Hadits-hadits Kisah Isra’ Mi’raj

Hadits Kisah Isra’ Mi’raj

Qatadah: Telah mengisahi kami Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah ra, ia telah berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Ketika aku di al-Bait (yaitu Baitullah atau Ka’bah) antara tidur dan jaga”, kemudian beliau menyebutkan tentang seorang lelaki di antara dua orang lelaki. “Lalu didatangkan kepadaku bejana dari emas yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan keimanan. Kemudian aku dibedah dari tenggorokan hingga perut bagian bawah. Lalu perutku dibasuh dengan Air Zam Zam, kemudian diisi dengan kebijaksanaan (hikmah) dan keimanan. Dan didatangkan kepadaku binatang putih yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari baghal (peranakan kuda dan keledai), yaitu Buraq. HR al-Bukhari (3207).

.

.

Anas bin Malik r.a. berkata, “Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya.

Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Siapakah ini?’ Ia (jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah Anda bersama seseorang?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku bersama Muhammad saw.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah dia diutus?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang).

Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah orang ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kainya adalah penghuni neraka.’ Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, ‘Bukalah.’ Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.”

Anas berkata, “Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas berkata, “Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.’ Aku (Rasulullah) bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Idris.’ Aku melewati Musa lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Musa.’ Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Isa.’ Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya,’Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Ibrahim as..’” (HR. Bukhari no. 192)

.

.

Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena.’ Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. ‘Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, ‘Tuhan telah membebaskan separonya.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. ‘Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, ‘Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.’ Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Aku jawab, ‘(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.’ Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.’”(HR. Bukhari no. 193, 194)

.

.

Aisyah r.a. berkata, “Allah Ta’ala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat-dua rakaat, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selanjutnya, dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah lagi (rakaatnya).” (Dalam satu riwayat: Kemudian Nabi Muhammad saw. hijrah, lalu difardhukan shalat itu menjadi empat rakaat dan dibiarkan shalat dalam bepergian sebagaimana semula, 4/267).(HR. Bukhari no. 195)

.

Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Aku didatangi mereka (malaikat), kemudian mengajakku ke Sumur Zam Zam. Lalu dadaku dibedah, kemudian dibasuh dengan Air Zam Zam. Lalu aku dikembalikan.” HR Muslim (162.2), Kitab Iman, Bab Isra

.

.

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)

.

.

Hadis riwayat Malik bin Sha`sha`ah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Ketika aku sedang berada di dekat Baitullah antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata: Salah satu dari tiga yang berada di antara dua orang. Lalu aku didatangi dan dibawa pergi. Aku dibawakan bejana dari emas yang berisi air Zamzam. Lalu dadaku dibedah hingga ini dan ini. Qatadah berkata: Aku bertanya: Apa yang beliau maksud? Anas menjawab: Hingga ke bawah perutnya. Hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air Zamzam, kemudian dikembalikan ke tempatnya dan mengisinya dengan iman dan hikmah. Lalu aku didatangi binatang putih yang disebut Buraq, lebih tinggi dari khimar dan kurang dari bighal, ia meletakkan langkahnya pada pandangannya yang paling jauh. Aku ditunggangkan di atasnya. Lalu kami berangkat hingga ke langit dunia. (Sampai di sana) Jibril minta dibukakan. Dia ditanya: Siapa ini? Jibril menjawab Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Ya, jawabnya. Malaikat penjaga itu membukakan kami dan berkata: Selamat datang padanya. Sungguh, merupakan kedatangan yang baik. Lalu kami datang kepada Nabi Adam as. (selanjutnya seperti kisah pada hadis di atas). Anas menjelaskan bahwa Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as. di langit kedua, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf as. di langit keempat dengan Nabi Idris as. di langit kelima dengan Nabi Harun as. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Kemudian kami berangkat lagi. Hingga tiba di langit keenam. Aku datang kepada Nabi Musa as. dan mengucap salam kepadanya. Dia berkata: Selamat datang kepada saudara dan nabi yang baik. Ketika aku meninggalkannya, ia menangis. Lalu ada yang berseru: Mengapa engkau menangis? Nabi Musa menjawab: Tuhanku, orang muda ini Engkau utus setelahku, tetapi umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku. Kami melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh. Aku datang kepada Nabi Ibrahim as. Dalam hadis ini dituturkan, Nabi saw. bercerita bahwa beliau melihat empat sungai. Dari hilirnya, keluar dua sungai yang jelas dan dua sungai yang samar. Aku (Rasulullah saw.) bertanya: Hai Jibril, sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua sungai yang samar adalah dua sungai di surga, sedangkan yang jelas adalah sungai Nil dan Furat. Selanjutnya aku diangkat ke Baitulmakmur. Aku bertanya: Hai Jibril, apa ini? Jibril menjawab: Ini adalah Baitulmakmur. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk ke dalamnya. Apabila mereka keluar, tidak akan masuk kembali. Itu adalah akhir mereka masuk. Kemudian aku ditawarkan dua bejana, yang satu berisi arak dan yang lain berisi susu. Keduanya disodorkan kepadaku. Aku memilih susu. lalu dikatakan: Tepat! Allah menghendaki engkau (berada pada fitrah, kebaikan dan keutamaan). Begitu pula umatmu berada pada fitrah. Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh kali tiap hari. Demikian kisah seterusnya sampai akhir hadis. (Shahih Muslim No.238)

.

.

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. menuturkan perjalanan Isra’nya. Beliau bersabda: Nabi Musa as. berkulit sawo matang, tingginya seperti lelaki Syanu’ah (nama kabilah). Beliau bersabda pula: Nabi Isa as. itu gempal, tingginya sedang. Beliau juga menuturkan tentang Malik as. penjaga Jahanam dan Dajjal. (Shahih Muslim No.239)

.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Ketika aku diisra’kan, aku bertemu dengan Nabi Musa as., ia seorang lelaki yang tinggi kurus dengan rambut berombak, seperti seorang Bani Syanu’ah. Aku juga bertemu dengan Nabi Isa as. ia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya. Lalu aku diberi dua bejana, yang satu berisi susu dan yang lain berisi arak. Dikatakan padaku: Ambillah yang engkau suka. Aku mengambil susu dan meminumnya. Kemudian dikatakan: Engkau diberi petunjuk dengan fitrah atau engkau menepati fitrah. Seandainya engkau mengambil arak, niscaya sesat umatmu. (Shahih Muslim No.245)

.

Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: Ketika Nabi SAW diisra`kan, beliau melewati seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka ada banyak orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka beberapa orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka tidak ada seorangpun sampai beliau melewati kelompok yang besar. Aku berkata: “Siapa Ini?” Dijawablah (oleh Jibril): “Musa dan kaumnya. Akan tetapi angkatlah kepalamu, kemudian lihatlah!” Kemudian ada kelompok besar yang memenuhi ufuk dari sebelah sana dan dari sebelah sana. Lalu dikatakan (oleh Jibril): “Mereka adalah umatmu dan yang lainnya adalah kelompok dari umatmu yang berjumlah tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).” Kemudian beliau masuk (ke kamar beliau) dan mereka (para sahabat) tidak menanyai beliau dan beliau tidak merangkan kepada mereka. Maka mereka berkata: “Kami adalah mereka itu tadi”. Dan ada pula yang berkata: “Mereka adalah anak-anak kami yang lahir dalam fitrah dan Islam”. Kemudian Nabi SAW keluar, lalu bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan besi panas, tidak meruqyah, dan tidak pula bertakhayul (tathayyur). Dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka.” Lantas Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata: “Saya termasuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya.” Kemudian yang lain lagi berdiri lalu berkata pula: “Saya termasuk mereka?” Beliau menjawab: “Kamu telah didahului oleh Ukasyah (dalam bertanya demikian).” HR at-Tirmidzi (2446). Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih”.

.

Anas berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali mereka berkata: Wahai Muhammad, suruhlah umatmu berbekam.”
HR Ibnu Majah (3479), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Disahkan al-Albani dalam Shahih al-Jami` (II: 5671), dan Takhrij al-Misykat (4544).

.

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali tiap mereka berkata kepadaku: Wajib bagimu wahai Muhammad untuk berbekam.” HR Ibnu Majah (3477), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah (V: 2263) dan Shahih al-Jami` (II: 5672).

.

Dari Ibnu Mas’ud, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diisra’kan. Iapun bertanya: “Wahai Muhammad, suruhlah umatmu mengucapkan salam kepadaku, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya surga subur tanahnya, manis airnya, dan terhampar luas. Dan bahwasanya tanamannya adalah (ucapan dzikir) Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.” HR at-Tirmidzi (3462), Kitab Doa-Doa dari Rasulullah, Bab Dalil tentang Keutamaan Tasbih, Takbir, Tahlil, dan Tahmid.

Beliau berkata: Ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini dari hadits Ibnu Mas’ud. Dihasankan al-Albani dalam ash-Shahihah (I:105) dengan dua syahid (penguat) dari hadits Ibnu ‘Umar dan hadits Abu Ayyub al-Anshari.

.

Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW : “….. Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama’ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu’ah. Dan ada pula ‘Isa bin Maryam alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim ‘alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril): “Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!” Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam. HR Muslim (172).

.

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Pada malam aku diisra’kan aku melewati Musa di gundukan tanah merah ketika dia sedang shalat di dalam kuburnya.” HR Muslim (2375), Kitab Keutamaan-Keutamaan, Bab Sebagian Keutamaan Musa.

.

Dari Abu al-’Aliyah: Telah mengisahi kami sepupu Nabi kalian, yaitu Ibnu ‘Abbas radhiya`llahu ‘anhuma, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: “Pada malam aku diisra’kan aku telah melihat Musa, seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi kekar, seakan-akan dia adalah lelaki Suku Syanu’ah. Dan aku telah melihat ‘Isa, seorang lelaki bertinggi sedang, berambut lurus. Dan aku juga telah melihat Malaikat Penjaga Neraka dan Dajjal” termasuk ayat yang telah diperlihatkan Allah kepada beliau. {maka janganlah kamu ragu tentang pertemuan dengannya (yaitu Musa) (as-Sajdah, 32: 23)}. Koreksi: [23. Dan sungguh, telah Kami anugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa, maka jangan- lah engkau (Muhammad) ragu-ragu mene- rimanya (Al-Qur'an) dan Kami jadikan Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani lsrail]

Dari Anas dan Abu Bakrah, dari Nabi SAW: “Malaikat-malaikat kota Madinah berjaga-jaga dari Dajjal.” HR al-Bukhari (3239), Kitab Permulaaan Penciptaan, Bab Penyebutan Malaikat.

.

Abu Hurairah telah berkata: Pada malam beliau diisra`kan, disodorkan kepada Rasulullah SAW dua gelas minuman: khamr (minuman keras) dan susu. Beliaupun melihat keduanya, lalu mengambil susu. Jibril berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki engkau kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu.” HR al-Bukhari (4709), Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab Firmannya {yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram (al-Isra’, 17: 1)}.

.

Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika aku diisra`kan, aku bertemu Musa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Dia adalah lelaki, aku mengira beliau bersabda: Kurus, agak tinggi. Rambutnya ikal, seakan-akan dari suku Syanu’ah. Beliau bersabda: Dan aku bertemu ‘Isa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Beliau bersabda: Tingginya sedang, berkulit kemerahan, seperti baru keluar dari Dimas, yaitu pemandian. Dan aku telah melihat Ibrahim. Beliau bersabda: Dan aku adalah keturunannya yang paling mirip dengannya. Beliau bersabda: Dan disodorkan kepadaku dua gelas minuman. Salah satunya susu, dan yang lain khamr. Kemudian dikatakan kepadaku: Ambillah yang mana dari keduanya yang engkau kehendaki! Akupun mengambil susu, kemudian meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku: “Engkau telah ditunjuki kepada fitrah” atau “Engkau telah menepati fitrah. Adapun sungguh seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu.” HR at-Tirmidzi (3130), Kitab Tafsir al-Qur`an dari Rasulullah, Bab Dan Dari Surah Bani Isra`il. Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”

.

Sumber: http://shasumaa.multiply.com

Dan lain-lain.

About these ads

81 thoughts on “Hadits-hadits Kisah Isra’ Mi’raj

  1. Hadist tentang Isro, yang sangat aneh, saya belum bisa mempercayai.
    Bila saya telah membaca hadist tsb, sebelum saya masuk islam ,pasti saya akan lari meninggalkan islam. Alhamdulilah saya berkenalan dengan Islam pertama kali melalui Al-Quran.

    • salam kepada saudaraku, assalamu alaikum,, ^_^
      Rasulullah SAW pun bersabda, dlm penggalan hadits “sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, beriman kepadaku dan apasaja yang aku bawa” maka hendaklah kita mempercayai semua yang di bwa oleh Rasulullah saw,, :)

  2. jangan diri merasa lebih suci, merasa pandai dari orang lain, merasa apa yang belum dibacanya tidak percaya…kasihanlah umur kita terlalu pendek, jangan-jangan keburu meninggal dunia sebelum menemukan dalilnya…lantas kapan kita aplikasikan kebaikan dalam kehidupan…umur kita terlalu pendek di dunia ini lakukan saja kebaikan demi kebaikan…nggak usah menyalahkan orang yang kita sendiri tidak tahu alasanya…

  3. Mari kita lihat hikmahnya peristiwa yang ghoib ini. Ingat, hanya orang yang bertaqwa saja yang mempercayainya.

    Di sana disebutkan Allah memerintahkan sholat 50x dalam sehari semalam. Bukan berarti Allah tidak tahu kemampuan umat hambanya. Allah tahu kalau umat Nabi hanya kuat 5x dan itulah sebenarnya yang dimintaNya, tetapi Allah yaf’alu au yahkumu ma yurid.

    Di sana ada dialog Nabi dengan Musa dimana beliau menyarankan untuk minta keringanan. Ada hikmahnya yakni agar kita jangan tergesa2 amalkan sesuatu tanpa minta pendapat yang lebih senior.

    Di sana ada permintaan Nabi untuk diringankan dan Allah selalu memberinya. Ini bukan “tawar menawar” tetapi perhatikan bahwa Allah Maha Pemurah. 5x = 50 nilainya.

    Di sana Musa masih menyuruh Nabi untuk kembali padahal sudah dikurangi sampai tinggal 5x dengan alasan beliau tidak berhasil menerapkannya untuk umatnya, tetapi Nabi menolak, Nabi tidak perlu mengikuti omongan Musa ini karena sifat Fathonah dari Nabi.

    Di sana Nabi menyebutkan alasannya malu. Inilah sifat atau karakter Nabi yang mewarnai dan menjadi ciri umat Islam. Kalau tidak umat ini nggak punya rasa malu.

    Coba kalau perintah dari awal cuman 5x. Tidak mungkin umat ini bisa melaksanakannya, persis seperti umat Musa meskipun mereka lebih kuat fisiknya. Ini menunjukkan superioritas Nabi dan umatnya. Allah sudah membikin plotnya ya seperti itu (seperti “tawar menawar”).

    Di sana disebutkan wajah atau tampang Nabi mirip Musa ini memang sudah ada prediksinya di Bibble.

    Dll. silahkan dicari lagi hikmahnya, masih banyak. Tentu saja hanya orang yang bertaqwa saja yang bisa mengambilnya sebagai hidayah.

    Semua itu adalah ujian bagi manusia sejak jaman Nabi s/d hari akhir. Ingat … yudhillu bihi katsiro wa yahdi bihi kastiro… silahkan anda pilih.

  4. Assalamualaikum wr wb Kalo menurut saya peristiwa ghoib ini agak sdikit rancu, misalnya waktu peristiwa isra khn jman dulu masjidil aqsa dbangun tahun 600 an oleh ummayah? (lupa), nah itu setelah 53 tahun wafatnya muhammad kq bisa nabi mengatakan ke masjidil aqsa pdhal wkt itu aqsa belum di bangun?,
    Yg ke 2 wkt mi’raj mana ada perintah Tuhan dbantah 50 ya 50 kali, karena Allah tau kemampuan umatNYA masa perintahNYA Dilanggar , jd apa muhammad sedang merancu?
    Yg ke 3. Pd saat sebelum muhammad isra mi’raj wkt itu muhammad ada di rumah seorang janda hingga tengah malam? Kenapa nabi suci ada di rumah janda sampe tengah malam khn bkan suaminya lho? Mana yg bener ya…..

    –> Masjidil Aqsa itu ada jauh sebelum baginda Nabi saw. Dibangun sejak era Nabi Sulaiman as (coba cek lagi). Telah menjadi kiblat umat islam saat melakukan shalat, sebelum diperintahkan menghadap kiblat ke Ka’bah di Makkah sebagaimana yang sekarang ini.

    Di rumah janda ??? Baru dengar ini saya. Anda tampak sekali tak mengerti tentang Rasulullah saw, riwayat hidupnya, sejarahnya, akhlaknya, dan lain-lain. Anda tak tahu sejarah islam dan sejarah lainnya. Mungkin anda terpengaruh oleh tulisan2 non muslim, atau malah anda bukan muslim. Jika anda seorang muslim, belajar lah islam ke sumbernya. Bukan ke tulisan/kaum orientalis.
    wallahu a’lam.

    • untuk edwin… tolong jika memang anda tidak percaya cukup dihati anda saja jangan berkomentar yang tidak ada dasarnya

      jangan berkomentar sesuai dengan analisa akal anda sendiri karena agama islam berdasarkan pada 2 hal yaitu akal dan dalil….
      ada peristiwa yang mampu dijelaskan dengan akal ada juga peristiwa yang tidak mampu dijelaskan dengan akal… itulah perintah allah , yang namanya kekuasaan allah sudah pasti tidak dapat diterka oleh nalar manusia

      jika dalil tersebut bisa diterka maka itu bukan dari tuhan namanya… itu dari manusia

    • for edwin yang sok tahu n aga celeno.. win darimana sumber yang mengatakan masjid al-Aqso dibangunnya oleh ummayyah.. ngaco lo ah..cari lagi deh sumbernya..
      rasul nginep dirumah janda???? ga salah tuh??? perasaan yang sering nginep dirumah janda kan xxxxx lu wkwkwkwkkw..
      please deh ah.. kalo belajar agama jangan kaya maen PS donk .. cari sumber dari dua sumber utama serta ijma dan Qiyas ulama..
      win win dasar ..dasar…

      • Assalamu’alaikum

        gak perlu di gubriss mas Ucup, itu pertanyaan pendebat Kristen dr negeri sebrang, COPAS doank tuh, kgak kreatif kan??! lagian udah dijawab juga tuh di COPY PASTE anya beliau (mas Edwin ini) hahaha menggelikan

        wassalaamu’alaikum

    • mas Edwin yang saya cintai, mohon maaf ini saya sebelumnya, kalau ada persangkalan tolong dengan bahasa anda sendiri, atau kalau mau “COPY PASTE” kata kata orang di blog sebelah gak ada salahnya tuh dikasih nama penulisnya, atau disertakan alamat webnya atau paling gak, anda edit biar pertanyaan anda gak jadi anda jawab sendiri, jadi ketahuan tuh, mohon maaf sekali lagi… (udah dua kali lhoo mhon maaf :)

      wallahu ta’ala a’lam

  5. Anda bisa menganalisa bahwa hadits ini adalah palsu…Tidak mungkin perintah Allah bisa ditawar…Allah maha tahu tentang kemampuan hambanya..bukan para nabi..dan jika Allah sudah menetapkan sesuatu pastinya tak bisa ditawar…Hadits palsu yang ada di hadits shahih bukhari…

    –> jawaban saya singkat saja. Anda tak punya ilmu hadits, atau anda pengacau orang islam.

  6. Perlu diingat lagi…hadits adalah perkataan manusia jadi bukan perkataan Illahi..pastinya ada kekurangan dan kesalahan..Yang sempurna sudah pasti al quran…

    • jake… jake.. nganco juga lo ya… gw berani jamin 100000000000000000000000000% kalo hadis yang dikeluarkan Rasul Saw pasti benar ga mungkin ada sedikitpun yang salah karna udah dijamin Alloh.. “la yan tiku anil hawa in huwa illa wahyu yuha”.. awas jake kalo loe ga ngeyakinin kebenaran hadist kayanya loe mesti baca lagi sahadat deh.. itupun kalo loe moeslim.. ok.. prikitieew ah

  7. Allah Maha Mengetahui. Memang dalam kisah awal, ada perintah Shalat 50 x dalam sehari. Itu bukan tanpa makna, hingga akhirnya menjadi 5 x dalam sehari. Jika Anda-Anda semua makin mengkaji, silakan kunjungi http://www.ssq-dla.com dan hubungi pemiliknya. Insya ALLAH ada jawabannya. Baik dari sudut pandang iptek, maupun dasar hukumnya. Telitilah, baru berkomentar.

  8. Subhanallah..
    Peristiwa isra mi’raj sungguh merupakan ujian keimanan..
    di zaman Nabi, cerita ini sudah bikin orang banyak geleng2 kepala, banyak yg mendustakannya..

    heran, di zaman sekarang masih ada aja orang yg begituan.. kasian

    • Kalau jaman sekarang masih ada orang yang mendustakan peristiwa isra mi’raj pasti saat menerima pelajaran fisika gak masuk ke akalnya. Atau pengajarnya yang bermasalah dan kurang luas ilmunya. Wasalam.

  9. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Para pembaca yang dimulyakan oleh Allah swt. sesama muslim, Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw adalah peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam, bahkan di negara kita peristiwa ini diperingati dengan sangat meriah dan hari H-nya dijadikan hari libur nasional.

    Namun banyak diantara kita yang hanya puas dengan cerita dan kisah yang terus menerus tanpa tahu hakekatnya. Selain itu seringkali terjadi perbedaan yang cukup tajam, mengenai apakah peristiwa itu terjadi secara jasmani atau rohani.

    Tulisan singkat ini mencoba menarik perhatian dan pikiran kita untuk direnungkan hakikat yang sebenarnya dari peristiwa tersebut supaya kita dapat mengambil hikmahnya.

    Semoga para pembaca menemukan kebenaran. Amin Allhumma Amin!

    Wassalam,

    Penyusun

    Dalil Al-Quran:

    Allah menetapkan dengan tegas dalam Al-Quran bahwa tempat manusia di bumi (7:10, 25 / 77:25-26),
    Sunnatullah tetap, selamanya tidak akan berubah (17:77 / 33:62 / 35:43 / 48:23), Allah tidak akan mempergunakan sunnahNya secara membabi buta!
    Mukmin berdiri pada dalil yang pasti ( 6:57 / 12:108),
    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya ( 2:286 ),
    Jin dan manusia tidak dapat menembus langit dan bumi kecuali dengan kekuatan (55:33),
    Ayat Al Quran banyak berupa perumpamaan (17:41, 89 / 18:54 / 30:58 / 39:27),
    Allah murka terhadap orang-orang yang tidak mempergunakan akal (10:100),
    Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun (10:44).

    Perlu kita renungkan:

    Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?
    Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?
    Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?
    Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?
    Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).peristiwa tersebut hanyalah merupakan Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah peman-dangan rohani belaka?
    Para mufasirrin sepakat bahwa Surat Al Isra diturunkan sekitar dari Mekah ke Madinahyaitu ketika Nabi saw dan sama sekali tidak menyebut Mi’raj, sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An Najm yang diturunkan sekitar dan sedikitpun tidak menyinggung kepergian Nabi saw ke langit. Apakah Nabi saw menemui Tuhan harus naik ke langit, apa sewaktu di bumi tidak pernah bertemu dengan Tuhan? Jadi jelas jarak antara turunnya kedua surat tersebut selisih 6 tahun, maka sesuai saat turunnya kedua surat tersebut tidakkah urutannya menjadi Mi’raj dulu baru Isra’?.
    Menurut pemahaman umum bahwa perintah sholat mulai difardhukan atau ditetapkan pada peristiwa Mi’raj ketika Nabi saw menghadap Tuhan, apabila paham ini benar serta dibenarkan pula paham Mi’raj terjadi ber-sama Isra merupakan satu peristiwa, maka jika demikian halnya berarti Rasulullah saw beserta umatnya mulai sholat baru sekitar 11 tahun sesudah diutus, apakah sebelumnya Rasulullah saw beserta umatnya belum menjalankan sholat?
    Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw sampai naik turun beberapa kali agar Allah mengubah perintah shalat 50 kali sehari semalam menjadi hanya 5 kali. Apakah Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana itu sebelumnya tidak mengetahui bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu menjalankan ibadah shalat 50 kali sehari semalam? Naudzubillah min dzalik! Mengapa Musa lebih mengetahui keberatan umat Nabi Muhammad saw, bukan Nabi saw sendiri yang kenal langsung umatnya yang mengajukan keringanan perintah shalat tersebut? Sebaiknya kita terima paham yang lebih benar bukan sesuatu yang dirasakan ganjil dengan kisah-kisah yang tidak dapat diterima dengan akal sehat!
    Dalam hal Nabi saw dibelah dadanya, jantung dikeluarkan, dibersihkan kemudian diisi dengan iman dan hikmah ditampung dalam bejana emas. Kita yakin bahwa iman dan hikmah bukanlah benda yang dapat dibawa ditampung dalam bejana emas dan orang yang dibelah dan dibedah dadanya, jantungnya dikeluarkan mungkinkah beliau tetap hidup? Lalu yang dicuci di dalam jantung Nabi saw itu kotoran apa? Apakah masih perlu jantung beliau dibersihkan dari hal yang belum bersih? Lagi pula apakah tadinya jiwa Nabi saw itu kosong dari iman dan hikmah? Arti kasyaf. tersebut sebenarnya merupakan isyarat bahwa Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?
    Dalam hadits Nabi saw melihat sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak, jelas kita mengetahui bahwa kedua Bukankah hal ini merupakan
    Dalam hadits diceritakan pula bahwa Jibril membuka atap rumah Nabi saw kemudian turun. Mengapa kali iniJibril sampai membuka atap rumah Nabi saw, padahal bertahun-tahun Nabi saw menerima kedatangan Jibril tanpa Benarkah atap rumah Nabi saw terbuka? Tidakkah hal ini membuktikan pemandangan rohani belaka? bahwa
    Dalam hadits disebutkan bahwa sewaktu Nabi saw Mi’raj bersama Jibril, Jibril mengetuk pintu langit agarpenjaga pintu membukanya! Apakah langit suatu bangunan atau benda berbentuk gedung yang ada pintunya? Apakah malaikat penjaga pintu tersebut tidak diberitahu bahwa ada tamu penting yang akan datang? Tidakkah hal ini membuktikan bahwa semua yang dialami oleh Nabi saw dalam Mi’raj hanyalah merupakan
    Jika Bouraq yang dikendarai Rasulullah saw berupa kuda dengan kepala seorang wanita yang cantik ini benar-, seharusnya sekarangpun binatang tersebut harus ada, ternyata hingga sekarangpun kita semua tidak pernah melihat ataupun mengenalnya, bukankah hal ini merupakan Dan apakah ada ayat Al Quran yang menjelaskan tentang binatang Bouraq tersebut?
    Dan kita coba melihat arti dan rahasia yang tersimpan di dalam pemandangan rohani Nabi saw. dalam peristiwa. Perjalanan Nabi saw dari Makkah ke Masjidil Aqsha mengandung petunjuk bahwa Nabi saw bakal hijrah dari Makkah. Surat Al Isra’ ayat 1 yang artinya: “Masjidil Aqsha yang Kami berkati sekelilingnya”. Pada saat itu di Palestina belum ada masjidil Aqsha. Arti Masjidil Aqsha adalah masjid yang jauh, jarak antara Makkah ke Madinah ratusan kilometer. Tidakkah hal ini telah menjadi kenyataan bahwa Nabi saw benar telah hijrah dari Mekkah ke Madinah yang diberkati sekelilingnya?

    Wassalamu ‘ala manittaba’al huda wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

    • Saudara Dildaar80,

      Komentar Anda yang ke -1 :

      Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?

      Jawaban saya :
      Apakah Saudara juga tidak membaca tentang kisah Nabi Isa diangkat kelangit?

      Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku …. ( S. Al imron : 55)

      Apakah disana ukurannya akal juga ? Bagaimana Nabi Isa hidup ? dan sampai sekarangpun Beliau masih hidup.

      Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya…. ( An-Nisa: 171)

      Kejadian Nabi Isa terlahir bukan melalui proses perkawinan seperti kejadian manusia pada umumnya tetapi diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dengan tiupan ruh dari-Nya.
      Lalu apakah ini juga sesuai akal Saudara ? kalo Saudara mengandalkan akal?

      Ringkasnya untuk jawaban ini :

      ان الله علي كل شيئ قدير

      Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

      Komentar Anda yang ke-2 :

      Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).peristiwa tersebut hanyalah merupakan Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah peman-dangan rohani belaka?

      Jawaban saya :

      Bunyi potongan ayat itu :

      وما جعلنا الرأيا التي ارينك الا فتنة للناس

      Dan Kami tidak menjadikan “ru`ya” yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia .. ( Al-Isra :60)

      Ibnu Abas berkata :

      قال ابن عباس : هي رؤيا عين رآها النبي – صلى الله عليه وسلم – لا رؤيا منام

      Kata Ar-Ru`ya dalam ayat tersebut adalah ru`ya `aenin ( penglihatan mata alias nyata ) yang dengan itu rosululloh melihat, bukan ru`ya manamin ( pandangan dalam tidur alias /mimpi)

      وذهب معظم السلف ، والمسلمين إلى أنه إسراء بالجسد ، وفي اليقظة ، وهذا هو الحق ، وهو قول ابن عباس ، وجابر ، وأنس ، وحذيفة ، وعمر ، وأبي هريرة ، ومالك بن صعصعة ، وأبي حبة البدري ، وابن مسعود ، والضحاك ، وسعيد بن جبير ، وقتادة ، [ ص: 231 ] وابن المسيب ، وابن شهاب ، وابن زيد ، والحسن ، وإبراهيم ، ومسروق ، ومجاهد ، وعكرمة ، وابن جريج ، وهو دليل قول عائشة ، وهو قول أكثر المتأخرين من الفقهاء ، والمحدثين ، والمتكلمين ، والمفسرين .

      Sebagian besar ulama salaf dan orang2 muslim berpendapat bahwa isronya Nabi SAW yaitu dengan jasadnya dan dalam keadaan sadar dan inilah pendapat yang haq. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Jabir,Anas,Khudzaefah,Umar,Abu Huraeroh,Malik bin Sho`sho`ah,Abu Habbah Albadriyyi,Ibnu Mas`ud,Dhohak,Said bin Jubaer,Qotadah,Ibnu Musaeb,Ibnu Syihab,Ibnu Zaed,Al-Hasan,Ibrohim,Masruq,Mujahid,Ikrimah,Ibnu Juraej,dengan dalil ucapan Aisyah dan pendapat para ulama ahli fiqh Muta`akhirin ,para ahli hadits,para ahli bahasa,dan para ahli tafsir. ( Kitab Asy-Syifa bi ta`rif khuquqil musthofa karya Al-qodli Ayyad Musa Al-Maghribi ). (Bersambung untuk menanggapi komentar Anda ).

      • Lanjutan 1

        Komentar Anda,

        Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?
        Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?
        Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?

        Jawaban saya :

        Anda mengatakan bahwa Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), adalah salah karena yang benar Rosululloh SAW sholat di masjidil Aqsho (Palestin) bukan dilangit, beliau menjadi imam dari sholat para nabi dan para malaikat, seperti yang terdapat penjelasan dalam kitab Tanwirul qulub : 43 :

        ثم ركب البراق مسرجا ملجما وسار الي ان وصل الي المسجد الأقصى فرأى ما رأى من العجائب في مسراه وأحضر له الأنبياء عليهم الصلاة وسلام وصلى بهم وبالملائكة اماما .

        Hal ini juga sebagai jawaban terhadap komentar Anda pada kalimat terakhir di atas.

        Anda mengatakan bahwa Para Nabi telah wafat ( tinggal roh) itu adalah menurut pandangan Anda ataupun manusia, tapi menurut Alloh Para nabi itu hidup, tidak percaya ?
        Baik, saya sebutkan dalil-dalilnya :

        حدثنا ‏ ‏هداب بن خالد ‏ ‏وشيبان بن فروخ ‏ ‏قالا حدثنا ‏ ‏حماد بن سلمة ‏ ‏عن ‏ ‏ثابت البناني ‏ ‏وسليمان التيمي ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏أن رسول الله ‏ (ص) ‏ ‏قال أتيت وفي رواية ‏ ‏هداب :‏ ‏مررت على ‏ ‏موسى ‏ ‏ليلة أسري بي عند ‏ ‏الكثيب ‏ ‏الأحمر وهو قائم ‏ ‏يصلي في قبره .

        Dalam kitab Shoheh Muslim bab keutamaan Nabi Musa, nomer hadits : 4379 :
        Saya ( Nabi SAW) melewati Musa pada malam saya di isrokan, disisi bukit pasir yang merah, beliau sedang berdiri untuk sholat di kuburnya.

        حدثنا ‏ ‏حسن ‏ ‏حدثنا ‏ ‏حماد ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏سليمان التيمي ‏ ‏وثابت ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏ ‏قال ‏قال رسول الله ‏ (ص) ‏ ‏أتيت على ‏ ‏موسى ‏ ‏ليلة أسري بي عند ‏ ‏الكثيب الأحمر ‏ ‏وهو قائم ‏ ‏يصلي في قبره .

        Dalam kitab Musnad Ahmad dan Musnad Anas , no Hadts : 12046
        Dari Anas bin Malik , ia berkata : Rosululloh SAW bersabda : Saya mendatangi Musa pada malam saya diisrokan di sisi bukit pasir yang merah dan dia sedang berdiri untuk sholat dalam kuburnya.

        أخبرنا ‏ ‏محمد بن علي بن حرب ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏معاذ بن خالد ‏ ‏قال أنبأنا ‏ ‏حماد بن سلمة ‏ ‏عن ‏ ‏سليمان التيمي ‏ ‏عن ‏ ‏ثابت ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏
        ‏أن رسول الله ‏ (ص) ‏ ‏قال ‏ ‏أتيت ليلة أسري بي على ‏ ‏موسى ‏ ‏(ع) ‏ ‏عند ‏ ‏الكثيب ‏ ‏الأحمر وهو قائم ‏ ‏يصلي في قبره.

        Dalam Kitab Sunan Nasa`i bab Qiyamul lael, no hadits : 1613 :

        Dari Tsabit dari Anas bin Malik bahwa Rosululloh SAW bersabda : Saya mendatangi Musa disisi bukit pasir yang merah pada malam saya diisrokan, beliau ( Musa) sedang berdiri untuk sholat dalam kuburnya.

        عن انس في ان الانبياء احياء في قبورهم يصلون ، رواه البيهقي

        Ibnu Hajar dalm kitab Lisan Al-Mizan :2/175, 2/346 :
        Dari Anas : Bahwa Para Nabi itu hidup dalam kuburnya dan mereka sholat. Hr. Al-Baehaki.

        قال الإمام جمال الدين الأردبيلي في ( الأنوار ) في الفقه والأنبياء . روى أبو نعيم والبيهقي عن أنس ( ر ) قال : قال رسول الله (ص) : الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون .

        Berkata Al-Imam Jamaludin Al-Ardibali dalam kitab Al-Anwar dalam bab fiqh wal An-Biya`, meriwayatkan Abu Nu`aem dan Baehaqi dari Anas ra, ia berkata : Bersabda Rosululloh SAW : Para Nabi itu hidup dalam kuburnya dan mereka sholat

        Dan terakhir dari Al-Bani :
        - بل قد جاء ما يبطل إطلاق القول به ، وهو صلاة موسى عليه الصلاة والسلام في قبره كما رآه رسول الله (ص) ليلة أسري به على ما رواه مسلم في صحيحه ، وكذلك صلاة الانبياء عليهم الصلاة والسلام مقتدين به في تلك الليلة كما ثبت في الصحيح بل ثبت عنه (ص) أنه
        قال : الانبياء أحياء في قبورهم يصلون ، أخرجه أبو يعلى باسناد جيد ، وقد خرجته في الاحاديث الصحيحة

        Al-Bani dalam Akhkamul janaiz : 213 :
        Bahkan telah datang penjelasan hadits yang membatalkan ucapan tentang hal ini yaitu hadits tentang sholatnya Musa as dalam kuburnya seperti yang dilihat Rosululloh SAW pada malam diisrokan seperti yang terdapat dalam riwayat Muslim dalam kitab shohehnya, demikian juga sholatnya para Nabi pada malam itu seperti tsabit dalam kitab shoheh bahkan tsabit pula bahwa Rosulullaoh SAW bersabda : Para Nabi itu hidup dalam kuburnya dan mereka melaksakan sholat, hadits dikeluarkan oleh Abu Ya`la dengan sanad jayyid, dan saya juga telah mengeluarkannya dalam kitab hadits2 shoheh : 622

        Kurang lebih ada 60 riwayat yang menjelaskan bahwa Para Nabi itu hidup dan sholat dalam kuburnya.

      • Lanjutan 2

        : قال العلامة جمال الدين محمود بن جملة : وهذا الحديث صريح في إثبات الحياة لموسى (ص) فإنه وصفه بالصلاة وذكر أنه كان قائما ومثل هذا لا يوصف به الروح فقط ، وإنما يوصف به مع الجسد فإنه لا يقوم يصلي إلا بعودة الروح إليه ، فتلك كرامة عظيمة فإنه يفسح له في قبره فيكون عمله في العبادة متصل بعد وفاته وهذه الرواية رؤية عين ، لأن مذهب أهل السنة أن الإسراء كان بالجسد ، وإن سلم أنه بالروح فرؤية الأنبياء حق لا شك فيها .

        Berkata Al-Allamah Jamaludin Mahmud bin Jumlah : Inilah hadits nyata dalam menjelaskan hidupnya Musa, sesungguhnya ia disifati dengan kata sholat dengan disebutkan bahwa ia (Musa) sedang berdiri , maka penyifatan serupa ini tidak bisa disifati hanya untuk ruh saja tetapi disifati bersama jasadnya ( tubuh Musa).
        Karena seseorang tidak dapat berdiri untuk sholat kecuali dengan kembalinya ruh padanya.

        Inilah karomah yang besar yang Alloh luaskan baginya (Musa) dalam kuburnya. Sedangkan amal ibadahnya bersambung hingga sampai sesudah wafatnya. Inilah riwayat ru`yah aenin ( nyata). Oleh karena itu inilah pendapat Ahlu sunah bahwa Nabi SAW isro dengan jasadnya (tubuhnya). Kemudian jikalau benar bahwa Nabi isro dengan ruhnya (bukan dengan jasadnya) maka ru`yah (mimpi) para Nabi adalah haq dan tidak ada keraguan di dalamnya. ( Insya Alloh pendapat ini akan saya bahas ).

      • Tanggapan mengenai penafsiran ayat:

        Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku …. ( S. Al imron : 55)

        Mutawaffi diserap dari kata tawaffa . Orang mengatakan Mutawaffallahu zaidan. Artinya, Allah telah mengambil nyawa si Zaid; ialah, Allah telah mematikannya. Bila Tuhan itu subyek dan manusia itu obyek kalimat, maka tawaffa tak mempunyai arti lain, kecuali mencabut nyawa pada waktu tidur atau mati,

        Ibn Abbas r.a. telah menyalin Mutawaffika sebagai mumiituka, ialah, Aku akan mematikan engkau (Bukhari).

        Demikian pula Zamakhsyari, seorang ahli bahasa Arab kenamaan mengatakan, “Mutawaffika berarti, Aku akan memelihara engkau dari terbunuh oleh orang dan akan menganugerakan kepada engkau kesempatan hidup penuh yang telah ditetapkan bagi engkau dan akan mematikan engkau dengan kematian yang wajar, tidak terbunuh” (Kasyaf).

        Pada hakikatnya, para ahli kamus Arab sepakat semuanya mengenai pokok itu bahwa kata tawaffa seperti digunakan dalam cara tersebut tidak dapat mempunyai tafsiran lain dan tiada satu contoh pun dari seluruh pustaka Arab yang dapat dikemukakan tentang kata itu, bahwa kata itu di gunakan dalam suatu arti yang lain. Para alim dan ahli-ahli tafsir terkemuka, seperti :
        (1) Ibn Abbas
        (2) Imam Malik
        (3) Imam Bukhari
        (4) Imam Ibn Hazm
        (5) Imam Ibn Qayyim
        (6) Qatadah
        (7) Wahhab

        dan lain-lain mempunyai pendapat yang sama (Bukhari, bab tentang Tafsir; Bukhari, bab tentang Bad’al Khalq; Bihar; Al-Muhalla. Ma’ad hlm.19; mantsur ii; Katsir).

        Kata itu dipakai pada tidak kurang dari 25 tempat yang berlainan dalam Alquran dan pada tidak kurang dari 23 dari antaranya berarti mencabut nyawa pada waktu wafat. Hanya dalam dua tempat artinya, mengambil nyawa pada waktu tidur; tetapi, di sini kata-keterangan “tidur” atau “malam” telah dibubuhkan ( 6:60; 39:42 ).

        Kenyataan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat itu tidak dapat dibantah. Rasulullah saw. diriwayatkan telah bersabda, “Seandainya Musa a.s. dan Isa a.s. sekarang masih hidup, niscaya mereka akan terpaksa mengikuti aku” (Katsir).
        Beliau malahan menetapkan usia Isa a.s. 120 tahun (Kanzul Ummal).
        Alquran dalam sebanyak 30 ayat telah menolak kepercayaan yang bukan-bukan, tentang kenaikan Isa a.s. dengan tubuh kasar ke langit dan tentang anggapan bahwa beliau masih hidup di langit.

        Rafa’ mengandung makna menaikkan kedudukan dan pangkat seseorang dan memuliakannya. Bila mengenai seseorang yang dikatakan bahwa ia rafa’ kepada Tuhan, maka senantiasa berarti kenaikan rohaninya; sebab, Tuhan itu tak berwujud kasar atau tak terbatas pada suatu tempat, maka kenaikan kepada Tuhan dengan wujud kasar tidak mungkin terjadi. Kata itu dipakai dalam Alquran dalam arti ini (24:36 dan 35:10). Kenaikan Isa a.s. disebut dalam ayat ini, sebagai jawaban atas pengakuan palsu orang-orang Yahudi bahwa beliau telah mati terkutuk di atas salib.

        Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘…“Ada sekelompok laki-laki dari sahabat-sahabatku kelak (di akhirat) akan diambil dari golongan kanan dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘[Ya Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri (masuk neraka)?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Maka aku berkata sebagaimana kata hamba yang saleh, Isa putra Maryam ‘wa kuntu ‘alaihim syahiidan maa dumtu fiihim falammaa tawaffaitani kunta antar Raqiiba ‘alaihim wa anta ‘alaa kulli syai-in syahiid’ hingga firman-Nya ‘al-‘Aziizul Hakiim’– “‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Al-Maaidah: 118) Ada keterangan di hadit itu bahwa mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa Khalifah Abu Bakr ra (al-Bukhari, Kitab Ahaaditsil Anbiyaa, Bab wadzkur fil kitaabi Maryam..)

        Sesungguhnya sang Khaatamun Nabiyyiyn dan Ashdaqul-Mufassiriyn (Rasulullah saw.) telah menafsirkan lafazh ‘At-Tawaffiy” dalam ayat tentang hal ini yakni ‘tawaffaytaniy’ dan hal itu pun tidak tersembunyi bagi ahli diraayah (ahli ilmu) bahkan Ibnu ‘Abbas r.a. telah mengikuti beliau saw. untuk melenyapkan penyakit was-was yakni ia berkata : Mutawaffiyka Mumiytuka (mutawaffiyka artinya mematikan engkau) maka, mengapakah kalian meninggalkan ma’na yang dijelaskan oleh seorang Nabi yang merupakan orang ma’shum terawal?? Dan juga keterangan anak paman beliau yang termasuk dalam kalangan orang-orang benar dan diberi petunjuk?? Mereka berkata: ”Bagaimana kami akan menerima hal itu sementara orang-orang tua kami yang mendahului kami tidak berakidah dengan akidah ini.” Tidak ada yang mereka ucapkan selain kezhaliman dan kedustaan dan mengada-ada. Mereka bukan berkecimpung dalam pandangan umat terdahulu melainkan mereka mendekati orang-orang yang suka berbuat kesalahan diantara mereka. Tiada yang mereka ikuti selain orang-orang yang sebelumnya telah sesat yakni kelompok yang suka kepada kebengkokan dan kaum yang dihijab. Mereka senantiasa akan berpegang pada kesalahan mereka sampai kebenaran menjadi nyata barulah mereka kembali dengan penuh penyesalan. Adapun orang-orang yang hati mereka telah dicap oleh Allah mereka selamanya tidak akan menerima kebenaran. Nasehat para pemberi nasehat tidak bermanfaat bagi mereka. Dan para ulama yang teguh akan menangis atas keadaan mereka dan akan mendapati mereka berada di tepi jurang dalam keadaan tidur.

        Sekarang, pikirlah oleh kalian bahwa Al-Quran telah menyatakan Al-Masih a.s. telah wafat dan didalamnya terdapat penjelasan yang sempurna. Hadits pun tidak menentang makna ini bahkan hadis pun telah menafsirkan dengan makna yang sama dan telah menambah irfaan. Disebutkan di dalam Al-Bukhaari, Al-Aini dan Fadhlul Baari bahwa At-Tawaffiy artinya mematikan seperti yang diterangkan Ibnu Abbas r.a. secara jelas dan juga pemimpin kami yang merupakan Imam segenap manusia dan Nabinya para Jin yakni Muhammad Rasulullah saw.. Maka, perkara mana lagi yang belum jelas sesudah ini, wahai segenap saudara-saudara dan kelompok-kelompok kaum muslimin??

        –> Khas .. ahmadiyah.

      • Untuk Saudara dildaar80,

        Sudahkan Anda membaca kitab tafsir Al-Qurtubiy karangan Muhamad Ahmad Al-Anshoriy Al-Qurtubiy dalam bab :

        قوله تعالى إذ قال الله يا عيسى إني متوفيك ورافعك إلي ومطهرك من الذين كفروا

        dan Tafsir Ibnu katsir karangan Ismail Umar bin Katsir dalam bab :

        تفسير قوله تعالى ” إذ قال الله يا عيسى إني متوفيك ورافعك إلي

        Kalau Anda membaca tafsir yang tersebut terakhir itu lebih jelas dan gamblang lagi mengenai makna mutawaffi bukanlah secara mutlak harus bermakna mati secara hakiki (sebenarnya ), karena dalam Al-quran banyak yang menggunakan kata ini tapi bermakna an-naum (tidur), silakan saudara cek surat Al-An`am : 60, Az-Zumar : 42, dan doa setelah tidur .

        Contoh :

        وَهُوَ الَّذِى يَتَوَفَّيكُم بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ

        Terdapat kata yatawaffaakum artinya menidurkan kamu bukan mematikanmu ( Al-An`am : 60 )

        Jadi jelaslah pernyataan Anda mengenai kata itu tidak mempunyai makna lain,telah terbantahkan oleh Al-Quran.

        atau lihat riwayat ini ( baca saja di kitab yang sudah saya sebutkan );

        وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبي ، حدثنا أحمد بن عبد الرحمن ، حدثنا عبد الله بن أبي جعفر ، عن أبيه ، حدثنا الربيع بن أنس ، عن الحسن أنه قال في قوله : ( إني متوفيك ) يعني وفاة المنام ، رفعه الله في منامه . قال الحسن : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لليهود : ” إن عيسى لم يمت ، وإنه راجع إليكم قبل يوم القيامة ” .

        Berkata Ibnu Abi hatim dan seterusnya sampai kepada : dari Al-Hasan : Sesungguhnya ia menjelaskan mengenai firman Alloh ( Sesungguhnya saya yang akan mematikan kamu ) yakni kematian bermakna tidur kemudian Alloh mengangkatnya (ke langit) dari tempat tidurnya, Lalu Al-Hasan berkata : Bersabda Rosululloh SAW kepada orang Yahudi : Sesungguhnya Isa tidak mati akan tetapi ia akan kembali datang kepada kalian sebelum hari qiamat datang.

        atau

        وَالصَّحِيحُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَفَعَهُ إِلَى السَّمَاءِ مِنْ غَيْرِ وَفَاةٍ وَلَا نَوْمٍ كَمَا قَالَ الْحَسَنُ وَابْنُ زَيْدٍ ، وَهُوَ اخْتِيَارُ الطَّبَرِيِّ ، وَهُوَ الصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، وَقَالَهُ الضَّحَّاكُ

        Dan pendapat yang shoheh adalah Bahwa Alloh mengangkatnya ke langit dengan tanpa kematian maupun tidur seperti perkataan Al-Hasan dan Ibnu Zaid dan ini yang menjadi pilihan Imam At-Thobroniy dan ini adalah yang shoheh dari Ibnu Abbash dan Adh-Dhohkhak.

        Intinya Isa masih hidup, Terimakasih.

      • Sedangkan mengenai perkataan Ibnu Abbash yang telah dinukil oleh Anda yaitu :

        - Ibn Abbas r.a. telah menyalin Mutawaffika sebagai mumiituka, ialah, Aku akan mematikan engkau (Bukhari).

        Jawabannya silakan Anda buka tafsir Al-Bughowi, demikian redaksinya :

        وقال بعضهم : المراد بالتوفي الموت ، روي [ عن ] علي بن طلحة عن ابن عباس رضي الله عنهما أن معناه : أني مميتك يدل عليه قوله تعالى : ” قل يتوفاكم ملك الموت ” ( 11 – السجدة ) فعلى هذا له تأويلان : أحدهما ما قاله وهب : توفى الله عيسى ثلاث ساعات من النهار ثم رفعه الله إليه ، وقال محمد بن إسحاق : إن النصارى يزعمون أن الله تعالى توفاه سبع ساعات من النهار ثم أحياه ورفعه ، والآخر ما قاله الضحاك وجماعة : إن في هذه الآية تقديما وتأخيرا معناه أني رافعك إلي ومطهرك من الذين كفروا ومتوفيك بعد إنزالك من السماء

        Artinya :

        ” Sebagian mereka ( ulama ahli tafsir ) : bahwa yang dimaksud dengan kata At-Tawaffa adalah kematian berdasarkan riwayat dari Ali bin tholhah dari Ibnu Abbas ra yang mempunyai makna : Sesungguhnya saya yang akan mematikanmu, berdasarkan dalil firman Alloh ta`ala : ” Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, ( As-Sajadah : 11 ) atas pendapat ini ada dua penta`wilan/ penafsiran :

        Salah satunya yaitu seperti perkataan Wahab : Alloh mematikan Isa as selama tiga jam pada waktu siang hari kemudian Alloh mengangkatnya ke langit.

        Berkata Muhammad bin Ishak : Golongan Nasrani menganggap bahwa Alloh ta`ala mematikan Isa as selama tujuh jam pada waktu siang kemudian Alloh menghidupkannya dan menganggkatnya ke langit.

        Dan pendapat yang terakhir yaitu perkatan Adhohak dan jamaah ahli tafisr : Sesungguhnya tafsir mengenai ayat ini adalah mendahulukan dan mengakhirkan (maknanya ) sehingga maknanya menjadi :

        ” Sesungguhnya Aku akan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang2 yang kafir kemudian Aku akan mematikan kamu setelah kamu turun dari langit.”

        Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat yang saya ikuti, karena berdasarkan dalil lain yaitu hadits yang terdapat dalam kitab Shoheh Muslim yang berisi tentang pembicaan para sahabat Nabi mengenai qiamat kemudian Rosul bersabda :

        قال : إنها لن تقوم حتى تروا قبلها عشر آيات

        Sesungguhnya hari qiamat tidak akan terjadi hingga kalian melihat 10 tanda2nya : ( antara lain )

        ونزول عيسى ابن مريم

        Turunnya Nabi Isa putra Maryam.

        Demikianlah aqidah ahlu sunah wal jama`ah mengimaninya.

    • wah jawaban muslim pesantren keren coy.. tangkyu lah sip.. semoga Alloh senantiasa memberi ilmu yang bermanfaat buat loe saudaraku.. amin
      dildar80.. kamu bener2 pinter cuman pinter nya ga dibarengi sama iman coy..

      • Perlu kita renungkan:

        Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?

        Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?

        Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?

        Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?

        Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).Dan Kami tidak menjadikan “ru`ya” yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia .. ( Al-Isra :60)

        Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah pemandangan rohani belaka?

        Para mufasirrin sepakat bahwa Surat Al Isra diturunkan sekitar setengah tahun/setahun sebelum Hijrah dari Mekah ke Madinah dan dalam surah itu sama sekali tidak menyebut sedikitpun tidak menyinggung kepergian Nabi saw ke langit, sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An Najm yang diturunkan sekitar tahun ke-5 dan 6 kenabian dan dalam surah itu tidak menyinggung soal isra.

        Apakah Nabi saw menemui Tuhan harus naik ke langit, apa sewaktu di bumi tidak pernah bertemu dengan Tuhan? Jadi jelas jarak antara turunnya kedua surat tersebut selisih 6 tahun, maka sesuai saat turunnya kedua surat tersebut tidakkah urutannya menjadi Mi’raj dulu baru Isra’?.

        Menurut pemahaman umum bahwa perintah sholat mulai difardhukan atau ditetapkan pada peristiwa Mi’raj ketika Nabi saw menghadap Tuhan, apabila paham ini benar serta dibenarkan pula paham Mi’raj terjadi ber-sama Isra merupakan satu peristiwa, maka jika demikian halnya berarti Rasulullah saw beserta umatnya mulai sholat baru sekitar 11 tahun sesudah diutus, apakah sebelumnya Rasulullah saw beserta umatnya belum menjalankan sholat?

        Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw sampai naik turun beberapa kali agar Allah mengubah perintah shalat 50 kali sehari semalam menjadi hanya 5 kali. Apakah Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana itu sebelumnya tidak mengetahui bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu menjalankan ibadah shalat 50 kali sehari semalam? Naudzubillah min dzalik! Mengapa Musa lebih mengetahui keberatan umat Nabi Muhammad saw, bukan Nabi saw sendiri yang kenal langsung umatnya yang mengajukan keringanan perintah shalat tersebut?

        Sebaiknya kita terima paham yang lebih benar bukan sesuatu yang dirasakan ganjil dengan kisah-kisah yang tidak dapat diterima dengan akal sehat! Saya tidak menolak ayat2 Alquran tentang Isra dan Mi’raj juga tdk menolak hadis2 Isra dan hadis2 Mi’raj. Saya hanya mengajak kita untuk membuka cara pandang baru dan lebih masuk akal sehat dalam memahaminya.

        Dalam hal Nabi saw dibelah dadanya, jantung dikeluarkan, dibersihkan kemudian diisi dengan iman dan hikmah ditampung dalam bejana emas. Kita yakin bahwa iman dan hikmah bukanlah benda yang dapat dibawa ditampung dalam bejana emas dan orang yang dibelah dan dibedah dadanya, jantungnya dikeluarkan mungkinkah beliau tetap hidup? Lalu yang dicuci di dalam jantung Nabi saw itu kotoran apa? Apakah masih perlu jantung beliau dibersihkan dari hal yang belum bersih? Lagi pula apakah tadinya jiwa Nabi saw itu kosong dari iman dan hikmah?

        Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani (kasyaf dan ruya)belaka?

        Dalam hadits Nabi saw melihat sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak berhubungan dengan 2 sungai sorga, jelas kita mengetahui bahwa kedua sungai tersebut ada dan bersumber air di bumi. Bukankah hal ini merupakan peristiwa ru-ya?

        Dalam hadits diceritakan pula bahwa Jibril membuka atap rumah Nabi saw kemudian turun. Mengapa kali iniJibril sampai membuka atap rumah Nabi saw, padahal bertahun-tahun Nabi saw menerima kedatangan Jibril tanpa Benarkah atap rumah Nabi saw terbuka? Tidakkah hal ini membuktikan pemandangan rohani belaka?

        Dalam hadits disebutkan bahwa sewaktu Nabi saw Mi’raj bersama Jibril, Jibril mengetuk pintu langit agar penjaga pintu membukanya! Apakah langit suatu bangunan atau benda berbentuk gedung yang ada pintunya? Apakah malaikat penjaga pintu tersebut tidak diberitahu bahwa ada tamu penting yang akan datang? Tidakkah hal ini membuktikan bahwa semua yang dialami oleh Nabi saw dalam Mi’raj hanyalah merupakan pemandangan rohani?

        Jika Bouraq yang dikendarai Rasulullah saw berupa kuda dengan kepala seorang wanita yang cantik ini benar-, seharusnya sekarangpun binatang tersebut harus ada, ternyata hingga sekarangpun kita semua tidak pernah melihat ataupun mengenalnya, bukankah hal ini merupakan Dan apakah ada ayat Al Quran yang menjelaskan tentang binatang Bouraq tersebut?

        Dan kita coba melihat arti dan rahasia yang tersimpan di dalam pemandangan rohani Nabi saw. dalam peristiwa erjalanan Nabi saw dari Makkah ke Masjidil Aqsha mengandung petunjuk bahwa Nabi saw bakal hijrah dari Makkah. Surat Al Isra’ ayat 1 yang artinya: “Masjidil Aqsha yang Kami berkati sekelilingnya”. Pada saat itu di Palestina belum ada masjidil Aqsha. Arti Masjidil Aqsha adalah masjid yang jauh, jarak antara Makkah ke Madinah ratusan kilometer. Tidakkah hal ini telah menjadi kenyataan bahwa Nabi saw benar telah hijrah dari Mekkah ke Madinah yang diberkati sekelilingnya?

        Wassalamu ‘ala manittaba’al huda wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

  10. @dildaar80,emang ente harus jadi jurnalis nih karena ente punya pemikiran yang lebih tajam dan pemahaman sangat logis,coba aja ente terbang ke timur tengah untuk mencari sumber referensi ini ato ente cari deh di perpustakaan cordova spanyol

  11. Alhamdulillaah dengan masuknya uraian peristiwa isrok mikroj nabi Muhammad SAW,di dalam internet ,saya betul betul bersyukur sebab yang sudah lama saya cari dan saya butuhkan ternyata bisa saya dapatkan.
    Kami menyarankan bila belum dimasukkan tentang peristiwa peristiwa gaib yang lain ,misalnya tentang situasi di alam kubur,surga,neraka,untuk rdimasukkan juga agar umat yang belum membaca atau memahami biar tahu dan semoga bisa menambah imannya sebab jarang ceramah umum yang membahas hal tersebut secara detail.Sekian atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    –> terima kasih .. kami masih berusaha mencari-nya. mohon doa.

  12. Dildaar80, sebagai mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia harusnya anda lebih banyak belajar lagi dan tentunya disertai iman yang mendalam. Mudah-mudahan jawaban Bro Muslimpesantren menjadi hidayah buat anda, menjadikan anda lebih legawa dan memperkaya bahan syiar anda kepada jamaah anda.

    • Alhamdu lillaah… menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah.

      Terima kasih Danko atas appresiasi dan sarannya.

  13. Assalamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuuh…

    Hai, cucu-cucuku yang shalih dan sholehah,
    Setelah kakek nimbrung ikut baca diskusi mulia ini, ternyata…semakin lama kok semakin panas juga yaa….sampai-sampai “hampir” saling hina-menghina” (rendah-merendahkan) di antara saudara sesama muslim……

    Nah, marilah kita mulai dinginkan kembali hati kita, sebab tak ada manusia yang maha-benar kecuali Sang Mahapencipta itu sendiri, Allah ‘azza wajalla!

    Cucuku yang kakek hormati, masalah Isra’ Mi’raj telah lama nian diperdebatkan jauh sebelum kita dilahirkan. Bahkan terdapat perbedaan dari para ulama dunia tentang hal ini, yang tak perlu kita risaukan selama akhirnya “kebenarannya” kita serahkan kepada Allah Yang Mahabenar!

    Singkatnya saja, telah terdapat empat pendapat bersekala besar, yang punya kaitannga tentang Isra’-Mi’raj ini.

    Pendapat ke-1: Nabi Isra’ dan Mi’raj, lengkap ruh dan ragawadagnya.

    Pendapat ke-2: Nabi Isra’ menggunakan lengkap ruh+ragawadag, sedangkan ke sidhratul Muntaha hanya ruhnya saja.

    Pendapat ke-3: Semuanya merupakan peristiwa spiritual (tanpa ragawadag).

    Pendapat ke-4: Nabi Ru’ya di Masjidil haram. Peristiwa-peristiwa yang penuh taqwil, dihaturkan bagi Nabi Muhammad Saw. lewat Ru’ya (antara tidur dan bangun) tersebut. Arti dari Buraq adalah kilat atai cahaya!

    Bagi Allah Yang Maha-kuasa dan Maha-sempurna, apapun mungkin saja bisa diperbua-Nya atas Nabi akhir zaman yang dicintai-Nya! Semuanya tidak ada yang mustahil! Oleh sebab itu, marilah kita saling hormat-menghormati (bertoleransi) terhadap pendapat yang berbeda tersebut, sambil pandai-pandai mengambil hikmahnya! Sebab siapa yang merasa “golongannya” paling benar, paling akhli surga, apalagi gampang sekali mengafirkan orang lain, justeru dialah yang paling dibenci Allah! Kendati kita menggunakan Qur’an-Hadist sebagai acuan, namun tetap saja kebenaran Qur’an syogianya kita nomorsatukan! Mengapa? Sebab puluhan ribu hadist palsu telah menyusup ke perbendaharaan Hadist kita, yang terkadang kita sulit menyaringnya, kendati disaring oleh para akhli Hadist sekalipun! Oleh sebab itu berkali-kali Qur’an menekankan agar kita menggunakan “akal sehat”-kita! (Para pemalsu Hadist itu, syogianya tidak kita anggap spele! Kadang-kadang mereka lebih lihai, ketimbang para penyusun hadist yang mulia; karena para pemalsu durjana itu telah bekerjasama dengan pakar-pakar syeitan yang terdiri dari jin dan manusia!

    Untuk sementara sekian dulu; marilah kita sama-sama sujud kepada-Nya! marilah kita meraih kemenangan berkat persatuan yang kokoh di antara kita!

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullaahii wabaraakaatuuh!

    Kakek Dedy Ciburial Bandung

  14. Subhanallohi walhammdulillahi walaailahaillalloh huallohuakbarr walakhaula walaquwwata illabillahil ngaliyil ngadhiim.

    Hanya dengan iman kita dapat percaya dalam peristiwa Isro’ Mi’roj Baginda Rosul Nabi Muhammad SAW.

    Bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat, *MINAL MU’MININ WAL MU’MINAT* saya kira setuju apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa ” Semakin tinggi ilmu pengetahuan ( bukan ilmu agama ) seseorang, maka semakin dekat pula seseorang akan murtad dengan agamanya (islam). astaghfirullohal ngadhiim. bersyahadatlah jika hal itu pernah singgah dihati apalagi pernah terucapkan

  15. Assalamualaikum,

    hadits tentang bolak – baliknya nabi kita Muhammad atas dikte Nabi Musa secara riwayat shahih, namun secara matan dhoif bahkan mualal (sisipan) kisah Israiliyat. Jelas bertentangan dengan hadits shohih lainnya dan nash alquran. Secara tersirat sengaja ditambahkan Bani Israil untuk memuliakan Nabi Musa dan mereka dan merendahkan Nabi Muhammad dan muttabiknya.

  16. Dalam mengomentari peristiwa Isra Mi’raj di blog ini, sekilas komentar Dildaar08 begitu lugas dan detil yang mungkin membuat pembaca muslim yg awam disini terperangah seakan-akan argumen dia itu adalah benar adanya.

    Tetapi setelah saya selusuri, Dildaar08 memang terbukti benar sebagai mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang rupanya sedang “berdakwah” di blog ini…Bagaimana mungkin Ahmadiyah mengaku-aku penganut agama Islam dan pembela Syariat Islam tapi ternyata jelas-jelas mengingkari mu’jizat Isra Mi’raj? dan mengingkari Firman Allah SWT di Al-qur’an dan Al Hadist seperti komentarnya di atas??? Subhanallah…Itulah alasannya Ahmadiyah dinyatakan SESAT dan DILARANG menyebarkan ajarannya di berbagai Negara. JADI WASPADALAH..

    Sebagai bukti inilah blog Dildaar08 yang bertujuan untuk memurtadkan umat Islam: http://dildaar80.wordpress.com/2011/02/07/apa-itu-ahmadiyah-kesaksian-seorang-nu/

    -Terimakasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada saudara Muslimpesantren atas argumennya mementahkan tipu daya Ahmadiyah!

    • Siapa bilang saya memakai topeng. Di blog saya jelas mengenai diri saya, keyakinan saya sebagai Muslim Ahmadi.

      Saya sekedar sharing dan menyampaikan argumentasi berdasarkan ayat2 Alqur’an, hadits dan akal.

      Memurtadkan? Tidak. Sy mengajak pembaca utk merenungkan dng tulisan2 saya tersebut. Saya justru mengajak pembaca utk berargumentasi agar beragama sekaligus memanfaatkan karunia Allah yaitu akal sehat dengan tetap dasarnya ialah Alqur’an dan sabda2 Nabi Muhammad saw.

      Oh iya mohon jangan memfitnah saya sebagai pengingkar mukjizat isra dan mi’raj.

      Saya meyakini isra’ dan mi’raj. Mungkin kita berbeda pendapat soal bagaimana kejadiannya, corak mukjizatnya dan hikmahnya. Saran saya jangan langsung serta-merta menilai sy murtad atau memurtadkan atau menolak isra mi’raj dst…

      silakan baca ulang argumen sy soal itu.

  17. ISRA’ DAN MASA DEPAN UMAT

    Oleh ZA Khudori

    Pemerhati Masalah-masalah Sosial Keagamaan

    Tinggal di Tegineneng, Pesawaran (Lampung)

    Kemajuan suatu kaum sesungguhnya telah dinubuatkan (direncanakan) oleh Allah SWT. Termasuk umat Islam. Untuk melukiskan kemajuan umat Islam, Allah SWT telah memperlihatkan sebuah pengalaman rohani yang dikenal dengan istilah Israa’ (memperjalankan di malam hari). Al-Quran mengabadikan pengalaman tersebut dalam Surat 17 (Al-Israa’/Bani Israil): 1, “’Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Dalam muqaddimah Surat ini, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran (SK MENAGRI No. 26 Tahun 1967; Edisi Baru, 1993) menyebutkan bahwa Surat ini dinamakan Al-Israa’ (yang berarti ‘memperjalankan di malam hari’) berhubungan dengan peristiwa Israa’ Nabi Muhammad SAW di Masjidil Haram (Mekkah) ke Mesjidil Aqsha (di Baitul Makdis) dicantumkan pada ayat pertama dalam Surat ini.

    Sejarah mencatat bahwa Muhammad bin Abdullah diangkat sebagai Nabi dan diutus sebagai Rasul pada usia 40 tahun (610 M). Lima tahun pertama dalam menjalankan tugasnya telah beriman sebagian kecil kaum Kafir Quraisy. Para pengikut Nabi pada masa awal ini mendapat respon negatif berupa intimidasi dan tindakan kekerasan dari keluarga dan kawan sepermainan mereka. Atas izin Nabi akhirnya para sahabat itu hijrah ke negeri tetangga, Habasyah (Ethiopia) [615 M]. Sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Seorang raja yang memberikan kebebasan dan perlindungan kepada masyarakatnya dalam menjalankan agama dan kepercayaannya.

    Meskipun banyak hambatan dan rintangan, perkembangan ajaran Islam terus maju. Istilahnya ‘padat-merayap’ dan ‘maju terus pantang mundur’. Menyikapi hal ini para pembesar Quraisy mengambil sikap tegas yaitu memboikot Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Caranya ialah dengan memutuskan segala perhubungan: hubungan perkawinan, jual-beli, ziarah-menziarahi dan lain-lain (Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya: 1993: 62). Dalam masa pemboikotan ini wafat dua orang tercinta Nabi SAW: Pamanda Abu Thalib (87) dan Istrinda Khadijah (65). Begitu berdukanya Nabi sehingga tahun tersebut (620 M) oleh ahli sejarah dinamakan ‘Aamul Huzni (Tahun Dukacita).

    Untuk menenangkan hatinya maka Nabi tinggal bersama sepupunya, Ummu Hani. Seperti reportase ahli sejarah kenamaan Ibnu Ishaq, sejarawan ini melaporkan, “Telah sampai kepada saya dari Ummu Hani binti Abu Thalib (nama aslinya: Hindun) mengenai perjalanan malam (Israa’) Nabi SAW. Katanya, “Nabi SAW hanya mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis ketika berada di rumah saya. Malam itu Nabi SAW tidur di rumah saya dan kami semua sedang tidur” (Fuad Hasyem: 1898: 222).

    Dalam keadaan tidur inilah beliau SAW melihat berbagai peritiwa yang Nabi sendiri tuturkan (diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudriy), “Sudah dikirimkan kepada saya seekor hewan dan ia menyerupai bighal (peranakan kuda dengan keledai), Buraq namanya, dan biasa dikendarai oleh para nabi. Buraq itu membawa saya dan ia bisa melangkahkan kaki depannya sejauh mata memandang” (Taufik Rahman: 1990: 62).

    Mengenai perjalanan selanjutnya, kita dapat membaca Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (Ibnu Jarir Juz 15 hlm. 6). Mengingat panjangnya riwayat tersebut maka ringkasannya ialah sebagai berikut: Nabi dan Malaikat Jibril naik Buraq dari Masjid Al-Haran ke Masjid Al-Aqsha. Dalam perjalanan tersebut beliau-beliau bertemu dengan: seseorang yang memanggil-manggil Nabi, beberapa orang yang mengucapkan salam dan beberapa orang lagi melakukan hal yang sama. Dan tibalah beliau-beliau di Baitul Muqaddas. Lalu beliau memimpin shalat di mana makmumnya ialah para nabi. Setelah itu Malaikat Jibril menghadapkan 3 gelas kepada Rasulullah SAW. Gelas pertama berisi air, gelas kedua berisi arak dan gelas ketiga berisi susu. Rasulullah SAW mengambil gelas berisi susu, lalu beliau meminumnya. Setelah itu Malaikat Jibril menjelaskan apa saja makna yang tersirat dari apa yang telah beliau lihat itu (baca: QS 17:60). Peristiwa itu terjadi pada malam 27 Rajab 11 Nubuwwah (setelah beliau diangkkat menjadi Nabi) [Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya: 1993: 63].

    Riwayat di atas menimbulkan perdebatan theologies di kalangan Ahli Kalam (Theolog Muslim) bahkan para sahabat sekalipun: Apakah perjalanan itu secara fisik atau non-fisik (ru’yah [visi])? Selain umumnya umat Islam mempercayai kejadian itu secara fisik ada juga yang mempercayainya secara non-fisik, seperti ‘A’isyah RA misalnya, beliau mengatakan, “Tubuh Rasul berada di tempatnya ketika Allah memindahkan ruhnya pada malam itu.” Mu’awiyah juga katanya memberikan keterangan bahwa Israa’ itu betul-betul sebuah ru’yah dari Tuhan, demikian tulis Fuad Hashem.

    Di luar kontroversi itu, ada pesan spiritual yang bijak dari Maulana Rahmat Ali, “Jauhilah perselisihan dalam soal (Israa’ dan) Mi’raj Rasulullah SAW. Serahkan saja hal itu kepada Allah SWT” (Miraj: 1949: 103).

    Jauh lebih penting dari sekedar perdebatan theologis itu adalah bahwa di balik peristiwa Israa’ itu ada motivasi dari Nabi bahwa masa depan Islam itu cerah setelah mengalami kegelapan (lailan). Israa’ (perjalanan malam) itu simbol hijrahnya Rasul dan para sahabat ke negeri lain yaitu Medinah. Melalui hijrah inilah kemenangan Islam (Fatah Mekkah) akhirnya dapat dirasakan oleh umat Islam (QS 17:81 dan 9:33).

    Kini kita hidup 15 abad setelah wafatnya beliau SAW. Kemenangan yang sejati adalah memenangkan perang terhadap keburukan moral dalam diri setiap Muslim (jihaadul akbar: jihaadun nafs). Sesuai ayat di atas (QS 17:1) kemajuan umat Islam sangat dipengaruhi oleh kegiatan umat dalam memakmurkan masjid. Karena dengan memakmurkan masjid maka akan terjadi 2 aktivitas yang strategis: hablum minallah (ibadah kepada Allah) dan hablum minan-naas (silaturahmi antar umat) sehingga terbuktilah bahwa umat Islam adalah rahmatal-lil-‘aalamiin.

    (ZAKh, Ikd: 10/07/09)

  18. “Maha Suci Dia, Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha, yang telah Kami berkati, sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari Tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia, Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Surah al-Isra)

    Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf Rasulullah saw., telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Alquran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan rohani) beliau. Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat, bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan rohani di waktu malam) Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mi’raj beliau telah dibahas agak terperinci dalam Surah An-Najm.

    Semua kejadian yang disebut dalam Surah An-Najm (ayat-ayat 8 – 18) yang telah diwahyu kan tidak lama sesudah hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi di bulan Rajab tahun ke 5 nabawi, diceriterakan secara terperinci dalam buku-buku hadist yang membahas Miraj Rasulullah saw., sedang Isra Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yerusalem, yang dibahas oleh ayat ini, menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi ; menurut Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, perintiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal, setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra) . Baihaqi pun menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum hijrah.

    Dengan demikian semua hadist yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum hijrah, yaitu kira-kita pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, ketika Rasulullah saw. tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau.

    Tetapi Mi’raj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu enam atau tujuh tahun, dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama ; yang satu harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain. Lagi pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadist terjadi dalam Mi’raj Rasulullah saw. sama sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini, bahwa kedua peristiwa itu hanya kejadian-kejadian rohani belaka, dan Rasulullah saw. tidak naik ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan tubuh kasar.

    Kecuali kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain yang berkaitan dengan peristiwa itu mendukung pendapat, bahwa kejadian itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain :

    Alquran menguraikan kejadian Mi’raj Rasulullah saw. dalam surah 53, tetapi sedikit pun tidak menyinggung Isra, sedang dalam Surah ini Alquran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak menyinggung peristiwa Mi’raj.

    Ummi Hani, saudari sepupu Rasulullah saw. yang di rumahnya beliau menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan Rasulullah saw. ke Yerusalem, dan sama sekali tidak menyinggung kenaikan beliau ke langit. Ummi Hani itu orang pertama yang kepadanya Rasulullah saw. menceriterakan perjalanan beliau di waktu malam ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat hadist telah mengutip keterangan Ummi Hani mengenai kejadian ini, yang bersum-ber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat, bahwa Rasulullah saw. berangkat ke Yerusalem dan pulang kembali ke Mekkah pada malam itu juga.

    Jika sekiranya Rasulullah saw. telah membicarakan pula kenaikan beliau ke langit, tentu Ummi Hani tidak akan lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak menyebut hal itu dalam satu riwayat pun ; dengan demikian menunjukkan dengan pasti , bahwa pada malam yang bersangkutan itu Rasulullah saw. melakukan Isra hanya sampai Yerusalem ; dan bahwa Mi’raj itu tidak terjadi pada ketika itu. Nampaknya beberapa perawi hadist mencampur baurkan kedua peristiwa Isra dan Mi’raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan persamaan yang terdapat pada beberapa uraian terperinci mengenai Isra dan Mi’raj telah menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau balau itu.

    Hadist-hadist yang mula-mula meriwayatkan perjalanan Rasulullah saw. ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusa lem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau bertemu dengan beberapa nabi terdahulu, termasuk Adam as., Ibrahim as., Musa as., dan Isa as. ; dan bahwa di berbagai petala langit beliau menemui nabi-nabi yang itu-itu juga, tetapi tidak dapat mengenal mereka. Bagaimanakah nabi-nabi tersebut, yang telah beliau jumpai di Yerusalem, sampai pula ke langit sebelum beliau; dan mengapa beliau tidak mengenali mereka, sedang beliau telah melihat mereka beberapa saat sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga ? Tidaklah masuk akal, bahwa beliau tidak dapat mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum itu, beliau bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga.

    Masjid Aqsha (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah peribadatan (kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman as. di Yerusalem.

    Kasyaf Rasulullah saw. yang disebut dalam ayat ini mengandung suatu nubuatan yang agung. Perjalanan beliau ke “Masjid Aqsha “ berarti hijrah beliau ke Medinah, tempat beliau akan mendirikan suatu masjid, yang ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam, dan penglihatan diri beliau sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau mengimani pada nabi lainnya dalam shalat mengandung arti, bahwa agama baru, ialah Islam, tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja, melainkan akan tersebar ke seantero dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya. Kepergian beliau ke Yerusa lem dalam kasyaf dapat pula dianggap mengandung arti, bahwa beliau akan diberi kekuasaan di masa khilafat (kekhalifahan) Sayyidina Umar ra. Kasyaf ini dapat pula diartikan sebagai petunjuk kepadasuatu perjalanan rohani Rasulullah saw. ke suatu negara jauh, di suatu masa yang akan datang. Maksudnya bahwa ketika kegelapan rohani akan menutupi seluruh dunia, Rasulullah saw. akan muncul kembali secara rohani dalam wujud salah seorang pengikut beliau, dalam satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau diutus.

    –> Tampaknya ada seorang jemaat ahmadiyah mencoba mencari pengaruh di sini. Hati-hatilah.

    • sesungguhnya agama adl panutan hidup,bkn ssuatu hal yg pntas diperdebatkan. smua ini akn menimbulkan fitnah. ingat,bnyak orang yg tdk tahu di luar sana. jika Al’quran itu penuh dgn perumpamaan,brarti tak hanya artian baku yg t’tulis di sna.
      intinya,
      “ALLAH menciptakan mnusia disertai ‘akal’ spaya mereka bsa membedakan antara yg baik & buruk”. gaib hnya milik ALLAH,qta hnya maklhuk ciptaan_NYA yg diberi pngetahuan sbesar debu dr segunung pngetahuan_NYA.
      jgn mrasa diri qta pling bnar,krn qta hnya ciptaan_NYA.

  19. kami mengundang seluruh pengunjung blog ini untuk berkomentar di http://csgrup.wordpress.com/

    –> mohon maaf sebelum ke sana. Ketika anda mengkhawatirkan/membahas umat islam akan syirik yang baginda Nabi saw tidak mengkhawatirkannya [lihat hadits kiri atas], berarti kekhawatiran anda itu sia-sia, atau anda tak percaya akan keyakinan baginda Nabi saw atas umatnya. Ujung-ujungnya (hampir pasti) menuduh musyrik saudaranya, dan mengkafirkan sesama muslim. Atau memberi julukan yg buruk seperti ahli bid’ah dsb.

    Lebih baik anda membahas apa-apa yg menjadi kekhawatiran Nabi saw, cinta dunia dan takut mati.

    Mohon maaf kl tak berkenan.

  20. saya juga bingung tentang kisah isro mi’raj nabi muhammad ini , apakah ada dalam quran tentang kisah kisah isro mi’raj ?

  21. peristiwa isro’ mi’roj itu banyak mengandung hikmah, oleh karena itu di ayat Al Qur’an disebutkan ” kuperjalankan hamba ………….dst. disitu makna yang paling penting yang perlu kita perhatikan yaitu “seorang hamba yang diperjalankan! “. jadi disini penekanannya seorang hamba yang diwakili oleh hamba pilihan yang sekaligus seorang rosul yaitu Muhammad. kenapa Muhammad? apa yang beliau lakukan dalam hidupnya sehingga mendapat kehormatan dari Tuhannya?. Yang mampu saya pahami dari peristiwa itu adalah:
    1. Muhammad menyaksikan Kebenaran itu bukan karena katanya kitab suci maupun dari seorang pengajar/guru
    2. Muhammad menyaksikan Kebenaran itu apa adanya terlepas dari pendapat beliau sendiri maupun pendapat orang lain
    3. Muhammad menyaksikan suatu peristiwa yang tak pernah diduga sebelumnya namun nyata adanya.

    untuk memudahkan memahami tentang Kebenaran disini saya tuliskan definisi secara singkat tentang Kebenaran yang maksudnya kurang lebih sebagai berikut: Kebenaran adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah sesuatu yang berubah-ubah namun dia (Kebenaran itu) tidak berubah dan tidak merubah keadaan disekelilingnya. Kebenaran itu tidak terpengaruh oleh pendapat manusia, dipuji maupun dicaci dia (Kebenaran itu) akan tetap sebagaimana adanya. Karena Kebenaran akan selalu menunjukan jati dirinya.

    Di Kitab Suci disebutkan bahwa Muhammad itu rohmatan lil ‘alamin, jadi beliau itu rahmad seluruh alam. nah coba renungkan apa saja isinya alam ini? dia adalah sang rahmad itu sendiri. dia merahmati manusia apapun suku, bangsa agama serta profesinya serta semua ciptaan Tuhan apapun bentuk dan wujudnya. tinggal sekarang bagi yang mengaku umad Muhammad harus mampu meneladani beliau, bukan hanya meniru secara lahiriyah saja tanpa didasari pengertian yang mendalam. secara gamblang kita harus mampu menempuh “Jalan Muhammad” yang intinya adalah amal sholeh yaitu amal yang bermanfaat bagi diri dan orang lain tanpa membedakan suku, agama, ras dan lain-lain”. Akhir kata : KALAU KITA BELUM MAMPU MENGHARGAI CIPTAAN-NYA SETIDAKNYA BELAJARLAH UNTUK MENGHARGAI YANG MENCIPTAKAN. wasalam, mohon maaf apabila kurang berkenan tulisan ini.

  22. Assalamu alaikum….
    menurut saya bahwa Al’quran (Al-Isra ayat 1)memiliki makna dari sekedar arti dan tafsiran kalimat, maksud saya bahwa Alquran memiliki makna yang tidak terlihat dibalik susunan2 kalimatnya dan dapat diartikan jika kita mengkaji dengan lahir dan batin yang bersih.
    jadi kisah isra mi’raj itu adalah proses ketika kita sholat dimana seseorang dengan hati yang bersih ( Muhammad) melakukan proses gerakan takbiratul ikhram dan ketika tangan sudah berada diatas kita dengan hati yang bersih ( Muhammad) bertemu dengan Allah dan melepaskan dunia menuju ke hadirat Allah.

    tambahan :
    bahwa kisah tersebut mengisahkan tentang sholat isya 4 rakaat.
    ketika kita berdiri untuk sholat maka tangan kita menunjuk ke tempat sujud ( itulah mekkah / masjidil haram) yang berarti bumi/dunia kemudian mengangkat tangan sehingga jari2 menunjuk keatas ( masjidil aqsha) yang berarti langit, kemudian ketika kita mengatakan Allahu Akbar, maka kita menuju kepada Allah/ (masuk ke dalam batin yang terdalam) yang Akbar ( meliputi seluruh alam atau langit dan bumi). adapun pada saat menerima 50 rakaat adalah rakaat pertama, kemudian separuhnya adalah rakaat kedua, kemudian separuhnya adalah rakaat ketiga, dan perintah 5 rakaat adalah rakaat yang keempat. Adapun tentang kisah turun naiknya Muhammad adalah bermakna turun naiknya kita sebagai hamba dengan hati yang bersih ( Muhammad) adalah gerakan sholat yang naik dan turun.

    CMIIW

  23. kita hrus banyak belajar dan menggali ilmu terlebih dahulu baru kita komentar,kedepankan dalil duru dari pada akal, jangan komentar kalo kurang iman yang menyebabkan kita kafir setelah dianggap beriman

  24. masalah isra’ mi’raj, ana butuh informasi tentang hukum memperingati peristiwa ne. da gak info/dalil sahih, kapan awal mulanya ada yang mmerperingati peristiwa ne??

    –> dalilnya? ga usah dakik2, gampangnya.. sebagaimana anda memperingati ultah anda, atau hari kemerdekaan kita.

  25. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Urun rembug untuk dildaar80
    Sedikit saya ikut menyampikan atas apa yang anda pertanyakan, sebatas kemampuan saya yang terbatas ini.
    Pertanyaan anda saya copas dan saya jawab disini dengan saya tambah nomor.
    Apa yang disampikan teman-teman sudah banyak. Semoga bisa menambahi.
    Wallohul Musta’an

    1. Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?

    Jawaban saya :
    Dalil dari Peristiwa Isro’ adalah firman Allah surat Al Isro’ ayat 1
    سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha…” (Al Isro’ : 1)
    Dalam ayat ini jelas bahwa Allah menggunakan lafadz أَسْرَى / memperjalankan. Jadi Nabi dini hanyalah sebagai Obyek, subyeknya adalah Allah SWT. Maka pertanyaan yang benar adalah Apakah mungkin Allah memperjalankan manusia yang semacam ini? Jabannya tentulah adalah mungkin, dan semua hukum2 alam yang melekat pada diri Nabi Muhammad SAW tentu telepas dan tidak bisa disandingkan, karena peristiwa Isro’ adalah peristiwa Memperjalankannya Allah pada Nabi. Bukan peristiwa perjalanannya Nabi. Semisal anda membawa seokor semut kemudian anda naik pesawat dan dalam 4 jam semut tsb bolak balik dari jakarta ke Surabaya, tentunya itu bukan muhal kalau dilihat dari anda memperjalankan semut. Karena yang dipakai adalah hukum anda. Kalau dilihat pada hukum semut maka itu adalah hal yang tidak mungkin.
    Maka sekali lagi karena ini adalah peristiwa memperjalankannya Allah pada Nabi Muhammad maka pertanyaan, Apakah Nabi Mungkin melakukan perjalanan yang seperti itu? Adalah pertanyaan yang salah. Sebagaimana pertanyaan anda.

    2. Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?

    Jawaban saya :
    Sebagimana diatas saya terangkan bahwa peristiwa ini adalah peristiwa memperjanankannya Allah, tentu Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu sangat mampu mendesain Tubuh Nabi lepas dari sifat Kejasadannya, sehingga jasad Nabi beserta Ruhnya mampu bersama-sama kumpul dengan roh.
    Secara tersurat Allah menyatakan hal tersebut
    لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
    Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qof : 22)

    3. Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?

    Jawaban saya :
    Hadits tersebut sama sekali tidak menyatakan bahwa orang meningglkan wajib sholat. Cuma mengatakan bahwa para Nabi(yang sudah wafat) Sholat. Dan ini sangatlah mungkin.
    مسند أبي يعلى 350)
    حَدَّثَنَا أَبُو الْجَهْمِ الأَزْرَقُ بْنُ عَلِيٍّ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ ، حَدَّثَنَا الْمُسْتَلِمُ بْنُ سَعِيدٍ ، عَنِ الْحَجَّاجِ ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِمْ يُصَلُّونَ
    “…Dari Anas bin Malik, Nabi bersabda “ para nabi Hidup di quburnya dan Sholat “ HR. Abi Ya’la

    Mengenai Hadits bahwa Orang yang telah mati putus Amalnya, yang dimaksud adalah Putus pahala Amalnya.

    4. Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?

    Jawaban saya
    Sekalilagi ini adalah Mu’jizat, bagaimana mungkin ummatnya melakukan suatu mu’jizat?

    5. Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).Dan Kami tidak menjadikan “ru`ya” yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia .. ( Al-Isra :60)

    Jawaban saya :
    وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآَنِ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا
    “Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan/ mimpi [1] yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran[860]. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”.
    [1]. Ar Ru’ya bisa berarti penglihatan bisa pula berarti Mimpi
    Banyak ahli-ahli tafsir menterjemahkan kata ar ru’ya tersebut dengan penglihatan yang maksudnya: penglihatan yang dialami Rasulullah s.a.w. di waktu malam Isra dan Mi’raj. Hal ini berdasar pada kalimah setelahnya “sebagai ujian bagi manusia” kalau peristiwa Isro’ hanya mimpi maka tidak kan menjadi ujian bagi manusia, siapa yang akan menyangkal tentang mimpi seaneh apapun mimpi tersebut?
    Ada juga yang menafsirinya dengan mimpi, tapi yang menafsiri dengan mimpi bukanlah mimpi Isro’ mi’roj, tapi mimpi nabi tentang Perang Badar.

    6. Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah pemandangan rohani belaka?

    Jawaban saya :
    Sebagaimana anda katakan sendiri bahwa seandainya yang dialami Nabi itun hanya Mimpi, maka semua sepakat, dalam arti orang kafirpun tidak akan membantah, bahkan mungkin hanya senyum-senyum saja. Tapi coba anda perhatikan bagaimana reaksi Kafir Quraisy yang sangat menentang dengan apa yang diceritakan Nabi, Bhakan mereka membantah “ Bagaimana anda mengaku telah menempuh perjalanan itu (ke masjidil aqsho) dalam waktu (kurang) semalam, padahal kami menempuhnya dengan naik unta dalam waktu sebulan? Protes dan sanggahan Kafir Quraisy ini jelas bahwa Nabi menceritakan Melakukan dengan jasad. Kalau seandainya nabi mengatakan mimpi tentu Kafir Quraisy tidak akan membantahnya sekeras ini? Sebagaimana yang anda ma’lumkan.
    Nabi bersabda
    لَمَّا كَذَّبَنِى قُرَيْشٌ قُمْتُ فِى الْحِجْرِ ، فَجَلاَ اللَّهُ لِى بَيْتَ الْمَقْدِسِ ، فَطَفِقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَيْهِ
    Ketika Quroiy mengatkan aku bohong, aku berdiri diatas batu, kemudian Allah memperlihatkan padaku Baitul Muqoddas, kemudian aku mulai memberitahu tentang tanda-tanda Baitul Muqoddas sedang saya dalam keadaan melihatnya” HR. Bukhori

    7. Para mufasirrin sepakat bahwa Surat Al Isra diturunkan sekitar setengah tahun/setahun sebelum Hijrah dari Mekah ke Madinah dan dalam surah itu sama sekali tidak menyebut sedikitpun tidak menyinggung kepergian Nabi saw ke langit, sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An Najm yang diturunkan sekitar tahun ke-5 dan 6 kenabian dan dalam surah itu tidak menyinggung soal isra.

    Jawaban saya :
    Yang anda katakan bahwa Isro’ sisebutkan dalam Surat Al Isra dan surat tersebut tidak menyinggung Mi’roj adalah benar. sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An Najm dan tidak menyinggung soal isra. Adalah juga benar.
    Adapun masalah tahun turunnya ayat tersebut, Khilaf. Begitu juga Isro’ bersamaan waktunya dengan Mi’roj atau tidak, juga Khilaf. Imam bukhori dalam Shohih Bukhori secara Eksplisit dan Implisit menyebutkan Bahwa Isro’ Mi’roj bersamaan.

    8. Apakah Nabi saw menemui Tuhan harus naik ke langit, apa sewaktu di bumi tidak pernah bertemu dengan Tuhan? Jadi jelas jarak antara turunnya kedua surat tersebut selisih 6 tahun, maka sesuai saat turunnya kedua surat tersebut tidakkah urutannya menjadi Mi’raj dulu baru Isra’?.

    Jawaban saya :
    Pertemuan itu, kapan dan dimana Allah yang berkehendak. Bagaimana Allah terhadap Nabi Musa, bagaimana Allah terhadap Nabi Muhammad, itu adalah kehendak Allah.
    Masalah kedua ayat tentang isro’ dan Mi’roj sudah saya terangkan diatas. Khilaf, masing2 ada dasarnya.
    Pendapat Masyhur Jumhurul Ulama’ mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi dalam semalam dalam keadaan sadar.

    9. Menurut pemahaman umum bahwa perintah sholat mulai difardhukan atau ditetapkan pada peristiwa Mi’raj ketika Nabi saw menghadap Tuhan, apabila paham ini benar serta dibenarkan pula paham Mi’raj terjadi ber-sama Isra merupakan satu peristiwa, maka jika demikian halnya berarti Rasulullah saw beserta umatnya mulai sholat baru sekitar 11 tahun sesudah diutus, apakah sebelumnya Rasulullah saw beserta umatnya belum menjalankan sholat?

    Jawaban saya :
    Paham ini benar menurut keterangan dari Imam Bukhori, sebagimana yang saya terangkan diatas.
    Sebelum adanya perintah Sholat, Nabi sudah Ber Ibadah kepada Allah, bukan dengan cara Sholat dalam perintah Mi’roj.

    10. Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw sampai naik turun beberapa kali agar Allah mengubah perintah shalat 50 kali sehari semalam menjadi hanya 5 kali. Apakah Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana itu sebelumnya tidak mengetahui bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu menjalankan ibadah shalat 50 kali sehari semalam? Naudzubillah min dzalik! Mengapa Musa lebih mengetahui keberatan umat Nabi Muhammad saw, bukan Nabi saw sendiri yang kenal langsung umatnya yang mengajukan keringanan perintah shalat tersebut?

    Jawaban saya :
    Allah memerintahkan Sholat 50 kali sehari semalam dan kemudian menjadi 5 kali, bukanlah menunjukkan bahwa Allah tidak mengetahui. Allah mengetahui, dan dengan Rohmatnya Allah memerintahkan ummat Muhammad 50 kali yang akhirnya cukup dijalankan 5 kali dan bernilai 50 kali. Ini adalah Rohmat Allah. Allah memerintahkan Nabi Ibrohim dan kemudian diganti dengan Domba, bukan berarti Allah tidak mengetahui akan begini pelasanann dari perintahNya. tapi inilah Rohmat Allah. Cukup dengan menyembelih domba Nabi Ibrohim telah melaksanakan perintah menyembelih sang Putra. Cukup dengan melaksanakan 5 kali Ummat Muhammad telah melaksanakan kewajiban Sholat 50 kali sehari semalam.
    Permintaan Nabi Musa itu adalah murni Rohmat Allah.
    Kenapa tidak Nabi SAW sendiri yang minta keringanan? Ini adalah taklif/perintah dari Allah. Dengan menerimanaya Nabi terhadap perintah sholat 50 kali ini, berarti Nabi telah menerima dengan baik Perintah Allah. Setelah perintah ini diterima kemudian langkah berikutnya baru meminta keringanan dari Allah atas usul Nabi Musa. itu adalah masalah kedua. Dengan tidak meminta keringanan langsung berarti Nabi tidak membantah pada perinrah Allah.

    11. Sebaiknya kita terima paham yang lebih benar bukan sesuatu yang dirasakan ganjil dengan kisah-kisah yang tidak dapat diterima dengan akal sehat! Saya tidak menolak ayat2 Alquran tentang Isra dan Mi’raj juga tdk menolak hadis2 Isra dan hadis2 Mi’raj. Saya hanya mengajak kita untuk membuka cara pandang baru dan lebih masuk akal sehat dalam memahaminya.

    Jawaban saya :
    Ketika logika anda benar dan disertai dengan Hidayah Allah. Maka peristiwa Isro’ Mi’roj ini tidaklah berlawanan dari logika. Memang sebagaimana Firman Allah, ini adalah cobaan pada keimanan seseorang, termasuk kami, kita dan anda.
    Cara pandang anda bukan lah hal baru, ini sudah lama dan justru lebih tidak masuk akal sehat bagi seorang Mukmin.

    12. Dalam hal Nabi saw dibelah dadanya, jantung dikeluarkan, dibersihkan kemudian diisi dengan iman dan hikmah ditampung dalam bejana emas. Kita yakin bahwa iman dan hikmah bukanlah benda yang dapat dibawa ditampung dalam bejana emas dan orang yang dibelah dan dibedah dadanya, jantungnya dikeluarkan mungkinkah beliau tetap hidup? Lalu yang dicuci di dalam jantung Nabi saw itu kotoran apa? Apakah masih perlu jantung beliau dibersihkan dari hal yang belum bersih? Lagi pula apakah tadinya jiwa Nabi saw itu kosong dari iman dan hikmah?

    Jawaban saya :
    1. Hadits ini jelas Rowinya, anda mempertanyakan isi hadits ini, tapi anda mengaku tidak menolak ayat2 Alquran tentang Isra dan Mi’raj juga tdk menolak hadis2 Isra dan hadis2 Mi’raj.
    2. Iman dan Hikmah adalah sesuatun yang maa’ni, sebagimana pahala dan dosa. Perwujudan sesutu yang ma’ani adalah mungkin. Apa anda lupa bahwa Pahala dan dosa besuk ditimbang? Itu adalah cotoh bahwa perwujudan dari ma’ani adalah mungkin.
    3. Zaman sekarang aja cangkok jantung mungkin. Apanya yang anda ragukan dari kekuasaan Allah?
    4. Ini adalah pencucian yang kedua/ketiga, dalam peristiwa Mi’roj ini tidak ada keterangan bahwa jantung Nabi dicuci dari kotoran. Sesuatu yang sudah bersih mungkin dicuci untuk tujuan tertentu.
    5. Hadits ini jelas menyebutkan dengan مَمْلُوءَة / dipenuhi. Sesuatu yang dipenuhi bukan berarti sebelumnya kosong. Jangan ngawur logika anda.

    13. Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani (kasyaf dan ruya)belaka?

    Jawaban saya :
    Kasyaf bukan mimpi, kasyaf adalah penglihatan dzohir diluar kebiasaan manusia. Ru’ya tidak mesti berarti mimpi. Benahi perbendaraan kata anda.
    Sudah saya terangkan diatas, kalau ini hanya sekedar mimpi, tidak akan ditentang oleh Kafir Quroisy. Besarnya penentangan Kafir Quraisy menunjukkan bahwa yang diceritakan Nabi bukanlah mimpi.

    14. Dalam hadits Nabi saw melihat sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak berhubungan dengan 2 sungai sorga, jelas kita mengetahui bahwa kedua sungai tersebut ada dan bersumber air di bumi. Bukankah hal ini merupakan peristiwa ru-ya?

    Jawaban saya :
    Keberadaan sungai Nil dan Eufrat adalah jelas berasal dari sumber yang di dunia dan berbeda. Hadits ini berarti Majaz, yaitu bahwa keduanya sama2 tawar. Sedangkan sungai di Sidrotul Muntaha itu adalah ada dan termasuk perkara ghoib sebagaiman sidrotul muntaha itu sendiri. Kalau anda percaya pada adanya Surga, Neraka, dan bahkan Sidrotul Muntaha, tentu bukan hal yang sulit untuk mempercayai adanya sungai tersebut.

    15. Dalam hadits diceritakan pula bahwa Jibril membuka atap rumah Nabi saw kemudian turun. Mengapa kali iniJibril sampai membuka atap rumah Nabi saw, padahal bertahun-tahun Nabi saw menerima kedatangan Jibril tanpa Benarkah atap rumah Nabi saw terbuka? Tidakkah hal ini membuktikan pemandangan rohani belaka?

    Jawaban saya :
    Malaikat Jibril datang waktu Mi’rojnya nabi dengan membuka atap, bukan berarti Malaikat Jibril tidak bisa datang dengan tanpa membuka atap. Dan bukan berati kalau datang mesti membuka atap. Tentu ada maksud tertentu kenapa hal tersebut dilakukan. Anda masuk kamar istri anda bisa dengan mengetuk pintu, bisa pula dengan tanpa mengetuk pintu. Kenapa sekali waktu anda masuk dengan mengetuk pintu padahal anda bisa masuk dengan tanpa mengetuk pintu? Tentu ada sesuatu hal kenapa itu anda lakukan.
    Malaikat Jibril turun dengan membuka atap padahal tanpa membukapun bisa, tentu ada sesuatu, yaitu sebagai pemberitahuan awal tentang akan adanya sesuatu yang luar biasa.

    16. Dalam hadits disebutkan bahwa sewaktu Nabi saw Mi’raj bersama Jibril, Jibril mengetuk pintu langit agar penjaga pintu membukanya! Apakah langit suatu bangunan atau benda berbentuk gedung yang ada pintunya? Apakah malaikat penjaga pintu tersebut tidak diberitahu bahwa ada tamu penting yang akan datang? Tidakkah hal ini membuktikan bahwa semua yang dialami oleh Nabi saw dalam Mi’raj hanyalah merupakan pemandangan rohani?

    Jawaban saya :
    Secara ekplisit sudah saya jawab diatas, coba dicermati. Terutama no 14 dan 15 juga no 13 dan 6

    17. Jika Bouraq yang dikendarai Rasulullah saw berupa kuda dengan kepala seorang wanita yang cantik ini benar-, seharusnya sekarangpun binatang tersebut harus ada, ternyata hingga sekarangpun kita semua tidak pernah melihat ataupun mengenalnya, bukankah hal ini merupakan Dan apakah ada ayat Al Quran yang menjelaskan tentang binatang Bouraq tersebut?

    Jawaban saya :
    Anda mendapat keterangan sifat burok itu dari mana? Kalau anda mempercayai keterangan tersebut, mestinya anda mempercayai juga bahwa hewan tersebut adanya disurga. Bigaimana kita bisa melihat makhluq disurga sementara kita masih ada didunia? Surganya juga masih menjadi Harapan kita bersama. Belum kita lihat Surganya, bagaimana anda mempertanyakan sebagian penghuninya? Sementara yang lain anda pecayai keberadaannya.
    Di Al Qur an tidak ada kata Buroq. Mi’roj juga tidak ada.
    Adanya di hadits. Anda menyangsikan Hadits dengan perowi jelas?

    18. Dan kita coba melihat arti dan rahasia yang tersimpan di dalam pemandangan rohani Nabi saw. dalam peristiwa erjalanan Nabi saw dari Makkah ke Masjidil Aqsha mengandung petunjuk bahwa Nabi saw bakal hijrah dari Makkah. Surat Al Isra’ ayat 1 yang artinya: “Masjidil Aqsha yang Kami berkati sekelilingnya”. Pada saat itu di Palestina belum ada masjidil Aqsha. Arti Masjidil Aqsha adalah masjid yang jauh, jarak antara Makkah ke Madinah ratusan kilometer. Tidakkah hal ini telah menjadi kenyataan bahwa Nabi saw benar telah hijrah dari Mekkah ke Madinah yang diberkati sekelilingnya?

    Jawaban saya :
    Ini adalah penafsiran anda. Saya ulang penjelasan saya
    1. Kalau hanya pemandangan Rohani atau semacam mimpi tentu tidak akan ditolak oleh banyak orang.nyatanya cerita nabi itu ditolak oleh Kafir Quraisy bahkan disangsikan sebaian Muslim kala itu. Berarti Nabi bukan sedang bercerita pemandangan rohani atau mimpi.
    2. Baitul Muqoddas sudah ada jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad Saw. Bahkan shalat pada awalnya juga menghadap pada Baitul Muqoddas. Adapun pada era setelah Nabi adalah pembangunan, adalah renofasi fisik dan perluasannya.

    Tanbihun
    Peristiwa Isro’ Mi’roj adalah peristiwa besar diluar adat kebiasann manusia.
    Tergambarkan dari begitu getolnya kafir quraisy menolaknya, karena tidak masuk logika mereka. Kalau sendainya yang dicerikan nabi adalah mimpi, tentu tidak akan ditolak oleh Kafir Quraisy.

    Peristiwa Isro’ Mi’roj adalah ujian bagi Muslim, sebagaimana yang tersirat dari Firman Allah. Seberapa besar Iman muslim tersebut kepada Allah dan Rosulnya. Apakah ia iman dengan sepenuhnya, ataukah Iman tapi dengan koreksi pada apa yang diimaninya.

    Semoga pembahasan Isro’ Mi’roj ini makin mendekatkan kita pada Allah. Dan menyadarkan kita bahwa logika kita terbatas. Apa yang kita anggap lebih logis ternyata ada yang lebih logis lagi.

    Bagi seorang Mukmin hal yang paling utama adalah pasrah dan percaya/iman atas apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rosulnya.

    Wabillahi At Ataufiqu Wal Hidayah
    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

  26. betul…bila masa sekarang banyak orang yang tidak percaya….. karena udah jauh. lha masa dulu aja yang dekat banyak yg tidak percaya. karena yg tidak percaya punya alasan ………. cuma yg tidak percaya saat ini adalah mereka yg merasa otaknya adalah segalanya baginya. (kasihan mereka… )

  27. memang anak yg kuliah2 ini otakx pada bejat2 sok tau sok pintar sok berilmu.inti hidup d dunia g kekal bro.jgn otak d taruh d dengkul.isra mi,raz sudah jelas dalam qur,an .surat al,isra untuk pecahanya jgn d bhas .yg jelas udah ada dalam qur,an.anak kuliahan sekrang byk murtad.otakx

  28. Ping-balik: Meninjau Kembali Kisah Isra Miraj Rasulullah « Kanzunqalam's Blog

  29. ASSALAMUALAIKUM PAK USTAD………SY MAU BERTANYA SEDIKIT……BEGINI PAK USTAD
    Isra Miraj adalah perintah Allah untuk mewajibkan umat nabi muhammad shalat dan Allah setuju dengan nabi Muhammad untuk mewajibkan sholat lima waktu. Namun anehnya ternyata Allah lupa mencatatkan jumlah sholat ini didalam Quran. Ataukah mungkin Allah sudah memerintahkan pada Jibril, namun Jibril lupa mengatakannya pada Muhammad. pertanyaan nya adalah : dari mana kita tahu kalau sholat isya itu 4 rakaat,subuh 2 rakaat,zuhur 4 rakaat, ashar 4 rakaat dan maghrib 3 rakaat…….? sedangkan Allahswt tidak menyebutkan jumlah rakaatnya. tolong dijelaskan ya pak ustad sebab tulisan ini sy copy dari blok yg sepertinya mau memecah belah umat islam.

    DIBAWAH INI SAYA SERTAKAN TULISAN TERSEBUT………………………………………

    ISRA MIRAJ SEBUAH PERJALANAN KE SURGA
    Setelah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan di Taif, Muhammad berusaha untuk kembali lagi ke Mekah. Melalui pertolongan budaknya, Zaid, ia diberi perlindungan oleh Mutim bin Idi, pimpinan Nofal, klan dari Quraish. Keesokan harinya, Mutim dengan anak dan ponakannya dengan bersenjata mendatangi lapangan umum Kabah dan mengumumkan bahwa Muhammad sejak saat itu berada dibawah perlindungannya. Muhammad sangat gembira, tapi tampaknya dia menahan diri untuk segera menyebarkan agamanya kepada kaum Quaish, dia hanya berdakwah pada para peziarah haji yang datang ke kabah untuk melakukan ritual berhalanya.

    Selama periode ini. disaat Muhammad mempertahankan perannya agar tidak menyolok di mata musuh2nya di Mekah, dikatakan bahwa dia, karena alasan tidak jelas, tidur semalaman dirumah sepupunya, Umm Hani.

    Umm Hani adalah anak perempuan Abu Thalib. Umm Hani kemungkinan besar adalah “cinta lama Muhammad”. Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad pernah melamar Umm Hani, namun hal ini ditolak mentah2 oleh Abu Thalib, alasannya saat itu Muhammad adalah pemuda yang papa dan miskin. Karena hubungan keduanya tidak direstui Abu Thalib, akhirnya Umm Hani menikah dengan Hubairah, seorang laki2 yang beragama Nosrania (Nasrani).

    Pada pagi berikutnya, orang2 ingin tahu dimanakah dia malam kemarin. Beberapa orang rupanya telah mengetahui bahwa sore sebelumnya ia memasuki rumah Umm Hani. Dia tidak mungkin mengaku bahwa ia telah “tidur” bersama seorang wanita yang sedang sendirian, karena itu akan menghancurkan kariernya sebagai seorang nabi. Muhammad akhirnya mengarang cerita, dia mengatakan bahwa pada malam itu ia dituntun Jibril untuk melakukan perjalanan dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana ia naik kesorga dan bertemu Allah. Karena perjalanan ini tidak mengikut sertakan manusia lain, oleh karenanya tidak ada manusia lain yang bisa menjadi saksi akan kejadian mukjijat ini, maka ini mencegah orang2 meminta saksi mata untuk membuktikan pernyataannya tersebut.

    Mendengar penjelasan Muhammad tersebut, kebanyakan dari mereka mengatakan, ‘Demi Allah, ini jelas sebuah kebohongan! Sebuah karavan saja memerlukan waktu satu bulan untuk mencapai Syria dan satu bulan lagi untuk kembali. Bagaimana Muhammad bisa melakukan perjalanan pulang-pergi dari Mekah ke Yerusalem dalam satu malam ?’

    Ibn Ishaq mengatakan; “Setelah mendengar cerita ini banyak orang yang dulunya bergabung dengan Islam menjadi murtad dan meninggalkan Islam.”

    Sebagian lagi menemui Abu Bakar, yang rupanya belum mengetahui hal ini dan berkata, “Apa pendapatmu tentang temanmu itu? Dia mengaku telah pergi ke Yerusalem semalam, sholat disana lalu kembali lagi ke Mekah!” Abu Bakar menuduh orang2 yang bertanya kepadanya ini berbohong, Muhammad tidak akan berkata begitu, tapi mereka meyakinkan dia, bahwa Muhammad sekarang sedang berada di mesjid, menjelaskan tuduhan orang2 terhadapnya. Abu Bakar tertegun dan lalu berkata, “jika dia bilang begitu, maka itu benar. Kenapa heran? Dia pernah bilang berkomunikasi dengan Allah, dari langit kebumi, wahyu datang padanya siang atau malam, dan saya percaya dia. Itu jauh lebih luar biasa dari apa yang kau ceritakan sekarang!” (Ibn Ishaq, Sirah Rasul Allah, p 183)

    Logikanya sangat sempurna. Pada dasarnya apa yang Abu Bakar katakan adalah bahwa sekali kamu telah melepaskan akal sehatmu dan percaya pada kemustahilan, kamu bisa percaya apa saja. Sekali saja kau biarkan dirimu dibodohi, maka kau harus siap untuk dibodohi selamanya karena tidak ada batas bagi kebodohan. Berapa banyak orang yang akan membiarkan kakek berumur 50 tahun seperti Muhammad, mengawini anak perempuannya yang berumur 6 tahun? Tapi Abu Bakar melakukan itu. Ini membutuhkan kebodohan yang luar biasa. Kebodohan yang hanya mungkin ada dalam sebuah kepercayaan buta.

    Kita juga harus ingat bahwa Abu Bakar, telah menghabiskan semua kekayaannya bagi Muhammad dan tujuannya. Orang ini telah banyak berkorban bagi Muhammad. Pada tahap ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali ikut saja pada apa yang dikatakan Muhammad. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengubur dalam2 logikanya dan secara membuta mengikuti apa saja yang dikatakan dan diperbuat Muhammad.

    Abu Bakar begitu kesulitan mempercayai kisah kenaikan Muhammad ke surga, tapi pada akhirnya dia tidak punya pilihan kecuali percaya karena menolak berarti mengaku telah dibodohi dan itu pengakuan yang menyakitkan. Menolak Muhammad, yang telah anda terima sebagai utusan Tuhan dan percaya padanya, bukanlah usaha yang mudah. Ini jelas sebuah keputusan yang gagah berani, keputusan yang jauh diluar jangkauan orang yang berpikiran lemah. Semakin banyak anda menyerahkan kemerdekaan anda, semakin banyak anda berkorban bagi orang ini, semakin sulit untuk meninggalkannya.

    Setelah gagal meyakinkan sebagian orang atas kenaikannya kesurga tersebut. Mari kita lihat bagaimana Muhammad mengembangkan kebohongan Isra Miraj ini dikemudian hari.

    Terdapat berbagai versi tentang dongeng Muhammad ini. Ibn Ishaq (p182) menyusun tradisi2 yang berasal dari sahabat-sahabatnya, khususnya istrinya, Aisha. Menurut riwayat, Muhammad melaporkan:

    “Ketika saya, Jibril datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya bangun namun tidak melihat apa-apa dan merebah kembali. Untuk kedua kalinya ia datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya tidak melihat apa2 dan merebah kembali. Ia datang kepada saya untuk ketiga kalinya dan membangunkan saya dgn kakinya. Saya bangun dan ia memegang tangan saya dan saya berdiri disebelahnya. Ia membawa saya keluar, dan disitulah ada seekor hewan putih, setengah keledai, dengan sayap2 disisinya yang mempercepat gerakkan kakinya …. Ia menaikkan saya padanya. Lalu ia pergi keluar dengan saya, dan terus dekat dengan saya. Ketika saya mencoba menaikinya, ia [hewan itu] malu-malu. Jibril meletakkan tangannya pada bulu tengkuknya dan mengatakan, Apakah kau tidak malu, wahai Buraq, untuk bertingkah seperti ini ? Demi Allâh, tidak ada yang lebih terhormat bagi Allâh daripada Muhammad menaikimu. Hewan itu begitu malu sampai ia berkeringat dan berdiri sehingga saya bisa menaikinya.”

    Sang periwayat kemudian mengatakan: “Nabi dan Jibril berangkat dari Masjid Haram, sampai mereka tiba di Masjid Aqsa di Yerusalem. Disana ia berjumpa dengan nabi2 terdahulu seperti Adam, Ibraham, Musa dan Yesus. Muhammad kemudian membimbing mereka dan menjadi imam utama dalam sholat.

    Setelah sholat selesai, malaikat Jibril membuka hati Muhammad untuk kedua kali dan membersihkannya dari segala dosa yang telah dia kumpulkan sejak pencucian pertama ketika dia berumur lima tahun. Setelah itu sebuah tangga dipasang, menghubungkan Masjid Aqsa dengan ketujuh surga dilangit. Dengan Buraq, hewan setengah kuda dan setengah keledai, berkepala manusia dan sayap burung rajawali, ia mengunjungi tingkatan2 di Surga.

    Setelah menuntaskan urusan saya di Yerusalem, sebuah anak tangga yang paling indah yang pernah saya lihat dibawa kepada saya. Itu tangga yang dipandangi orang yang hampir mati saat kematian menjemputnya. Rekan saya menaikinya, sampai kami tiba di salah satu gerbang surga yang disebut dengan Gerbang Para Penjaga. Malaikat bernama Ismail bertanggung jawab atasnya dan ia membawahi 12.000 malaikat, yang masing2 membawahi 12.000 malaikat.’

    Ketika Jibril membawa saya masuk, Ismail bertanya siapa saya dan ketika Jibril mengatakan bahwa saya Muhammad, ia bertanya apakah saya diberikan sebuah misi, atau dipanggil, dan setelah diyakinkan Jibril, ia mengucapkan selamat jalan.

    Saya melihat malaikat kematian, Azrail, yang tubuhnya begitu besar sampai mata2nya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris (Sekitar 10 kali lebih besar dari jarak antara Bulan dan Bumi). Ia memiliki 100.000 batalyon malaikat dan melewatkan waktunya dengan menulis dalam sebuah buku raksasa nama2 mereka yang mati atau dilahirkan.

    Saya juga melihat malaikat air mata yang menangis bagi dosa2 dunia; Malaikat Pembalas dengan wajah yang besar yang tertutup oleh bisul2 yang menguasai api dan duduk dalam singgasana berapi; dan satu lagi malaikat raksasa yang tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api.

    Semua malaikat yang menemui saya ketika saya memasuki suga paling bawah tersenyum dan mengucapkan selamat jalan, kecuali salah satu dari mereka yang tidak tersenyum atau menunjukkan ekspresi gembira seperti malaikat lainnya. Dan ketika saya tanya alasannya pada Jibril, ia mengatakan bahwa malaikat tersebut tidak tersenyum karena ia adalah Malik, Penjaga Pintu Neraka.

    Ketika saya memasuki surga paling bawah, saya melihat seseorang duduk disana, dengan jiwa2 orang yang melewatinya. Dalam menjawab pertanyaan saya, Jibril mengatakan bahwa ini ayah kami, Adam, sedang memeriksa jiwa2 keturunannya. Jiwa orang beriman meningkatkan kegembiraannya, sementara jiwa seorang kafir meningkatkan kejijikannya. Lalu saya melihat orang2 dengan bibir seperti onta. Dalam tangan2 mereka terdapat kepingan2 api, seperti batu, yang mereka gunakan untuk dimasukkan dalam mulut mereka dan kemudian keluar dari bokong mereka. Saya diberitabu bahwai mereka ini adalah orang yang berdosa karena memakan harta anak yatim piatu. Lalu saya melihat orang2 seperti keluarga Firaun, dengan perut2 yang belum pernah saya lihat, dan melewati mereka adalah onta2 yang gila karena kehausan ketika mereka dibuang ke neraka, menginjak mereka karena mereka tidak dapat mengelak. Mereka adalah para lintah darat.

    Lalu saya dibawa ke surga kedua, dan disitu ada dua saudara sepupu dari garis ibu, Isa, putera Mariam dan Yohanes, putera Zakariah. Lalu saya ke surga ketiga dan disitu ada seseoarng yang wajahnya seperti bulan purnama. Itu saudara saya, Yusuf, putera Yakub. Lalu ke surga keempat, disana ada seorang bernama Idris (Henokh). Lalu ke surga kelima dan disana ada lelaki dengan rambut putih dan jenggot panjang, belum pernah saya melihat lelaki yang lebih rupawan darinya. Ia adalah yang paling dikasihi rakyatnya, Harun, putera ‘Imran.

    Lalu ke surga keenam, dan disana ada lelaki berwarna kulit gelap dengan hidung berbentuk kait, spt kaum Shanu’a. Ini saudara saya, Musa, putera ‘Imran. Lalu ke surga ketujuh, dan disana ada seseorang duduk di singgasana pada gerbang rumah mewah, Surga. Setiap hari, 70.000 malaikat masuk dan tidak kembali sebelum hari kiamat. Belum pernah saya melihat orang lebih mirip dengan saya. Ini ayah saya, Ibrahim. Dalam surga ketujuh dimana jiwa2 orang2 baik tinggal terdapat malaikat yang lebih besar dari seluruh dunia dengan 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 mulut dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dalam 70.000 bahasa dan tidak habis2nya menyanyikan pujian kepada Sang Maha Kuasa.

    Satu versi mengatakan, Ketika Jibril mengantar Muhammad ke setiap tingkatan surga dan meminta ijin masuk, Jibril harus memberitahu para penjaga siapa yang ia bawa dan apakah tamunya itu menerima sebuah misi atau ia telah dipanggil, dan para penjaga gerbang akan menjawab ‘Allah memberikannya kehidupan, kakak dan sahabat!’ dan membiarkan mereka lewat sampai mereka mencapai langit ketujuh dan ia dituntun menuju Sidratul Muntaha, yang dibatasi oleh pohon khuldi, disana Muhammad bertemu dengan Allah. Disana ditetapkan kewajiban lima puluh kali solat per hari bagi pengikutnya. Saat ia kembali, ia bertemu Musa dan inilah yang terjadi:

    Pada saat saya kembali, saya berjumpa dengan Musa dan sungguh ia temanmu yang paling baik! Ia bertanya berapa solat yang diwajibkan pada saya dan ketika saya mengatakan lima puluh, ia mengatakan, ‘Doa adalah sesuatu yang memberatkan dan pengikutmu adalah orang-orang lemah, jadi kembalilah kepada Tuhanmu dan minta padaNya untuk mengurangi jumlah solatnya bagi dirimu dan komunitasmu.’ Saya melakukannya dan Ia mewajibkan sepuluh solat. Sekali lagi saya berpapasan dengan Musa dan ia sekali lagi mengatakan hal yang sama, dan begitulah seterusnya sampai hanya ditetapkan lima solat bagi seluruh hari dan malam. Musa kembali memberikan saya nasehat yang sama. Saya menjawab bahwa saya sudah kembali kepada Tuhan saya dan bertanya padaNya untuk mengurangi jumlahnya sampai saya malu dan saya tidak akan melakukannya lagi. Barang siapa yang melakukan doa dalam iman, imannya akan dihadiahi dengan limapuluh solat.

    Demikianlah cerita Muhammad yang ia karang2 dikemudian hari untuk menyakinkan para pengikut fanatiknya mengenai kebohongan Isra Miraj tersebut.

    Orang memang cenderung percaya kebohongan apa saja, selama kebohongan itu diberi cap “mistis” dan “spiritual”,

    Muhammad memang memilki daya khayal yang luar biasa. Muhammad bukanlah orang yang biasa menggunakan kiasan atau personifikasi dalam menyatakan sesuatu. Lihatlah bagaimana Muhammad bercerita tentang malaikat yang ukurannya lebih besar dari bumi ini. Malaikat yang memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (Total wajah yg dimilikinya adalah : 4.900.000.000) Setiap wajah memiliki 70.000 mulut (Total mulut: 343.000.000.000.000) Setiap mulut memiliki 70.000 lidah (Total lidah: 24.010.000.000.000.000.000) Setiap lidah mampu berbicara dalam 70.000 bahasa (Total bahasa yang mampu digunakannya : 1,680,700,000,000,000,000,000,000), Dan kesemuanya itu diciptakan Allah untuk satu tujuan, yaitu memuja dia.

    Mengapa Allah merasa perlu menciptakan mahluk monster seperti itu hanya agar mahluk itu bisa memuja2nya tanpa akhir dalam berbagai bahasa pula? Bukankah itu gila? Allah adalah perwujudan ego Muhammad dan segala yang ia inginkan. Psikologi Allah merefleksikan psikologi Muhammad. Sebagai seorang narsisis, ia memiliki kehausan besar agar dipuja, begitu pula tuhannya yang tidak lain hanyalah perwujudan dirinya.

    TERLALU BANYAK KEBOHONGAN DAN KEJANGGALAN DALAM PERISTIWA ISRA MIRAJ INI.

    Para pakar Muslim, yang telah termakan tipu daya Muhammad, sampai jungkir balik untuk mempertahankan dongeng ini agar nampak kredibel. Mereka mati2an berusaha membela kebohongan ini agar nampak sebagai suatu kebenaran.

    Para pengritik mempertanyakan moralitas dan tujuan keberadaan Muhammad, seorang pria yang baru beberapa waktu ditinggal mati istrinya, ditengah malam, dirumah seorang wanita yang tinggal seorang diri. Juga keputusan Allah untuk mengundangnya kesurga dari rumah seorang wanita yang bukan muhrimnya, bukan dari rumahnya sendiri.

    Beberapa pakar muslim mengatakan bahwa peristiwa Isra Miraj ini adalah peristiwa dialam roh, bukan di alam fisik (jasad) sesungguhnya. Namun secara logika argumen ini juga terbantahkan. Motif utama Muhammad menceritakan kisah ini adalah untuk menghindar dari tuduhan orang2 bahwa semalam ia secara fisik berada di rumah Umm Hani. Oleh karenanya ia mengatakan bahwa secara fisik, ia telah pergi ke Yerusalem dan ke surga, bukan tidur berduaan dengan Umm Hani. Ayat Quran tentang Isra Miraj juga membuktikan ini;

    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:01)

    Kata2 “Bi’abdihi” (hambaNya) ini dapat dipakai untuk memberikan sanggahan atas orang2 yang berpendapat bahwa perjalanan malam Muhammad ini hanya terjadi dengan rohnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata2 “abd” (hamba) itu dipakai untuk roh beserta jasadnya sekaligus, bukan untuk roh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang mengatakan roh itu sebagai “abd” atau jasad yang tidak ber-roh sebagai ‘abd.

    Pertentangan berikutnya adalah mengenai singgahnya Muhammad ke Masjid Al Aqsa. Menurut sejarah peristiwa Muhammad naik kesorga ini terjadi di sekitar tahun 621 M. Namun sejarah mencatat bahwa pada tahun tersebut tidak ada satu bangunan pun yang berdiri dibekas Kuil Sulaiman (Salamo), karena bangsa Romawi telah menghancurkan dan membumi ratakan seluruh bangunan dikomples kuil ini pada tahun 70 M. Diatas bekas kuil ini kemudian di bangun Kuil Yupiter oleh bangsa Romawi. Kemudian kerajaan Byzantium menghancurkan Kuil Yupiter, dan setelah penaklukan Byzantium oleh islam maka dibangunlah The Dome of the Rock diatasnya pada tahun 691M. Mesjid Al-Aqsa baru dibangun dikompleks tersebut oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dinasti Umayyad di tahun 710M.

    Bagaimana mungkin Muhammad pada tahun 621 M mengatakan bahwa ia pergi ke Masjid Al Aqsa, padahal masjid itu baru berdiri 710 M, atau 89 tahun kemudian.

    MUNGKINKAH KISAH ISRA MIRAJ INI HANYALAH DONGENG YANG DICIPTAKAN MUSLIM SETELAH KEMATIAN MUHAMMAD?

    Hal aneh lain seputar Isra Miraj, adalah tentang pembangunan Masjidil Haram dan Al Aqsa. Muhammad bercerita demikian mengenai kedua masjid tersebut;

    Dikisahkan oleh Abu Dhaar: Aku bertanya, “Ya Rasulullah! Masjid manakah yang dibangun pertama kali? Beliau menjawab, “Masjidil Haram” Aku bertanya, “Selanjutnya?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa”. Kemudian aku bertanya, “Berapakah selisih pembangunan keduanya?” Rasulullah menjawab, “Empat puluh (tahun)”,….. (Hadis Bukhari 55:636)
    Benarkah perkataan Muhammad tersebut? Menurut Islam Masjidil Haram dibangun oleh Ibrahim pada 2000 SM, sedangkan Masjidil Aqsa dibangun pada tahun 710 M, maka kalkulasi yang benar terdapat selisih 2710 tahun. Muhammad mengatakan 40 tahun. Apakah 40 = 2710 ?

    Di dongeng Isra Miraj ini Allah setuju dengan Muhammad untuk mewajibkan sholat lima waktu. Namun anehnya ternyata Allah lupa mencatatkan jumlah sholat ini didalam Quran. Ataukah mungkin Allah sudah memerintahkan pada Jibril, namun Jibril lupa mengatakannya pada Muhammad.

    MENGAPA TATA CARA SHOLAT JUSTRU DIAMBIL DARI HADIS YANG ADA JAUH SETELAH KEMATIAN MUHAMMAD ?

    Kisah Isra Miraj Muhammad ini juga hampir mirip dengan kisah perjalanan ke surga nabi Idris (Henokh). Silahkan lihat disini;

    http://www.thenazareneway.com/book_of_the_secrets_of_enoch.htm
    http://www.newadvent.org/cathen/01602a.htm

    Menurut Taurat yaitu Kejadian 5:24, Henokh (Idris) diangkat kelangit. Berdasarkan ayat itu dibuat Kitab berjudul Henokh 1 dan 2, jauh sebelum masa Yesus. Kitab ini penuh dengan kejadian spektakuler, dan fantasi2 mengenai surga dan neraka. Kitab Henoch ditulis antara 150-80 Sebelum Masehi, yang naskahnya juga ditemukan di kumpulan naskah Qumran. Kitab ini adalah kitab Apocrypha Yahudi atau Pseudogrypha atau Kitab yang tidak diakui oleh orang Yahudi (juga Kristen). Sebagai bacaan, kisah tingkatan2 surga dan neraka ini dan cukup digemari oleh orang2 Kristen abad-abad pertama sampai ke empat.

    Perbedaannya dengan kisah Isra Miraj Muhammad, Surga Henokh terdiri dari sepuluh tingkat. dan tidak bertemu dengan nabi.

    Pasal 1: Henokh didatangi sepasang malaikat bersayap, yang sangat besar, berbaju putih.
    Pasal 3: Henokh dibawa ke Surga tingkat pertama, dan menempatkannya diawan.
    Pasal 4: Melihat 200 malaikat bersayap mengatur bintang dan melayani sorga.
    Pasal 7: Henokh dibawa ke surga tingkat ke dua,melihat kegelapan, tawanan tawanan yang sedang disiksa. Henokh bertanya jawab mengenai hal tersebut.
    Pasal 8 : Ia dibawa ke surga tingkat tiga, melihat taman Eden, dan neraka
    Pasal 11 : Ia dibawa ke surga tingkat empat, mempelajari matahari dan bulan.
    Pasal 18 : Ia dibawa ke surga tingkat lima.
    Pasal 19 : Ia dibawa ke surga tingkat enam.
    Pasal 20 : Ia dibawa ke surga tingkat tujuh.
    Pasal 20 : Ia melewati dan melihat surga tingkat delapan dan sembilan.
    Pasal 22 : Ia sampai ke surga tingkat sepuluh Sidratul Muntaha bertemu dengan Tuhan

    Henokh menerima wahyu dan perintah dari Tuhan. Tentu saja tidak berkonsultasi dengan Musa, kerena Musa belum ada. Selama perjalanan, Henokh juga berbicara dengan Jibril.

    KITA TIDAK TAHU APAKAH KISAH ISRA MIRAJ INI ADALAH KEBOHONGAN MUHAMMAD ATAU KEBOHONGAN PARA MUSLIM SETELAH KEMATIAN MUHAMMAD ! Wallahualam…

    • hy Budak maaf maksud saya Hamba Sahaya hehehe.. (Wikipedia yang bilang)

      janganlah kau ini suka menghasut kami para Muslim, dosa! itu perbuatan Syaithon, alias Setan alias Iblis.

      Persangkalan kamu ini sama sekali ENGGAK KREATIPFFFPPPP!!! :D pertanyaan sama yang diulang ulang terus, ini Lu dapet dari COPY PASTE blok MURTADIN KAFIRUN kan???!!! hehe hayulah ngaku saja. Eh, atau anda sendiri juga termasuk orang yang saya sebutkan tadi?? mohon maaf, semoga hidayah Allaah menghampiri anda kembali.

      Untuk sahabat-sahabat Muslim ku, pertanyaan beliau “Hamba Sahaya” ini gak usah di jawab, karena SUDAH ADA tuh di Blog lain juga, biar beliau sendiri yang cari jawabannya kemudian di COPY PASTE lagi deh di buku hariannya, bisa kan Mr. Hamba Sahaya??

      jadi lu jg setuju bilang kalau Muhammad Saw itu seorang Narsistis Pendusta??? gtu??
      ya sudah deh terserah anda, dosa lu yang punya!!! punya gue ya gue yang punya jg, hee maksudnya begitu..

      Wallaahu a’lam… numpang lewat doang kok :)

  30. @Hamba Sahaya berkata. dalam alquran itu hanya perinta secara global saja. apa ada dalam alquran salat zduhur,ashar, magrib, isya dan subuh ?, apa ada dalam alquran bagaimana tatacara memandikan mayat, mengapani mayat? apa ada dalam alquran puasa senin kamis dll . lalu apakah kita mau bilang Allah itu lupa atau malaikat itu lupa.
    jawabanya ada di dalam hadist nabi, silahkan googling atau datangi unstadz yang kompetent di bidang hadis.

    contoh dalil tentang rakaat shalat wajib bisa anda baca di
    http://salamdakwah.com/baca-pertanyaan/dalil-tentang-jumlah-rokaat-sholat-wajib..html

  31. Kita terbiasa hanya bicara sebagian kalimat (anak kalimat) saja. Padahal surat Isra ayat 1 itu, memiliki beberapa rangkaian anak kalimat. Perhatikan: I. Dzat Yang Mahasuci telah memperjalankan seorang hambaNya di malam hari dari Masjilharam ke Masjidil Aqsha. II. Yang telah Kami berkahi sekelilingnya. III. Untuk memperlihatkan (kepada)nya (Muhammad) sebagian ayat-ayat Kami. IV. Sungguh Dia (Allah) Mahamendengar (lagi) Mahamelihat. Pada kalimat I, sudah menjadi kalimat sempurna dan mudah dipahami, meskipun pada prakteknya justru inilah yang menjadi perdebatan itu. Lantaran perjalanan Rasulullah lepas diperjalankan(kalmat muta’adiy) atau berjalan sendiri (kalimat lazim) sebagai manusia yang juga berlaku hukum-kemanusiaanya (terdiri dari materi, ruang dan waktu), inilah yang menyulut pertanyaan besar, baik pada zamannya (dahulu) ataupun zaman kini. Apa lagi zaman sekarang diketemukan hukum gravitsi atau percepatan, bahkan sudah jelas bahwa sesuatu yang memiliki kecepatan tertinggi adalah foton (molekul cahaya). Andaikan waktu isra mi’raj itu sudah diketemukan pesawat jet, tak anehlah bisa terbang kemanapun asal sesuai dgn tujuan kapal terbang tsb. Waktu itu (zaman Rasulullah & para sahabat) jangankan pesawat jet, bikin sumur pompa atau dragon-pun belum dikenal. Coba kaji ulang (surat Isra juga) ayat 90 hingga ayat 93. Pada ayat 93, agar mereka, orang kafir, mengimani karasulan Muhammad SAW. meminta agar Rasulullah naik ke langit. Lalu Allah menolong nya untuk menjawab permintaan sebanyak tujuh macam itu: “BUKANKAH AKU INI SEBATAS MANUSIA SEBAGAIMANA ANDA-ANDA, hanya saja aku mendapat bisikan (wahyu) dari Allah. Sehingga menjadi UtusanNya”. Artinya, agar Muhammad membuat mata air, memiliki kebun lengkap dan sistem pengairannya, pecahkan langit berkeping-keping, datangkan Allah dan Malaikat hingga berhadapan dengan mereka, miliklah rumah dari emas atau TARQA FISSAMAA-I= TERBANG KELANGIT,DAN KAMI TIDAK AKAN PERCAYA THDP TERBANGMU (KE LANGIT ITU) KALAU PULANG NYA TIDAK BAWA KITAB YANG AKAN KAMI BACA, Jelaslah sudah bahwa semua tuntuan kandas alias tidak bisa dilaksanakan. Maka dalam menghadai 7 tuntutanorang kafir ini Rasulullah diperintah agar menjawab: MAHASUCI TUHANKU, Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi UtusannYa?. Boleh jadi mereka telah mendengar bahwa Rasulullah telah berdirgantara ke masjidil Aqsha, namun itu semua tanpa bukti. Karena itu baru mereka akan mempercayai hal tsb kalau ada fakta atau bukti. Kitab itulah yang menjadi bukti atau saksinya. Ini argumentasi Alquran. Apa lebih ngandel kepada argumentasinya Annas bin Malik, turun ke Ibnu Syihab, turun ke Yunuus, terus ke Al Laytsu, terus masih turun lagi ke Yahya bin Bukair, kemudin ditangkep (dicatat) oleh Imam Bukhari. Nah ini baru kish isra’nya. Belum lagi kisah mi’raj-nya atau kisah Isra sekaligus mi’raj. Ilmuwan hanya boleh ngoceh pada disiplin ilmunya. Kalau mau tahu benar atau salahnya tentang kisah itu, pakailah pembanding yang mutlak benar dan silahkan sanggah kalau mampu, yakni ALQURANUL KARIIM Ini baru komen kalimat ke I (satu). Lalu dalam kalimat kedua boleh Anda jawab, Yang telah Allah berkahi sekelilingnya itu apa, dimana atau siapa? Belum lagi kalimat yang ke III, ayat-ayat mana, yang ingin Allah perlihatkan kepada Muhammad Al Mustafa SAW itu?. Kegagalan ummat Islam, termasuk ulamanya (pengawal agama) lantaran beralquran kagak lengkap. Boro-boro satu surah (Al Isra sebanyak SERATUS SEBELAS ayat, apa lagi satu Alquran, 114 surah. baru sampai sepenggal ayat saja (Subhanalladzii asraa bi’abdihi laylan minal masjidil haraami ila al masjidilaqsha saja) sudah ngelantur ceritera langit Dunia, tempat nabi Adam merhati-in yg item-item di kiri-kanannya, calon penghuni surga dan neraka. Langit kedua di sana ada nabi Yahya dan Isa dst., dst., Dari hal-hal tsb timbul pertanyaan; jadi kalau begitu arwah para nabi yg telah meninggal tsb. menempati 7 langit?. Kirain mereka berada di alam akhirat. Atau sab’a samawaat (tujuh ruang angkasa) itu alam akhirat? Waktu Rasulullah diisra- kan, bukankah beliau masih hidup, kok sempat-sempatnya ngimamin para nabi yang sudah meninggal, ribuan tahun lalu? Paling mungkin, ya nyalatin arwah-arwah itu. Sayang Anas bin Malik sudah tiada lebih dari seribu tahun lalu, kagak bisa diminta keterangannya. Namun, barangkali yang mengimani ceritera itu bisa memberikan jawaban tepat atau benar? Namun kalau jawabannya sebatas “kalau Allah menghendaki”, atau “ini masalah keimanan, bukan masalah akal” , tidak usah disampaikan. Itu tidak ilmiah, malu bacanya. Dulu, ketika kita masih kanak-kanak, tidak terpikir seperti apa kedewasaan itu. Kita kini sudah dewasa, mampu berpikir tentang ke-kanak-kanak-an itu. Dulu kita iyakan saja kisah isra mi’raj itu seperti itu, ya masih kanak-kanak. Kini kita sudah dewasa, perpikirlah. “Sungguh dalam hal demikian (Alquran, agama) merupakan ayat-ayat/tanda /fakta bagi orang yang berpikir”.

    –> dalam ilmu komunikasi, ada yg namanya transmitter (pemancar), ada yg namanya repeater (pengulang). Anas ibn Malik hanyalah repeater, transmitter-nya tetap baginda Rasul saw. Anda tak bisa membedakan keduanya. Anda menyalahkan repeaternya … padahal seharusnya anda melihat sumbernya.

    Mohon maaf kl tak berkenan.

  32. alhamdulillah
    in membantu sy menyedarkan orang yg beranggapan bahawa israk mikraj itu palsu

    kita tidak boleh memilih jalan pilihan kita sendiri.. tetapi ikutilah jalan yg telah ditetapkan Allah

  33. Balasan dari pengomentar no.52 Akiadnani
    Trasmitter ataupun repeater (boleh juga ditambahkan: load speaker atau computer) adalah alat hasil teknologi, baru berfungsi kalau di “On”kan. Rasulullah dan sahabat Anas bin Malik adalah manusia ciptaan Allah (bukan ciptaan manusia), mudah-mudah Antum tidak keder (bingung). Silahkan baca teks asli kisah Isra Mi’raj versi Anas bin Malik. Lalu bandingkan dengan Alquran. Alquran tidak pernah merekomendasi bahwa Rasulullah SAW untuk bermi’raj. Ada surah Al Ma’arij (surah ke 70 dlm Alquran/mush-haf Utsmani), tapi bukan mi’raj Rasulullah. Yang diterakan dlm Alquran (QS17:1) adalah “isra”nya Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha saja, alias tidak bablas sampai ke langit ke tujuh, bahkan bebas langit (Mustawaa, sidratul Muntaha dan Baytul Ma’mur) Bila Antum memerlukan teks kisah Isra-Mi’rajnya versi Anas bin Malik (yg dianggap paling shahih) akan saya sampaikan. Itupun kalau mau menambah perbendaharaan ilmu.
    Tidak usahlah mengklaim diri berpegang kepada Alquran, sepanjang belum mampu mengkoreksi berbagai kredo agama berdasarkan Alquran. Please catat, bahwa saya sama sekali bukan pengikut Ahmadiah, repeat: “bukan pengikut Ahmadiah” unrepeat. Dan satu hal lagi, bukan pula pengikut JIL. Namun kesemuanya berdasarkan study/penelitian lantaran kecintaan kepada Kitabullah Alquranil ‘Adhiim serta perhatian terhadap ilmu-ilmu di luar Alquran.
    Kita tidak akan memahami apa itu wahyu, bila ingin tahu, tanyakan kepada sumbernya, siapa sumbernya wahyu atau ayat Allah? Ya, itulah “Rasulullah SAW”. Antum kepingin tahu tentang Rasulullah? Tanya saja sumbernya. Siapa sumbernya atau yang menceriterakannya/perawinya?. Ya, itulah “Anas bin Malik” (Ihwal Isra mi’raj). Saya sangat menghargai bila Anda membutuhkan penafsiran ayat-ayat dari surah Bani Israil atau surah Al Isra dari ayat 1 hingga 9 dari saya, Tradisi ustadz sekarang kalau ceramah cuman cukup satu ayat, padahal Allah menurunkan rangkaian ayat itu merupakan penjelasan (bayyinah) dari ayat ke ayat. Tidak usahlah mengelak bahwa kebanyakan kita semua, ketika menerima sebuah pelajaran masih bersifat taklid, tidak atau jarang mengadakan eksplorasi, apa lagi ilmu yg didapat dari sekadar ceramah. Waladzikrullahi Akbar.

  34. asalamualaikum …
    kami hanya bisa tersenyum,berdo’a dan solat pada Allah SWT…
    disisi lain golongan kami di hujat dan di perangi disisi lain kami di hormati dan di puji..
    seperti kisah2 nabi dulu ,yang beriman pada nabi nabi hanya orang orang yang befikir dan berakal.dan tidak banyak pengikutnya..
    ,, ini menarik…
    hati hati !
    bila ada satu golongan dari 72 golongan yang ceritanya hampir sama seperti nabi sebelumnya , mungkin golongan inilah yang di tolong Allah SWT.
    kami percaya Nabi muhammad Saw khataman nabiyin
    dan kitab suci kami Al-Quran
    “wahyu tabsyiri wal indzari” (wahyu dakwah) bukan “wahyu tasyrii” (wahyu syariat). Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad dapat wahyu, tapi isinya bukan syariat baru, tapi penegasan pada syariat Muhammad SAW.(meneruskan ajaranya)
    sesungguhnya Allah tidak bisu ntuk menunjuk satu khalifah saat ini…
    dan hanya Allah yang tau
    teruslah kerjakan apa yang kmu yakini dan Allah lah yang akan menjawab sendri ,,,..
    bagai pohon yang kokoh semakin daunya d pangkas ,makin lebat ia tumbuh dan makin kokoh dia berdiri ,karena Allah sendiri yang melindungi dan merawatnya :)

    sdikit lagi
    kami hanya bisa bersabar dan terus berdo’a dan tidak akan melawan bila tempat kami di rusak dan di bakar
    saya ucapkan teimakasih karna sudah membkar dan merusak ,
    akibat kejadian itu kami bisa membuat masjid yang lebih baik lagi dan lebih kokoh dari sebelumnya.
    saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada tuan-tuan yang sudah merusak tempat kami
    dari kejadian ini saya jadi lebih banyak belajar lagi tentang ahmadiyah dan lebih yakin .
    coba gak ada kejadian ini , saya gak mungkin setau ini tentang ahmadiyah,,,
    skali lagi trimakasih buat smuanya
    wasalam,,,

  35. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Qur’an itu) dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israel.( QS 32:23 )

    TULISAN DI ATAS KENAPA BEDA SIH
    {maka janganlah kamu ragu tentang pertemuan dengannya (yaitu Musa) (as-Sajdah, 32: 23)}.

    –> anda benar. terima kasih. Sudah saya koreksi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s