Salafi Mesir vs Salafi Saudi

Salafiyah Tidak seperti yang saya duga sebelumnya, mungkin juga anda, almarhum Syeikh Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, DR. Ramdhan al-Bouti, DR. Aly Gum’ah –Mufti Mesir, dan sejumlah tokoh Islam lainnya yang selama ini dikenal moderat, ternyata juga tak luput dari hujatan, dibid’ahkan, bahkan kadang dianggap berpikiran sesat, oleh sekelompok orang yang mengaku salafi. Syeikh Ghazali menamakan kelompok yang kerap mengaku paling salafi ini sebagai Salafi-Baru.

Tak cukup individu saja yang dikecam, organisasi-organisasi sosial-keagamaan yang tidak sejalan dengan pemikirannya, seperti Jama’ah Tabligh, Ikhwan Muslimin, dll, pun juga kena semprot. Seringkali yang terakhir ini diplesetkan menjadi Ikhwanul Muflisin. Selanjutnya, Anda bisa mereka-reka sendiri bagaimana dengan nasib pemikir-pemikir Islam yang dianggap, katakan saja, “liar”?

Fenomena ini, dalam konteks kepentingan Islam global, tentu sangat tidak menarik, bahkan mengkhawatirkan! Karena mengganggu soliditas dan persaudaraan umat. Juga mengganggu konsentrasi primer yang lebih mendesak untuk digarap umat Islam dewasa ini, yaitu pendangkalan pemahaman hakikat Islam, mengentas kemiskinan, mengejar ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tec, wawasan peran global dan hal krusial lainnya.

Terma Salaf

Secara etimologis, kata salaf sepadan dengan kata qablu. Artinya setiap sesuatu yang sebelum kita. Lawan kata salaf adalah khalaf (generasi setelah kita). Kata ini kemudian menjadi sebuah terminologi untuk menunjuk pada generasi keemasan Islam, tiga generasi pertama Islam: para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in atau Salaf Shalih. Istilah ini merujuk pada hadis Nabi: Khairul quruni qarni….. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam wacana Islam kontemporer, kata salaf kemudian diimbuhi ya nisbat pada hurup akhirnya: menjadi salafi, kadang juga salafiyah – dengan penambahan ta, setelah ya, untuk menunjuk pada kelompok Islam yang menjadikan cara berpikir dan suluk generasi salaf sebagai sumber inspirasi. Bahkan beberapa kelompok salafi menganggapnya sebagai mazhab.

Terma salafi pada perkembangan berikutnya, mengalami metamorfosis dan tidak bisa diartikan tunggal lagi. Kalimat itu menjadi multi makna. Sikap tak terburu-buru dalam analisis menjadi sebuah keniscayaan ketika menemukan kalimat salafi. Karena pada tingkat sesama pemikir saja, umpamanya, konotasinya bisa berbeda satu sama lain. Misalnya, Goerge Tharabisi dan Aziz Azmah, menggunakan kata salafi untuk sesuatu yang pejoratif: untuk menunjuk arus pemikiran atau kelompok yang anti segala hal yang berbau modernitas dan anti pembaharuan. Lawan dari terma salafi model ini adalah progresif (taqadumi). Sementara, Abid Jabiri, Fahmi jad’an, dan sebagian orientalis menggunakan istilah salafi untuk menunjuk pada setiap gerakan atau pemikiran Islam, yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama pemikirannya. Makna yang terakhir ini cakupan lebih luas: memasukan banyak tokoh dan kelompok Islam, baik yang moderat, “literal” -dzahiriyah judud, dan semua kecenderungan pemikiran yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama.

Pada tingkatan klaim antar sesama kelompok pengikut salafi, juga tak kalah ruwetnya. Banyak sekali kelompok yang mengklaim dirinya sebagai salafi hakiki. Di Kuwait, misalnya, data menunjukkan ada lima kelompok yang sama-sama mengaku sebagai salafi, satu sama lain saling kecam dan mendaku sebagai yang paling sah.

Sejatinya, salaf bukanlah sebuah mazhab dan juga bukan personifikasi individu. Seperti pernah disinggung di atas, ia adalah sebuah generasi yang disabdakan Nabi sebagai generasi terbaik, yang mencakup tiga generasi Islam pertama. Kenapa dianggap yang terbaik? Karena mereka adalah generasi yang paling dekat, dengan pengertian seluas-luasnya, dengan masa kenabian. Terutama generasi pertama yang langsung dapat bimbingan dari Rasulullah Saw. Apa makna hadis ini bagi generasi setelahnya? Hadis ini mengajak kita semua untuk menjadikan metode berpikir dan cara bersikap mereka sebagai sumber inspirasi. Bukan malah dijadikan mazhab! Maka tak semua yang mengaku salafi akan otomatis berpikiran kolot. Tergantung kepada artikulasi dan cara memahami pola berpikir dan suluk salaf shalih itu sendiri. Dalam pandangan saya, salafi sejati tidak akan berpikir dan bersikap kaku. Dan kata salaf sendiri secara bahasa sangat netral dan sama sekali tidak mengandung arti pejoratif.

Hanya saja, karena berbagai faktor, pada akhirnya, istilah salafi sangat identik dengan kelompok Wahabi, sebuah aliran yang didirikan Syeikh Muhamad Bin Abdul Wahab (1703-1791) di Najd, Arab Saudi. Sebagian dari mereka, ada perasaan bahwa dirinya lah yang paling salafi. Mereka sendiri, sebetulnya lebih enjoy dipanggil salafi, daripada Wahabi.

Tapi, sayangnya ditangan mereka, makna salafi kemudian dicederai, dikerangkeng pada permasalahan furu’iyah dan perdebatan-perdebatan lama ulama klasik, baik di bidang Fikih, Ilmu Kalam, Tashawuf. Dalam Fikih mereka lebih konsen: membid’ah-bid’ahkan tradisi maulid nabi, ziarah, tawasul dan yang sejenisnya. Dalam Ilmu Kalam, alih-alih menanamkan hakikat makna tauhid, mereka memperdebatkan kembali tentang, misalnya, asma wa sifat dan bahayanya menta’wil ayat ar-Rahmanu ‘ala al-’arsyi istawa dengan tawil sebagai kinayah dari keagungan Allah Swt, dll. Mereka akan mengecam siapa pun yang tidak sejalan dengan alur pemikirannya. Tak heran, kalau dicermati karya-karyanya, maka kita akan menemukan daftar-daftar bid’ah mulai yang klasik sampai bid’ah kontemporer. Judulnya pun bisa kita tebak seputar rad wa al’tirad mandul: fulan dalam timbangan Islam, mengcounter pemikiran fulan atau menelanjangi pemikiran fulan. Tentu saja bukan berarti kita tidak boleh untuk mendiskusikan kembali soal-soal di atas. Yang tidak boleh adalah menjadikan permasalahan di atas sebagai prioritas utama.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar singkat untuk membedah dan mendiskusikan kembali metode dan gerakan Salafi-Wahabi saja. Tak akan membahas gerakan salafi secara umum. Sudah kita maklumi semua, akhir-akhir ini, dalam beberapa hal, sebagian oknum yang berafiliasi pada kelompok Salafi-Wahabi dianggap kerap melakukan tindakkan-tindakkan yang berpotensi merusak citra Islam, meresahkan dan banyak menimbulkan perpecahan dikalangan intern umat Islam. Tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara dimana ada komunitas Islamnya, termasuk di Barat. “Lawannya” pun di batasi hanya dari kelompok-kelompok moderat saja: Syeikh Qaradhawi cs. Artinya, kritikan-kritkan keras Wahabi yang ada di tulisan ini, ditunjukkan buat tokoh-tokoh di atas yang selama ini dianggap moderat dan diakui otoritas keilmuannya. Poinnya, betapa sama tokoh moderat pun Wahabi masih merasa kegerahan. Sebelum mengenal lebih jauh tentang dasar pemikiran Salafi-Wahabi, ada baiknya kita petakan secara sederhana dulu gerakan awal salafi, dengan menjadikan Mesir, Maroko dan Saudi sebagai sampel.

Peta Gerakan Salafi

Gerakan Salafi, lebih-lebih mulai awal abad 19 M. tidak hanya disuarakan di Arab Saudi saja, tapi juga di berbagai negara Islam, diantaranya Mesir, dan Maroko. Yang menyatukan gerakan salafi ditiga negara itu adalah keseriusannya terhadap pemberantasan bid’ah, purifikasi akidah, perlawanan atas gerakan tasawuf. Mungkin karena suasana dan tuntutan lingkungan yang berbeda, membuat Salafi Maroko dan Mesir dengan Jamaludin al-Afghani dan Muhamad Abduh sebagai pionirnya kemudian mempunyai kekhasan yang tidak dimiliki Salafi-Saudi atau Salafi-Wahabi. Misalnya, Salafi Maroko dan Mesir bisa lebih terbuka dengan modernitas dan tidak berhenti berkutat pada persoalan purifikasi akidah saja. Mereka mengalami lompatan perjuangan. Dalam kasus salafi Mesir, mereka langsung bergelut dengan problem kebangsaan yang sedang dihadapi. Abduh berani melakukan pembaharuan keagamaan, bahasa Arab dan reformasi fundamental metode pendidikan di universitas al-Azhar. Salafi Mesir juga bergabung bersama pemerintah mengangkat senjata untuk mengusir penjajahan Perancis. Hal yang sama pun berlaku bagi kelompok Salafi Maroko.

Sementara Salafi Arab Saudi dihadapkan pada kenyataan lain. Mereka sibuk bertempur dengan saudara seagama. Secara eksternal dan dengan diback-up Inggris, mereka berperang melawan Dinasti Ustmani. Pada tingkat internal mereka keasyikan melakukan purifikasi akidah dan memberantas tarekat-tarekat sufi yang saat itu berkembang pesat di Arab Saudi. Latar belakang inilah mungkin yang kemudian bisa menjelaskan kenapa kelompok salafi Arab Saudi sangat keras: berpikir sempit dan kolot.

Dasar-Dasar Pemikiran Salafi-Wahabi

Apresiasi kita sama Wahabi yang sangat peduli dengan laku sunah, otentifikasi sanad hadis, purifikasi akidah dengan memberantas bid’ah-bid’ah, tak bisa menghapus kesan kuat, bahwa secara umum, baik dalam bidang pemikiran, keagamaan, sosial dan politik sebagian orang yang berafiliasi kepada Wahabi banyak mengadopsi pendapat-pendapat keras-kaku. Mulai dari mengharamkan sistem demokrasi, sistem partai, konsep nation-state, kepemimpinan wanita –bahkan wanita tidak boleh menyetir mobil sendiri, membid’ahkan maulid Nabi, ziarah kubur, zikir jama’ah, anti sufi sampai fatwa haram menggunakan sendok makan (lihat misalnya fatwa salah satu tokoh Salafi-Wahabi Yaman, Syeikh Muqbil dalam bukunya: as-Shawaiq Fi Tahrim Malaiq atau Halilintar: Tentang Haramnya Memakai Sendok.

Mencermati daftar permasalahan-permasalahan yang disesatkan-dibid’ahkan oleh mereka, maka kita akan berkesimpulan, bahwa kebanyakan daftar itu masuk wilayah mukhtaf fihi: suatu wilayah yang masih dan akan selalu diperdebatkan karena berangkat dari dalil yang tidak qath’i ats-tsubut wa ad-dilalah atau tidak ada ijma ulama. Sebetulnya sikap ulama klasik sudah sangat jelas dan bijak, bahwa dalam wilayah yang masih mukhtalaf fihi, siapa pun tidak boleh memaksakan pendapatnya. Karena akan terjebak pada fanatisme bermazhab dan perpecahan seperti sekarang ini. Semua orang bebas dengan pilihannya.

Pertanyaannya: apa gerangan yang menyebabkan konsentrasi mayoritas dari mereka tersedot pada hal-hal yang masih diperdebatkan? Apa yang membuat mereka seolah lupa bahwa masalah pokok umat Islam sekarang adalah kemiskinan, ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tech dan bidang primer lainnya?

Realitas di atas terjadi karena dasar pemikiran mereka banyak berlandaskan pada, diantaranya:

1.

Ada pembalikan skala prioritas pada cara berpikir dan bertindaknya. Misalnya, mereka lebih memilih meneriakan slogan bid’ah-sesat pada orang yang merayakan acara maulid, ziarah kubur, dll yang hukumnya masih mukhtaf fihi, walapun berpotensi mengancam persatuan umat. Karena jelas sikap keras itu akan menimbulkan ketersinggungan dan menimbulkan aksi balas yang kontra-produktif.
2.

Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih furu’iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan kemaslahatan umat.
3.

Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.
4.

Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih mengkritik “kedekatan” pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.
5.

Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang sama mereka berteriak anti taklid!
6.

Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering lalai dengan kepentingan global umat Islam
7.

Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan kerap alergi dengan hal-hal baru.

Poin-poin di atas, menggiring kita pada kesimpulan bahwa Salafi-Modern mengalami krisis metodologis dan krisis fikih prioritas. Maka tak terlalu mengherankan kalau mereka juga biasa mengecam keras, dan sering gerah dengan sikap dan pendapat tokoh yang saya sebutkan di mukadimah yang dikenal moderat dan mumpuni secara keilmuan. Kesimpulan ini tentu tidak bisa digenerilisir begitu saja kepada semua Salafi-Wahabi. Karena ini sikap yang tidak ilmiah dan tak adil. Tapi, minimal, kalau kita amati buku-buku yang beredar tentang salafi yang ditulis oleh kalangan mereka, juga mengamati milist, maupun website yang dikelolanya, sedikit banyak anda mungkin akan setuju dengan kesimpulan saya. Lebih-lebih kalau yang dijadikan sampel adalah kalangan generasi mudanya.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, dengan kritikan ini tidak berarti kita memandang remeh pada hal-hal yang mereka bahas. Juga tak berarti mereka tidak boleh memilih pendapat-pendapat yang menjadi keyakinannya. Itu adalah hak mereka. Yang salah adalah ketika pendapat-pendapat itu diekspor melewati teritorialnya kemudian dipaksakan kepada orang lain. Dan siapa saja yang menolak atau tidak ikut pendapatnya maka akan dihukumi bid’ah, bodoh akan hukum Islam dan disesatkan!

Yang paling mengkhawatirkan bagi saya, krisis ini menyebabkan mereka sering kehilangan akal kesadaran akan kepentingan global umat Islam, bahwa kita sedang dikepung arus globalisasi dan era pasar bebas yang tak mungkin dihindari. Arus ini bisa menggerus siapa saja yang tak berdaya. Ya, saya takut kita kehilangan rasa persaudaran, rasa sepenanggungan dan militansi akan kepentingan umat Islam! Padahal sekarang ini umat Islam bukan pemegang pentas dunia, baik sosial, politik maupun ekonomi. Artinya kita butuh ukhuwah untuk menegaskan identitas kita, lebih dari pada masa-masa sebelumnya. Bukan Ukhuwah yang hanya berhenti untuk membangkitkan romantisisme masa kejayaan silam. Ukhuwah yang dimaksud adalah untuk membangkitkan tekad membangun kembali peradaban Islam.

Sebagai penutup, marilah kita sadar fikih prioritas dan saling bahu-membahu pada hal yang kita sepakati, dan memberikan kebebasan memilih pada hal yang masih mukhtalaf fihi. Dan dalam bidang hukum Islam, khususnya, dan pemikiran pada umumnya mestinya sekarang ini jangan hanya mencukupkan diri pada apa yang telah dihasilkan ulama klasik sambil berteriak: ma taraka al-awal lil-akhir! (bahwa semuanya telah dibahas ulama klasik). Tapi harus menggabungkan antara apa yang pernah diwariskan ulama klasik dengan produk kontemporer. Dengan begitu kita tak tercerabut dari akar identitas kita, juga tak kaku-gagap dengan segala hal kebaruan. Konsep ini berdasarkan pada kenyataan bahwa setting formulasi-formulasi pemikiran ulama klasik banyak dihasilkan tepat pada saat umat Islam memegang kendali dunia. Ingat data sejarah mencatat -+ 700 tahun kita memegang peradaban dunia. Misalnya saja konsep bahwa non muslim yang tinggal di negara Islam harus mengenakan pakaian tertentu atau konsep uang yang wajib dizakati adalah uang yang berbentuh dinar dan dirham saja. Padahal dua jenis uang itu, kesaktiannya telah digantikan oleh uang kertas, khususnya dollar, dll.

Realitas saat ini sangat berbeda. Umat Islam sedang terpuruk dalam banyak hal. Data dilapangan menunjukan 50% umat Islam pendapatan perkapitanya dibawah 2 dollar. Dengan pendapatan itu jangan berpikir bisa meningkatan kualitas pendidikan. Membuat anaknya tidak kelaparan saja sudah sangat layak mendapatkan gelar Bapak Teladan!

Akibat dari keterpurukan ini maka cermatilah hasil-hasil keputusan hukum fikih yang ditelorkan baik, oleh Majma’ Buhust Mesir, Bahtsul Masail PBNU, Majelis tarjih PP. Muhamadiyah, dll seringkali yang temukan adalah fikih solusi, bukan hukum normal yang berdiri dengan gagah. Kaidah adh-dharurat tubihu al-mahdhurat, al-amru idza dzaka it-tasa’, konsep sadz- adz-dzari, dan kaidah-kaidah lain yang mengisyaratkan kita dalam posisi “kalah hidup” pun menjadi kaidah yang paling laris. Kenapa? Karena realitas kebijakan hitam-putih dunia sekarang ini tidak ditangan kita. Mereka yang punya otoritas kebijakan dunia. Bukan kita! Sekarang pertanyaannya: Sudah siapkah kita untuk lebih mendahulukan persatuan dan kepentingan umat?

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa! Astagfirullah Li Walakum. Takaballah Mina wa Minkum Ajma’in. Wallahu ‘alam bi as-shawab.

.

Sumber: http://www.cybermq.com/

NB: Judul saya ganti, isi sesuai dgn sumbernya.

About these ads

30 thoughts on “Salafi Mesir vs Salafi Saudi

  1. assalamu’alaikum wr wb…

    ulasan yang bagus dan luas wawasan pak kyai, saya sangat sependapat dalam masalah fiqh prioritas dalam dakwah Islam sebagaimana yang pernah dilontarkan Syaikh Qardhawi….
    ada yang perlu dicermati bahwa dalam berbagai atsar dan hadits pun pemberian fatwa pun terkadang berbeda tergantung situasi dan kondisi si penanya….
    maka dari itulah dalam persoalan yang menyangkut realitas dakwah Islam sekarang ini maka sangat setuju apabila pemberian fatwa lebih bersifat bukan normatif tekstual tetapi konstektual tanpa menghilangkan esensi kaidah2 fiqh….

    btw mohon maaf ada yang sedikit mengganjal dalam tulisan pak kyai khususnya yang menyangkut kepemimpinan wanita karena sepanjang yang saya tahu dengan segala keterbatasan ilmu saya, para imam mujtahid 4 mazhab telah sepakat akan keharaman pemimpin wanita dalam mengurusi urusan yang bersifat umum menyangkut kemaslahatan seluruh umat semisal kepala negara, bukan yang bersifat khusus seperti kepemimpinan dalam suatu jabatan tertentu yang tidak menyangkut urusan umat secara umum….

    wallahu a’lam

    –> Wa’alaikum salam wrwb. Maaf .. ini bukan tulisan asli saya, dan saya bukan kyai. Sumber saya tuliskan di bagian akhir. Oh yaa .. setahu saya nggak ada bagian di tulisan ini yg menyinggung ttg kepemimpinan wanita. Mengenai hal ini, saya belum mendalami-nya. Namun setahu kami, memilih pemimpin adalah analogi seperti memilih imam masjid (namun pastilah syarat2nya beda). Ada banyak variabel dengan urutan-urutan prioritas yang harus dipenuhi.

    Ada kitab fiqh membahas tentang hal ini, ada juga di buku-buku manajemen. Saya kira semuanya bagus asal tak bertentangan dengan syariah. Dari sini, seandainya saya punya perusahaan,… saya lebih suka jika direktur utamanya adalah seorang lelaki (bukan wanita) yang ahli, namun tak keberatan jika bagian keuangannya seorang wanita yg ahli di bidangnya. Anda pasti tahu alasannya.

    Maaf kl kurang berkenan. Wallahu a’lam.

  2. ana kira yang dipertentangkan oleh saudara2 salafi mengenai ziarah kubur dan maulid dalam konteks tertentu masuk akal untuk dipertentangkan. Seperti dibeberapa daerah di Indonesia, banyak sekali muslim ziarah kubur untuk meminta wangsit, berdoa dengan mengirimkan hadiah, salat disana dan meminta petunjuk. Kuburan2 didekor dan dihias dengan berlebihan dan dijadikan tempat keramat. Dan sepemahaman ana ini betul2 bertentangan dengan dasar Aqidah dan Syariah dan harus diluruskan. Masa dibiarkan?

    Sekalipun ada pertentangan ana terhadap kaum salafi saudi, namun dalam pembenahan akidah dan syariah mereka tergolong hati2 dan baik sekali. Pertentangannya cuma perkara fissabilillah, yang seharusnya melihat penderitaan ummat muslim di Palestina, Irak dan Afghan, mereka terlihat justru menjauhi saudara2 kita yang berjuang disana, dan ke-pro-an mereka terhadap pemerintah Saudi (sekalipun mereka mengakui kezhalimannya). Namun dalam hal keadilan dalam melihat hukum agama, dan semangat mereka untuk kembali ke ajaran yang hak, ana banyak belajar dan mengagumi kehati2an mereka.

    Anapun masih banyak belajar, dan banyak pertanyaannya ana yang belum terjawab, karena itu tulisan ana bukanlah sebuah pernyataan tapi sebuah pernyataan yang mengandung pertanyaan dan harus dipertanyakan lagi.

    wallahualam..

    Ayo ummat muslim, kembalilah pada Quran dan Hadist dan bersatulah!

    wassalamualaikum warrahmatullah

  3. Assalamu’alaikum.

    Permasalahan utama Bangsa ini adalah MORAL !!!

    Kita terlalu terlena, terbuai dengan kemajuan, ilmu teknologi, sangat tergesa-gesa hingga tak bisa menahan diri hingga akhirnya menjadi budak nafsu dan bersifat materialistis. Dan Lupa Diri…

    Seharusnya kita sadar diri !!!

    Apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini ??

    Apa tujuan Allah Subhanahu wa ta’ala mengutus seorang Nabi?

    AQIDAH ! MORAL !

    Inilah Masalah Besar Bangsa ini …

    • saya sering dengar kata2 ini dari temen2 salafy setelah orang yang mereka bidah kan mengungkapkan dalil2 atau pembelaan diri…
      kalo udah ga bisa berkata2/berargumen, keluar lah kata2 ini..

      kok kedengerannya kaya orang yg mmaksakan pendapat sendiri ya..
      semuanya salah kecuali dia..
      ya udah deh mas, kalo sampeyan merasa bener&yg lain salah, jangan2 sampeyan juga merasa cuma sampeyan aja yg masuk surga&yg lain neraka..

      • kajian di atas, mana keterangannya?

        misal apa makna salafi dalam Al-Quran, apa makna salafi dalam Al-Hadits? trus bagaimana komentar ulama dahulu, semisal imam2 fiqih, menggunakan lafadh salafy, apa saja manhaj mereka? nah kalau ada kajian demikian, baru objektif.

        kalau mengatakan bahwa mereka meyakini bahwa Allah bertangan seperti tangan makhluk dsb, mana tulisan mereka yang mengatakan demikian?

        ilmiah lah dalam membahas.

  4. Yang saya tahu mereka tidak bermazab, bahkan sebagian tidak menyebut dirinya kelompok salafi. Hanya mereka menggunakan metodelogi orang-orang terdahulu dalam beragama. Saya salut pada majelis ini karena mengutamakan Alquran dan Asunnah dalam melakukan amalannya, mereka kuat sekali memegang dasar hukum dalam bertindak, dan sangat konsisten melaksanakan sunnah Rasul yg tentunya tidak ada perintah Rasul yg mudharat, sehingga kita harus meninggalkannya.

    Memang ada beberapa ustad dari majels ini yg penyampaiannya terkadang kurang hati-hati, sehingga dapat meresahkan orang lain yg pemahamannya berbeda, tapi tidak berarti kita harus mengeneralisir bhw kelompok ini sbgai pemecah belah persatuan.

    Sebenarnya kita juga tidak perlu terlalu gelisah dengan tidak bersatunya umat islam saat ini, karena itu memang sudah diprediksikan oleh Rasul, siapapun yg memahami agama ini dengan menggunakan akal, maka tentu saja akan terjadi perbedaan, karena setiap manusia memiliki isi kepala yg berbeda-beda. Oleh karenanya, kita mencoba meminimalisir perbedaan itu dengan kembali kepada Alquran dan Asunnah setiap permasalahn yg terjadi dalam kehidupan ini, bukan dngan logika orang perorang yg sudah pasti akan beda satu sama lain.

    Saya pernah pelajari metode tradisional salafi ini, walaupun saat ini tidak lagi. Kalau pakai ukuran persentase sederhana, metode beragama dgn cara ini 70% saya sangat setuju, dibandingkan dengan metode beragama secara bebas yg menimbulkan banyak perbedaan, karena berdasarkan akal dan kepentingan dunia semata.

    Tidak ada artinya juga kita bersatu dalam hal-hal yg mengandung unsur maksiat, krena Alquran mengingfatkan kita bhw dunia hanyalah sebuah permainan belaka.

    Wouluhualam

    • apa sampeyan juga tau klo klompok ini sangat tekstual dan literal dalam menfsirkan Quran & Hadits?
      apa gunanya berpegang pada Q%H dengan penafsiran tekstual,literal?
      apa anda tau mereka itu menganggap Allah bertangan & berkaki seperti makhluk?

      betapa banyak inkonsistensi penafsiran mereka..
      mereka anti taklid tapi di sisi lain mereka mengagungkan Muhammad bin Abdul Wahhab, al Albani dkk.. yg menurut mereka mutlak benar..

      mereka ga terima bidah dibagi2 semisal : ada bidah wajib, sunnah, makruh dll…
      tapi mereka dengan santainya membagi bidah : ada bidah dunia dan ada akhirat..

      dalam memakai hadis pun kadang ga sesuai redaksi aslinya, kadang dipotong semaunya..
      buat kita yg awam ini mana tau redaksi asli haditsnya tu gimana, asal disebut hadis Nabi aja, percaya deh ama tu hadis, namanya juga awam..
      tapi begitu dicek, ga sesuai sama redaksi aslinya..

      “alangkah ruginya orang yg berpuasa” titik..
      kira2 artinya sama ga dengan “alngkah ruginya orang yg berpuasa yg hanya mendapat lapar dan dahaga” ???
      hanya karena ga bisa motong, penafsirannyapun beda..
      ini contoh lho ya..

  5. salafi wahaby dri awal muncul dan dimanapun,selalu fatwanya menimbulkan benturan yg ekstreem kepd yg tak sejalan(nu,muhamadiyyah,hti,persis dsb)dgn nya,mudah mentakfir,ta’DIL,dsb,cb apakah mereka mau memikirkan klo rakyat lapar,pengangguran diindonesia paling byk umat NABI SAW,walhasil kami berksmplan klo manhaj wahaby salafi bkanlah solusi masalah umat islam diindonesia,

  6. Hadeeeeeuh.
    Susah hati mikir Salafiiii : kadang merasa mereka benar, dan memuji mereka. Tapi kalao dah liat fanatisme dan tutup mata thd Arab Saudi, saya jadi ga yakiiin lagi…

    Perang Dunia II,… malah ambil alih mekkah madinah.
    Pertama kali gagal
    Yang kedua berhasil.

    Kadang saya mikir memang 2 faktor itu aja cukp u/ menolak salafi / wahabi :
    1. Awalan yang kelam
    2. Akhiran yang lebih kelam : Al-Mahdi akan dikejar2 di Baitullah.

    U/ yang ke 2, kalau diajukan ke teman Salafi (baru 1 sih), akan menjawab : “saat itu Arab Saudi bukan spt yg sekarang”. Apa iya???

    Ruwet lah.
    Dah banyak air mata turun u/ mikir salafi ini…

    Btw, saya aktif di Tabligh. Dan pernah mimpi bertemu Rasulullah. Begitu saya ceritakan ke teman Salafi : diabaikaaaan. Kalau ga bs dibilang direndahkan … hiks.
    Smg semua mendapat rahmat

  7. Lebih baik antum cross cek sendiri pendapat pendapat orang2 salafy dengan kitab2 klasik karya ulama salaf terdahulu, semisal kitab2 karya imam 4 mahdzab, kutubus tis’ah, dll, dari situ antum bisa bandingin, bagaimana pendapat para ulama2 salaf ttg sifat2 Allah, siapa sebenarnya yang bodoh, antum bisa bandingin siapa yg taklid buta dan siapa yang mentarjih….
    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al Isro :36)

    –> maaf .. kagak nyambung. Komentar anda menjawab yang mana?

  8. mas Reza,

    Ulama salaf yg mana? Ulama salaf dalam khayalan wahabi ya?
    Wahabi ngaku2 pengikut ulama salaf,tapi kayanya wahabi udah lupa ya kalo ulama2 salafnya udah secara ga langsung dikafirkan/disesatkan oleh wahabi sndiri..

    sadarlah hai wahabi pemalsu kitab2/pernyataan ulama..

  9. lha, benerkan?
    coba anda ikuti diskusi2 atau sumber2 Wahabi, anda akan tau kenapa saya berkesimpulan seperti itu..

    Imam2 semisal Bukhari, Nawawi dll oleh Wahabi disebut sesat, mengamalkan/membukukan hadis palsu dhaif, TAPI di sisi lain, betapa banyak nukilan2 beliau2 tersebut dipake Wahabi buat slogan..

    Wahabi sering berkata : “berkatalah Imam Syafii…”, “berkatalah Imam Nawawi dalam kitab…” seolah2 wahabi itu adalah pengikut mazhab Syafii, padahal aslinya ngga kan?

    ilmu2 dan kalimat2 nukilan di kitab beliau2 itu dirampas oleh Wahabi, tapi pribadi beliau2nya telah Wahabi hina2/cela2..

    ilmunya diambil, orangnya dibuang..

    saya lebih senang menyebutnya dengan orang2 yg tidak tau balas budi dan tidak tau terima kasih..

  10. Salafus shalih adalah orang orang soleh yang hidup di jaman dahulu. Mereka adalah para sahabat, tabi’in, tabi’in tabi, dan juga para Imam mazhab.

    lalu apa benar para salafi mengikuti para salafus shalih ?. Setahu saya para salafi itu justru taqlid pada sejumlah ulama yang hidup di abad 20 masehi.

  11. lalu apa benar para salafi mengikuti para salafus shalih ?. Setahu saya para salafi itu justru taqlid pada sejumlah ulama yang hidup di abad 20 masehi.

    comment : setahu saya, BUKTINYA MANA???????????????

    Imam2 semisal Bukhari, Nawawi dll oleh Wahabi disebut sesat, mengamalkan/membukukan hadis palsu dhaif, TAPI di sisi lain, betapa banyak nukilan2 beliau2 tersebut dipake Wahabi buat slogan..

    comment : BUKTINYA MANA??????????????????

    apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS. Ash Shaffat: 156 – 157)

  12. Assalamualaikum, mas Reza.

    Izinkan saya membagi salafi menjadi dua golongan. Yang pertama adalah mereka yang layak disebut salafi karena mereka mengikuti pemahaman para salafus shalih, meskipun hampir semua dari mereka tidak menyebut dirinya sebagai salafi. Saya kenal secara pribadi dengan beberapa mereka di dunia nyata. Memang mereka sangat anti dengan perilaku yang dianggap bid’ah, tapi mereka adalah orang yang santun dan bukan orang yang mudah mencela. Jujur saja, saya menyukai mereka.

    Yang kedua adalah golongan yang menyebut diri mereka salafi untuk menenjukkan bahwa hanya merekalah yang benar-benar mengikuti para salafus shalih. Terus terang saja, saya bertemu mereka hanya di dunia maya karena mereka bukanlah orang orang Indonesia melainkan para salafi dari negara-negara lain termasuk dari Saudi Arabia dan Mesir (tapi salafi Mesir yang mengikuti pemikiran salafi Saudi). Dan salafi golongan inilah yang saya maksud.

    Ada satu hal yang menarik perhatian saya dari pengalaman berdiskusi dengan mereka. Dalam mengemukakan pendapat, mereka tak pernah mengambil dalil dari Qur’an atau hadist, melainkan hanya copy-paste fatwa-fatwa dari segelintir ulama besar salafi di abad 20 (dan juga segelintir ulama salafi yang masih hidup hingga kini). Mereka menolak setiap pendapat dari ulama di luar kelompok mereka dengan mengatakan bahwa ulama non-salafi adalah bukan ulama. Dan di sisi lain mereka menyanjung para ulama salafi secara berlebihan, seperti mengatakan bahwa para ulama mereka tak mungkin salah. Nah, apakah ini bukan taqlid ?

    Jadi, jika saya berkata “setahu saya’, karena ini berdasarkan pada pengalaman saya.

  13. http://kajian.net/ceramah-islam-mp3/15-terorisme-wahabi-wahabisme-demokrasi-daulah-jihad-islam-salafi-salafy

    Wahabisme

    1. Apa itu Wahabi, oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsudin
    2. Meluruskan Sejarah Wahhabi oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawy
    3. Apa Itu Wahabi, oleh Ustadz Dr. Ali Musri, MA
    4. Menyingkap Syubhat Terorisme dan Wahabisme Terhadap Dakwah AhlusSunnah, oleh Ustadz Abu Qatadah
    5. Pro Kontra Dakwah Wahhabi, oleh Ustadz Badrusalam
    6. E-Book The Wahhabi Myth – Menyingkap Mitos Wahhabi, Penulis : Haneef James Oliver

  14. situs aneh, menyesatkan salafi tapi ga pakai dalil secuilpun. mintalah hidayah ilmu dan hidayah taufiq, biar ga keblinger

  15. to Abu Idris,

    pertama,
    bagian mana dari artikel ini yg menyesatkan salafy? tolong sebutkan!

    kedua,
    artikel itu disusun berdasarkan fakta sejarah (ga perlu dalil Quran hadis, kan?), wong itu fakta kenyataannya kok..
    kalo misalnya faktanya salah, bantahlah! berikan info fakta yg benar..

    misalnya, jika fakta almarhum Syeikh Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, DR. Ramdhan al-Bouti, DR. Aly Gum’ah –Mufti Mesir, dan sejumlah tokoh Islam tidak pernah dibid’ahkan, disesatkan oleh sekelompok orang yang mengaku salafi..
    YA BANTAH LAH bahwa salafy tidak pernah menuduh sesat syeikh2 tersebut..SELESAILAH DISKUSI KITA, TANPA DEBAT KUSIR

    • makanya mas, jangan asal ngomong, jangan pula bikin pernyataan yg berbau “fitnah” kalo ga punya data yg bisa dipertanggungjawabkan..

      akhirnya ya begini ini, sampeyan malah menambah daftar “simpatisan Wahabi” yg kabur dari diskusi yg dibuat sendiri..

      menyalah2kan orang lain, tapi begitu orang lainnya punya dalil, eh malah kabur

  16. to abu idris,

    kita berlindung dari
    - ke-”asal ngomong”-an tanpa fakta..
    - fanatik golongan yang cuma bisa menyalahkan orang, tapi ketika disanggah orang lain malah GA BISA JAWAB APA-APA LAGI..

  17. salafi edannnnnnnnnn,slsu fitnah umat islam saya kira mari kita hancurkan salafi wAHABI di indonesia , makanya lihat debat cd NU VS WAHABI ,eh mang mahrus ali nya ga datang takut aib nya terbongkar , mang muamall yang di anggap kyai wahabi yang top debatnya kaya anak kecil…………malah minta maaf brooooooooo

  18. Saya pribadi pernah berdiskusi dengan para salafi (arabia) ini. Intinya mereka punya pandangan tersendiri lah, sebagaimana kita juga berpandangan. Bedanya dengan kita adalah adanya rasa superior pada diri mereka. Mereka merasa paling benar, baik dari sisi pemilihan hadist dan salaf, maupun analisis dan pengambilan keputusan untuk berijtihad.

    Mau mengaku paling benar ya silakan saja. Walaupun itu sudah melampaui kewenangan dia sebagai manusia, saya secara pribadi menghormati hak mereka untuk menjadi seperti itu. Namun saya tidak mau ikutan karena yang tahu mana yang paling benar hanyalah Allah. Sementara manusia hanya memiliki kebenaran yang bersifat relativ, menurut keadaan masing-masing(QS[17:84]).

    Lagi pula saya takut akan murka Allah SWT jika merasa saya paling benar. Sebagaimana ketika Nabi Musa AS merasa paling hebat, maka Allah memperingatkan Beliau bahwa ada yang lebih hebat dari Beliau. Dan kemudian Allah SWT memerintahkan Beliau untuk belajar lagi kepada seorang yang dirahmati Allah yakni Nabi Khidir AS. Dan Nabi Musa AS pun memohon ampunan Allah SWT atas kesalahannya yang merasa paling hebat itu.

    Merasa paling benar adalah hak mereka. Namun ketika mereka mulai menyalah-nyalahkan orang lain, maka permasalahan akan mulai timbul. Dan saya sudah banyak mendapat info mereka diusir dan dikucilkan oleh orang sekampung, dan akhirnya mengungsi. Tempat mereka mengungsi juga adalah komunitas orang yang mereka salah-salahi, dan mereka bid’ah-bid’ahkan. Namun mereka diizinkan untuk mengungsi ke tempat tersebut. Masih baik hati ni orang kampung ini.

    Kemudian bicara tentang metode dan analisis, mereka melakukan analisis yang kelewat berani. Contoh saja QS[3:39] yang jelas menyatakan bahwa Nabi Zakaria AS shalat di mihrab. Kemudian pada QS[3:37] Maryam AS seorang wanita yang disucikan Allah menerima makanan dari Allah di mihrab. Namun team salafi membid’ahkan mihrab dengan hanya meneliti salaf. Dan mengenai QS[3:37] dan QS[3:39] mereka menyatakan bahwa walaupun itu ada di dalam Al Qur’an namun itu adalah sesuatu yang tidak dilaksanakan Rasulullah SAW. Jadi mereka berani memilah-milah Alqur’an dengan kasifikasi : yang dijalankan dan tidak dijalankan Rasulullah SAW.

    Untuk analisis salafi seperti di atas, saya tidak mau ikutan. Karena secara explisit mereka telah memilah-milah Alqur’an untuk dijalankan dan tidak dijalankan. Dan yang beratnya mereka mempertentangkan Rasulullah SAW dengan QS[3:37] dan QS[3:39] tersebut, seolah-olah Rasulullah SAW menolak(Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah menolak akan apa yang telah diwahyukan Allah. Kalau menolak berarti stop jadi Nabi.). Dan lebih beratnya lagi mereka menghinakan Nabi Zakaria AS dan Maryam AS, telah berada di tempat yang bid’ah. Dan yang paling mengerikan adalah mereka telah menghinakan Allah yang telah menurunkan khabar Nabi Zakaria AS dan Maryam AS berada di mihrab. Maka saya tidak mau ikutan untuk ijtihat seperti ini.

    Ini baru satu contoh. Contoh yang lain seperti masalah bid’ah zikir bersama, tahlil, dsb, hanya didasarkan perkataan para sahabat Rasulullah SAW yang dikenal dengan salaf. Sementara AlQur’an yang secara tersirat memerintahkan itu, terlewatkan oleh mereka. Apakah memang benar-benar terlewatkan atau sengaja dilewatkan, saya juga kurang begitu faham. Maka saya tidak akan ikut-ikutan dengan apa yang telah mereka bid’ah kan.

    Jika kita benar-benar berdiskusi dengan mereka, sebenarnya mereka itu sangat lemah. Coba saja, beberapa kali diundang untuk diskusi jarang mau. Dan kalau diskusi pun, hanya emosi saja yang keluar dari sisi mereka untuk menegakkan benang basah yang mereka paparkan. Dan ujung dari diskusi itu selaul dengan satu pernyataan dari mereka ” Kamu itu salah. Yang benar begini”. Kalau sudah demikian, maka diskusi sudah saatnya untuk dihentikan.

    Namun jika pada diskusi tersebut ada moderator, kemandegan diskusi tidak akan terjadi. karena moderator akan menganulir pernyataan ” Kamu itu salah. Yang benar begini”. Dan dapat dipastikan para salafi Arab Saudi ini tidak akan dapat mempertahankan argumen mereka.

    Wallahu ‘A’lam.

  19. Dari zaman ke zaman perubahan mesti terjadi, biasanya bersifat pembaharuan (up dating) di berbagai lini keagamaan (a.l tauhid, fiqh , tafsir). Secara fisik,.sebagaiman terlihat Makkah-Madinah yg sekarang, sayang kita tidak mengetahui Makkah Madinah zaman Rasulullah. Lalu bagaimana ihwal kandungan substansi agama?. Jawabannya, terlihat dalam Alquran: QS23:53 Artinya: Kemudian mereka (para pengikut rasul-rasul) itu menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing.
    Keyataanya terjdi juga pada dunia Islam sekarang, yang diperbincangkan, diperdebatkan atau didiskusikan itu adalah hasil karya (kitab) para tokoh yg menjadi idola masing-masing.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s