Ketika Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at

Terkutib dari kitab Musnad as Syafi’i, karya syaikh Muhammad Abid as Sindi (w. 1257H) mengenai hari raya yang bertepatan dengan hari jumat sebagai berikut (terjemah oleh Bahrun Abu Bakar terbitan Sinar Baru Algensindo),

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad, telah menceritakan kepadanya Ibrahim ibnu Utbah, dari Umar ibnu Abdul Aziz yang.menceritakan: Di zaman Nabi. Saw. pernah terjadi dua hari raya bersatu, maka beliau bersabda,””Barang siapa yang dari kalangan penduduk Aliyah ingin tetap duduk (menunggu salat Jumat), hendakloh ia duduk tanpa harus bersusah payah.”

Penjelasan:
Di dalam kitab Al-Lisan disebutkan bahwa al awaali artinya yaitu daerah perbukitan yang terletak sejauh empat mil dari kota Madinah, dan yang paling jauh ialah dari arah Najd, letaknya delapan mil dari Madinah. Yang dimaksud dengan dua hari raya ialah hari Jumat dan hari raya. Nabi Saw menyuruh mereka memilih antara tetap tinggal menunggu salat Jumat atau kembali ke tempat tinggal mereka (sesudah salat hari raya). Seakan-akan Nabi Saw. berpandangan, tidak mau memberatkan dengan menahan mereka tidak kembali ke tempat tinggal mereka yang jauh dalam hari raya seperti ini sampai salat jumat selesai, sesudah mereka salat Id. Karena itu Nabi Saw. bersabda, “Hendaklah ia tetap duduk tanpa harus bersusah payah.”

Malik ibnu Anas telah menceritakan kepada kami, dari lbnu Syihab, dari Abu Ubaid maula ibnu Azhar yang menceritakan: Aku pernah menyaksihan (shalat) hari raya bersama Khalifah Utsrnan ibn Affan. Ia datang, lalu shalat (hari raya). Setelah salat, ia berkhotbah dan mengatakan (dalam khotbahnya), “sesungguhnya telah berkumpul menjadi satu bagi kalian di hari kalian sekarang ini, dua hari,raya. Maha barang siapa dari kalangan penduduk Aliyah ingin menunggu salat Jumat, ia boleh menunggunya. Dan barang siapa yang lebih menyukai kembali (ke tempat tinggalnya), maka sesungguhnya aku telah mengizinkan (untuk kembali).”

Selesai kutipan.

.

Berikut penjelasan pesantren virtual dan habib Munzir al Musawa mengenai hal ini dalam madzab Syafi’i. Semoga manfaat.

.

http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/274.shtml

Sebelumnya saya ingin menjelaskan dulu bagaimana keadaan masjid pada zaman Rasulullah. Pada zaman beliau masjid jami` (masjid besar yang digunakan untuk shalat jum`at) hanya ada di pusat kota Makkah/Madinah, sedangkan yang di desa-desa/pedalaman hanya ada masjid-masjid kecil, atau sering disebut musholla, yang tidak mampu menampung jumlah besar jamaah yang datang untuk shalat jum`at atau shalat Ied.

Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di desa/pedalaman bila ingin melaksanakan shalat Jum`at atau Ied, mereka pergi ke masjid besar, atau yang sering disebut masjid jami’. Mereka memerlukan perjalanan yang cukup meletihkan untuk pergi ke masjid jami` tersebut.

Suatu ketika hari raya bertepatan jatuh pada hari jum`at. Ini yang menyebabkan orang-orang yang tinggal di desa merasa kerepotan, karena harus pergi ke masjid jami’ dua kali dalam sehari, padahal perjalanan yang ditempuh terkadang cukup jauh. Bila mereka harus menunggu di masjid sampai waktu jum`at, tentu itu terlalu lama bagi mereka. Meskipun begitu sebagian sahabat yang dari pedalaman, ada yang berusaha menunggu di masjid jami’ sampai datangnya waktu jum`at. Sebagian lain ada yang kembali ke desa dan kembali lagi waktu shalat Jum’at.

Melihat keadaan yang seperti ini, Rasulullah berkata dalam suatu hadist sahih, yang diriwayatkan `Utsman RA, : “Barang siapa (dari penduduk pegunungan/pedesaan) yang ingin melaksanakan shalat jum`at bersama kami maka shalatlah, dan barang siapa yang ingin kembali maka kembalilah.”

Adapun pendapat Ulama` dalam kasus ini sebagai berikut, Syafi`iyah mengatakan shalat jum`at tetap wajib bagi penduduk kota/sekitar masjid, sedangkan bagi penduduk desa/pedalaman shalat jum`atnya gugur/tidak wajib (mendapat keringanan), berdasarkan hadist di atas.

Malikiyah, Hanafiyah, dan Dhahiriyah mengatakan tidak ada perubahan hukum dalam masalah ini, yaitu wajib melaksanakan shalat Jum`at bagi setiap mukallaf (baik penduduk desa/kota), dan sunnah melaksanakan shalat Ied.

Jadi, jika hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka bagi kaum Muslimin yang telah melaksanakan shalat Ied, mendapatkan kelonggaran untuk tidak mengikuti shalat Jum’at. Namun bagi yang ingin mengikuti shalat Jum’at pun tetap sah dan disunnahkan.

Sedangkan bagi imam Masjid, untuk tetap mendirikan shalat Jum’at untuk memberikan kesempatan bagi kaum Muslimin yang tidak sempat mengikuti shalat Ied atau ingin menunaikan shalat Jum’at. Hal ini didasarkan pada Sabda rasulullah s.a.w. yang artinya, “Nabi melakukan shalat Ied dan memberi keringanan dalam shalat Jum’at, beliau bersabda: ‘Barangsiapa ingin shalat Jum’at, maka shalatlah. Dan sesungguhnya kita telah berjama’ah (fa inna mujammi`un)’.” (H.R. Turmudzi)

Sekian dari kami semoga bermanfa`at

.
.

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=18439#18439

saudaraku yg kumuliakan,
hal itu (berlakunya keringanan itu) adalah di wilayah yg padanya hanya ada satu masjid, sebagaimana masa lalu muslimin berdatangan dari wilayah perkampungan dan wilayah jauh, maka mereka melakukan shalat ied saja, dan jika harus kembali lagi untuk jumat maka akan sangat melelahkan, maka diudzurkan jumat dihari itu,

beda dimasa kini yg masjid sudah ada dimana mana, maka tak ada udzur untuk meninggalkan jumat,

dan diperjelas pada riwayat shahih bahwa Nu’man bi Basyir ra berkata :

“Rasul saw membaca surat sabbihisma rabbikal a’la dan Hal ataaka pada shalat jumat dan Ied, dan jika bersatu Ied dan Jumat pada satu hari maka membaca dua surat itu pada keduanya” (Shahih Muslim Bab Maa yaqra’ filjum’ah, Shahih Ibn Khuzaimah, Shahih Ibn Hibban, Musnad Ahmad, dan banyak lagi).

mengenai udzur tsb adalah hadits riwayat Musnad Ahmad dan Ibn Khuzaimah bahwa Rasul saw menjelaskan jika hal ini terjadi maka Rasul saw memberi izin rukhsah/kemudahan untuk tidak melakukan jumat, dan barangsiapa yg ingin melakukan keduanya maka lakukanlah keduanya” (Shahih Ibn Khuzaimah)

namun tentunya hal itu adalah karena sedikitnya masjid masa itu, dan mereka berdatangan dari jauh.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

.

NB:

Menurut yang kami ketahui, keringanan itu berlaku bagi penduduk yang udzur dan/atau jauh dari masjid, bukan untuk setiap orang.

Ada yang salah dengan  adanya anggapan bahwa jika telah mengerjakan shalat id maka tidak perlu shalat jum’at. Bahkan saya pernah mendengar khotbah (yang di dalamnya ada pengumuman) di sebuah masjid bahwa masjid tersebut akan dengan sengaja tidak melaksanakan shalat Jum’at karena pada hari yang sama bertepatan dengan hari raya. Menurut hemat kami, yang dilakukan takmir masjid tersebut adalah keliru karena menutup ibadah jum’at bagi masyarakat sekitar yang tak ada udzur.

wallahu a’lam.

7 thoughts on “Ketika Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at

  1. Terimakasih atas penjelasannya.cuman yang saya masih bingngungkan bukankah solat ied pada jaman Rasulullah itu di kerkjakan di lapangan?

    –> Setahu kami, baginda Nabi saw mengerjakan shalat Ied di tanah lapang di dekat masjid beliau, karena jamaah yang banyak sehingga masjid tak mampu menampungnya. Dan jika hujan, yang berarti jamaah sedikit, maka shalat dilakukan di dalam masjid.

    Dalam madzab syafi’i, shalat ied di masjid lebih utama, karena masjid lebih bersih dan lebih mulia dari lapangan, kecuali bila masjid sempit sehingga tidak menampung semua jamaah. Syafi’i melihat bahwa Rasulullah melaksanakan shalat ied di lapangan karena pada saat itu masjid semakin tidak menampung jamaah akibat banyaknya umat Islam di Madinah. wallahu a’lam.

  2. wah,, makasih pengetahuannya sobat.
    jadi share buat Idul Adha Tahun ini nih yang Hari Rayanya bertepatan dengan Jum’at.

    jadi intinya selama kita masih kuat untuk melaksanakan keduanya,, maka laksanakanlah. Apalagi kondisi saat ini kan udah byk masjid dimana-mana,, tiap lingkungan juga byk tpt solat Idul Adha di jalan-jalan. Jadi melihat kondisi begini kita di Indonesia insya Allah masih sanggup menjalankan Shalat Idul Adha dan siangnya shalat Jum’at.

  3. alhamdulilah,,, trimakasih penjelasanya,,,,,,, brarti dapat di simpilkan,,,,,

    1, keringanan hanya di perbolehkan, untuk mreka yang tinggal jauh, d pedalaman,, yang ga da masjid atau mushalla,,,,,,, jaman skarang mungkin sudah gak ada hal sperti ini,,,, masjid udah bertaburan d manana,,,,

    2, bagi saya, seandainya memang, di kasih kringanan,,, maka yang harus d utamakan, ialah sholat jumaat nya,,, knapa..? karna solat eid hukumnya hanya sunnah,, sdangkan sholat jumat, jelas hukum nya wajib,, seperti tertera pda surat aljumah,,. kalo kita resapi,, bagaimana mungkin yang wajib, d kalahkan dengan yang sunnah…..

    3, wasallamualaikum,,,,,, hehehe….

  4. Wah terimaksih infonya.. Kalo boleh saya berpendapat… Berarti adanya ulama yang berbeda pendapat mengenai wajib tidaknya sholat jumat yang bertepatan dgn hara raya ied sebenarnya tidak perlu lagi. Karena hadist2 tersebut sudah jelas.. Maksudnya sholat jumat mungkin tidak wajib bagi mereka yang tinggalnya jauh dari masjid besar..tpi yang tinggal di sekitar masjid besar (jami’) tetap wajib melaksanaknnya..(Sholat jumat). Zaman skarang masjid sudah buannyakkk…

    Terima kasihh

    Wassalamm…

    –> karena sekr masjid di mana-mana dan ukurannya besar-besar, cukup untuk jum’atan. So…

    Sekedar informasi sebagai pembanding. Ada negeri yang muslimnya sangat sedikit (Eropa misalnya). Masjid (bukan mushala) ada di kota lain. Untuk bisa jumatan atau shalat hari raya, harus naik kereta atau bus ke kota itu. Hal seperti ini yang bisa di-qiyas-kan sesuai dengan maksud artikel. Bukan dengan keadaan di Indonesia yang di mana-mana ada masjid.

    wallahu a’lam. Maaf kl tak berkenan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s