Antara 1 Muharam dan 1 Syuro

Dicuplik dari:  http://www.suaramerdeka.com/harian/0212/16/nas15.htm

“Sultan Agung (1613-1645M) menciptakan ‘kalender’ baru, yaitu kalender Islam-Jawa. Dia memerintahkan supaya kalender Jawa, yaitu tahun kalender Saka dari budaya Hindu, diganti dengan kalender Kamariyah dengan nama bulan Islam. Tetapi hitungan tahun masih meneruskan hitungan Jawa”.

Demikian pula dalam pengubahan penanggalan yang merupakan penyatuan kalender Islam dan tahun Jawa. Penetapan itu bertepatan dengan 1 Muharam 1053 H atau 1 Sura 1555. Nama bulan yang hingga kini masih menjadi penanggalan itu Sura (Muharram), Sapar (Safar), Mulud (Rabiul awwal), Bakda Mulud (Rabiul sani), Jumadiawal (jumadil ula), Jumadilakir (Jumadil sani), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadan), Sawal (Syawwal), Dulkangidah (Zulqaidah), dan Besar (Zul hijjah) (Zul hijjah).(G1-73t)

.

.

Sabtu, 12 Februari 2005     WACANA
Tarikh Jawa dan Hijriyah Beda Tahun
Oleh: Yekti Widiati (diedit orgawam dengan garis miring)

TARIKH Jawa dan Hijriyah beda tahun tetapi tanggalnya sama. Mengapa? Pertanyaan ini akan muncul manakala orang melihat kalender yang diterbitkan di Jawa. Deretan nama bulan, tanggal dan hari pasaran bertumpuk pada setiap halamannya. Untuk mengetahui penyebabnya tentu perlu ditelusur jejak sejarahnya.
.

Sejak Indonesia mengenal tulisan, masyarakatnya telah mengenal beberapa sistem kalender. Sistem kalender yang tertua yang berlaku di Indonesia adalah Tarikh Shaka yaitu sistem kalender yang berlaku ketika kebudayaan Hindu dan Buddha berkembang di Indonesia, ketika kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha muncul dan menjalankan perannya dalam sejarah.

Tahun Shaka ditetapkan oleh Raja Kanishka I dari Dinasti Kushana di India pada tahun 78 Masehi. Keduanya sama-sama menggunakan perhitungan berdasarkan peredaran matahari (365 hari/tahun). Dengan demikian untuk menarik persamaan tahun antara tarikh Shaka dengan tarikh Masehi tidaklah sulit. Jika tarikh Shaka jatuh pada tahun 1400 (sirna hilang kertaning bhumi), maka tahun ini sama dengan 1400+78=1478 Masehi.

Tarikh Shaka ini berlaku terus bahkan ketika Kerajaan Demak menggantikan peran Majapahit dan kemudian dilanjutkan dengan Pajang dan Mataram.

Bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Indonesia, berkembang pula kebudayaannya. Salah satu di antaranya adalah pemakaian tarikh Hijriyah, yaitu tarikh Islam yang ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khatab 16 tahun setelah peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Tarikh Hijriyah ini berdasarkan peredaran bulan (354-355 hari/tahun).

Meskipun kerajaan Demak, Pajang dan Mataram adalah kerajaan Islam, namun masih memakai tarikh Shaka. Sistem kalender yang dipakai oleh kerajaan Islam di Jawa ini baru mengalami perubahan ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma memerintah di Mataram. Sultan menetapkan berlakunya Tahun Jawa pada tahun 1555 Shaka.

Sejak ditetapkannya, perhitungan sistem kalender berubah yaitu mengikuti tarikh Hijriyah, tetapi melanjutkan tahun Shaka yang sudah berjalan. Jadi tarikh Jawa tidak mengenal tahun 01. Untuk selanjutnya tentu saja terjadi pergeseran angka tahun antara tarikh Shaka dengan tarikh Jawa karena tarikh Shaka berdasarkan peredaran matahari (tahun Syamsiah) sementara tarikh Jawa berdasarkan peredaran bulan (tahun Komariah).

Perbedaan juga terjadi antara tarikh Hijriyah dengan tarikh Jawa, karena tarikh Hijriyah yang ditetapkan oleh Khalifah Umar itu berlaku surut, yaitu sejak peristiwa Hijrah sementara tarikh Jawa melanjutkan tarikh Shaka yang sudah berjalan (namun penghitungan harinya berubah mengikuti Hijriyah). Maka pada kalender Masehi 2005 ini tercantum tahun Hijriyah: 1426 H, dan tahun Jawa 1938, dengan tanggal yang sama. Bagaimana dengan nama-nama bulan yang terkesan tidak sama antara tarikh Hijriyah dengan tarikh Jawa?

Nama-nama bulan pada tarikh Jawa sebenarnya sama dengan tarikh Hijriyah, namun dalam penyebutannya terjadi perubahan.

Perubahan tersebut ada yang disebabkan peristiwa penting yang terjadi pada bulan itu, ada pula yang disebabkan oleh perbedaan huruf Arab dengan huruf Jawa.

Tarikh Hijriyah diawali dengan bulan Muharam, sebuah bulan yang sering mencatat peristiwa penting dalam sejarah para Nabi, peristiwa kemenangan keimanan. Namun pernah terjadi peristiwa tragis dalam sejarah politik kekhalifahan yaitu antara Husain putra Ali bin Abi Thalib dengan Yazid bin Muawiyah yang ingin berkuasa sebagai khalifah.

Rombongan Husain bin Ali yang sedang menuju Kufah diadang oleh pasukan Ubaidillah, yaitu Gubernur Kufah bawahan Yazid, di Nainawa. Seluruh rombongan tewas, bahkan Husain diperlakukan secara keji. Peristiwa yang terjadi pada hari ke-10 (Assyura) di bulan Muharam tahun 74 Hijriyah atau bertepatan dengan 10 Oktober 680 Masehi dicatat sebagai bencana yang membawa duka yang sangat dalam, sehingga tempat terjadinya yaitu Nainawa lebih dikenal dengan sebutan Karbala (bencana-duka).

Bagi pendukung Ali bin Abi Thalib bencana yang membawa duka yang terjadi pada bulan Muharam itu seolah menutupi semua kemenangan yang terjadi pada bulan itu.

Bulan Muharam itu menjadi bulan duka. Karena terjadinya pada hari ke-10 maka disebut bulan Assyura (Jw: Sura). Mengapa masyarakat Jawa tidak ada yang menyelenggarakan perhelatan pada bulan Sura? Di berbagai tempat di Sumatra bencana duka itu diperingati dengan permainan rakyat Tabut.

.

Catatan orgawam:  Peristiwa sayidina Husein ra yang terjadi di hari Asyuro telah menjadi catatan sejarah. Namun tentang hari Asyuro yang memiliki keistimewaan, hal ini telah ada sejak di zaman Nabi saw, bahkan diistimewakan pula oleh kaum Yahudi. Hal ini diterangkan sendiri oleh baginda Nabi dengan hadits-hadits beliau, (lihat juga di sini)

Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah SAW bertanya, “Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa.”Rasulullah SAW bersabda, “Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian.” (HR. Abu Daud).

Ibnu Abbas RA menyebutkan, Rasulullah SAW melakukan puasa ‘asyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam.” Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud).

.

Beberapa contoh lainnya yang menyebutkan nama bulan Hijriyah berbeda dengan bulan Jawa, antara lain: Bulan Ramadan merupakan bulan wajib berpuasa bagi umat Islam maka Ramadan disebut bulan Puasa pada tarikh Jawa, sementara itu masyarakat mempunyai tradisi mengirim doa bagi arwah keluarga sebulan menjelang Ramadan maka bulan Syakban disebut Ruwah (dari kata arwah).

(Kelahiran =Maulid) Nabi Muhammad terjadi pada bulan Rabiul Awal. Maka bulannya disebut Mulud, sementara bulan berikutnya (Rabiul Akhir) disebut Bakda (=sesudah) Mulud.

Perubahan sebutan nama bulan yang disebabkan oleh perbedaan antara huruf Arab dengan huruf Jawa dapat dilihat pada nama-nama bulan seperti Dzulqaidah menjadi Dulkangidah, Shafar menjadi Sapar. Hal ini disebabkan huruf Arab ada yang tidak dijumpai pada aksara Jawa seperti Za, ‘Ain, Syin, dan Fa maka ditulis dengan aksara Jawa Ja, Nga, Sa, dan Pa.

Disamping itu juga kesulitan dalam melafalkan kata Arab, maka terjadilah perubahan tersebut. Misalnya bulan Ramadan sering dilafalkan juga dengan kata Ramelan.

Selain perbedaan angka tahun dan nama bulan, tarikh Jawa juga memiliki satuan tahun yang disebut windu yaitu delapan tahunan dan sepasaran (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi), sesuatu yang tidak dikenal pada tarikh Hijriyah. Dengan demikian sebenarnya tarikh Jawa merupakan perpaduan sistem kalender Hindu Jawa dan Islam.

Mudah-mudahan tulisan sederhana untuk menyambut kehadiran tahun baru 1426 Hijriyah dan 1938 Jawa ini bermanfaat bagi para pembaca. (18)

-Dra Yekti Widiati, Guru Sejarah Budaya SMA 6 Semarang

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/12/opi04.htm

About these ads

8 thoughts on “Antara 1 Muharam dan 1 Syuro

  1. kenapa yah 1 muharram ga semeriah tahun baru masehi?

    –> 1 muharam bukan untuk dimeriahkan. Kata sayidina Umar ra, “Ingatlah umur-mu”. Dengan tahun yang bertambah, dan mengingat umur yang semakin tua ini dan kubur yang semakin dekat, pantaskah kita bermeriah-meriah pula?

    Jika pun dibuatkan acara peringatan, maka peringatan yang tepat adalah (acara-acara) dalam rangka mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa. Majelis dzikir, pengajian, DLL.

    maaf kl tak berkenan.

  2. Mengapa budaya tradisional di Indonesia selalu mengidentikan bulan muharam dengan mistis dan diperingati dalam bentuk hiburan rakyat ( pada hal kalau dilihat sejarahnya bulan ini adalah bulan yang mengandung keimanan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s