Resensi: Tradisi Orang-Orang NU

Dalil-dalil Tradisi NU

Buku ini menjelaskan dalil-dalil yang menjadi dasar tradisi orang-orang NU. Berdasarkan Al Qur’an dan sunnah Nabisaw, tradisi NU dijelaskan landasan hujahnya. Diterbitkan oleh Pustaka Pesantren (LKiS), Jogjakarta, th 2006. Buku ini disusun oleh H Munawir Abdul Fatah, alumnus pesantren al Munawir Krapyak Jogjakarta.

Diberi pengantar oleh 3 (tiga) ulama senior, buku ini tampak cukup menjanjikan. Bagi yang ingin tahu dasar-dasar amalan orang NU, maka buku ini cukup baik dan lengkap. Dalil-dalil dikemukakan dari kitab-kitab ulama salaf. Jadi tidak benar jika amalan-amalan dan tradisi yang dilakukan masyarakat tradisional nahdliyin adalah bid’ah (sesat) semata.

Isi buku ini meliputi: BabI:Pendahuluan

Bab II : Landasan

Ahlussunnah WalJama’ah, Mengikuti Sahabat Nabi, Mengikuti Mayoritas, Mengikuti Ulama, Hukum Bermadzhab, Kitab-kitab al-Muktabarah, Thariqah Muktabarah, NU dan Bid’ah, Sistem Pengambilan Keputusan

Bab III : Masalah Ibadah

Mengucapkan Niat, Doa Iftitah, Membaca Basmalah, Bacaan Sujud, Doa Qunut, Mengangkat Tangan, Membalikkan Tangan, Tahiyat, Salam, Wiridan, Dzikir, Qadha’Shalat, Adzan Jum’at, Qabliyah dan Ba’diyahJum’at, Jum’atan Kurang 40, Khotbah tanpa Basmalah, Wanita Shdat Jum’at, Shalat Tarawih, Shalat Witir, Shalat Sunnah Sesudah Witir, Lailatul Qadar, Shalat Sunnah, Shalat Bulanan/Tasbih, Hari Raya, Khotbah’Id Dua Kali, Hari Raya Jum’at,

Shalat Jama’/Qashar, Tayammum, Adzan Berangkat Haji, Ziarah Ke Makam Rasul, Haji Amanat, Kurban tidak Dibagikan, Kurban dengan Uang, Kurban untuk Modal Usaha, Takbir Shalat Jenasah, MenyalatiJenasah yang Bunuh Diri, Membaca Dzikir ketika Mengantar, Kesaksian kepada Maytt/Jenasah, MengantarJenasah, AdzanJenasah, Shalat Hadiah, Shalat Ghaib, Fidyah, Ziarah Qubur, Ziarah Kubur di Bulan Ramadhan/Hari Raya, Wanita Ziarah Kubur

Bab IV : Masalah Sosial

Memutar Tasbih, Membaca “Sayyidina”, Berjabat Tangan Sesudah Shalat, Pujian, Tarhiem, Bilal, Lailatul Ijtima, Penetapan Hari Raya/Puasa Ramadhan, Mengganti Nama Haji, Berjabat Tangan dan Merangkul, Kulit Kurban untuk Mushala, Sedekah Uang, Sedekah bagi yang Sudah Meninggal, Membaca Shalawat ketika MemandikanJenasah, Cara Memikul dan Memasukkan ke Liang Lahat, Menabur Bunga di Atas Makam, Berjalan di kanan Kiri Nisan, Membangun dan Menghias Makam, Memperbaharui Nisan, Talqien, Peringatan 7 / 4 Hari, Haul, Tahlil, Tahlil di Makam, Istighfar untuk yang HiduP, Istighatsah/Mujahadah, Menanam Ari-ari dan Tingkeban, Memperingati Maulid Nabi, Shalawat Nariyah/Badriyah, Berzanjen Diba’an Burdahan Manaqiban, Membaca SuratYasin, Adzan anak Lahir, Menyentuh Al-Qur’an

Tawassul, Tadarus, Bacaan”Shadaqallahul Azhim”, Menafsirkan Al-Qur’an, Memakai Surban, Berjabat Tangan Laki-Perempuan, Mencium Tangan, Mengawali Pekerjaan, Mantera, Mengangkat Pemimpin, Wali Nikah Mewakilkan, Menghormat kepada Pejabat

—-

Namun, meski jumlah masalah yang dibahas cukup lengkap, dalil-dalil yang dipergunakan sebagai hujah sangat sedikit (walau mungkin sudah mencukupi). Referensi disebutkan dalam setiap penyebutan dalil, namun sayang hanya disebutkan nama kitabnya saja, tanpa ditulis nama ulama pengarangnya. Padahal bagi awam kadang hal ini sangat diperlukan. Saya sendiri sebagai contoh, ada yg tidak mengenal kitab yang disebutkan. Apa lagi yg lebih awam lagi.

Referensi, hanya disebut nama kitabnya. Tanpa menyebut penulis, penerbit, dan dicetak di mana. Ini sungguh sangat disayangkan sekali.

Selain itu, terlalu banyak kata “NU”, sehingga terkesan membela diri. Padahal tradisi-tradisi yang disebut sudah jamak dilakukan masyarakat. Entah itu NU ataupun bukan.

Penilaian kami, buku ini mempunyai nilai 3 1/2 bintang dalam skala 5 bintang.

Wallahu a’lam.

6 thoughts on “Resensi: Tradisi Orang-Orang NU

  1. Ass. wr. wb.

    Saudaraku yang dimuliakan Allah, usahakanlah kalau kita menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan ibadah harus dengan fatwa yang jelas pula. entah itu dalilnya, sanadnya, perawinya, dst. jangnalha sesuat yang bid’ah dianggap jadi sunnah hanya karena kita paham sedikit tentang hal itu. karena akan manjadi pertanggung jawabann kita kwlak di hadapan-Nya. Barakallahu fikum wa iyakum. Wassalam,

    –> wass ww. Terima kasih peringatannya … Kami dalam menjelaskan hujah kami insya Allah menyertakan dalil, baik Qur’an, hadits, ataupun pendapat/ fatwa ulama salafiyah sbg panutan kami.

    Demikian pula sebaliknya untuk yang mengklaim sbg anti bid’ah. Janganlah sesuatu yang sunnah atau mubah divonis jadi bid’ah hanya karena paham sedikit tentang hal itu. Kemudian menjuluki saudaranya sbg hizbiyun, musyrikun, dan julukan menyakitkan lainnya. Karena itu akan dipertanggung-jawabkan kelak di hari kemudian.

  2. Insya Allah sy akan beli bukunya. Tampaknya sangat menarik kajiannya.
    Mari kita mengambil sesuatu yg positif dari apapun yg ada. Bg yg krg suka dg tradisi NU ga ush mghakimi seolah2 hanya ibadah anda yg diterima? Sy yakin, apa yg mrk kerjakan punya dasarnya. tp jgn suruh mrk menunjukkan dasarnya. mrk mau melaksanakan sj sudh bagus.
    Ga perlu saling menyalahkan, apalagi membid’ahkan. Kdg yg bicara bid’ah sendiri malah ga taukalau dlm khdpannya ada bid’ah yg dikerjakan dan kdg itu tdk disadari olh mrk.
    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s