Macam-Macam Shalat Sunnah
Ditulis oleh orgawam di/pada Mei 27, 2008
Macam-Macam Shalat Sunnah
Shalat sunnah itu ada dua macam:
1. Shalat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah
2. Shalat sunnah yang tidak disunnahkan dilakukan secara berjamaah
A. Shalat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah
1. Shalat Idul Fitri
2. Shalat Idul Adha
Ibnu Abbas Ra. berkata: “Aku shalat Idul Fithri bersama Rasulullah SAW dan Abu bakar dan Umar, beliau semua melakukan shalat tersebut sebelum khutbah.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Dilakukan 2 raka’at. Pada rakaat pertama melakukan tujuh kali takbir (di luar Takbiratul Ihram) sebelum membaca Al-Fatihah, dan pada raka’at kedua melakukan lima kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah.
3. Shalat Kusuf (Gerhana Matahari)
4. Shalat Khusuf (Gerhana Bulan)
Ibrahim (putra Nabi SAW) meninggal dunia bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari. Beliau SAW bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kebesaran) Allah SWT. Tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak juga karena kehidupan (kelahiran) seseorang. Apabila kalian mengalaminya (gerhana), maka shalatlah dan berdoalah, sehingga (gerhana itu) berakhir.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah ibnu Amr, bahwasannya Nabi SAW memerintahkan seseorang untuk memanggil dengan panggilan “ashsholaatu jaami’ah” (shalat didirikan dengan berjamaah). (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Dilakukan dua rakaat, membaca Al-Fatihah dan surah dua kali setiap raka’at, dan melakukan ruku’ dua kali setiap raka’at.
5. Shalat Istisqo’
Dari Ibnu Abbas Ra., bahwasannya Nabi SAW shalat istisqo’ dua raka’at, seperti shalat ‘Id. (HR Imam Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Tata caranya seperti shalat ‘Id.
6. Shalat Tarawih (sudah dibahas)
Dari ‘Aisyah Rda., bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang kemudian mengikuti shalat beliau. Nabi shalat (lagi di masjid) pada hari berikutnya, jamaah yang mengikuti beliau bertambah banyak. Pada malam ketiga dan keempat, mereka berkumpul (menunggu Rasulullah), namun Rasulullah SAW tidak keluar ke masjid. Pada paginya Nabi SAW bersabda: “Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan tadi malam, namun aku tidak keluar karena sesungguhnya aku khawatir bahwa hal (shalat) itu akan difardlukan kepada kalian.” ‘Aisyah Rda. berkata: “Semua itu terjadi dalam bulan Ramadhan.” (HR Imam Muslim)
Jumlah raka’atnya adalah 20 dengan 10 kali salam, sesuai dengan kesepakatan shahabat mengenai jumlah raka’at dan tata cara shalatnya.
7. Shalat Witir yang mengiringi Shalat Tarawih
Adapun shalat witir di luar Ramadhan, maka tidak disunnahkan berjamaah, karena Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya.
B. Shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah
1. Shalat Rawatib (Shalat yang mengiringi Shalat Fardlu), terdiri dari:
a. 2 raka’at sebelum shubuh
b. 4 raka’at sebelum Dzuhur (atau Jum’at)
c. 4 raka’at sesudah Dzuhur (atau Jum’at)
d. 4 raka’at sebelum Ashar
e. 2 raka’at sebelum Maghrib
f. 2 raka’at sesudah Maghrib
g. 2 raka’at sebelum Isya’
h. 2 raka’at sesudah Isya’
Dari 22 raka’at rawatib tersebut, terdapat 10 raka’at yang sunnah muakkad (karena tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW), berdasarkan hadits:
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW senantiasa menjaga (melakukan) 10 rakaat (rawatib), yaitu: 2 raka’at sebelum Dzuhur dan 2 raka’at sesudahnya, 2 raka’at sesudah Maghrib di rumah beliau, 2 raka’at sesudah Isya’ di rumah beliau, dan 2 raka’at sebelum Shubuh … (HR Imam Bukhari dan Muslim).
Adapun 12 rakaat yang lain termasuk sunnah ghairu muakkad, berdasarkan hadits-hadits berikut:
a. Dari Ummu Habibah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa senantiasa melakukan shalat 4 raka’at sebelum Dzuhur dan 4 raka’at sesudahnya, maka Allah mengharamkan baginya api neraka.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
2 raka’at sebelum Dzuhur dan 2 raka’at sesudahnya ada yang sunnah muakkad dan ada yang ghairu muakkad.
b. Nabi SAW bersabda:
“Allah mengasihi orang yang melakukan shalat empat raka’at sebelum (shalat) Ashar.” (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Huzaimah)
Shalat sunnah sebelum Ashar boleh juga dilakukan dua raka’at berdasarkan Sabda Nabi SAW:
“Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat shalat.” (HR Imam Bazzar)
c. Anas Ra berkata:
“Di masa Rasulullah SAW kami shalat dua raka’at setelah terbenamnya matahari sebelum shalat Maghrib…” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Nabi SAW bersabda:
“Shalatlah kalian sebelum (shalat) Maghrib, dua raka’at.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
d. Nabi SAW bersabda:
“Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat shalat.” (HR Imam Bazzar)
Hadits ini menjadi dasar untuk seluruh shalat sunnah 2 raka’at qobliyah (sebelum shalat fardhu), termasuk 2 raka’at sebelum Isya’.
2. Shalat Tahajjud (Qiyamullail)
Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 79, As-Sajdah ayat 16 – 17, dan Al-Furqaan ayat 64. Dilakukan dua raka’at-dua raka’at dengan jumlah raka’at tidak dibatasi.
Dari Ibnu Umar Ra. bahwa Nabi SAW bersabda: “Shalat malam itu dua (raka’at)-dua (raka’at), apabila kamu mengira bahwa waktu Shubuh sudah menjelang, maka witirlah dengan satu raka’at.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
3. Shalat Witir di luar Ramadhan
Minimal satu raka’at dan maksimal 11 raka’at. Lebih utama dilakukan 2 raka’at-2 raka’at, kemudian satu raka’at salam. Boleh juga dilakukan seluruh raka’at sekaligus dengan satu kali Tasyahud dan salam.
Dari A’isyah Rda. Bahwasannya Rasulullah SAW shalat malam 13 raka’at, dengan witir 5 raka’at di mana beliau Tasyahud (hanya) di raka’at terakhir dan salam. (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Beliau juga pernah berwitir dengan tujuh dan lima raka’at yang tidak dipisah dengan salam atau pun pembicaraan. (HR Imam Muslim)
4. Shalat Dhuha
Dari A’isyah Rda., adalah Nabi SAW shalat Dhuha 4 raka’at, tidak dipisah keduanya (tiap shalat 2 raka’at) dengan pembicaraan.” (HR Abu Ya’la)
Dari Abu Hurairah Ra., bahwasannya Nabi pernah Shalat Dhuha dengan dua raka’at (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Dari Ummu Hani, bahwasannya Nabi SAW masuk rumahnya (Ummu Hani) pada hari Fathu Makkah (dikuasainya Mekkah oleh Muslimin), beliau shalat 12 raka’at, maka kata Ummu Hani: “Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada shalat (12 raka’at) itu, namun Nabi tetap menyempurnakan ruku’ dan sujud beliau.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
5. Shalat Tahiyyatul Masjid
Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, janganlah duduk sehingga shalat dua raka’at.” (HR Jama’ah Ahli Hadits)
6. Shalat Taubat
Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang berdosa, kemudian ia bangun berwudhu kemudian shalat dua raka’at dan memohon ampunan kepada Allah, kecuali ia akan diampuni.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain)
7. Shalat Tasbih
Yaitu shalat empat raka’at di mana di setiap raka’atnya setelah membaca Al-Fatihah dan Surah, orang yang shalat membaca: Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar sebanyak 15 kali, dan setiap ruku’, i’tidal, dua sujud, duduk di antara dua sujud, duduk istirahah (sebelum berdiri dari raka’at pertama), dan duduk tasyahud (sebelum membaca bacaan tasyahud) membaca sebanyak 10 kali (Total 75 kali setiap raka’at). (HR Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah)
8. Shalat Istikharah
Dari Jabir bin Abdillah berkata: “Adalah Rasulullah SAW mengajari kami Istikharah dalam segala hal … beliau SAW bersabda: ‘apabila salah seorang dari kalian berhasrat pada sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di luar shalat fardhu …dan menyebutkan perlunya’ …” (HR Jama’ah Ahli Hadits kecuali Imam Muslim)
9. Shalat Hajat
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mempunyai hajat kepada Allah atau kepada seseorang, maka wudhulah dan baguskan wudhu tersebut, kemudian shalatlah dua raka’at, setelah itu pujilah Allah, bacalah shalawat, atas Nabi SAW, dan berdoa …” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
10. Shalat 2 rakaat di masjid sebelum pulang ke rumah
Dari Ka’ab bin Malik: “Adalah Nabi SAW apabila pulang dari bepergian, beliau menuju masjid dan shalat dulu dua raka’at.” (HR Bukhari dan Muslim)
11. Shalat Awwabiin
Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 25
Dari Ammar bin Yasir bahwa Nabi SAW bersabda: “Barang siapa shalat setelah shalat Maghrib enam raka’at, maka diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.” (HR Imam Thabrani)
Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah, dan Tirmidzi meriwayatkan hadits serupa dari Abu Hurairah Ra. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa shalat enam raka’at antara Maghrib dan Isya’, maka Allah mencatat baginya ibadah 12 raka’at.” (HR Imam Tirmidzi)
12. Shalat Sunnah Wudhu’
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berwudhu, ia menyempurnakan wudhunya, kemudian shalat dua raka’at, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)
13. Shalat Sunnah Mutlaq
Nabi SAW berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffari Ra.: “Shalat itu sebaik-baik perbuatan, baik sedikit maupun banyak.” (HR Ibnu Majah)
Dari Abdullah bin Umar Ra.: “Nabi SAW bertanya: ‘Apakah kamu berpuasa sepanjang siang?’ Aku menjawab: ’Ya.’ Beliau bertanya lagi: ‘Dan kamu shalat sepanjang malam?’ Aku menjawab: ’Ya.’ Beliau bersabda: ’Tetapi aku puasa dan berbuka, aku shalat tapi juga tidur, aku juga menikah, barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku’.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits terakhir ini menunjukkan bahwa shalat sunnah bisa dilakukan dengan jumlah raka’at yang tidak dibatasi, namun makruh dilakukan sepanjang malam, karena Nabi sendiri tidak menganjurkannnya demikian. Ada waktu untuk istirahat dan untuk istri/suami.
.
Wallahu a’lam
Sumber: http://groups.yahoo.com/


IANI RIDHA berkata
semoga kita bisa menjalani nya dan Allah akan mengampuni dosa 2 kita selalu
dimdim berkata
saya senang melakukan shalat awabin 6 rakaat setelah maghrib. tapi baru-baru ini saya disindir oleh imam masjid nganjuk (sewaktu saya mengunjungi kota tsb krn tugas 2 bulan) sewaktu pengajian subuh. Bahwa shalat tsb tidak ada dalilnya yang menguatkan, cenderung Bid’ah. dan amalannya tidak akan diterima Allah.
Saya hanya tersenyum dan tetap melanjutkan kebiasaan shalat awabin. apakah tindakan saya salah ? Apakah pendapat Imam Thabrani diatas termasuk kuat ? Terima kasih mohon pencerahan hidayah..
–> Salam kenal mas dim. Kebetulan saya ada catatan tentang shalat sunnah awabin. Ada di sini,
http://orgawam.wordpress.com/2008/03/13/sholat-sunnah-awabin/
Yang saya tahu, Hadits riwayat Ibnu Majah, dan Tirmidzy termasuk kitab hadits yang 6 (enam) yang diakui ke-sahihan-nya. Dua di antaranya, Bukhari dan Muslim, adalah kitab hadits tersahih yang diakui para ulama.
Kami ada catat sumber dari Majelis Rasulullah. Jika ada pertanyaan silakan langsung ke sana. Beliau lebih mumpuni.
Mengenai pertanyaan anda,”Apakah pendapat Imam Thabrani di atas termasuk kuat?”, ada 2 jawaban menurut saya. Pertama, justru pertanyaan dapat dibalik,”Apakah hadits riwayat Imam Thabrani ini ada yang melemahkan?”. Bahkan hadits tersebut malah diperkuat oleh riwayat2 yg lain. Yang kedua, seandainya pun tidak berderajat sahih, dalam madzab Syafi’i masih dapat dipakai sebagai landasan untuk amalan2 sunnah. Asalkan bukan hadits palsu.
Wallahu a’lam.
rekza berkata
Semoga Allah SWT slalu memberi petunjuk-Nya untk kita smua…….
A M I N
–> Amien amien amien
Sedang belajar sholat berkata
Ada buku yang membahas tentang sholat tarawih yang judulnya : ” Kesahihan Dalil Shalat Tarawih 20 rakaat ” karya : KH.M.Muslih,LC Terbitan Al-Ridha Toha Putra Group JL. Raya Mangkang km.16 Semarang
–> Thanks infonya ..
adiet berkata
saya baru selesai mengikuti i’tikaf dan alhamdulillah ternyata sholat sunah sangat penting untuk bekal kita diakhirat,,,karena nabi Muhammad S.A.W sedang menunggu umatnya diakhirat untuk diajak masuk surga,, smoga dengan menjalankan sholat wajib, sholat sunah dan adab-adab sunah (makan,masjid,ta’lim,dll) kita dapat menyertai nabi Muhammad S.A.W masuk kedalam surga Amiinnn..Subhanallah!
–> Amien amien amien
imam berkata
Semua sholat2 sunah yang tersebut di artikel di atas sudah banyak disebutkan di banyak kitab fiqh, semoga kita dapat menjalankannya.
Bisa saya tambahkan mengenai sholat2 sunah yang lain, untuk menambah hasanah keilmuan kita,antara lain :
1.Rak`ataal ihroom (Sholat sunah 2 rakaat Sebelum berihroom di Makah.
2.Rok`ataani ba`dath thowaf ( Sholat sunah 2 rakaat setelah towaf)
3.Ro`ataani `aqobaz zawal ( 2 rokaat setelah waktu zawal )
4.Ro`ataani `indar ruju` min safarih ( 2 rakaat ketika pulang dari bepergian, kerjakan di masjid lebih utama sebelum masuk rumah )
5.Rok`ataani `indal khuruujih min manzilih lisafar ( 2 rakaat ketika akan keluar dari rumah untuk bepergian )
6.Rok`ataani qobel qotlih (2 rokaat sebelum berperang, jika mungkin )
7.Rok`ataani ba`da khuruuji minl khammaam ( 2 rokaat setelah keluar dari kamar mandi )
8.Roka`ataani `inda khuruujih min masjidin nabiyyi shol`am ( 2 rokaat ketika akan keluar dari masjid nabi/nabawi)
9.Rok`ataani `inda `aqd nikah ( 2 rokaat ketika akan akad nikah )
10.Rok`ataani fil ardi lam ya`budillaha fiihaa ( 2 rokaat di bumi yang tidak ada orang (jarang orang) yang beribadah kepada Allah)
Untuk admin, coba saudara cek hadits ke-2 yang menerangkan tentang sholat Al-Awwaabiin, barangkali salah tulis maknanya di kata – Maka Allah mencatat baginya ibadah 12 rokaat (HR.Tirmidzi), Kalau disandingkan dengan hadits ke-1 (diatasnya) kok terasa jauh imbalan pahalanya. Hadits pertama,mempunyai maksud,mengerjakan sholat awwabiin 12 rokaat, maka akan diampuni dosa2nya walaupun sebanyak buih di lautan.
Sedangkan di hadits ke-2,mempunyai maksud, jika mengerjakan sholat awwaabiin 6 rokaat maka berpahala 12 rokaat.
Hadits ke-1 dan ke-2, sama mengerjakan sholat awwaabiin 12 rokaat, kok pahalanya tidak berimbang.
dikitab saya hadits lengkapnya berbunyi,Kata Nabi SAW :
من صلي ست ركعات بين المغرب و العشاء كتب الله له عبادة اثنتي عشرة سنة . رواه الترمذى
Artinya,
,” Barangsiapa sholat 6 rokaat antara sholat Maghrib dan Isya (Sholat Awwaabiin ) maka Allah akan mencatat baginya pahala ibadah 12 tahun. HR. Imam Turmudzi.
Di akhir hadits tertulis sanah ( سنة) bukan roka`aatin ( ركعات
imam berkata
Jadi tolong dicek diredaksi hadits yang berbahasa Arab.
Fungsi sholat sunah itu antara lain -litakmiilil farooidi bal waliyaquuma fil aakhiroh maqooma maa taroka minhaa -Untuk menyempurnakan sholat2 wajib bahkan di akherat dapat menggantikan kedudukan dari sholat wajib yang tertinggal karena udzur.- walaa yaquumu maqoomal fardi sae`un fid dunyaa – tetapi di dunia ,dia (sholat sunah)tidak dapat menggantikan kedudukan sholat wajib.Jadi kalau di dunia meninggalkan sholat wajib tetap berdosa.Di dunia sholat wajib tidak dapat digantikan/diqodlo oleh sholat sunah.
Fain kaana `alahi fardun qooma kullu sab`iin roka`ah minan nafli maqaama birok`atil fardi fi aakhiroti – di akherat, apabila seseorang mempunyai tanggungan/hutang sholat wajib maka 70 rokaat sholat sunah dapat menutupi satu ( 1 ) rokaat sholat wajib.
( bisa saudara baca di kitab irsyaadul `ibaad ilaa sabiilir rosyaad bab fadlush sholaatil maktuubah dan kitab tanwiirul quluub bab/ fasal fi sholaatin nafli )
Oleh karenanya perbanyaklah sholat sunah di samping kewajiban sholat wajib. Semoga kita mendapat taufik dan hidayahnya.Amiin.
imam berkata
maaf ada kesalahan tulis pada ulasan saya yang berbunyi,
Sama-sama mengerjakan sholat awwabiin 12 rokaat, maksudnya 6 rakaat (mohon maaf salah ketik )
Jadi tegasnya sholat awwabiin yang saya maksud adalah 6 rokaat bukan 12 rokaat.Sukron lakum.
Deni berkata
Untuk shalat tahajjud, bolehkan dilakukan secara berjamaah?
Terima kasih sebelumnya
–> Kebetulan saya ada temukan masalah anda dgn jawaban dari habib munzir di sini,
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=15099#15099
mengenai shalat tahajjud berjamaah adalah ikhtilaf ulama, namun pendapat mereka disatukan dalam satu kalimat saja : “Maa Yusann” (Tidak disunnahkan), karena Rasul saw pernah melakukannya lalu melarangnya, Rasul saw shalat di masjid dan diikuti para sahabat, lalu kemudian Rasul saw tak keluar hingga para sahabat ramai menanti dan memanggil beliau saw, maka beliau saw keluar dengan marah, seraya bersabda : shalatlah dirumah kalian masing masing, sungguh sebaik baik shalat seseorang adalah dirumahnya selain shalat fardhu” (Shahih Bukhari Bab Adab)
namun sebagian ulama mengatakan boleh boleh saja karena tak ada larangannya, namun sebagian lain mengatakan boleh namun tidak mendapat pahala jamaah, namun adapula ulama yg mengatakan boleh dan mendapat pahala jamaah,sebagian lain hanya mengatakan boleh dan berpahala yaitu yg hanya dikerjakan di bulan ramadhan saja yaitu tarawih, karena ada contoh dari Khalifah Umar ra dan disepakati Jumhur sahabat radhiyallahu’anhum yg ada saat itu, kesemua pendapat ini adalah pada madzhab syafii.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,
Wallahu a’lam.
Semoga manfaat.
Deni berkata
Terima kasih atas informasinya…
Saya masih belum faham maksud ‘khilaf di antara para ulama’. Maksudnya, khilaf di antara ulama syafi’iyah? Atau, sunnah menurut ulama shafi’iyah dan tidak sunnah menurut ulama yang lain?
Saya pernah ikut tahajjud bersama karena tertarik dengan suasana syahdu shalat dan juga oleh baiknya bacaan imam yang memimpinnya.
(Ketika itu yang mengimami seorang ustadz bermadzhab syafi’i).
Nuhun
–> menurut persepsi saya .. hal ini telah dijelaskan dikalimat terakhir,”…….kesemua pendapat ini adalah pada madzhab syafii.”
Wallahu a’lam.
Anton Budiwan berkata
Apakah ada buku tuntunan ibadah yang membahas lengkap ibadah seperti Shalat & Puasa? Mohon bantuan segera karena baru menekuni ibadah.
–> Fathul Mu’in karya Zainudin al Malibari, sebuah kitab fiqih dalam madzab Syafii. Sekarang ada terjemahnya. Ada juga terjemah Fathul Qarib.
Karscirebon berkata
Aslm. Mohon saya yang masih muda ini dicarikan dallil atau hujah yang menyatakan bila berada di masjidil haram kita boleh sholat mutlaq sebanyak banyaknya seperti listrik yang “loose watt”, tanpa batasan … Waslm.
madd berkata
terima kasih atas tambahan ilmunya…..
Avonthea berkata
Terima kasih…Dgn forum ni…Pengthuan saya tntg ISLAM Bertmbh…
Alhamdulillah…
allysa berkata
Subhanallah, thx yah infonya.
bella berkata
Alhamdullilah saya bisa
Andi Rosihan Hakim berkata
Alhamdulillah…ilmu ini smoga barokah dunia akhirat…..amin…..
Wambang berkata
Asalamualaikum.
Ustadz Yth,
Dalam melaksanakan sholat sunnah malam, saya melaksanakan sbb:
1. Sholat Tahajud (2 rakaat)
2. Sholat Taubat (2 rakaat)
3. Sholat Istikharoh (2 rakaat)
4. Sholat Hajad (2 rakaat)
5. Sholat Witir (3 rakaat)
Selama ini saya belajar shollat sunnah secara otodidak, jadi pelaksanaan sholat malam tersebut tanpa ada bimbingan dari guru/kiai, sehingga tidak ada yang mengijazahi.
Mohon penjelasan:
1. apakah sholat-sholat diatas, boleh dilaksanakan dengan urutan seperti diatas itu?
2. yang lebih afdol, mengingat sholat 2,3&4 diatas bisa dilaksanakan disiang hari, apakah sebaiknya sholat 2,3&4 tidak usah dilaksanakan diwaktu malam, namun diganti semuanya dengan sholat tahajud saja (sholat tahajud 8 rakaat)?
3. Sehabis sholat witir, saya biasanya membaca wirid :
– Istighfar
– Sholawat Nariyah
– Al Fatekah
– Ayat Qursy
– 2 ayat terkhir Surat Al Baraah
– Al Ikhlas
– Al Falaq
– An Naas
– Do’a Nurun Nubbuwah
– Do’a (hajad)
4. Mohon penjelasan, apakah wirid diatas sudah baik? bila belum saya mohon pencerahan Ustadz.
5. Mohon penjelasan, berapa Bilangan “Jumlah Wirid” yang baik untuk sholat malam :
– Istighfar (…. kali)
– Sholawat Nariyah (…. kali)
– Al Fatekah (…. kali)
– Ayat Qursy (…. kali)
– 2 ayat terkhir Surat Al Baraah (…. kali)
– Al Ikhlas (…. kali)
– Al Falaq (…. kali)
– An Naas (…. kali)
– Do’a Nurun Nubbuwah (…. kali)
Sebaiknya masing-masing dibaca berapa kali?
Mohon petunjuk Ustadz.
Saya berharap agar petunjuk Ustadz tersebut mohon dikirim juga ke alamat email saya.
Demikian pertanyaan-pertanyaan ini saya sampaikan.
Atas pencerahan Ustadz, saya mengucapkan terima kasih.
Bekasi, 12 Juni 2009.
Wassalam,
WAMBANG
–> Wa’alaikum salam wrwb. Salam kenal .. saya pun masih belajar, dan jauh dari kategori ustadz. Mohon maaf.
Semua shalat2 di atas ada tuntunannya. Mengenai urutan shalat ,.. hal itu tak harus “pokoknya” begini begitu, hanya shalat witir adalah yg terakhir. Demikian yang kami ketahui.
Ada waktu-waktu mustajab .. antara lain adalah sepertiga malam terakhir. Sangat baik diisi dengan shalat tahajud ataupun shalat lain.
Bacaan wirid/dzikir/shalawat ada banyak hujah/dalil yang menyertainya dari baginda Rasul saw. Monggo silakan diteruskan. Dzikir sekian kali dan sekian kali, insya Allah ada tuntunannya. Jika ingin mengetahui ada terjemah kitab al adzkar karya imam nawawi, atau kitab2 yang lain. Monggo kalau ingin mendalami.
Saya ada referensi live jika ingin bertanya lebih lanjut (http://majelisrasulullah.org) Silakan bertanya di sana.. semoga mendapat jawaban yang lebih memuaskan.
Mohon maaf kalau ada kekurangan dan kesalahan. Semoga manfaat.
Wambang berkata
saya mengucapkan terima kasih atas tanggapan dan referensinya.
Salam,
WAMBANG
Herdi berkata
Alhamdulillah