Shalawat Badriyah


Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamulleah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah

Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa
Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Wakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat
Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah

Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri
Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Laqad Dlaaqat’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi
Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa A,llaah

Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di
Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij’Alnaa’Alath Thaibah

Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati
Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa
Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin
Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

————————

Rahmat dan keselamatan Allah,
Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah,
Rahmat dan keselamatan Allah,
Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah’

Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”,
Dan dengan Nabi yang menuniukkan lagi utusan Allah,
Dan seluruh.orang yang beriuang .karena Allah,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan ummat,
Dari bencana dan siksa,
Dan dari susah dan kesemPitan,
Sebab berkahnya sahabat ahli bariar ya Allah’

Ya AIlah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan,
Dan semoga Engkau (Allah) meniauhkan tipu dan daya musuh-musuh,
Dan semoga Engkau mengasihi kami,
sebab berkahnya sahabat Ahli Badar Ya Allah.

Ya Allah, semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan
Dari orang-orang yang berma’siat dan semua kerusakan,
Dan semoga Engkau hitangkan semua bencana dan wabah penyakit’
Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah

Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil,
Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan,
Dan sudah banyak dari ni’mgt yang telah sampai,
Sebab berkahnya sahabal ahli Badar ya Allah’

Sudah berapa kati Engkau (Allah) memberi kekayaan orang yang makmur,
Dan berapa kati Engkau (Allah) memberi nikmat kepacla orang yang fakir,
Dan berapa kali Engkau (Allah) mengampuni orang yang berdosa,
Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini;
karena banyakhya marabahaya yang mengerikan,
Dan malapetaka yang menghancurkan,
semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang mengerikan,
Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.’

Kami datang dengan memohon pemberian/ pertolongan
Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan
Semoga Allah meluaskan anugerah (keni’matan) yang melimpah-limpah.
Dari sebab berkahnya ahli Badar ya Allah.

Maka ianganlah Engkau (Allah) menolak kami menjadi rugi besar,
Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik, dan selalu bersuka ria.
Wahai Dzat yang punya keagungan (kemenangan) dan Prabawa,
Dengan sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Jika Engkau (Allah) terpaksa menolak hamba, maka kepada siapakah
kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami;
Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan
akhirat, hilangkan bencana-bencana hamba
lantaran berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Ya Allah, semoga Engkau rnengampuni kami dan memuliakan
diri kami, dengan mendapat hasil beberapa permahonan kami, dan
menolak keburukan-keburukan dari kami,
Dengan mendapat berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Ya Allah, Engkaulah yang punya belas kasihan,
dan punya keutamaan (anugerah) lagi kasih sayang,
Sudah banyaklah kesusahan yang hilang,
Dari sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Dan semoga Engkau (Allah) melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya,
dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang tak terbilang dan tak terhitung,
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar nur cahayanya,
sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

.

.

Updated (26 Sept 2008)

Alhamdulillah, Akhirnya ku peroleh juga sejarah dan riwayat shalawat Badr ini. Berasal dari email teman, tulisan asli ada di mailist Majelis Rasulullah (dengan penulis asli tertera di bawah). Ada buku/ kitab yg menuliskan sejarah shalawat ini (tertera di dalam artikel). Semoga manfaat.

.

Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.
Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ.

Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w.

Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”.

maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain. Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang  membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima para tamu istimewanya tersebut.

Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu saja Kiyai ‘Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorangpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu.

Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut.

Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah mengundan para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yand diundang diantaranya ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan.
Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. Di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya.

Untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini teman2 milis MR dan teman temanku seiman dapat membaca buku yang berjudul “ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU” yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan.

Semoga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib yang berperan serta mempopulerkan Shalawat tersebut kepada kita kaum muslimin. Al-Fatihah…..

-=<rasulullah_my_idol>=-
Dailami “ami” Firdaus

About these ads

37 gagasan untuk “Shalawat Badriyah

  1. Assalamu’alaikum
    Salam kenal mas. Mau nanya, Shalawat ini buatan siapa mas??

    –> Wa’alaikum salam wrwb mas fikri. Salam kenal juga. Senang anda sudi berkunjung ke sini. Shalawat ini sangat terkenal di kalangan para ulama dan masyarakat.

    Maaf .. saya pun masih mencari sumber awalnya. Namun sayang … saya saat ini dalam kondisi yg tak memungkinkan untuk menelusurinya. Insya Allah di waktu mendatang akan kita cari. Semoga dapat diketemukan ya mas. Amien.

    update: Alhamdulillah telah ada infomasi .. ada di bagian akhir.

    • BETULKAH ORANG2 YG DATANG ADALAH AHLI BADAR? ATAUKAH HANYA JIN QORINNYA AHLI BADAR? SIAPAKAH ORANG BERJUBAH YANG MENDATANGI PENDUDUK DIWAKTU SUBUH? SIAPAKAH ORANG2 ASING YANG SIBUK BEKERJA PADA MALAM BESOK HARINYA?
      -KALAU AHLI BADAR, ITU TDK MUNGKIN
      -KALAU JIN QORINNYA AHLI BADAR ITU BISA JADI (KITA HARUS WASPADA TIPU DAYANYA SANGAT HALUS)
      setiap manusia lahir maka lahirlah jin pendampingnya/setannya (qorin), kecuali pendamping Muhammad yang masuk islam… kurang lebih begitu maksud Hadits yang saya temukan. 9 WAS WAS WAS WASPADA…!!!
      HERAA…N HERAN KENAPA BISA ORANG ORANG BISA SAKTI(MELAKUKAN) YANG TIDAK DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT. CK..CK.. HEBAT EUY..

  2. Sholawat Badar Kiyai ‘Ali

    Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.

    Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t. Dalam keadaan sedemikian, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”. Apa yang menghairankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan lain-lain bahan makanan. Mereka menceritakan bahawa awal-awal pagi lagi mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barangan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

    Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi @ Habib ‘Ali Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai ‘Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut. Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah menjemput ramai ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, antara yang dijemput ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Moga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut….. al-Fatihah.

    Allahu … Allah, inilah kisah bagaimana terhasilnya penulisan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali Manshur. Cerita ini telah ambo dengar daripada beberapa kerabat Kiyai Haji Ahmad Qusyairi di Kota Pasuruan. Juga ianya dimuatkan dalam buku “Antologi NU : Sejarah – Istilah – Amaliah – Uswah ” karangan H. Soeleiman Fadeli & Mohammad Subhan dengan kata pengantar Kiyai Haji ‘Abdul Muchith Muzadi. Benar atau tidak, percaya atau tidak, itu tidak penting, apa yang nyata ialah Sholawat Badriyyah ini adalah karyanya Kiyai ‘Ali Manshur dan telah diterima serta diamalkan oleh para ulama dan habaib yang menjadi pegangan dan panutan kita. Maka sempena memperingati peristiwa Perang Badar al-Kubra, marilah kita bermunajat memohon keselamatan dunia akhirat dengan bertawassulkan Junjungan Nabi s.a.w. dan para pejuang Badar radhiyAllahu ‘anhum ajma’in.

    http://bahrusshofa.blogspot.com/2008/09/sholawat-badar-kiyai-ali.html

  3. Assalamu’alaikum….boleh tidak saya copy artikel ini…?mo saya copy utk note saya di facebook…bisa ym saya di fla1303_epri0905@yahoo.com…mohon konfirmasinya….Wassalamu’alaikum..

    –> Wangalaikum salam wrwb. Silakan mas.. jangan lupa link sumber yaach..

  4. assalamu’alaikum…

    Saya orang yang kurang berilmu ingin bertanya, Apakah Rasulallah MENGAJARKAN / MENYURUH / MENCONTOHKAN kita bila ber DOA harus dengan PERANTARA / KEBERKAHAN / KAROMAH orang2 SHOLEH atau PARA AHLI BADAR yang telah MENINGGAL, Apakah ada NASH yang menyatakan mereka bisa memberikan ” MAMFAAT dan MUDHARAT ” ?….

    Jika ISLAM itu sebuah merupakan sebuah ” KUE BOLU ” yang resepnya ( syariatnya ) dibuat oleh atau dengan ketentuan ALLAH dengan ” KOKI “( Penyampai / Rasulallah )maka ” CIPTA RASA KUE BOLU ” itu haruslah sama dari jaman RASULALLAH sampai AKHIR JAMAN, janganlah ” KUE BOLU ” itu sekarang menjadi ” KUE LAPIS ” ataupun ” KUE SEMAU GUE “, dengan perubahan resepnya ataupun karena dengan KEPANDAIAN ULAMA / KIAYI menambahkah ” BUMBU2 PENYEDAP LAIN “…

    Seandainya yang RASULALLAH AJARKAN / CONTOHKAN / SUKAI adalah ” KUE BOLU “, akankah kita MENYELISIHINYA dengan membuat ” KUE BOLU ” itu menjadi ” KUE LAPIS ” ataupun ” KUE SEMAU GUE “, padalah ULAMA / KIYAI / USTAZD seharusnya hanyalah menyampaikan RESEP yang sudah ada tidak perlu MENGADA-ADA resep baru…

    Shalawat yang RASUALLAH ajarkan seperti dalam kita SHALAT, … INI standarnya ALLAH dan RASULNYA tidak perlu kita EDIT lagi… Kalau Shalawat yang lain BAGUS menurut standar MANUSIA / ULAMA / KIYAI, bagaimana menurut ALLAH atau RASULNYA ?… ( kita tidak tahu )

    Seorang AHLI MEMASAK demikianlah saya memandang, Bagaimanakah pandangan AHLI yang lain ? …

    –> wa’alaikum salam wrwb. Maaf .. saya tak setuju KUE LAPIS menjadi haram hanya karena tidak sama dengan KUE BOLU. Jika bahannya sama, dan memasaknya pun benar, maka menjadi sangat naif ketika KUE LAPIS divonis haram hanya gara-gara bentuknya tidak sama dengan KUE BOLU.

    Maaf .. jika seandainya Rasul saw mencontohkan makan sop unta, maka tentunya kita tak dilarang memakan sop ayam. Sop unta (dalam ilustrasi ini) adalah paling utama, namun itu tak berarti larangan untuk memasak / memakan sop ayam. Di sini tak ada unta, tapi banyak daging ayam. Yang dilarang itu sop babi, karena sudah jelas haramnya babi.

    Ok .. Tentu kita sepakat bahwa umat ini diperintahkan untuk mengikuti ulama, karena ulama-lah yang mewarisi ilmu dari baginda Nabi saw. (ada dalilnya mengenai ini). Jika seorang ulama mengarang shalawat sebagai ungkapan rasa cinta-nya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu bukan berarti mengubah teks shalawat dari baginda Nabi saw. Tentu teks shalawat dari kanjeng Nabi saw adalah yang paling utama, namun itu tidak berarti umat/ulama tidak boleh mengarang teks shalawat.

    Sahabat ada (banyak) yang mengarang teks shalawat sendiri. Dan jika anda baca kitab-kitab para ulama, di bagian pembukaan, pasti ada teks shalawat yang hampir pasti teksnya berbeda-beda untuk kitab-kitab yg berbeda, sebagaimana itu menunjukkan ungkapan cinta penggubah kitab kepada baginda Nabi saw.

    Demikian juga .. tak salah jika ada ulama-ulama yang membuat syair dan shalawat khusus untuk baginda Nabi saw.

    Ada banyak teks shalawat sebagai ungkapan rasa cinta kepada Allah dan baginda Rasul saw. Saya kira itu semua tak mengubah standard dan tak ada peng-edit-an. Di dalam shalat, teks yg sah adalah shalawat ibrahimiyah itu.

    Shalawat gubahan para ulama (termasuk shalawat badriyah ini) silakan anda ikuti jika merasa cocok. Jika tak suka pun tak apa.

    wallahu a’lam.

  5. kita renungkan sholawat ini, apakah sholawat tersebut untuk nabi muhammad saw?? bukan itu untuk nabi thaaha. Makanya sholawat ini seharusnya perlu direvisi karna akan menimbulkan bidah.

    –> Tidak tahukah anda bahwa Thahaa itu adalah julukan (nama) kanjeng Nabi Muhammad saw.

  6. pada prinsipnya hubungan vertikal antara manusia dengan tuhannya itu hukumnya haram kecuali ada perintah, sedangkan hubungan manusia secara horisontal dengan sesama mahluk pada dasarnya halal kecuali dilarang,…. jadi kalo kita mau makan sop onta, sop kebo….. itu halal….. kalo sop anjing tuh haram,… kalo ibadah kpd Allah kalo nggak ada perintah atau contoh dari nabi ya jangan dilaksanakan…….

    –> maaf .. lhaa contoh sup onta itu diberikan untuk memperjelas KUE LAPIS.

    Sering saya dengar prinsip, bahwa “hubungan vertikal antara manusia dengan tuhannya itu hukumnya haram kecuali ada perintah, sedangkan hubungan manusia secara horisontal dengan sesama mahluk pada dasarnya halal kecuali dilarang”. Namun saya cari-cari dalilnya (Qur’an hadits) tidak ada. Jika memang tak ada … bukannya prinsip itu adalah prinsip yang bid’ah? Maaf..mungkin saya salah. Sangat senang jika anda memberitahukan dalilnya.

    Argumen/dalil kami sudah jelas. Perintah untuk mengucapkan shalawat sudah jelas. Ada di Qur’an dan banyak hadits. Hukumnya sunnah dilakukan di luar shalat. Dan baginda Nabi saw tak membatasi teks shalawat. Maka siapapun boleh meng-create teks shalawat sendiri, asal tak bertentangan dengan syariat.

    Dan bagi yang tak cocok/selera silakan saja. Tak ada masalah. Tapi tolong ..jangan membid’ah-bid’ahkan shalawat ini. Karena itu berarti mengharamkan hal yang diperbolehkan dalam syariat. Itu adalah bid’ah itu sendiri.

    Maaf kl tak berkenan. wallahu a’lam.

    • maaf prinsip itu memang bukan teks Al Quran, akan tetapi dikutip dari Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam kitabnya yang menakjubkan, I’lam al-Muwaqqi’in (I/344)dan dari Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyyah Al-Fiqhiyyah (hal 112).

      Bagaimanakah syariat kita mengatur tentang suatu Ibadah , dan bagaimana syarat diterimaya sebuah ibadah dan rambu-rambunya ,sebagaimana yang disyariatkan oleh Kitabullah was sunnah yang shahih.
      Sesungguhnya Agama yang muliya ini telah sempurna
      Allah Ta’ala berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al Maidah : 3)
      Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal ini diistilahkan bid’ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau : “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)
      Ketahuilah wahai saudaraku sesungguhnya hakikat agama terdiri dari dua hal, yaitu tidak ada ibadah kecuali kepada Allah, dan tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’at yang ditentukanNya. Maka siapa yang membuat cara ibadah dari idenya sendiri, siapa pun orangnya, maka ibadah itu sesat dan ditolak.. Sebab hanya Allah yang berhak menentukan ibadah untuk taqarrub kepadaNya.
      “Dengan mencermati syari’at, maka kita akan mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah atau yang disukaiNya, maka penempatannya hanya melalui syari’at”
      Dalam Majmu Al-Fatawa (XXXI/35), beliau berkata, “Semua ibadah, ketaatan dan taqarrub adalah berdasarkan dalil dari Allah dan RasulNya, dan tidak boleh seorang pun yang menjadikan sesuatu sebagai ibadah atau taqarrub kepada Allah kecuai dengan dalil syar’i”.
      Demikian yang menjadi pedoman generasi Salafus Shalih, baik sahabat maupun tabi’in, semoga Allah meridhai mereka.
      Pada dasarnya kita tidak boleh mengamalkan atau mensyariatkan amal ibadah kecuali ada dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah yang mensyariatkannya . Barang siapa yang mensyariatkan sebuah ibadah tanpa dalil maka dia telah membuat perkara Bid’ah ( perkara-perkara baru yang tidak ada contohnya ).
      Hal tersebut sebagaimana kaidah yang telah disebutkan dalam Al qur’an
      Allah azza wa Jalla berfirman ” Apakah mereka mempunyai sekutu yang mensyariatkan bagi mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah ( Qs. Asy- Syuro (42) : 21 )
      Dan Hadist Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam ” Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa roddun ( HR Muslim ), Barangsiapa yang melakukan amal perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami , maka amal perbuatan tersebut tertolak ( HR. Muslim ).
      Definisi Ibadah :

      Ibadah bersifat tauqifi [Maksudnya adalah bahwa ibadah sudah ditentukan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Akal fikiran tidak memiliki andil dalam penetapannya] dan harus bersumber dari musyarri’ (Yang berhak menetapkan syari’at) yaitu Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya:
      فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا [هود: 112]
      “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas”. (Hud: 112)

      ثُمَّ جَعَلْنَـاكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ اَّلذِيْنَ لاَ يَعْلَمُونَ[الجاثية: 18]
      “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa naf-su orang-orang yang tidak mengetahui “.(Al-Jatsiyah: 18)

      Allah berfirman tentang nabi-Nya:
      إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَـى إِلَيَّ
      [الأحقاف: 9]
      “Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”.(Al Ahqaaf 9)

      … mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan…….

      –> sama2 .. saya hanya ingin menanggapi dua hal,

      1. Ternyata kaidah itu bid’ah juga, tak ada contoh/perintah dari baginda Nabi saw. Dalam hal membid’ah-bid’ahkan sesuatu, janganlah memakai prinsip yang bid’ah pula. Jika demikian, apa bedanya….

      2. mengenai shalawat badriyah ini, sesuai dengan uraian anda di atas, perintah shalawat bahkan jelas tertera di dalam al Qur’an. Dan mengenai teks-nya (untuk shalawat di luar shalat), baginda Nabi saw telah mengijinkan umatnya meng-create. Ada shalawat gubahan sayidina Abu Bakar as Shidiq ra, gubahan sayidina Ali ra, dll. Dalam hal shalawat badriyah ini, tak ada syariat baru, tak ada pula syariat yang dilanggar. Yang ada hanyalah gubahan shalawat, dan diberi judul shalawat badriyah. Jika anda suka .. alhamdulillah .. silakan dibaca, tak suka pun tak apa-apa. So .. tak ada masalah kan.

      “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

      maaf kl tak berkenan.

  7. Ping-balik: Gus Dur: Astaghfirullah Rabbal Baraya « Catatan harian seorang muslim

  8. @ taufiq bogor : ilmu agama anda sedikit, sayangnya ilmu yg sedikit itu anda pakai pula utk menyerang sesama muslim, yg bershalawat tuk Rasulallah SAW pula … aku berlindung kepada Allah Ta’ala dg ilmu yg sedikit seperti itu.
    @ babah cong : baca qur’an … baca qur’an … baca qur’an ! jgn berkata nafsu utk benar sendiri. Sholawat terpampang jelas perintahNYA di qur’an …

  9. yang jelas ada hadits nabi yang bicara tentang bid’ah, tugas kita adalah mencari tau apa itu bid’ah, lalu apa saja yang termasuk bid’ah, karna sesungguhnya hadist tentang bid’ah itu adalah hadist larangan, kecaman yang sangat keras dari nabi sendiri, jadi apa arti hadist tersebut menurut anda yang menentang hadist tersebut ?, smoga dengan jawaban anda bisa membuat kami yang ummiy ni lebih tau.

    –> bid’ah (yang sesat) itu adalah perkara baru yang melanggar syariat.

  10. Assalamu’alaikum…Wr Wb
    Salam kenal mas. Mau nanya, waktu membaca solawat badriyah yang lebih baik waktunya kapan mas???trims
    Wassalamu’alaikum…Wr Wb

    –> wa’alaikum salam wrwb. silakan kapan saja.

  11. dari dulu ampe sekarang, yang dipermasalahkan adalah soal bid’ah dan bid’ah.
    saya tak tahu jika hadis nabi tentang bid’ah itu benar adanya atau tidak (bahkan karna ketiadaan ilmu, saya ragu jika itu dari nabi).
    Jika benar itu dari Nabi, tentu ada penjelasan yg logis dari riwayat nabi lainnya atau mungkin dari Al-Quran (?) tentang apa sesungguhnya bid’ah itu???. Saya tak tau.
    Hal ini menjadi berat, karena dalam riwayat (yg dikatakan sebagai hadis Nabi) tersebut dikatakan bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di neraka. Sungguh berat, apalagi mengetahui sodara2ku muslim, tetangga dan masyarakat kampung ku banyak melakukan tradisi2 seperti peringatan isra’ Mi’raj, bersholawat nariyah, memakai tasbih untuk menghitung zikirnya dll yang saya dengar ada yg bilang bahwa itu bid’ah.
    Lantas, bagaimana dengan MUSHAF ini??????????????????????? apakah ini pengecualian yg didapati dari mimpi seseorang kepada Nabi??????????? Kalian smua sodaraku memegang mushaf ini, membeli dan menyumbangkannya ke masjid. jadi kita semua dineraka????? Puassssss kalian???????????

    • bgaimana dgn ini:

      “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam perkara baru yang baik maka baginya pahala dari perbuatan tersebut juga pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka, dan barang siapa merintis dalam Islam perkara baru yang buruk maka baginya dosa dari perbuatan tersebut juga dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dosa-dosa mereka sedikitpun” (H.R. Muslim) .

  12. isi “Shalawat Badar” ini tidak sesuai dengan akidah tauhid. Tidak ada yang mengatakan bahwa “Taha” atau “Yasin” itu adalah Rasulullah Saw. Meskipun di kalangan kaum Muslimin, ada yang memberi anaknya nama Taha atau Yasin.

    Kemudian tawasul dengan Nabi, tawasul dengan Mujahidin di jalan Allah, dengan peserta perang Badar, semua itu juga tidak boleh. Jangan mengadakan perantara di antara hamba dengan Allah. Hal itu termasuk kemusyrikan yang dilarang.

    Tawasul boleh dengan cara meminta doa dari orang shalih, meminta didoakan oleh Ummat Islam, atau tawasul dengan amal-amal shalih yang pernah dilakukan. Untuk hal terakhir itu pernah dilakukan oleh 3 orang musafir yang terjebak dalam gua, lalu bisa keluar setelah tawasul dengan amal-amal mereka.

    Saya sarankan, jangan lagi dikembangkan Shalawat Badar itu. Ia keliru dan tidak akan membawa berkah. Malah khawatir, kita akan mengalami banyak kesulitan dengan menyebarkan hal-hal yang keliru itu. Wallahu a’lam bisshawaab.

    –> kl anda tidak tahu itu bukan berarti tidak ada mas.. dan tawasul kepada orang shalih diperbolehkan. Siapa bilang tidak boleh?

    • Komentar Nano Aja,

      Kemudian tawasul dengan Nabi, tawasul dengan Mujahidin di jalan Allah, dengan peserta perang Badar, semua itu juga tidak boleh. Jangan mengadakan perantara di antara hamba dengan Allah. Hal itu termasuk kemusyrikan yang dilarang.

      Sanggahan saya :

      Menuduh musrik tanpa dalil alias bukti sar`i kepada orang mukmin adalah sifat-sifat golongan khawarij yaitu golongan yang jelas2 sesat.

      Dalil tawasul, silakan buka kitab shoheh Bukhori :

      حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

      Artinya :

      Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshari berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku ‘Abdullah bin Al Mutsanna dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas bin Malik bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia meminta hujan dengan berwasilah kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a, “Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami,, maka turunkanlah hujan untuk kami.” Anas berkata, “Mereka pun kemudian mendapatkan hujan.”

      Sebaiknya Anda menjaga lisan Anda. Terimakasih….

      • Dalil selanjutnya,

        Dalil kitab Musnad Ahmad :

        حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَارَةَ بْنَ خُزَيْمَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي قَالَ إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ وَإِنْ شِئْتَ أَخَّرْتُ ذَاكَ فَهُوَ خَيْرٌ فَقَالَ ادْعُهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ فَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ فَتَقْضِي لِي اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ

        Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abu Ja’far berkata; saya telah mendengar ‘Umarah bin Huzaimah menceritakan dari ‘Utsman bin Hunaif, ada seorang buta mendatangi Nabi Shallallahu’alaihiwasallam lalu berkata; “Berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkanku.” Beliau bersabda: “Jika kamu mau, saya akan mendo’akan untukmu dan jika kamu mau saya akan menangguhkan doaku dan itu lebih baik bagimu.” Lalu orang itu berkata; “Berdo’alah, ” lalu beliau menyuruh agar orang itu berwudlu dengan baik lalu shalat dua rekaat. Lalu berdo’a dengan do’a: “Ya Allah, sesungguhnya saya meminta kepada-Mu, saya menghadapkan kepada-Mu dengan nabi-Mu, Muhammad, nabi Yang Maha Penyayang, Wahai Muhammad, sesungguhnya saya bertawajjuh dengan perantaraanmu kepada Rabku pada kebutuhanku ini, maka putuskanlah kepadaku. Ya Allah, berilah beliau syafaat bagiku.”

        Diriwayatkan pula oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dan beliau mengatakan hasan shoheh, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan An-Nasa`i dalam kitab Sunan Al-kubro dan Oleh Ibnu Majah, al-Hakim dalam mustadraknya serta beliau mengatakan hadits ini adalah hadits soheh menurut syarat Bukhori dan Muslim tetapi keduanya tidak mengeluarkan dalam kitabnya.

  13. kalo saya atau guru anda membuat syair sholawat yang indah, mau nggak sampean mengamalkannya mas

    –> jangan berandai2.. bikinlah dulu mas..

  14. Aku ga kan mikir ini bid’ah ato bukan, yg jelas syairnya bagus dan menyentuh, ada doa.. ada harapan.. ada semangat… ini hasil karya perenungan yg mendalam… sebuah doa lirih dari seorang mukmin… buat saya pribadi : sangat menghormati hasil karya ini… :-)

  15. hehe…..ternyata kalau pertanyaannya susah buat ngejawabnya ga dimederasi yah….kasian deh aku…..

    –> kl komen anda terhapus .. coba lihat aturan komentar. Tidak ada ampun bagi yg melanggar.

  16. Begitu banyak busa dilaut namun tidak akan pernah sampai kedasar….begitu banyak orang yg hanya tau kulit tapi sudah berani bicara besar….إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓٮِٕڪَتَهُ ۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّۚ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا & Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi….

    • Ulama warisan nabi.
      Artinya juru bicara nabi atau menyampaikan syariat nabi.
      Bukan pembuat perkara baru yg menyerupai syariat.

      –> juga bukan pembuat istilah baru yang menyerupai syariat. hehe.

  17. kalo menurut saya berdasarkan sumber2 n pendapat di atas, yg bersholawat itu sama2 bener, entah itu sumbernya dari Qur’an, Hadist, para sahabat ato ulama, selama isinya tidak bertentangan dengan syariat, yg ga bener itu yg ngakunya Islam tapi sholawat aja ga pernah, cuman Islam KTP…
    gitu aja kok repot…
    Soalnya dari yang saya pelajari selama ini, selama itu hal yang bukan mengenai Aqidah, perbedaan itu tidak menjadi masalah, asal sumbernya jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan. ga cuman asal ngikut…
    bukankah demikian ?

  18. aduhhhh… pusiiinngggg… deh… buat yang anti tawassul gini deh…. Ada raja yang agunggggg banget, dan Dia menerima segala hajat setiap orang yang memintanya…. nah ada gembel yang suka berbuat jelek merasa malu untuk minta pada raja karena ia tahu betapa baikkkknya si Raja…. dia takut kejelekan sifatnya membuat hajatnya tertolak, nah kebetulan si gembel ini kenal penjaga rumah atau orang dekat si Raja…. lalu dia minta tolong pada orang itu untuk menyampaikan hajatnya…. berkah orang dekat itu si Raja memberi hajat si gembel…. dan sebetulnya si Raja pun akan memberi hajatnya si gembel tanpa perantara apapun, tapi karena berkah si Raja senang karena si Gembel kenal dengan kekasihny/orang terdekatnya… maka di tambahkanlah hajat si gembel… Nahhhh Alloh lebih dari yang saka kata sebagai si Raja… dan si gembel lebih adalah orang sholeh yang merasa malu akan sifat buruknya dihadapan Alloh S.W.T bukan berarti si Gembel mentiadakan kekuasaan dan kebaika Alloh S.W.T tapi sifat malu seorang hamba pada Robbnya yang Maha Agung. Pahammm gak???? terus lo mau bilang “jangan minta tolong ama yang udah mati dong”… nah kalau begitu jangan memberi salam juga bagi yang anda anggap sudah mati ketika sholat di tahiat awal dan akhir sebagaimana berbunyi assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warohmatullohi wa barokatuh…. saya katakan untuk anda bahwa orang sholeh syuhada itu hidup walau jasadnya telah terkubur ratusan tahun….. ia hidup dan mendapat rizky dari Alloh S.W.T dan mereka adalah penolong kita… Alloh S.W.T banyak memberi firman bahwa kita harus menjadikan Alloh S.W.T, Rosul dan para kekasihnya sebagai penolong terdekat…. dan tidak menambahkan dalam ayat itu yang “masih hidup”
    dan berkah sholawat badar indonesia lepas dari komunis

  19. Assalamuallaikum….wr.wb

    Alhamdulillah….hati ini selalu bergetar setiap mendengar suara adzan, alquran, dan shalawat……salah satunya shalawat badar ini…..subhanallah…

    Terima kasih.

  20. Ping-balik: Hello world ( Dunia al Badar )! « sangmuridsejati

  21. Saya kawatir beberapa abad kedepan kelakuan2 umat nabi nuh akan terulang pada umat nabi muhammad. SWA.
    Umat nabi nuh mula2nya tawasul sama orang soleh yg sudah meningal lama2 bikin patungnya beberapa abad kemudian patung disembah hancurdeh direndam semua.
    Kira2 menurut anda semua ada kemiripan enga ama salawat badriah yg baru seumur jagung udah bisa ngalahin power sholawat ibrohimiah yg keluar dari lisan nabi.
    Mas mas semua pilih mana sholawat ibrohimiah yg bersertifikat dari nabi paten dijamin kebenaranya sampe akhirat.
    Apa sholawat yg wali songo ajah gapernah baca apa itu sholawat badar.
    Apa susahnya sih yg darinabi ajah nga abis2 sampe kiamat.
    apa kurang sakti kurang linuih sehinga mengutamakan yg dari manusia masa kini bukan dari nabi.
    Gini ajamas biar ga rame bikin solawat sendiri2 ajah jadi ga rebutan lagi. Berani g bikin sendri .
    Hidup jangan ngawur basingbae

    –> njihh mas…

  22. Dari pada pusing mendingan ngarang solawat sendiri2 terus bikin solat baru solat sunat ketika habis makan belanja terima gaji sebagai bentuk rasa sukur.
    Kira2 berani nga trus adzan ditambah takbirnya jadi allohuakbar kabiro walhamdulillahikasiro. Apa dikurangi hayyaalalfalah nya dibuang berani enga
    seandainya ngarang sholawat diperbolehkan
    tentu sudah ngarang akumas apa modifikasi dikit solawat yg ada ditambah .
    Apa sekalian subuh jadi 4 rakaat biar nambah pahalanya.
    Apa skalian al quran di modip kaya kelakuan yahudi & nasrani.
    Ibadah Yg bener2 bersertifikat ajah kewalahan ngerjainya ini nambah2 apa pengen diagung2kan hebat gue bisa bikin ibadah baru.

    –> iyaa..iyaa.. pokok-nya sampeyan bener dehh

  23. maaf OOT numpang tanya, klo solat jumat pake bahasa indonesia itu bid’ah bukan ya..saya cari cari kok gak ada ya haditsnya..
    maturnuwun

    –> bid’ah mas. Shalat (tidak hanya shalat jum’at) telah ditetapkan syarat rukunnya.

  24. maksud saya ceramah khatib nya

    –> bid’ah mas. Tidak pernah dilakukan baginda Nabi saw, tidak pula para sahabat ra.

    Dalam madzab Syafi’i rukun khutbah tetap dalam bahasa Arab (silakan check). Di tanah air, khutbah/ceramah bahasa Indonesia dalam khutbah jum’at dilakukan namun rukun khutbah tetap dalam bahasa Arab.

  25. beberapa yg tidak dicontohkan nabi :
    * sholawat nariyah,badriyah
    *tawassul
    *tahlilan
    *solat jumat pake bahasa indonesia
    *baca quran pake mushaf
    *jidat item kebanyakan sujud
    *yasinan
    * upacara hari senen di sekolah setingkat sd-sma,kcuali yg gak pernah sekolah :D
    (masuk kategori musyrik karena ngehormat bendera)

    walah..orang indonesia sesat semua gak ada yg masuk ke sorga

    kata kepala sekolah saya ke guru smp “janganlah kamu uji anak anak smp itu pelajaran matematika untuk ujian mahasiswa, blom nyampe elmunya,blom tentu kamu juga lebih pinter dari yg ditanya” kata guru ngaji saya “jangan lah kamu uji orang orang awam dgn meminta dalil dalil nash dan hadits,karena akan membuat mereka bingung,belum tentu juga yg meminta apabila disodorkan hadits tidak kurang bingungnya seperti mereka”

    oh btw ttg bab syirik, sesungguhnya para penghuni sorga telah melakukan kesyirikan yg sangat besar karena telah bersujud kepada adam,hanya iblis lah yg tidak bersujud karena merasa lebih baik dan hanya kepada allah sajalah sujud seharusnya diperuntukkan

  26. uff….koq ke sana ya? sepintas iblis benar tidak sujud kepada Adam as. tetapi di tida patuh pada Allah swt, coz perintah Allaj swt agar Malaikat dan iblis untuk sujud pada Adam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s