Zakat Profesi

Zakat Profesi

Tanya:
Assalamualaikum wr wb. Saya berpenghasilan kira-kira Rp 20 juta per bulan. Saya pegawai kontrakan bukan pegawai tetap. Salahkah kalau saya tiap bulan mengeluarkan zakat profesi sebesar 2,5%? Sebenarnya bagaimana penghitungan untuk zakat profesi tersebut? Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr wb.



Jawab:

Kalau zakat profesi dianalogikan dengan zakat pertanian, apa yang Anda keluarkan itu telah memenuhi ketentuan. Berikut keterangannya.

Penghasilan yang diperoleh seorang Mukmin dan yang sebagian darinya diperintahkan untuk dikeluarkan nafkahnya dibagi oleh al-Qur’an (QS al-Baqarah (2): 267) ke dalam dua bagian pokok: “hasil usaha yang baik-baik” dan “apa yang dikeluarkan Allah dari bumi,” yakni hasil pertanian dan pertambangan.

Adapun yang dimaksud dengan ‘hasil usaha yang baik-baik’, para ulama dahulu membatasinya pada hal-hal tertentu yang pernah ada di masa Rasulullah Saw dan yang ditetapkan oleh beliau sebagai yang harus dizakati. Inilah dahulu yang dimaksudkan dengan zakat penghasilan. Selebihnya, usaha manusia yang belum dikenal di masa Nabi dan sahabat beliau tidak termasuk yang harus dizakati. Jadi, yang demikian itu tidak dimaksudkan oleh sementara ulama dalam pengertian ayat di atas sebagai “hasil usaha yang baik.”

Akan tetapi, kini telah muncul berbagai jenis usaha manusia yang menghasilkan pendapatan, baik secara langsung tanpa keterikatan dengan orang atau pihak lain seperti para dokter, konsultan, seniman, dan lain-lain, maupun yang disertai keterikatan dengan pemerintah atau swasta seperti gaji, upah, dan honorarium. Rasa keadilan dan hikmah adanya kewajiban zakat mengantar banyak ulama memasukkan profesi-profesi itu ke dalam pengertian “hasil usaha yang baik-baik.”

Dengan demikian, mereka menyamakannya dengan zakat penghasilan atau perdagangan dan menetapkan persentase zakatnya sama dengan zakat perdagangan, yakni dua setengah persen dari hasil yang diterima setelah dikeluarkan segala biaya kebutuhan hidup yang wajar, dan sisa itu telah mencapai batas minimal dalam masa setahun, yakni senilai 85 gram emas murni.

Ada berbagai pendapat lain yang menganalogikan penghasilan dari profesi itu dengan zakat pertanian. Dalam hal ini, jika dia beroleh penghasilan senilai 653 kilogram hasil pertanian yang harganya paling murah, maka ketika itu juga dia harus menyisihkan lima atau sepuluh persen (tergantung pada kadar keletihan yang bersangkutan) dan tidak perlu menunggu batas waktu setahun.

Menurut hemat saya, pendapat pertama yang menyamakan zakat profesi dengan zakat perdagangan lebih bijaksana, karena hasil yang diterima biasanya berupa uang sehingga lebih mirip dengan perdagangan dan atau nilai emas dan perak. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an)

Sumber: http://ramadan.detik.com/read/2010/08/29/163510/1430534/971/ketentuan-zakat-profesi

2 thoughts on “Zakat Profesi

  1. yang saya terima:
    zakat profesi itu di analoginkan dengan zakat pertanian untuk nishobya dan dengan zakat perdagangang untuk persentasinya

    artinya dikeluarkan ketika menerima harta itu sebesar 2.5%

    wallahu ‘alam bishowab

    –> kalau yang saya ketahui, yaa..yang digaris tebal itu

  2. Pingback: Zakat Profesi…??? « Petualangharakah’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s