Catatan harian seorang muslim

Ya Allah.. berilah kami ridlo-Mu

Hadits-hadits Kisah Isra’ Mi’raj

Posted by orgawam pada Juli 21, 2008

Hadits Kisah Isra’ Mi’raj

Qatadah: Telah mengisahi kami Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah ra, ia telah berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Ketika aku di al-Bait (yaitu Baitullah atau Ka’bah) antara tidur dan jaga”, kemudian beliau menyebutkan tentang seorang lelaki di antara dua orang lelaki. “Lalu didatangkan kepadaku bejana dari emas yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan keimanan. Kemudian aku dibedah dari tenggorokan hingga perut bagian bawah. Lalu perutku dibasuh dengan Air Zam Zam, kemudian diisi dengan kebijaksanaan (hikmah) dan keimanan. Dan didatangkan kepadaku binatang putih yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari baghal (peranakan kuda dan keledai), yaitu Buraq. HR al-Bukhari (3207).

.

.

Anas bin Malik r.a. berkata, “Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya.

Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Siapakah ini?’ Ia (jibril) menjawab, ‘Ini Jibril.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah Anda bersama seseorang?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku bersama Muhammad saw.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah dia diutus?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang).

Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah orang ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kainya adalah penghuni neraka.’ Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, ‘Bukalah.’ Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.”

Anas berkata, “Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas berkata, “Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.’ Aku (Rasulullah) bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Idris.’ Aku melewati Musa lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Musa.’ Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Isa.’ Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya,’Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Ibrahim as..’” (HR. Bukhari no. 192)

.

.

Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena.’ Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. ‘Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, ‘Tuhan telah membebaskan separonya.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. ‘Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, ‘Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.’ Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Aku jawab, ‘(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.’ Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.’”(HR. Bukhari no. 193, 194)

.

.

Aisyah r.a. berkata, “Allah Ta’ala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat-dua rakaat, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selanjutnya, dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah lagi (rakaatnya).” (Dalam satu riwayat: Kemudian Nabi Muhammad saw. hijrah, lalu difardhukan shalat itu menjadi empat rakaat dan dibiarkan shalat dalam bepergian sebagaimana semula, 4/267).(HR. Bukhari no. 195)

.

Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Aku didatangi mereka (malaikat), kemudian mengajakku ke Sumur Zam Zam. Lalu dadaku dibedah, kemudian dibasuh dengan Air Zam Zam. Lalu aku dikembalikan.” HR Muslim (162.2), Kitab Iman, Bab Isra

.

.

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)

.

.

Hadis riwayat Malik bin Sha`sha`ah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Ketika aku sedang berada di dekat Baitullah antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata: Salah satu dari tiga yang berada di antara dua orang. Lalu aku didatangi dan dibawa pergi. Aku dibawakan bejana dari emas yang berisi air Zamzam. Lalu dadaku dibedah hingga ini dan ini. Qatadah berkata: Aku bertanya: Apa yang beliau maksud? Anas menjawab: Hingga ke bawah perutnya. Hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air Zamzam, kemudian dikembalikan ke tempatnya dan mengisinya dengan iman dan hikmah. Lalu aku didatangi binatang putih yang disebut Buraq, lebih tinggi dari khimar dan kurang dari bighal, ia meletakkan langkahnya pada pandangannya yang paling jauh. Aku ditunggangkan di atasnya. Lalu kami berangkat hingga ke langit dunia. (Sampai di sana) Jibril minta dibukakan. Dia ditanya: Siapa ini? Jibril menjawab Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Ya, jawabnya. Malaikat penjaga itu membukakan kami dan berkata: Selamat datang padanya. Sungguh, merupakan kedatangan yang baik. Lalu kami datang kepada Nabi Adam as. (selanjutnya seperti kisah pada hadis di atas). Anas menjelaskan bahwa Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as. di langit kedua, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf as. di langit keempat dengan Nabi Idris as. di langit kelima dengan Nabi Harun as. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Kemudian kami berangkat lagi. Hingga tiba di langit keenam. Aku datang kepada Nabi Musa as. dan mengucap salam kepadanya. Dia berkata: Selamat datang kepada saudara dan nabi yang baik. Ketika aku meninggalkannya, ia menangis. Lalu ada yang berseru: Mengapa engkau menangis? Nabi Musa menjawab: Tuhanku, orang muda ini Engkau utus setelahku, tetapi umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku. Kami melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh. Aku datang kepada Nabi Ibrahim as. Dalam hadis ini dituturkan, Nabi saw. bercerita bahwa beliau melihat empat sungai. Dari hilirnya, keluar dua sungai yang jelas dan dua sungai yang samar. Aku (Rasulullah saw.) bertanya: Hai Jibril, sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua sungai yang samar adalah dua sungai di surga, sedangkan yang jelas adalah sungai Nil dan Furat. Selanjutnya aku diangkat ke Baitulmakmur. Aku bertanya: Hai Jibril, apa ini? Jibril menjawab: Ini adalah Baitulmakmur. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk ke dalamnya. Apabila mereka keluar, tidak akan masuk kembali. Itu adalah akhir mereka masuk. Kemudian aku ditawarkan dua bejana, yang satu berisi arak dan yang lain berisi susu. Keduanya disodorkan kepadaku. Aku memilih susu. lalu dikatakan: Tepat! Allah menghendaki engkau (berada pada fitrah, kebaikan dan keutamaan). Begitu pula umatmu berada pada fitrah. Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh kali tiap hari. Demikian kisah seterusnya sampai akhir hadis. (Shahih Muslim No.238)

.

.

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. menuturkan perjalanan Isra’nya. Beliau bersabda: Nabi Musa as. berkulit sawo matang, tingginya seperti lelaki Syanu’ah (nama kabilah). Beliau bersabda pula: Nabi Isa as. itu gempal, tingginya sedang. Beliau juga menuturkan tentang Malik as. penjaga Jahanam dan Dajjal. (Shahih Muslim No.239)

.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Ketika aku diisra’kan, aku bertemu dengan Nabi Musa as., ia seorang lelaki yang tinggi kurus dengan rambut berombak, seperti seorang Bani Syanu’ah. Aku juga bertemu dengan Nabi Isa as. ia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya. Lalu aku diberi dua bejana, yang satu berisi susu dan yang lain berisi arak. Dikatakan padaku: Ambillah yang engkau suka. Aku mengambil susu dan meminumnya. Kemudian dikatakan: Engkau diberi petunjuk dengan fitrah atau engkau menepati fitrah. Seandainya engkau mengambil arak, niscaya sesat umatmu. (Shahih Muslim No.245)

.

Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: Ketika Nabi SAW diisra`kan, beliau melewati seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka ada banyak orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka beberapa orang. Dan seorang nabi dan beberapa nabi, dan bersama mereka tidak ada seorangpun sampai beliau melewati kelompok yang besar. Aku berkata: “Siapa Ini?” Dijawablah (oleh Jibril): “Musa dan kaumnya. Akan tetapi angkatlah kepalamu, kemudian lihatlah!” Kemudian ada kelompok besar yang memenuhi ufuk dari sebelah sana dan dari sebelah sana. Lalu dikatakan (oleh Jibril): “Mereka adalah umatmu dan yang lainnya adalah kelompok dari umatmu yang berjumlah tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).” Kemudian beliau masuk (ke kamar beliau) dan mereka (para sahabat) tidak menanyai beliau dan beliau tidak merangkan kepada mereka. Maka mereka berkata: “Kami adalah mereka itu tadi”. Dan ada pula yang berkata: “Mereka adalah anak-anak kami yang lahir dalam fitrah dan Islam”. Kemudian Nabi SAW keluar, lalu bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan besi panas, tidak meruqyah, dan tidak pula bertakhayul (tathayyur). Dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka.” Lantas Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata: “Saya termasuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya.” Kemudian yang lain lagi berdiri lalu berkata pula: “Saya termasuk mereka?” Beliau menjawab: “Kamu telah didahului oleh Ukasyah (dalam bertanya demikian).” HR at-Tirmidzi (2446). Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih”.

.

Anas berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali mereka berkata: Wahai Muhammad, suruhlah umatmu berbekam.”
HR Ibnu Majah (3479), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Disahkan al-Albani dalam Shahih al-Jami` (II: 5671), dan Takhrij al-Misykat (4544).

.

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra`kan kecuali tiap mereka berkata kepadaku: Wajib bagimu wahai Muhammad untuk berbekam.” HR Ibnu Majah (3477), Kitab Pengobatan, Bab Bekam. Dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah (V: 2263) dan Shahih al-Jami` (II: 5672).

.

Dari Ibnu Mas’ud, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diisra’kan. Iapun bertanya: “Wahai Muhammad, suruhlah umatmu mengucapkan salam kepadaku, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya surga subur tanahnya, manis airnya, dan terhampar luas. Dan bahwasanya tanamannya adalah (ucapan dzikir) Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.” HR at-Tirmidzi (3462), Kitab Doa-Doa dari Rasulullah, Bab Dalil tentang Keutamaan Tasbih, Takbir, Tahlil, dan Tahmid.

Beliau berkata: Ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini dari hadits Ibnu Mas’ud. Dihasankan al-Albani dalam ash-Shahihah (I:105) dengan dua syahid (penguat) dari hadits Ibnu ‘Umar dan hadits Abu Ayyub al-Anshari.

.

Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW : “….. Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama’ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu’ah. Dan ada pula ‘Isa bin Maryam alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim ‘alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril): “Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!” Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam. HR Muslim (172).

.

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Pada malam aku diisra’kan aku melewati Musa di gundukan tanah merah ketika dia sedang shalat di dalam kuburnya.” HR Muslim (2375), Kitab Keutamaan-Keutamaan, Bab Sebagian Keutamaan Musa.

.

Dari Abu al-’Aliyah: Telah mengisahi kami sepupu Nabi kalian, yaitu Ibnu ‘Abbas radhiya`llahu ‘anhuma, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: “Pada malam aku diisra’kan aku telah melihat Musa, seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi kekar, seakan-akan dia adalah lelaki Suku Syanu’ah. Dan aku telah melihat ‘Isa, seorang lelaki bertinggi sedang, berambut lurus. Dan aku juga telah melihat Malaikat Penjaga Neraka dan Dajjal” termasuk ayat yang telah diperlihatkan Allah kepada beliau. {maka janganlah kamu ragu tentang pertemuan dengannya (yaitu Musa) (as-Sajdah, 32: 23)}.

Dari Anas dan Abu Bakrah, dari Nabi SAW: “Malaikat-malaikat kota Madinah berjaga-jaga dari Dajjal.” HR al-Bukhari (3239), Kitab Permulaaan Penciptaan, Bab Penyebutan Malaikat.

.

Abu Hurairah telah berkata: Pada malam beliau diisra`kan, disodorkan kepada Rasulullah SAW dua gelas minuman: khamr (minuman keras) dan susu. Beliaupun melihat keduanya, lalu mengambil susu. Jibril berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki engkau kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu.” HR al-Bukhari (4709), Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab Firmannya {yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram (al-Isra’, 17: 1)}.

.

Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Ketika aku diisra`kan, aku bertemu Musa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Dia adalah lelaki, aku mengira beliau bersabda: Kurus, agak tinggi. Rambutnya ikal, seakan-akan dari suku Syanu’ah. Beliau bersabda: Dan aku bertemu ‘Isa. Dia berkata: Kemudian beliau menyifatkannya. Beliau bersabda: Tingginya sedang, berkulit kemerahan, seperti baru keluar dari Dimas, yaitu pemandian. Dan aku telah melihat Ibrahim. Beliau bersabda: Dan aku adalah keturunannya yang paling mirip dengannya. Beliau bersabda: Dan disodorkan kepadaku dua gelas minuman. Salah satunya susu, dan yang lain khamr. Kemudian dikatakan kepadaku: Ambillah yang mana dari keduanya yang engkau kehendaki! Akupun mengambil susu, kemudian meminumnya. Lalu dikatakan kepadaku: “Engkau telah ditunjuki kepada fitrah” atau “Engkau telah menepati fitrah. Adapun sungguh seandainya engkau mengambil khamr, niscaya binasalah umatmu.” HR at-Tirmidzi (3130), Kitab Tafsir al-Qur`an dari Rasulullah, Bab Dan Dari Surah Bani Isra`il. Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”

.

Sumber: http://shasumaa.multiply.com

Dan lain-lain.

50 Tanggapan to “Hadits-hadits Kisah Isra’ Mi’raj”

  1. dafitawon berkata

    terima kasih infonya,
    ini seaya sedang melakukan penyelidikan tentang ke-shahihan cerita Musa AS di atas …

  2. kahar berkata

    Subbahana Allah

    Allah Akbar

  3. Hadi berkata

    Subhanallah.Imanku bertambah,hatiku tenteram,hidup ini terasa berarti,setelah aku membacanya,alhamdulillah.

  4. Hadi berkata

    Subhanallah

  5. subhanalloh.. yaa sayyidi yaa rosulalloh

  6. fadli berkata

    kalo nggak slah ada batu yang mau ikut nabi miraj…batu apa namanya…

  7. Asep Sofyan berkata

    Terima kasih. Sangat berguna bagi saya yang tengah mencoba membuat novel ttg Isra Mikraj

  8. Markuz kuzon berkata

    Hadist tentang Isro, yang sangat aneh, saya belum bisa mempercayai.
    Bila saya telah membaca hadist tsb, sebelum saya masuk islam ,pasti saya akan lari meninggalkan islam. Alhamdulilah saya berkenalan dengan Islam pertama kali melalui Al-Quran.

  9. untuk Markuz Kuzon berkata

    jangan diri merasa lebih suci, merasa pandai dari orang lain, merasa apa yang belum dibacanya tidak percaya…kasihanlah umur kita terlalu pendek, jangan-jangan keburu meninggal dunia sebelum menemukan dalilnya…lantas kapan kita aplikasikan kebaikan dalam kehidupan…umur kita terlalu pendek di dunia ini lakukan saja kebaikan demi kebaikan…nggak usah menyalahkan orang yang kita sendiri tidak tahu alasanya…

  10. fitri berkata

    ada tambahan lagi???
    kran sy butuh hadis2 dan kekuatan dalilnya

  11. vicky berkata

    ALLAHU AKBAR….3X

  12. dildaar80 berkata

    salam kenal…

  13. tapur berkata

    Mari kita lihat hikmahnya peristiwa yang ghoib ini. Ingat, hanya orang yang bertaqwa saja yang mempercayainya.

    Di sana disebutkan Allah memerintahkan sholat 50x dalam sehari semalam. Bukan berarti Allah tidak tahu kemampuan umat hambanya. Allah tahu kalau umat Nabi hanya kuat 5x dan itulah sebenarnya yang dimintaNya, tetapi Allah yaf’alu au yahkumu ma yurid.

    Di sana ada dialog Nabi dengan Musa dimana beliau menyarankan untuk minta keringanan. Ada hikmahnya yakni agar kita jangan tergesa2 amalkan sesuatu tanpa minta pendapat yang lebih senior.

    Di sana ada permintaan Nabi untuk diringankan dan Allah selalu memberinya. Ini bukan “tawar menawar” tetapi perhatikan bahwa Allah Maha Pemurah. 5x = 50 nilainya.

    Di sana Musa masih menyuruh Nabi untuk kembali padahal sudah dikurangi sampai tinggal 5x dengan alasan beliau tidak berhasil menerapkannya untuk umatnya, tetapi Nabi menolak, Nabi tidak perlu mengikuti omongan Musa ini karena sifat Fathonah dari Nabi.

    Di sana Nabi menyebutkan alasannya malu. Inilah sifat atau karakter Nabi yang mewarnai dan menjadi ciri umat Islam. Kalau tidak umat ini nggak punya rasa malu.

    Coba kalau perintah dari awal cuman 5x. Tidak mungkin umat ini bisa melaksanakannya, persis seperti umat Musa meskipun mereka lebih kuat fisiknya. Ini menunjukkan superioritas Nabi dan umatnya. Allah sudah membikin plotnya ya seperti itu (seperti “tawar menawar”).

    Di sana disebutkan wajah atau tampang Nabi mirip Musa ini memang sudah ada prediksinya di Bibble.

    Dll. silahkan dicari lagi hikmahnya, masih banyak. Tentu saja hanya orang yang bertaqwa saja yang bisa mengambilnya sebagai hidayah.

    Semua itu adalah ujian bagi manusia sejak jaman Nabi s/d hari akhir. Ingat … yudhillu bihi katsiro wa yahdi bihi kastiro… silahkan anda pilih.

  14. Edwin berkata

    Assalamualaikum wr wb Kalo menurut saya peristiwa ghoib ini agak sdikit rancu, misalnya waktu peristiwa isra khn jman dulu masjidil aqsa dbangun tahun 600 an oleh ummayah? (lupa), nah itu setelah 53 tahun wafatnya muhammad kq bisa nabi mengatakan ke masjidil aqsa pdhal wkt itu aqsa belum di bangun?,
    Yg ke 2 wkt mi’raj mana ada perintah Tuhan dbantah 50 ya 50 kali, karena Allah tau kemampuan umatNYA masa perintahNYA Dilanggar , jd apa muhammad sedang merancu?
    Yg ke 3. Pd saat sebelum muhammad isra mi’raj wkt itu muhammad ada di rumah seorang janda hingga tengah malam? Kenapa nabi suci ada di rumah janda sampe tengah malam khn bkan suaminya lho? Mana yg bener ya…..

    –> Masjidil Aqsa itu ada jauh sebelum baginda Nabi saw. Dibangun sejak era Nabi Sulaiman as (coba cek lagi). Telah menjadi kiblat umat islam saat melakukan shalat, sebelum diperintahkan menghadap kiblat ke Ka’bah di Makkah sebagaimana yang sekarang ini.

    Di rumah janda ??? Baru dengar ini saya. Anda tampak sekali tak mengerti tentang Rasulullah saw, riwayat hidupnya, sejarahnya, akhlaknya, dan lain-lain. Anda tak tahu sejarah islam dan sejarah lainnya. Mungkin anda terpengaruh oleh tulisan2 non muslim, atau malah anda bukan muslim. Jika anda seorang muslim, belajar lah islam ke sumbernya. Bukan ke tulisan/kaum orientalis.
    wallahu a’lam.

    • manusia rese berkata

      untuk edwin… tolong jika memang anda tidak percaya cukup dihati anda saja jangan berkomentar yang tidak ada dasarnya

      jangan berkomentar sesuai dengan analisa akal anda sendiri karena agama islam berdasarkan pada 2 hal yaitu akal dan dalil….
      ada peristiwa yang mampu dijelaskan dengan akal ada juga peristiwa yang tidak mampu dijelaskan dengan akal… itulah perintah allah , yang namanya kekuasaan allah sudah pasti tidak dapat diterka oleh nalar manusia

      jika dalil tersebut bisa diterka maka itu bukan dari tuhan namanya… itu dari manusia

    • ucup berkata

      for edwin yang sok tahu n aga celeno.. win darimana sumber yang mengatakan masjid al-Aqso dibangunnya oleh ummayyah.. ngaco lo ah..cari lagi deh sumbernya..
      rasul nginep dirumah janda???? ga salah tuh??? perasaan yang sering nginep dirumah janda kan xxxxx lu wkwkwkwkkw..
      please deh ah.. kalo belajar agama jangan kaya maen PS donk .. cari sumber dari dua sumber utama serta ijma dan Qiyas ulama..
      win win dasar ..dasar…

  15. Jake berkata

    Anda bisa menganalisa bahwa hadits ini adalah palsu…Tidak mungkin perintah Allah bisa ditawar…Allah maha tahu tentang kemampuan hambanya..bukan para nabi..dan jika Allah sudah menetapkan sesuatu pastinya tak bisa ditawar…Hadits palsu yang ada di hadits shahih bukhari…

    –> jawaban saya singkat saja. Anda tak punya ilmu hadits, atau anda pengacau orang islam.

  16. Jake berkata

    Perlu diingat lagi…hadits adalah perkataan manusia jadi bukan perkataan Illahi..pastinya ada kekurangan dan kesalahan..Yang sempurna sudah pasti al quran…

    • ucup berkata

      jake… jake.. nganco juga lo ya… gw berani jamin 100000000000000000000000000% kalo hadis yang dikeluarkan Rasul Saw pasti benar ga mungkin ada sedikitpun yang salah karna udah dijamin Alloh.. “la yan tiku anil hawa in huwa illa wahyu yuha”.. awas jake kalo loe ga ngeyakinin kebenaran hadist kayanya loe mesti baca lagi sahadat deh.. itupun kalo loe moeslim.. ok.. prikitieew ah

  17. Martha berkata

    Allah Maha Mengetahui. Memang dalam kisah awal, ada perintah Shalat 50 x dalam sehari. Itu bukan tanpa makna, hingga akhirnya menjadi 5 x dalam sehari. Jika Anda-Anda semua makin mengkaji, silakan kunjungi http://www.ssq-dla.com dan hubungi pemiliknya. Insya ALLAH ada jawabannya. Baik dari sudut pandang iptek, maupun dasar hukumnya. Telitilah, baru berkomentar.

  18. wawan berkata

    Subhanallah..
    Peristiwa isra mi’raj sungguh merupakan ujian keimanan..
    di zaman Nabi, cerita ini sudah bikin orang banyak geleng2 kepala, banyak yg mendustakannya..

    heran, di zaman sekarang masih ada aja orang yg begituan.. kasian

    • yoyock berkata

      Kalau jaman sekarang masih ada orang yang mendustakan peristiwa isra mi’raj pasti saat menerima pelajaran fisika gak masuk ke akalnya. Atau pengajarnya yang bermasalah dan kurang luas ilmunya. Wasalam.

  19. hidayat berkata

    subhanallah maha suci Allah…

  20. syafa’atul udmah..

  21. dildaar80 berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Para pembaca yang dimulyakan oleh Allah swt. sesama muslim, Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw adalah peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam, bahkan di negara kita peristiwa ini diperingati dengan sangat meriah dan hari H-nya dijadikan hari libur nasional.

    Namun banyak diantara kita yang hanya puas dengan cerita dan kisah yang terus menerus tanpa tahu hakekatnya. Selain itu seringkali terjadi perbedaan yang cukup tajam, mengenai apakah peristiwa itu terjadi secara jasmani atau rohani.

    Tulisan singkat ini mencoba menarik perhatian dan pikiran kita untuk direnungkan hakikat yang sebenarnya dari peristiwa tersebut supaya kita dapat mengambil hikmahnya.

    Semoga para pembaca menemukan kebenaran. Amin Allhumma Amin!

    Wassalam,

    Penyusun

    Dalil Al-Quran:

    Allah menetapkan dengan tegas dalam Al-Quran bahwa tempat manusia di bumi (7:10, 25 / 77:25-26),
    Sunnatullah tetap, selamanya tidak akan berubah (17:77 / 33:62 / 35:43 / 48:23), Allah tidak akan mempergunakan sunnahNya secara membabi buta!
    Mukmin berdiri pada dalil yang pasti ( 6:57 / 12:108),
    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya ( 2:286 ),
    Jin dan manusia tidak dapat menembus langit dan bumi kecuali dengan kekuatan (55:33),
    Ayat Al Quran banyak berupa perumpamaan (17:41, 89 / 18:54 / 30:58 / 39:27),
    Allah murka terhadap orang-orang yang tidak mempergunakan akal (10:100),
    Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun (10:44).

    Perlu kita renungkan:

    Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?
    Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?
    Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?
    Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?
    Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).peristiwa tersebut hanyalah merupakan Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah peman-dangan rohani belaka?
    Para mufasirrin sepakat bahwa Surat Al Isra diturunkan sekitar dari Mekah ke Madinahyaitu ketika Nabi saw dan sama sekali tidak menyebut Mi’raj, sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An Najm yang diturunkan sekitar dan sedikitpun tidak menyinggung kepergian Nabi saw ke langit. Apakah Nabi saw menemui Tuhan harus naik ke langit, apa sewaktu di bumi tidak pernah bertemu dengan Tuhan? Jadi jelas jarak antara turunnya kedua surat tersebut selisih 6 tahun, maka sesuai saat turunnya kedua surat tersebut tidakkah urutannya menjadi Mi’raj dulu baru Isra’?.
    Menurut pemahaman umum bahwa perintah sholat mulai difardhukan atau ditetapkan pada peristiwa Mi’raj ketika Nabi saw menghadap Tuhan, apabila paham ini benar serta dibenarkan pula paham Mi’raj terjadi ber-sama Isra merupakan satu peristiwa, maka jika demikian halnya berarti Rasulullah saw beserta umatnya mulai sholat baru sekitar 11 tahun sesudah diutus, apakah sebelumnya Rasulullah saw beserta umatnya belum menjalankan sholat?
    Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw sampai naik turun beberapa kali agar Allah mengubah perintah shalat 50 kali sehari semalam menjadi hanya 5 kali. Apakah Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana itu sebelumnya tidak mengetahui bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu menjalankan ibadah shalat 50 kali sehari semalam? Naudzubillah min dzalik! Mengapa Musa lebih mengetahui keberatan umat Nabi Muhammad saw, bukan Nabi saw sendiri yang kenal langsung umatnya yang mengajukan keringanan perintah shalat tersebut? Sebaiknya kita terima paham yang lebih benar bukan sesuatu yang dirasakan ganjil dengan kisah-kisah yang tidak dapat diterima dengan akal sehat!
    Dalam hal Nabi saw dibelah dadanya, jantung dikeluarkan, dibersihkan kemudian diisi dengan iman dan hikmah ditampung dalam bejana emas. Kita yakin bahwa iman dan hikmah bukanlah benda yang dapat dibawa ditampung dalam bejana emas dan orang yang dibelah dan dibedah dadanya, jantungnya dikeluarkan mungkinkah beliau tetap hidup? Lalu yang dicuci di dalam jantung Nabi saw itu kotoran apa? Apakah masih perlu jantung beliau dibersihkan dari hal yang belum bersih? Lagi pula apakah tadinya jiwa Nabi saw itu kosong dari iman dan hikmah? Arti kasyaf. tersebut sebenarnya merupakan isyarat bahwa Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?
    Dalam hadits Nabi saw melihat sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak, jelas kita mengetahui bahwa kedua Bukankah hal ini merupakan
    Dalam hadits diceritakan pula bahwa Jibril membuka atap rumah Nabi saw kemudian turun. Mengapa kali iniJibril sampai membuka atap rumah Nabi saw, padahal bertahun-tahun Nabi saw menerima kedatangan Jibril tanpa Benarkah atap rumah Nabi saw terbuka? Tidakkah hal ini membuktikan pemandangan rohani belaka? bahwa
    Dalam hadits disebutkan bahwa sewaktu Nabi saw Mi’raj bersama Jibril, Jibril mengetuk pintu langit agarpenjaga pintu membukanya! Apakah langit suatu bangunan atau benda berbentuk gedung yang ada pintunya? Apakah malaikat penjaga pintu tersebut tidak diberitahu bahwa ada tamu penting yang akan datang? Tidakkah hal ini membuktikan bahwa semua yang dialami oleh Nabi saw dalam Mi’raj hanyalah merupakan
    Jika Bouraq yang dikendarai Rasulullah saw berupa kuda dengan kepala seorang wanita yang cantik ini benar-, seharusnya sekarangpun binatang tersebut harus ada, ternyata hingga sekarangpun kita semua tidak pernah melihat ataupun mengenalnya, bukankah hal ini merupakan Dan apakah ada ayat Al Quran yang menjelaskan tentang binatang Bouraq tersebut?
    Dan kita coba melihat arti dan rahasia yang tersimpan di dalam pemandangan rohani Nabi saw. dalam peristiwa. Perjalanan Nabi saw dari Makkah ke Masjidil Aqsha mengandung petunjuk bahwa Nabi saw bakal hijrah dari Makkah. Surat Al Isra’ ayat 1 yang artinya: “Masjidil Aqsha yang Kami berkati sekelilingnya”. Pada saat itu di Palestina belum ada masjidil Aqsha. Arti Masjidil Aqsha adalah masjid yang jauh, jarak antara Makkah ke Madinah ratusan kilometer. Tidakkah hal ini telah menjadi kenyataan bahwa Nabi saw benar telah hijrah dari Mekkah ke Madinah yang diberkati sekelilingnya?

    Wassalamu ‘ala manittaba’al huda wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

    • muslimpesantren berkata

      Saudara Dildaar80,

      Komentar Anda yang ke -1 :

      Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?

      Jawaban saya :
      Apakah Saudara juga tidak membaca tentang kisah Nabi Isa diangkat kelangit?

      Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku …. ( S. Al imron : 55)

      Apakah disana ukurannya akal juga ? Bagaimana Nabi Isa hidup ? dan sampai sekarangpun Beliau masih hidup.

      Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya…. ( An-Nisa: 171)

      Kejadian Nabi Isa terlahir bukan melalui proses perkawinan seperti kejadian manusia pada umumnya tetapi diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dengan tiupan ruh dari-Nya.
      Lalu apakah ini juga sesuai akal Saudara ? kalo Saudara mengandalkan akal?

      Ringkasnya untuk jawaban ini :

      ان الله علي كل شيئ قدير

      Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

      Komentar Anda yang ke-2 :

      Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).peristiwa tersebut hanyalah merupakan Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah peman-dangan rohani belaka?

      Jawaban saya :

      Bunyi potongan ayat itu :

      وما جعلنا الرأيا التي ارينك الا فتنة للناس

      Dan Kami tidak menjadikan “ru`ya” yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia .. ( Al-Isra :60)

      Ibnu Abas berkata :

      قال ابن عباس : هي رؤيا عين رآها النبي – صلى الله عليه وسلم – لا رؤيا منام

      Kata Ar-Ru`ya dalam ayat tersebut adalah ru`ya `aenin ( penglihatan mata alias nyata ) yang dengan itu rosululloh melihat, bukan ru`ya manamin ( pandangan dalam tidur alias /mimpi)

      وذهب معظم السلف ، والمسلمين إلى أنه إسراء بالجسد ، وفي اليقظة ، وهذا هو الحق ، وهو قول ابن عباس ، وجابر ، وأنس ، وحذيفة ، وعمر ، وأبي هريرة ، ومالك بن صعصعة ، وأبي حبة البدري ، وابن مسعود ، والضحاك ، وسعيد بن جبير ، وقتادة ، [ ص: 231 ] وابن المسيب ، وابن شهاب ، وابن زيد ، والحسن ، وإبراهيم ، ومسروق ، ومجاهد ، وعكرمة ، وابن جريج ، وهو دليل قول عائشة ، وهو قول أكثر المتأخرين من الفقهاء ، والمحدثين ، والمتكلمين ، والمفسرين .

      Sebagian besar ulama salaf dan orang2 muslim berpendapat bahwa isronya Nabi SAW yaitu dengan jasadnya dan dalam keadaan sadar dan inilah pendapat yang haq. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Jabir,Anas,Khudzaefah,Umar,Abu Huraeroh,Malik bin Sho`sho`ah,Abu Habbah Albadriyyi,Ibnu Mas`ud,Dhohak,Said bin Jubaer,Qotadah,Ibnu Musaeb,Ibnu Syihab,Ibnu Zaed,Al-Hasan,Ibrohim,Masruq,Mujahid,Ikrimah,Ibnu Juraej,dengan dalil ucapan Aisyah dan pendapat para ulama ahli fiqh Muta`akhirin ,para ahli hadits,para ahli bahasa,dan para ahli tafsir. ( Kitab Asy-Syifa bi ta`rif khuquqil musthofa karya Al-qodli Ayyad Musa Al-Maghribi ). (Bersambung untuk menanggapi komentar Anda ).

      • Imam berkata

        Lanjutan 1

        Komentar Anda,

        Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?
        Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?
        Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?

        Jawaban saya :

        Anda mengatakan bahwa Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), adalah salah karena yang benar Rosululloh SAW sholat di masjidil Aqsho (Palestin) bukan dilangit, beliau menjadi imam dari sholat para nabi dan para malaikat, seperti yang terdapat penjelasan dalam kitab Tanwirul qulub : 43 :

        ثم ركب البراق مسرجا ملجما وسار الي ان وصل الي المسجد الأقصى فرأى ما رأى من العجائب في مسراه وأحضر له الأنبياء عليهم الصلاة وسلام وصلى بهم وبالملائكة اماما .

        Hal ini juga sebagai jawaban terhadap komentar Anda pada kalimat terakhir di atas.

        Anda mengatakan bahwa Para Nabi telah wafat ( tinggal roh) itu adalah menurut pandangan Anda ataupun manusia, tapi menurut Alloh Para nabi itu hidup, tidak percaya ?
        Baik, saya sebutkan dalil-dalilnya :

        حدثنا ‏ ‏هداب بن خالد ‏ ‏وشيبان بن فروخ ‏ ‏قالا حدثنا ‏ ‏حماد بن سلمة ‏ ‏عن ‏ ‏ثابت البناني ‏ ‏وسليمان التيمي ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏أن رسول الله ‏ (ص) ‏ ‏قال أتيت وفي رواية ‏ ‏هداب :‏ ‏مررت على ‏ ‏موسى ‏ ‏ليلة أسري بي عند ‏ ‏الكثيب ‏ ‏الأحمر وهو قائم ‏ ‏يصلي في قبره .

        Dalam kitab Shoheh Muslim bab keutamaan Nabi Musa, nomer hadits : 4379 :
        Saya ( Nabi SAW) melewati Musa pada malam saya di isrokan, disisi bukit pasir yang merah, beliau sedang berdiri untuk sholat di kuburnya.

        حدثنا ‏ ‏حسن ‏ ‏حدثنا ‏ ‏حماد ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏سليمان التيمي ‏ ‏وثابت ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏ ‏قال ‏قال رسول الله ‏ (ص) ‏ ‏أتيت على ‏ ‏موسى ‏ ‏ليلة أسري بي عند ‏ ‏الكثيب الأحمر ‏ ‏وهو قائم ‏ ‏يصلي في قبره .

        Dalam kitab Musnad Ahmad dan Musnad Anas , no Hadts : 12046
        Dari Anas bin Malik , ia berkata : Rosululloh SAW bersabda : Saya mendatangi Musa pada malam saya diisrokan di sisi bukit pasir yang merah dan dia sedang berdiri untuk sholat dalam kuburnya.

        أخبرنا ‏ ‏محمد بن علي بن حرب ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏معاذ بن خالد ‏ ‏قال أنبأنا ‏ ‏حماد بن سلمة ‏ ‏عن ‏ ‏سليمان التيمي ‏ ‏عن ‏ ‏ثابت ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏
        ‏أن رسول الله ‏ (ص) ‏ ‏قال ‏ ‏أتيت ليلة أسري بي على ‏ ‏موسى ‏ ‏(ع) ‏ ‏عند ‏ ‏الكثيب ‏ ‏الأحمر وهو قائم ‏ ‏يصلي في قبره.

        Dalam Kitab Sunan Nasa`i bab Qiyamul lael, no hadits : 1613 :

        Dari Tsabit dari Anas bin Malik bahwa Rosululloh SAW bersabda : Saya mendatangi Musa disisi bukit pasir yang merah pada malam saya diisrokan, beliau ( Musa) sedang berdiri untuk sholat dalam kuburnya.

        عن انس في ان الانبياء احياء في قبورهم يصلون ، رواه البيهقي

        Ibnu Hajar dalm kitab Lisan Al-Mizan :2/175, 2/346 :
        Dari Anas : Bahwa Para Nabi itu hidup dalam kuburnya dan mereka sholat. Hr. Al-Baehaki.

        قال الإمام جمال الدين الأردبيلي في ( الأنوار ) في الفقه والأنبياء . روى أبو نعيم والبيهقي عن أنس ( ر ) قال : قال رسول الله (ص) : الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون .

        Berkata Al-Imam Jamaludin Al-Ardibali dalam kitab Al-Anwar dalam bab fiqh wal An-Biya`, meriwayatkan Abu Nu`aem dan Baehaqi dari Anas ra, ia berkata : Bersabda Rosululloh SAW : Para Nabi itu hidup dalam kuburnya dan mereka sholat

        Dan terakhir dari Al-Bani :
        - بل قد جاء ما يبطل إطلاق القول به ، وهو صلاة موسى عليه الصلاة والسلام في قبره كما رآه رسول الله (ص) ليلة أسري به على ما رواه مسلم في صحيحه ، وكذلك صلاة الانبياء عليهم الصلاة والسلام مقتدين به في تلك الليلة كما ثبت في الصحيح بل ثبت عنه (ص) أنه
        قال : الانبياء أحياء في قبورهم يصلون ، أخرجه أبو يعلى باسناد جيد ، وقد خرجته في الاحاديث الصحيحة

        Al-Bani dalam Akhkamul janaiz : 213 :
        Bahkan telah datang penjelasan hadits yang membatalkan ucapan tentang hal ini yaitu hadits tentang sholatnya Musa as dalam kuburnya seperti yang dilihat Rosululloh SAW pada malam diisrokan seperti yang terdapat dalam riwayat Muslim dalam kitab shohehnya, demikian juga sholatnya para Nabi pada malam itu seperti tsabit dalam kitab shoheh bahkan tsabit pula bahwa Rosulullaoh SAW bersabda : Para Nabi itu hidup dalam kuburnya dan mereka melaksakan sholat, hadits dikeluarkan oleh Abu Ya`la dengan sanad jayyid, dan saya juga telah mengeluarkannya dalam kitab hadits2 shoheh : 622

        Kurang lebih ada 60 riwayat yang menjelaskan bahwa Para Nabi itu hidup dan sholat dalam kuburnya.

      • Imam berkata

        Lanjutan 2

        : قال العلامة جمال الدين محمود بن جملة : وهذا الحديث صريح في إثبات الحياة لموسى (ص) فإنه وصفه بالصلاة وذكر أنه كان قائما ومثل هذا لا يوصف به الروح فقط ، وإنما يوصف به مع الجسد فإنه لا يقوم يصلي إلا بعودة الروح إليه ، فتلك كرامة عظيمة فإنه يفسح له في قبره فيكون عمله في العبادة متصل بعد وفاته وهذه الرواية رؤية عين ، لأن مذهب أهل السنة أن الإسراء كان بالجسد ، وإن سلم أنه بالروح فرؤية الأنبياء حق لا شك فيها .

        Berkata Al-Allamah Jamaludin Mahmud bin Jumlah : Inilah hadits nyata dalam menjelaskan hidupnya Musa, sesungguhnya ia disifati dengan kata sholat dengan disebutkan bahwa ia (Musa) sedang berdiri , maka penyifatan serupa ini tidak bisa disifati hanya untuk ruh saja tetapi disifati bersama jasadnya ( tubuh Musa).
        Karena seseorang tidak dapat berdiri untuk sholat kecuali dengan kembalinya ruh padanya.

        Inilah karomah yang besar yang Alloh luaskan baginya (Musa) dalam kuburnya. Sedangkan amal ibadahnya bersambung hingga sampai sesudah wafatnya. Inilah riwayat ru`yah aenin ( nyata). Oleh karena itu inilah pendapat Ahlu sunah bahwa Nabi SAW isro dengan jasadnya (tubuhnya). Kemudian jikalau benar bahwa Nabi isro dengan ruhnya (bukan dengan jasadnya) maka ru`yah (mimpi) para Nabi adalah haq dan tidak ada keraguan di dalamnya. ( Insya Alloh pendapat ini akan saya bahas ).

    • ucup berkata

      wah jawaban muslim pesantren keren coy.. tangkyu lah sip.. semoga Alloh senantiasa memberi ilmu yang bermanfaat buat loe saudaraku.. amin
      dildar80.. kamu bener2 pinter cuman pinter nya ga dibarengi sama iman coy..

      • dildaar800 berkata

        Perlu kita renungkan:

        Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya O2 dapat tetap hidup?

        Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani belaka?

        Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?

        Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah Saw tersebut?

        Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan dengan jelas bahwa (ruya’).Dan Kami tidak menjadikan “ru`ya” yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia .. ( Al-Isra :60)

        Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut adalah pemandangan rohani belaka?

        Para mufasirrin sepakat bahwa Surat Al Isra diturunkan sekitar setengah tahun/setahun sebelum Hijrah dari Mekah ke Madinah dan dalam surah itu sama sekali tidak menyebut sedikitpun tidak menyinggung kepergian Nabi saw ke langit, sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An Najm yang diturunkan sekitar tahun ke-5 dan 6 kenabian dan dalam surah itu tidak menyinggung soal isra.

        Apakah Nabi saw menemui Tuhan harus naik ke langit, apa sewaktu di bumi tidak pernah bertemu dengan Tuhan? Jadi jelas jarak antara turunnya kedua surat tersebut selisih 6 tahun, maka sesuai saat turunnya kedua surat tersebut tidakkah urutannya menjadi Mi’raj dulu baru Isra’?.

        Menurut pemahaman umum bahwa perintah sholat mulai difardhukan atau ditetapkan pada peristiwa Mi’raj ketika Nabi saw menghadap Tuhan, apabila paham ini benar serta dibenarkan pula paham Mi’raj terjadi ber-sama Isra merupakan satu peristiwa, maka jika demikian halnya berarti Rasulullah saw beserta umatnya mulai sholat baru sekitar 11 tahun sesudah diutus, apakah sebelumnya Rasulullah saw beserta umatnya belum menjalankan sholat?

        Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw sampai naik turun beberapa kali agar Allah mengubah perintah shalat 50 kali sehari semalam menjadi hanya 5 kali. Apakah Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana itu sebelumnya tidak mengetahui bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu menjalankan ibadah shalat 50 kali sehari semalam? Naudzubillah min dzalik! Mengapa Musa lebih mengetahui keberatan umat Nabi Muhammad saw, bukan Nabi saw sendiri yang kenal langsung umatnya yang mengajukan keringanan perintah shalat tersebut?

        Sebaiknya kita terima paham yang lebih benar bukan sesuatu yang dirasakan ganjil dengan kisah-kisah yang tidak dapat diterima dengan akal sehat! Saya tidak menolak ayat2 Alquran tentang Isra dan Mi’raj juga tdk menolak hadis2 Isra dan hadis2 Mi’raj. Saya hanya mengajak kita untuk membuka cara pandang baru dan lebih masuk akal sehat dalam memahaminya.

        Dalam hal Nabi saw dibelah dadanya, jantung dikeluarkan, dibersihkan kemudian diisi dengan iman dan hikmah ditampung dalam bejana emas. Kita yakin bahwa iman dan hikmah bukanlah benda yang dapat dibawa ditampung dalam bejana emas dan orang yang dibelah dan dibedah dadanya, jantungnya dikeluarkan mungkinkah beliau tetap hidup? Lalu yang dicuci di dalam jantung Nabi saw itu kotoran apa? Apakah masih perlu jantung beliau dibersihkan dari hal yang belum bersih? Lagi pula apakah tadinya jiwa Nabi saw itu kosong dari iman dan hikmah?

        Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani (kasyaf dan ruya)belaka?

        Dalam hadits Nabi saw melihat sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak berhubungan dengan 2 sungai sorga, jelas kita mengetahui bahwa kedua sungai tersebut ada dan bersumber air di bumi. Bukankah hal ini merupakan peristiwa ru-ya?

        Dalam hadits diceritakan pula bahwa Jibril membuka atap rumah Nabi saw kemudian turun. Mengapa kali iniJibril sampai membuka atap rumah Nabi saw, padahal bertahun-tahun Nabi saw menerima kedatangan Jibril tanpa Benarkah atap rumah Nabi saw terbuka? Tidakkah hal ini membuktikan pemandangan rohani belaka?

        Dalam hadits disebutkan bahwa sewaktu Nabi saw Mi’raj bersama Jibril, Jibril mengetuk pintu langit agar penjaga pintu membukanya! Apakah langit suatu bangunan atau benda berbentuk gedung yang ada pintunya? Apakah malaikat penjaga pintu tersebut tidak diberitahu bahwa ada tamu penting yang akan datang? Tidakkah hal ini membuktikan bahwa semua yang dialami oleh Nabi saw dalam Mi’raj hanyalah merupakan pemandangan rohani?

        Jika Bouraq yang dikendarai Rasulullah saw berupa kuda dengan kepala seorang wanita yang cantik ini benar-, seharusnya sekarangpun binatang tersebut harus ada, ternyata hingga sekarangpun kita semua tidak pernah melihat ataupun mengenalnya, bukankah hal ini merupakan Dan apakah ada ayat Al Quran yang menjelaskan tentang binatang Bouraq tersebut?

        Dan kita coba melihat arti dan rahasia yang tersimpan di dalam pemandangan rohani Nabi saw. dalam peristiwa erjalanan Nabi saw dari Makkah ke Masjidil Aqsha mengandung petunjuk bahwa Nabi saw bakal hijrah dari Makkah. Surat Al Isra’ ayat 1 yang artinya: “Masjidil Aqsha yang Kami berkati sekelilingnya”. Pada saat itu di Palestina belum ada masjidil Aqsha. Arti Masjidil Aqsha adalah masjid yang jauh, jarak antara Makkah ke Madinah ratusan kilometer. Tidakkah hal ini telah menjadi kenyataan bahwa Nabi saw benar telah hijrah dari Mekkah ke Madinah yang diberkati sekelilingnya?

        Wassalamu ‘ala manittaba’al huda wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

  22. Ngalilieur berkata

    @dildaar80,emang ente harus jadi jurnalis nih karena ente punya pemikiran yang lebih tajam dan pemahaman sangat logis,coba aja ente terbang ke timur tengah untuk mencari sumber referensi ini ato ente cari deh di perpustakaan cordova spanyol

  23. mashadi berkata

    Alhamdulillah orang Islam banyak yang cerdas, Semoga berdebatab itu bermanfaat, Amin

  24. Ismail Ginuk, Karas, Magetan berkata

    Alhamdulillaah dengan masuknya uraian peristiwa isrok mikroj nabi Muhammad SAW,di dalam internet ,saya betul betul bersyukur sebab yang sudah lama saya cari dan saya butuhkan ternyata bisa saya dapatkan.
    Kami menyarankan bila belum dimasukkan tentang peristiwa peristiwa gaib yang lain ,misalnya tentang situasi di alam kubur,surga,neraka,untuk rdimasukkan juga agar umat yang belum membaca atau memahami biar tahu dan semoga bisa menambah imannya sebab jarang ceramah umum yang membahas hal tersebut secara detail.Sekian atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    –> terima kasih .. kami masih berusaha mencari-nya. mohon doa.

  25. handy berkata

    sesungguhnya yang maha benar itu adalah ALLAH SWT.

  26. Danko berkata

    Dildaar80, sebagai mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia harusnya anda lebih banyak belajar lagi dan tentunya disertai iman yang mendalam. Mudah-mudahan jawaban Bro Muslimpesantren menjadi hidayah buat anda, menjadikan anda lebih legawa dan memperkaya bahan syiar anda kepada jamaah anda.

  27. Rifan berkata

    Assalamu ‘alaikum wr wb

    Bro, bisa info hadits kapan isra’ mi’raj terjadi?

    Rifan

  28. Rifan berkata

    oiya bro, ane baca web http://allah-semata.org/forum/index.php?topic=105.0

    bisa kasi comment?

  29. Dedy suardi berkata

    Assalamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuuh…

    Hai, cucu-cucuku yang shalih dan sholehah,
    Setelah kakek nimbrung ikut baca diskusi mulia ini, ternyata…semakin lama kok semakin panas juga yaa….sampai-sampai “hampir” saling hina-menghina” (rendah-merendahkan) di antara saudara sesama muslim……

    Nah, marilah kita mulai dinginkan kembali hati kita, sebab tak ada manusia yang maha-benar kecuali Sang Mahapencipta itu sendiri, Allah ‘azza wajalla!

    Cucuku yang kakek hormati, masalah Isra’ Mi’raj telah lama nian diperdebatkan jauh sebelum kita dilahirkan. Bahkan terdapat perbedaan dari para ulama dunia tentang hal ini, yang tak perlu kita risaukan selama akhirnya “kebenarannya” kita serahkan kepada Allah Yang Mahabenar!

    Singkatnya saja, telah terdapat empat pendapat bersekala besar, yang punya kaitannga tentang Isra’-Mi’raj ini.

    Pendapat ke-1: Nabi Isra’ dan Mi’raj, lengkap ruh dan ragawadagnya.

    Pendapat ke-2: Nabi Isra’ menggunakan lengkap ruh+ragawadag, sedangkan ke sidhratul Muntaha hanya ruhnya saja.

    Pendapat ke-3: Semuanya merupakan peristiwa spiritual (tanpa ragawadag).

    Pendapat ke-4: Nabi Ru’ya di Masjidil haram. Peristiwa-peristiwa yang penuh taqwil, dihaturkan bagi Nabi Muhammad Saw. lewat Ru’ya (antara tidur dan bangun) tersebut. Arti dari Buraq adalah kilat atai cahaya!

    Bagi Allah Yang Maha-kuasa dan Maha-sempurna, apapun mungkin saja bisa diperbua-Nya atas Nabi akhir zaman yang dicintai-Nya! Semuanya tidak ada yang mustahil! Oleh sebab itu, marilah kita saling hormat-menghormati (bertoleransi) terhadap pendapat yang berbeda tersebut, sambil pandai-pandai mengambil hikmahnya! Sebab siapa yang merasa “golongannya” paling benar, paling akhli surga, apalagi gampang sekali mengafirkan orang lain, justeru dialah yang paling dibenci Allah! Kendati kita menggunakan Qur’an-Hadist sebagai acuan, namun tetap saja kebenaran Qur’an syogianya kita nomorsatukan! Mengapa? Sebab puluhan ribu hadist palsu telah menyusup ke perbendaharaan Hadist kita, yang terkadang kita sulit menyaringnya, kendati disaring oleh para akhli Hadist sekalipun! Oleh sebab itu berkali-kali Qur’an menekankan agar kita menggunakan “akal sehat”-kita! (Para pemalsu Hadist itu, syogianya tidak kita anggap spele! Kadang-kadang mereka lebih lihai, ketimbang para penyusun hadist yang mulia; karena para pemalsu durjana itu telah bekerjasama dengan pakar-pakar syeitan yang terdiri dari jin dan manusia!

    Untuk sementara sekian dulu; marilah kita sama-sama sujud kepada-Nya! marilah kita meraih kemenangan berkat persatuan yang kokoh di antara kita!

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullaahii wabaraakaatuuh!

    Kakek Dedy Ciburial Bandung

  30. Subhanallohi walhammdulillahi walaailahaillalloh huallohuakbarr walakhaula walaquwwata illabillahil ngaliyil ngadhiim.

    Hanya dengan iman kita dapat percaya dalam peristiwa Isro’ Mi’roj Baginda Rosul Nabi Muhammad SAW.

    Bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat, *MINAL MU’MININ WAL MU’MINAT* saya kira setuju apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa ” Semakin tinggi ilmu pengetahuan ( bukan ilmu agama ) seseorang, maka semakin dekat pula seseorang akan murtad dengan agamanya (islam). astaghfirullohal ngadhiim. bersyahadatlah jika hal itu pernah singgah dihati apalagi pernah terucapkan

  31. abuthoriq berkata

    Assalamualaikum,

    hadits tentang bolak – baliknya nabi kita Muhammad atas dikte Nabi Musa secara riwayat shahih, namun secara matan dhoif bahkan mualal (sisipan) kisah Israiliyat. Jelas bertentangan dengan hadits shohih lainnya dan nash alquran. Secara tersirat sengaja ditambahkan Bani Israil untuk memuliakan Nabi Musa dan mereka dan merendahkan Nabi Muhammad dan muttabiknya.

  32. Dalam mengomentari peristiwa Isra Mi’raj di blog ini, sekilas komentar Dildaar08 begitu lugas dan detil yang mungkin membuat pembaca muslim yg awam disini terperangah seakan-akan argumen dia itu adalah benar adanya.

    Tetapi setelah saya selusuri, Dildaar08 memang terbukti benar sebagai mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang rupanya sedang “berdakwah” di blog ini…Bagaimana mungkin Ahmadiyah mengaku-aku penganut agama Islam dan pembela Syariat Islam tapi ternyata jelas-jelas mengingkari mu’jizat Isra Mi’raj? dan mengingkari Firman Allah SWT di Al-qur’an dan Al Hadist seperti komentarnya di atas??? Subhanallah…Itulah alasannya Ahmadiyah dinyatakan SESAT dan DILARANG menyebarkan ajarannya di berbagai Negara. JADI WASPADALAH..

    Sebagai bukti inilah blog Dildaar08 yang bertujuan untuk memurtadkan umat Islam: http://dildaar80.wordpress.com/2011/02/07/apa-itu-ahmadiyah-kesaksian-seorang-nu/

    -Terimakasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada saudara Muslimpesantren atas argumennya mementahkan tipu daya Ahmadiyah!

  33. dildaar800 berkata

    ISRA’ DAN MASA DEPAN UMAT

    Oleh ZA Khudori

    Pemerhati Masalah-masalah Sosial Keagamaan

    Tinggal di Tegineneng, Pesawaran (Lampung)

    Kemajuan suatu kaum sesungguhnya telah dinubuatkan (direncanakan) oleh Allah SWT. Termasuk umat Islam. Untuk melukiskan kemajuan umat Islam, Allah SWT telah memperlihatkan sebuah pengalaman rohani yang dikenal dengan istilah Israa’ (memperjalankan di malam hari). Al-Quran mengabadikan pengalaman tersebut dalam Surat 17 (Al-Israa’/Bani Israil): 1, “’Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Dalam muqaddimah Surat ini, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran (SK MENAGRI No. 26 Tahun 1967; Edisi Baru, 1993) menyebutkan bahwa Surat ini dinamakan Al-Israa’ (yang berarti ‘memperjalankan di malam hari’) berhubungan dengan peristiwa Israa’ Nabi Muhammad SAW di Masjidil Haram (Mekkah) ke Mesjidil Aqsha (di Baitul Makdis) dicantumkan pada ayat pertama dalam Surat ini.

    Sejarah mencatat bahwa Muhammad bin Abdullah diangkat sebagai Nabi dan diutus sebagai Rasul pada usia 40 tahun (610 M). Lima tahun pertama dalam menjalankan tugasnya telah beriman sebagian kecil kaum Kafir Quraisy. Para pengikut Nabi pada masa awal ini mendapat respon negatif berupa intimidasi dan tindakan kekerasan dari keluarga dan kawan sepermainan mereka. Atas izin Nabi akhirnya para sahabat itu hijrah ke negeri tetangga, Habasyah (Ethiopia) [615 M]. Sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Seorang raja yang memberikan kebebasan dan perlindungan kepada masyarakatnya dalam menjalankan agama dan kepercayaannya.

    Meskipun banyak hambatan dan rintangan, perkembangan ajaran Islam terus maju. Istilahnya ‘padat-merayap’ dan ‘maju terus pantang mundur’. Menyikapi hal ini para pembesar Quraisy mengambil sikap tegas yaitu memboikot Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Caranya ialah dengan memutuskan segala perhubungan: hubungan perkawinan, jual-beli, ziarah-menziarahi dan lain-lain (Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya: 1993: 62). Dalam masa pemboikotan ini wafat dua orang tercinta Nabi SAW: Pamanda Abu Thalib (87) dan Istrinda Khadijah (65). Begitu berdukanya Nabi sehingga tahun tersebut (620 M) oleh ahli sejarah dinamakan ‘Aamul Huzni (Tahun Dukacita).

    Untuk menenangkan hatinya maka Nabi tinggal bersama sepupunya, Ummu Hani. Seperti reportase ahli sejarah kenamaan Ibnu Ishaq, sejarawan ini melaporkan, “Telah sampai kepada saya dari Ummu Hani binti Abu Thalib (nama aslinya: Hindun) mengenai perjalanan malam (Israa’) Nabi SAW. Katanya, “Nabi SAW hanya mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis ketika berada di rumah saya. Malam itu Nabi SAW tidur di rumah saya dan kami semua sedang tidur” (Fuad Hasyem: 1898: 222).

    Dalam keadaan tidur inilah beliau SAW melihat berbagai peritiwa yang Nabi sendiri tuturkan (diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudriy), “Sudah dikirimkan kepada saya seekor hewan dan ia menyerupai bighal (peranakan kuda dengan keledai), Buraq namanya, dan biasa dikendarai oleh para nabi. Buraq itu membawa saya dan ia bisa melangkahkan kaki depannya sejauh mata memandang” (Taufik Rahman: 1990: 62).

    Mengenai perjalanan selanjutnya, kita dapat membaca Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (Ibnu Jarir Juz 15 hlm. 6). Mengingat panjangnya riwayat tersebut maka ringkasannya ialah sebagai berikut: Nabi dan Malaikat Jibril naik Buraq dari Masjid Al-Haran ke Masjid Al-Aqsha. Dalam perjalanan tersebut beliau-beliau bertemu dengan: seseorang yang memanggil-manggil Nabi, beberapa orang yang mengucapkan salam dan beberapa orang lagi melakukan hal yang sama. Dan tibalah beliau-beliau di Baitul Muqaddas. Lalu beliau memimpin shalat di mana makmumnya ialah para nabi. Setelah itu Malaikat Jibril menghadapkan 3 gelas kepada Rasulullah SAW. Gelas pertama berisi air, gelas kedua berisi arak dan gelas ketiga berisi susu. Rasulullah SAW mengambil gelas berisi susu, lalu beliau meminumnya. Setelah itu Malaikat Jibril menjelaskan apa saja makna yang tersirat dari apa yang telah beliau lihat itu (baca: QS 17:60). Peristiwa itu terjadi pada malam 27 Rajab 11 Nubuwwah (setelah beliau diangkkat menjadi Nabi) [Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya: 1993: 63].

    Riwayat di atas menimbulkan perdebatan theologies di kalangan Ahli Kalam (Theolog Muslim) bahkan para sahabat sekalipun: Apakah perjalanan itu secara fisik atau non-fisik (ru’yah [visi])? Selain umumnya umat Islam mempercayai kejadian itu secara fisik ada juga yang mempercayainya secara non-fisik, seperti ‘A’isyah RA misalnya, beliau mengatakan, “Tubuh Rasul berada di tempatnya ketika Allah memindahkan ruhnya pada malam itu.” Mu’awiyah juga katanya memberikan keterangan bahwa Israa’ itu betul-betul sebuah ru’yah dari Tuhan, demikian tulis Fuad Hashem.

    Di luar kontroversi itu, ada pesan spiritual yang bijak dari Maulana Rahmat Ali, “Jauhilah perselisihan dalam soal (Israa’ dan) Mi’raj Rasulullah SAW. Serahkan saja hal itu kepada Allah SWT” (Miraj: 1949: 103).

    Jauh lebih penting dari sekedar perdebatan theologis itu adalah bahwa di balik peristiwa Israa’ itu ada motivasi dari Nabi bahwa masa depan Islam itu cerah setelah mengalami kegelapan (lailan). Israa’ (perjalanan malam) itu simbol hijrahnya Rasul dan para sahabat ke negeri lain yaitu Medinah. Melalui hijrah inilah kemenangan Islam (Fatah Mekkah) akhirnya dapat dirasakan oleh umat Islam (QS 17:81 dan 9:33).

    Kini kita hidup 15 abad setelah wafatnya beliau SAW. Kemenangan yang sejati adalah memenangkan perang terhadap keburukan moral dalam diri setiap Muslim (jihaadul akbar: jihaadun nafs). Sesuai ayat di atas (QS 17:1) kemajuan umat Islam sangat dipengaruhi oleh kegiatan umat dalam memakmurkan masjid. Karena dengan memakmurkan masjid maka akan terjadi 2 aktivitas yang strategis: hablum minallah (ibadah kepada Allah) dan hablum minan-naas (silaturahmi antar umat) sehingga terbuktilah bahwa umat Islam adalah rahmatal-lil-‘aalamiin.

    (ZAKh, Ikd: 10/07/09)

  34. dildaar800 berkata

    “Maha Suci Dia, Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha, yang telah Kami berkati, sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari Tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia, Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Surah al-Isra)

    Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf Rasulullah saw., telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Alquran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan rohani) beliau. Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat, bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan rohani di waktu malam) Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mi’raj beliau telah dibahas agak terperinci dalam Surah An-Najm.

    Semua kejadian yang disebut dalam Surah An-Najm (ayat-ayat 8 – 18) yang telah diwahyu kan tidak lama sesudah hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi di bulan Rajab tahun ke 5 nabawi, diceriterakan secara terperinci dalam buku-buku hadist yang membahas Miraj Rasulullah saw., sedang Isra Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yerusalem, yang dibahas oleh ayat ini, menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi ; menurut Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, perintiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal, setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra) . Baihaqi pun menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum hijrah.

    Dengan demikian semua hadist yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum hijrah, yaitu kira-kita pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, ketika Rasulullah saw. tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau.

    Tetapi Mi’raj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu enam atau tujuh tahun, dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama ; yang satu harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain. Lagi pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadist terjadi dalam Mi’raj Rasulullah saw. sama sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini, bahwa kedua peristiwa itu hanya kejadian-kejadian rohani belaka, dan Rasulullah saw. tidak naik ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan tubuh kasar.

    Kecuali kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain yang berkaitan dengan peristiwa itu mendukung pendapat, bahwa kejadian itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain :

    Alquran menguraikan kejadian Mi’raj Rasulullah saw. dalam surah 53, tetapi sedikit pun tidak menyinggung Isra, sedang dalam Surah ini Alquran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak menyinggung peristiwa Mi’raj.

    Ummi Hani, saudari sepupu Rasulullah saw. yang di rumahnya beliau menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan Rasulullah saw. ke Yerusalem, dan sama sekali tidak menyinggung kenaikan beliau ke langit. Ummi Hani itu orang pertama yang kepadanya Rasulullah saw. menceriterakan perjalanan beliau di waktu malam ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat hadist telah mengutip keterangan Ummi Hani mengenai kejadian ini, yang bersum-ber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat, bahwa Rasulullah saw. berangkat ke Yerusalem dan pulang kembali ke Mekkah pada malam itu juga.

    Jika sekiranya Rasulullah saw. telah membicarakan pula kenaikan beliau ke langit, tentu Ummi Hani tidak akan lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak menyebut hal itu dalam satu riwayat pun ; dengan demikian menunjukkan dengan pasti , bahwa pada malam yang bersangkutan itu Rasulullah saw. melakukan Isra hanya sampai Yerusalem ; dan bahwa Mi’raj itu tidak terjadi pada ketika itu. Nampaknya beberapa perawi hadist mencampur baurkan kedua peristiwa Isra dan Mi’raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan persamaan yang terdapat pada beberapa uraian terperinci mengenai Isra dan Mi’raj telah menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau balau itu.

    Hadist-hadist yang mula-mula meriwayatkan perjalanan Rasulullah saw. ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusa lem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau bertemu dengan beberapa nabi terdahulu, termasuk Adam as., Ibrahim as., Musa as., dan Isa as. ; dan bahwa di berbagai petala langit beliau menemui nabi-nabi yang itu-itu juga, tetapi tidak dapat mengenal mereka. Bagaimanakah nabi-nabi tersebut, yang telah beliau jumpai di Yerusalem, sampai pula ke langit sebelum beliau; dan mengapa beliau tidak mengenali mereka, sedang beliau telah melihat mereka beberapa saat sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga ? Tidaklah masuk akal, bahwa beliau tidak dapat mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum itu, beliau bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga.

    Masjid Aqsha (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah peribadatan (kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman as. di Yerusalem.

    Kasyaf Rasulullah saw. yang disebut dalam ayat ini mengandung suatu nubuatan yang agung. Perjalanan beliau ke “Masjid Aqsha “ berarti hijrah beliau ke Medinah, tempat beliau akan mendirikan suatu masjid, yang ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam, dan penglihatan diri beliau sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau mengimani pada nabi lainnya dalam shalat mengandung arti, bahwa agama baru, ialah Islam, tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja, melainkan akan tersebar ke seantero dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya. Kepergian beliau ke Yerusa lem dalam kasyaf dapat pula dianggap mengandung arti, bahwa beliau akan diberi kekuasaan di masa khilafat (kekhalifahan) Sayyidina Umar ra. Kasyaf ini dapat pula diartikan sebagai petunjuk kepadasuatu perjalanan rohani Rasulullah saw. ke suatu negara jauh, di suatu masa yang akan datang. Maksudnya bahwa ketika kegelapan rohani akan menutupi seluruh dunia, Rasulullah saw. akan muncul kembali secara rohani dalam wujud salah seorang pengikut beliau, dalam satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau diutus.

    –> Tampaknya ada seorang jemaat ahmadiyah mencoba mencari pengaruh di sini. Hati-hatilah.

  35. abu muhaffazh berkata

    kami mengundang seluruh pengunjung blog ini untuk berkomentar di http://csgrup.wordpress.com/

    –> mohon maaf sebelum ke sana. Ketika anda mengkhawatirkan/membahas umat islam akan syirik yang baginda Nabi saw tidak mengkhawatirkannya [lihat hadits kiri atas], berarti kekhawatiran anda itu sia-sia, atau anda tak percaya akan keyakinan baginda Nabi saw atas umatnya. Ujung-ujungnya (hampir pasti) menuduh musyrik saudaranya, dan mengkafirkan sesama muslim. Atau memberi julukan yg buruk seperti ahli bid’ah dsb.

    Lebih baik anda membahas apa-apa yg menjadi kekhawatiran Nabi saw, cinta dunia dan takut mati.

    Mohon maaf kl tak berkenan.

  36. sayang berkata

    saya juga bingung tentang kisah isro mi’raj nabi muhammad ini , apakah ada dalam quran tentang kisah kisah isro mi’raj ?

  37. sayang berkata

    tak mungkin kisah yang sangat penting ini tidak ada dalam quran ?

  38. Megi Indra berkata

    pa benar dalam perjalan israk mi’raj nabi salallahu’alaiwasalam mihat kejadian-jadian aneh d atas langit2 trsbut…..???

  39. supriyanto berkata

    peristiwa isro’ mi’roj itu banyak mengandung hikmah, oleh karena itu di ayat Al Qur’an disebutkan ” kuperjalankan hamba ………….dst. disitu makna yang paling penting yang perlu kita perhatikan yaitu “seorang hamba yang diperjalankan! “. jadi disini penekanannya seorang hamba yang diwakili oleh hamba pilihan yang sekaligus seorang rosul yaitu Muhammad. kenapa Muhammad? apa yang beliau lakukan dalam hidupnya sehingga mendapat kehormatan dari Tuhannya?. Yang mampu saya pahami dari peristiwa itu adalah:
    1. Muhammad menyaksikan Kebenaran itu bukan karena katanya kitab suci maupun dari seorang pengajar/guru
    2. Muhammad menyaksikan Kebenaran itu apa adanya terlepas dari pendapat beliau sendiri maupun pendapat orang lain
    3. Muhammad menyaksikan suatu peristiwa yang tak pernah diduga sebelumnya namun nyata adanya.

    untuk memudahkan memahami tentang Kebenaran disini saya tuliskan definisi secara singkat tentang Kebenaran yang maksudnya kurang lebih sebagai berikut: Kebenaran adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah sesuatu yang berubah-ubah namun dia (Kebenaran itu) tidak berubah dan tidak merubah keadaan disekelilingnya. Kebenaran itu tidak terpengaruh oleh pendapat manusia, dipuji maupun dicaci dia (Kebenaran itu) akan tetap sebagaimana adanya. Karena Kebenaran akan selalu menunjukan jati dirinya.

    Di Kitab Suci disebutkan bahwa Muhammad itu rohmatan lil ‘alamin, jadi beliau itu rahmad seluruh alam. nah coba renungkan apa saja isinya alam ini? dia adalah sang rahmad itu sendiri. dia merahmati manusia apapun suku, bangsa agama serta profesinya serta semua ciptaan Tuhan apapun bentuk dan wujudnya. tinggal sekarang bagi yang mengaku umad Muhammad harus mampu meneladani beliau, bukan hanya meniru secara lahiriyah saja tanpa didasari pengertian yang mendalam. secara gamblang kita harus mampu menempuh “Jalan Muhammad” yang intinya adalah amal sholeh yaitu amal yang bermanfaat bagi diri dan orang lain tanpa membedakan suku, agama, ras dan lain-lain”. Akhir kata : KALAU KITA BELUM MAMPU MENGHARGAI CIPTAAN-NYA SETIDAKNYA BELAJARLAH UNTUK MENGHARGAI YANG MENCIPTAKAN. wasalam, mohon maaf apabila kurang berkenan tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 109 pengikut lainnya.