tanah kosong yang bergaram yang turun tetesan hujan, maka tidak didapatkan air tawar dari padanya. Demikian itu apabila hati ulama cinta kepada dunia dan mengutamakannya atas akhirat. Ketika itu Allah Ta’ala mencabut sumber-sumber hikmah dan memadamkan pelita-pelita petunjuk dari hati mereka. Orang ‘alim mereka memberitahukan ketika kamu bertemu dengannya bahwasanya ia takut kepada Allah dengan lidahnya sedangkan perbuatan dosa amalnya. Maka alangkah suburnya lidah dan gersangnya hati dewasa itu. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, hal itu tidak lain karena orang-orang yang mengajar itu mengajar karena selain Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang yang belajar itu belajar bukan karena Allah Ta’ala”.

Ka’ab rahimahullah berkata: “Di akhir zaman akan ada ulama yang menyuruh manusia untuk zuhud terhadap dunia, namun mereka tidak zuhud, mereka menyuruh manusia takut (kepada Allah) namun mereka tidak takut, mereka melarang dari mendatangi para penguasa namun mereka mendatangi para penguasa, mereka mengutamakan dunia atas akhirat, mereka makan dengan lidah mereka, mereka mendekati orang-orang kaya, tidak kepada orang-orang miskin. Mereka cemburu kepada ilmu sebagaimana orang-orang wanita cemburu kepada orang-orang laki-laki. Salah Seorang di antara mereka marah kepada teman duduknya apabila teman duduknya itu duduk-duduk dengan orang lain. Mereka itulah orang-orang yang tukang paksa, musuh-musuh Tuhan Yang Maha Pengasih”.

Sabda baginda Nabi saw: “Sesungguhnya syaithan barangkali menunda-nundamu dengan ilmu”. Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah itu ?”. Beliau SAW bersabda: “Syaithan berkata: “Tuntutlah ilmu dan jangan kamu amalkan sehingga kamu mengetahui. Senantiasa Syaithan itu berkata kepada ilmu demikian itu dan menunda-nunda terhadap amal sehingga ia mati dan tidak beramal”.[Diriwayatkan dari Anas dengan sanad yang lemah]

.

c. Ia menjauhi ilmu yang sedikit manfaatnya, yang banyak perdebatan dan omong kosong.

Perhatiannya adalah untuk memperoleh ilmu yang bermanfa’at di akhirat, yang menggemarkan untuk taat.

Baginda Nabi saw bersabda: “Sebagian dari yang saya takutkan atas ummatku adalah tergelincirnya orang ‘alim dan perdebatan orang munafik mengenai Al Qur’an”. [HR. Ath Thabrani dan ibn Hibban]

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, namun ilmu itu adalah takut (kepada Allah)”.

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Maka mempelajarinya ambil pengamalannya. Akan datang suatu kaum yang terdidik itu seperti saluran. Mereka bukan orang-orang pilihanmu. Orang ‘alim yang tidak mengamalkan adalah seperti orang sakit yang menyifati obat, dan seperti orang lapar yang menyifati makanan-makanan yang lezat-lezat namun ia tidak mendapatkannya”.

Perumpamaan orang yang berpaling dari ilmu amal dan sibuk dengan perdebatan adalah seperti seseorang yang sakit dengan banyak penyakit padanya. Ia bertemu dengan seorang dokter yang pandai untuk waktu yang singkat yang dikhawatirkan kehabisan waktu. Orang yang sakit itu justru sibuk dengan menanyakan khasiat obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, obat-obat lain dan hal-hal yang ganjil-ganjil dari dunia kedokteran; ia tinggalkan kepentingannya untuk mengobati penyakitnya. Ini adalah kebodohan.

.

d. Ia tidak cenderung kepada kemewahan.

Namun ia mengutamakan hemat dalam seluruhnya itu dan ia menyerupai ulama salaf rahimahumullah padanya. Dan ia senang untuk mencukupkan dengan yang paling minimal dalam seluruhnya itu. Setiap kali ia bertambah ke arah minimal maka bertambahlah dekatnya kepadaAllah, dan meningkat derajatnya di kalangan ulama akhirat.

Hatim Al Asham, ketika ia berjalan ke Madinah lalu ia disambut oleh penduduk Madinah. Maka ia bertanya: “Kota apakah ini?. Mereka menjawab : “Kota Rasulullah SAW.”.
Ia bertanya : “Di manakah istana Rasulullah SAW. sehingga saya shalat padanya?”. Mereka menjawab: “Beliau tidak mempunyai istana. Beliau hanyalah memiliki rumah yang menempel di atas tanah (karena rendahnya)”.
Ia bertanya: “Di manakah istana-istana shahabatnya ra?”. Mereka menjawab: “Mereka tidak mempunyai istana. Mereka hanya memiliki rumah yang menempel di atas tanah”.
Hatim berkata : “Hai kaumku, ini adalah kota Fir’aun”. Maka mereka menangkap dan membawanya kepada Sulthan, dan mereka berkata : “Orang ‘ajam ini mengatakan ini adalah kota Fir’aun”‘.
Penguasa itu berkata : “Mengapa demikian?”.
Hatim berkata : “Janganlah kamu tergesa-gesa atasku. Saya seorang laki-laki ‘ajam (luar Arab), yang asing. Saya masuk kota ini dan saya bertanya “Kota siapakah ini ? Mereka menjawab: “Kota Rasulullah SAW.”. Saya berkata : “Di manakah istananya ?”. Dan ia mengisahkan kisah itu.

Kemudian ia berkata : “Allah Ta’ala berfirman:

Artinya: “Sungguh telah ada contoh yang baik bagimu pada Rasulullah “. (Al Ahzab : 21).

Kamu kepada siapa mengikut, apakah kepada Rasulullah ataukah kepada Fir’aun orang yang pertama kali membangun dengan lepoh dan bata merah”.

Lalu mereka melepaskan dan meninggalkannya.

Ini adalah riwayat Hatim Al Asham rahimahumullah Ta’ala. Dan akan datang sesuatu yang menjadi saksi bagi yang demikian dari perilaku ulama salaf dalam kesederhanaan dan meninggalkan keindahan di tempat-tempatnya.

Allah Ta’ala berfirman,

Artinya: “Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan bagi hamba-hamba-Nya’ dan (siapa yang mengharamkan) rizki yang baik-baik”‘ (Al A’raf : 32).

Yang sebenarnya, bahwasanya berhias dengan yang mubah itu tidaklah haram, tetapi bergelimang padanya menyebabkan jinak dengannya sehingga sulit meninggalkannya. Kesenangan berhias biasanya melazimkan untuk melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dari berminyak muka, menjaga makhluk dan harga diri mereka dan hal-hal lain yang terlarang.

Menjaga diri itu adalah menjauhi hal itu karena orang yang bergelimang di dalam dunia maka sama sekali ia tidak selamat dari padanya.

Sehubungan dengan itu, Imam Malik ibn Anas mengatakan bahwa meninggalkan itu (kesenangan atas perhiasan dunia) adalah lebih baik dari pada masuk padanya.

.

e. Ia menjauh dari para penguasa.

Bahkan seyogya untuk menjaga diri dari bergaul dengan mereka, meskipun para sultan (penguasa) itu datang kepadanya karena dunia itu manis dan hijau, kendalinya di tangan para sultan. Sedangkan bergaul dengan mereka tidak lepas dari membebankan diri untuk mencari keridhaan mereka dan mencari kesenangan hati mereka pada hal mereka zhalim.

Secara garis besar, bergaul dengan mereka (penguasa) itu adalah kunci keburukan, sedangkan jalan ulama akhirat adalah berhati-hati.

Hudzaifah berkata : “Takutlah kamu terhadap tempat-tempat fitnah”. Ditanyakan : “Apakah itu?”. Ia berkata : Pintu-pintu para amir (penguasa) di mana salah seorang di antaramu masuk kepada amir lalu ia membenarkannya dalam kebohongan, dan ia berkata padanya dengan sesuatu yang tidak ada padanya”.

Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk ulama adalah orong-orang yang datang kepada amir-amir, sedangkan sebaik-baik amir adalah orang-orang yang datang kepada para ulama. [H.R. Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah]

.

f. Ia tidak segera memberi fatwa

Jika ia ditanya tentang sesuatu yang diketahuinya secara yakin dengan nash Kitabullah (Al Qur’an) atau nash hadits atau ijma’ atau qiyas maka barulah ia memberi fatwa.

Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang ia ragu padanya maka ia berkata : “Saya tidak tahu”. Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang diduganya dengan ijtihad dan dugaan maka ia berhati-hati dan ia membela dirinya dan ia pindahkan kepada orang lain yang lebih mempunyai kekayaan ilmu.

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Sesungguhnya orang yang memberi fatwa kepada manusia pada setiap apayang mereka mintakan fatwa adalah orang gila”.

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata : “Tidak ada sesuatu yang lebih berat atas syaithan dari pada orang ‘alim yang berkata dengan ilmu dan diam dengan ilmu. Syaithan berkata : “Lihatlah orang ini. Diamnya lebih berat atasku dari pada berbicaranya”.

Abu Hafsh An Naisaburi berkata : “Orang ‘alim adalah orang yang ketika ditanya takut untuk dikatakan (ditanyakan) pada hari Kiyamat dari manakah kamu menjawab ?’.

Kesibukan para shahabat dan tabi’in ra. itu pada lima macam, yaitu : membaca Al Qur’an, meramaikan masjid, dzikir kepada Allah Ta’ala, amar ma’ruf (memerintahkan kebajikan) dan nahi mungkar (melarang perbuatan/perkataan yang buruk). Demikian itu karena mereka mendengar dari sabda Rasulullah SAW.

Artinya : “Setiap perkataan anak Adam itu memadharatkannya, tidak menguntungkannya kecuali tiga macam yaitu amar ma’ruf, nahi mungkar dan dzikir kepada Allah Ta’ala”.[H.R. At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Ummu Habibah]

Diam itu senantiasa peri laku ahli ilmu kecuali ketika dharurat. Dan di dalam hadits :

Artinya: “Apabila kamu melihat seseorang telah diberi diam dan zuhud maka dekatlah kamu kepadanya, karena ia mengajarkan hikmah”.[H.R. Ibnu Mahah dari hadits ibnu Khilad dengan sanad yang lemah]

.

g. Lebih banyak perhatiannya kepada ilmu batin, mengawasi hati, mengenal dan menempuh jalan akhirat.

Ia membenarkan harapan tentang terbukanya hal itu dari mujahadah (berjuang melawan hawa nafsu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah) dan muraqabah (mengawasi hati).

Sesungguhnya mujahadah itu menyampaikan kepada musyahadah (menyaksikan ke Maha Besaran Allah Ta’ala) dan detail-detail ilmu hati yang dengannya terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hati.

Kitab-kitab dan pengajaran lahiriah saja tidaklah memenuhi hal itu. Hikmah hanya terbuka dengan mujahadah, muraqabah (pengawasan), langsung amal-amal lahir dan batin, duduk bersama Allah’Azza Wa Jalla dalam khalwat dengan hadirnya hati dengan pikiran yang jernih, dan memutuskan diri dari selain Allah Ta’ala menuju kepadaNya.

Inilah kunci ilham dan sumber keterbukaan. Berapa banyak orang yang belajar yang lama belajarnya dan tidak mampu untuk melampaui apa yang didengarnya. Dan ada orang yang membatasi diri pada apa yang penting dalam belajar, menyempurnakan amal, dan mengawasi hati maka Allah membukakan baginya dari hikmah yang lembut-lembut, sesuatu yang akal-akal orang yang berfikir itu bingung padanya.

Nabi SAW. bersabda :

Artinya : “Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui maka Allah memberinya ilmu apa yang tidak ia ketahui.[H.R. Abu Na’im dari hadits Anas dan ia melemahkannya]

Sahl bin Abdullah At Tastari rahimahullah berkata : “Para ulama, para ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud dari dunia sedang hati mereka tertutup dan tidaklah terbuka kecuali hati orang-orang yang jujur dan orang-orang yang mati syahid, kemudian ia membaca firman Allah Ta’ala:

Artinya: “Dan di sisi Nya kunci-kunci Ghaib di mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia”. (Al An’am : 59).

Nabi SAW. bersabda dalam hadits Qudsi,

Artinya : “Senantiasalah hamba itu mendekatkan diri kepadaKu sehingga Aku menyintainya. Apabila Aku menyintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang mana ia mendengar dengannya”.

.

bersambung …..

.

l. Ia sangat menjaga dari hal-hal yang diada-adakan (baru)

Ketahuilah secara yakin bahwa orang yang paling ‘alim dari zaman ini, dan orang yang paling dekat dengan kebenaran adalah orang yang paling mengenal shahabat dan orang yang paling mengetahui jalan ulama salaf. Maka dari mereka (orang-orang ini) lah pengambilan agama itu.

Al Hasan berkata : “Dua orang yang mengada-adakan dalam Islam, yaitu seseorang yang mempunyai pendapat yang buruk di mana ia menduga bahwa syurga itu bagi orang yang berpendapat seperti pendapatnya; dan seseorang yang bermewah-mewah dan menyembah dunia, ia marah karenanya, ridha karenanya dan ia menuntutnya; maka tolaklah (lemparkanlah) keduanya ke neraka”.

“Hanya dua hal yaitu perkataan dan petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah Ta’ala dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW. Ketahuilah, takutlah kamu terhadap hal-hal yang diada-adakan, karena seburuk urusan/hal adalah yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap hal yang diada-adakan itu bid’ah, dan sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat. Ketahuilah, janganlah kamu memperpanjang tujuan (dunia) maka akan menyebabkan hatimu keras. Ketahuilah setiap apa yang akan datang itu adalah dekat. Ketahuilah bahwa yang jauh adalah sesuatu yang tidak datang”.[ibn Majah]

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Petunjuk yang baik di akhir masa adalah lebih baik dari pada banyaknya amal”.

Hudzaifah ra berkata : “Lebih mengherankan dari pada ini adalah perbuatan baikmu dewasa ini adalah kemungkaran pada masa yang telah lalu. Dan bahwasanya kemungkaranmu dewasa ini adalah perbuatan baik pada masa yang telah lalu.

Ia (Hudzaifah) telah benar karena sesungguhnya sebagian besar kebaikan-kebaikan masa ini adalah kemungkaran pada masa shahabat ra. Karena termasuk tipuan kebaikan pada masa kita ini adalah menghiasai masjid-masjid, membelanjakan harta benda yang banyak untuk mengerjakan bagian kecil-kecii dari bangunannya, menghamparkan permadani yang tebal padanya pada hal menghamparkan permadani di dalamnya terhitung bid’ah.

Demikian juga sibuk dengan perdebatan dan berdiskusi masalah-masalah yang pelik itu termasuk ilmu orang masa kini yang paling mulia, dan mereka menduga bahwasanya itu termasuk sebesar-besar pendekatan diri kepada Allah; padahal itu termasuk kemungkaran.

Benarlah Ibnu Mas’ud ra dimana ia berkata : “Kamu dewasa ini di masa hawa nafsu itu mengikuti ilmu, dan akan datang kepadamu masa di mana ilmu itu mengikuti hawa nafsu”.

Ahmad ibn Hambal berkata : “Mereka meninggalkan ilmu dan mereka menghadapkan diri padahal-hal yang asing. Alangkah sedikitnya ilmu di kalangan mereka, dan Allah-lah Dzat Yang dimintai pertolongan”.

Malik bin Anas rahimahullah berkata : “orang-orang pada masa yang lalu itu tidak menanyakan tentang urusan-urusan ini sebagaimana orang-orang sekarang bertanya. Dan ulama tidaklah mengatakan ‘halal dan haram’ tetapi saya mendapatkan mereka mengatakan ‘mustahab (sunnat) dan makruh;. Pengertiannya adalah bahwasanya mereka memandang mengenai makruh dan sunnat yang kecil-kecil. Ada pun haram maka kekejiannya jelas.

.
Inilah dua belas macam tanda ulama akhirat di mana masing-masing daripadanya itu satu jumlah dari akhlak ulama salaf. Jadilah kamu salah seorang dari dua orang yaitu :

– adakalanya bersifat dengan sifat-sifat ini, atau
– mengakui kelalaiannya serta mengakuinya.

Dan takutlah kamu untuk menjadi orang yang ketiga, yaitu :

– kamu ragu atas dirimu dengan kamu gantikan alat dunia dengan agama. Dan kamu miripkan perjalanan orang yang batal dengan perjalanan ulama yang meresap (ilmunya).

Dan dengan kebodohan dan keingkaranmu kamu menyusul golongan orang-orang yang binasa dan berputus asa.

Kami berlindung kepada Allah dari tipuan syaithan, padanya orang-orang yang banyak itu binasa. Lalu kami mohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan orang yang tidak ditipu oleh dunia, dan tidak ditipu oleh penipu dalam mencari keridhaan Allah.

.

Sumber: Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali.

3 thoughts on “Tanda-tanda Ulama Akhirat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s