Shalat Id, di Masjid atau di Lapangan?

Hukum Shalat Id di Masjid atau di Lapangan
23/09/2008
Hukum shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan tetapi tidak wajib). Meskipun ibadah sunnah muakkadah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya setiap tahun dua kali.

Imam As-Syaukani berkata: “Ketahuilah bahwasanya Nabi SAW terus-menerus mengerjakan dua shalat Id ini dan tidak pernah meninggalkannya satu pun dari beberapa Id. Nabi memerintahkan umatnya untuk keluar padanya, hingga menyuruh wanita, gadis-gadis pingitan dan wanita yang haid.”

“Beliau menyuruh wanita-wanita yang haid agar menjauhi shalat dan menyaksikan kebaikan serta panggilan kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yang tidak mempunyai jilbab agar saudaranya meminjamkan jilbabnya.”

Shalat Id tidak disyaratkan harus dilaksanakan di Masjid. Bahkan menurut pendapat Imam Malik shalat Id juga baik dilaksanakan di lapangan terbuka.

Karena Nabi Muhammad SAW juga melakukan shalat Id di lapangan kecuali karena ada hujan atau penghalang lainnya.

Adapun perbedaan di antara tanah lapang dengan masjid bahwa tanah lapang berada di tempat terbuka, sedangkan masjid berada di dalam sebuah tempat (bangunan) yang tertutup.

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى. فَأَوَّلُ شَيْئٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَة، ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَ النَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ وَ يُوْصِيْهِمْ وَ يَأْمُرُهُمْ. فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْئٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

“Dari Abi Sa’id Al-Khudri RA, ia berkata: “Rasulullah SAW biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang/lapangan) pada hari Idul Fitri dan Adha. Hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia, di mana mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau memberi pelajaran, wasiat, dan perintah. Jika beliau ingin mengutus satu utusan, maka (beliau) memutuskannya. Atau bila beliau ingin memerintahkan sesuatu, maka beliau memerintahkannya dan kemudian berpaling ….” (HR. Bukhari 2/259-260, Muslim 3/20, Nasa`i 1/234; )

Mengerjakan shalat Id di mushalla (tanah lapang) adalah sunnah, kerana dahulu Nabi SAW keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya, yaitu Masjid Nabawi yang lebih utama dari masjid lainnya. Waktu itu masjid Nabi belum mengalami perluasan seperti sekarang ini.

Namun demikian, menunaikan shalat Id di masjid lebih utama. Imam As-Syafi’i bahkan menyatakan sekiranya masjid tersebut mampu menampung seluruh penduduk di daerah tersebut, maka mereka tidak perlu lagi pergi ke tanah lapang (untuk mengerjakan shalat Id) karena shalat Id di masjid lebih utama. Akan tetapi jika tidak dapat menampung seluruh penduduk, maka tidak dianjurkan melakukan shalat Id di dalam masjid.

أَنَّهُ إِذَا كاَنَ مَسْجِدُ البَلَدِ وَاسِعاً صَلُّوْا فِيْهِ وَلاَ يَخْرُجُوْنَ…. فَإِذَا حَصَلَ ذَالِكَ فَالمَسْجِدُ أَفْضَلُ

”Jika Masjid di suatu daerah luas (dapat menampung jama’ah) maka sebaiknya shalat di Masjid dan tidak perlu keluar…. karena shalat di masjid lebih utama”

Dari fatwa Imam As-Syafi’i ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani telah membuat kesimpulan seperti berikut:

“Dari sini dapat disimpulkan, bahwa permasalahan ini sangat bergantung kepada luas atau sempitnya sesuatu tempat, kerana diharapkan pada Hari Raya itu seluruh masyarakat dapat berkumpul di suatu tempat. Oleh kerana itu, jika faktor hukumnya (’illatul hukm) adalah agar masyarakat berkumpul (ijtima’), maka shalat Id dapat dilakukan di dalam masjid, maka melakukan shalat Id di dalam masjid lebih utama daripada di tanah lapang”. (Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, jilid 5, h. 283)

Sebenarnya, melaksanakan shalat Id hukumnya sunnah, baik di masjid maupun di lapangan. Akan tetapi melaksanakannya di lapangan maupun di masjid tidak menentukan yang lebih afdhal.

Shalat di lapangan akan lebih afdhal jika masjid tidak mampu menampung jema’ah. Akan tetapi menyelenggarakan shalat Id lebih utama di masjid jika masjid (termasuk serambi dan halamannya) mampu menampung jema’ah.

Sekali lagi, fokus utama dalam hukum shalat Id ini adalah dapat berkumpulnya masyarakat untuk menyatakan kemenangan, kebahagiaan dan kebersamaan.

Di antara hikmah berkumpulnya kaum muslimin di satu tempat adalah untuk menampakkan kemenangan kaum muslimin; untuk menguatkan keimanan dan memantapkan keyakinan; untuk menyatakan fenomena kegembiraan pada Hari Raya; untuk menyatakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=14269

.

.

Shalat ‘Id dan Tata Letak Masjid

Sehubungan dengan masalah ini, para waliyullah kita telah memikirkan benar-benar design dan tata letak masjid-masjid untuk umat. Lihatlah .. setiap pusat kota yg dibangun masjid Jami’ (masjid agung) pasti di desain bersama-sama dengan alun-alun-nya (tanah lapang) sebagai halamannya. Masjid pasti terletak di sisi barat alun-alun. Apakah ini tanpa tujuan? Tidak .. masjid di desain pula untuk shalat jamaah (‘id) yg jika tak termuat jamaahnya, maka tinggal meluber ke alun-alun.

Alangkah jauh ke depan pemikiran leluhur kita. Di sini ada 3 contoh masjid sebagai referensi, Masjid Agung Demak, Masjid Agung Surakarta, dan Masjid Gedhe Jogjakarta. Dengan melihat citra (satelit) kita bisa mengtahui posisi letak masjid-masjid tersebut. Pasti disertai lapangan sebagai halaman masjid di sebelah timurnya.

Masjid-masjid kuno yang lain ku tak begitu tahu posisi tepatnya .. susah mencari posisinya di google earth. Mungkin pembaca bisa menelitinya di kota anda masing-masing. Cobalah. Syukur-syukur jika anda mau menuliskan laporannya dalam komentar di bawah.

Semoga ini menjadi tambahan ide cemerlang bagi kita .. jika di-dhapuk menjadi panitia pembangunan masjid .. di manapun.

.

.

Masjid Agung Demak 6.8946°S 110.6374°E

Masjid tertua di Pulau Jawa ini terletak di pusat Kota Demak,26 Km dari Kota Semarang. Dibangun oleh Wali Songo, Masjid ini merupakan Simbol cikal Bakal berdirinya Kerajaan Islam pertama oleh Sultan Raden Patah akhir abad 15. Bangunan masjid yang mempunyai nilai histories seni arsitektur tradisional khas Indonesia dengan bentuk atap Tajug, mempunyai keunikan tersendiri yakni keberadaan sebuh tiang penyangga (soko tatal) masjid yang terbuat dari potongan kayu (tatal) yang sudah tidak terpakai,konon diikat oleh Sunan Kalijogo sendiri menggunakan rumput lawatan. Sekitar 1,5 Km dari Masjid Agung Demak ke arah Tenggara terdapat Makam Sunan Kalijaga yang banyak dikunjungi oleh peziarah

Lokasi dan Posisi Masjid Agung Demak

Lokasi dan Posisi Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak adalah salah satu masjid tertua di Indonesia, terletak di pusat pekan Demak, Jawa Tengah, Indonesia. Masjid ini dipercayai dibinakan oleh Wali Songo (sembilan ketua keagamaan) sewaktu pemerintah pertama Kesultanan Demak, Raden Patah.

Masjid adalah bukti kemegahan dicapai oleh kemaharajaan Demak Bintoro sebagai kemaharajaan Islam pertama di pulau Jawa.

.

.

Masjid Agoeng Soerakarta 7.5743°S 110.8265°E

Masjid Agung Surakarta pada masa lalu merupakan Masjid Agung Negara. Semua pegawai pada Masjid Agung merupakan abdi dalem Keraton, dengan gelar dari keraton misalnya Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muadzin.

Masjid Agung dibangun oleh Sunan Paku Buwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Masjid ini merupakan masjid dengan katagori Masjid Jami, yaitu masjid yang digunakan untuk sholat lima waktu dan sholat Jumat. Dengan status Masjid Negara/Kerajaan karena segala keperluan masjid disediakan oleh kerajaan dan masjid juga dipergunakan untuk upacara keagamaan yang diselenggarakan kerajaan.

Masjid Agoeng Soerakarta

Masjid Agoeng Soerakarta

Masjid Agung merupakan kompleks bangunan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta secara keseluruhan berupa bangunan tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka.

http://id.wikipedia.org/wiki/Surakarta#Masjid_Agoeng_Soerakarta

.

.

Masjid Kraton Jogjakarta 7.8039 S, 110.3623 E

Dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I oleh seorang arsitek bernama K. Wiryokusumo, masjid ini mempunyai pengulu pertama yaitu Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat. Seperti halnya masjid-masjid lain di Jawa, masjid ini beratap tumpang tiga dengan mustoko, masjid ini berdenah bujur sangkar, mempunyai serambi, pawestren, serta kolam di tiga sisi masjid. Namun beberapa keunikan yang dimiliki oleh masjid ini adalah mempunyai gapura depan dengan bentuk semar tinandu dan sepasang bangunan pagongan di halaman depan untuk tempat gamelan sekaten.

Masjid Gedhe Kauman merupakan sebuah rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dengan Kraton Jogja sebagai kerajaan Islam hasil perundingan Giyanti pada tahun 1755. Berdiri di tahun 1773, Masjid Gedhe Kauman merupakan masjid tertua yang dibangun oleh Kerajaan Islam Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gempa yang terjadi pada tahun 1867 merubuhkan serambi asli, dan lantas serambi Masjid Gedhe diperbaharui dengan menggunakan material yang sebenarnya khusus diperuntukkan bagi bangunan kraton.

http://gudeg.net/directory/31/376/Masjid-Agung-(Gede)-Kauman.html

http://kauman.info/?p=48#more-48

.

.

Berbeda dengan masjid Besar yg dibangun masa kini. Tata letak seperti di atas sudah tak terpikirkan. Masjid Istiqlal misalnya. Seandainya masjid ini terletak di sebelah barat tanah lapang Monas .. pastilah insya Allah akan menampung lebih banyak jamaah lagi pada saat shalat ‘Id.

Wallahu a’lam.

.

Masjid Istiqlal Jakarta 6.1702 S, 106.8311 E

ide pembangunan Masjid Istiqlal di Jakarta oleh Bapak KH. Wahid Hasyim (Menteri Agama tahun 1950) dan Bapak Anwar Cokroaminoto, yang selanjutnya ditunjuk sebagai Ketua Yayasan Masjid Istiqlal.

Masjid Istiqlal Jakarta

Masjid Istiqlal Jakarta

Pada tahun 1953 dibentuklah panitia pertama pembangunan Masjid Istiqlal, yang diketuai oleh Bapak Anwar Cokroaminoto. Beliau menyampaikan ide pembangunan Masjid Istiqlal kepada Presiden RI DR. Ir. Soekarno mendukung sepenuhnya.

Pada tahun 1955, diadakan sayembara membuat gambar dan maket pembangunan Masjid Istiqlal, yang diikuti oleh 30 peserta, akhirnya dimenangkan oleh  F. Silaban dengan sandi Ketuhanan.

Pada tahun 1961, diadakan penanaman tiang pancang pertama pembangunan Masjid Istiqlal. Tujuh belas tahun kemudian bangunan Masjid Istiqlal selesai dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 22 Februari 1978.

http://www.masjidistiqlal.com/index.php?modul=text&page=detail&textID=19

.

Wallahu a’lam.

About these ads

2 thoughts on “Shalat Id, di Masjid atau di Lapangan?

  1. Kota di Jatim hampr semua dgn desain serupa : Tuban, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Bojonegoro, Kediri, Blitar, Jombang dst..

    –> ma kasih info-nya.

  2. Alhamdulillah……… perbedaan pendapat antara shlat id di lapangan atau di masjid tidak pernah menimbulkan masalah…….. mereka tidak pernah tawuran di jalan habis sholat id bila saling jumpa…… bahkan mereka saling bersalam salaman (inget waktu di kampung).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s