Sejarah Maulid Nabi

Ada bermacam-macam versi kapan peringatan maulid pertama kali. Namun fakta yang sangat kuat adalah Salahudin al Ayyubi, dalam rangka menyemangati umat islam untuk perang salib, beliau-lah yang sangat menggalakkan peringatan Maulid ini. Beliau-lah yang mempopulerkannya. Entah siapapun yang memulai.

Sumber asli: http://sayyidulayyaam.blogspot.com/

Saya cut di bagian bawah karena di luar konteks sejarah Maulid.

Maulid Nabi dan Semangat Perjuangan

Oleh : Med Hatta

SEBAGAI pembuka wacana, ada baiknya kita kutip amanat Presiden Soekarno pada peringatan maulid Nabi Muhammad saw. di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, tanggal 6 Agustus 1963 (Penerbitan Sekretariat Negara No. 618/1963).

“Sore-sore saya dibawa oleh Presiden Suriah Sukri al-Kuwatly ke makam Salahuddin. Lantas Presiden Kuwatly bertanya kepada saya, apakah Presiden Soekarno mengetahui siapa yang dimakamkan di sini? Saya berkata, saya tahu, of course I know. This is Salahuddin, the great warrior, kataku. Presiden Kuwatly berkata, tetapi ada satu jasa Salahuddin yang barangkali Presiden Soekarno belum mengetahui. What is that, saya bertanya. Jawab Presiden Kuwatly, Salahuddin inilah yang mengobarkan api semangat Islam, api perjuangan Islam dengan cara memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun diadakan perayaan maulid nabi.

Jadi sejak Salahuddin tiap-tiap tahun umat Islam memperingati lahirnya, juga wafatnya Nabi Muhammad saw. peringatan maulid nabi ini oleh Salahuddin dipergunakan untuk membangkitkan semangat Islam, sebab pada waktu itu umat Islam sedang berjuang mempertahankan diri terhadap serangan-serangan dari luar pada Perang Salib. Sebagai strateeg besar, saudara-saudara, bahkan sebagai massapsycholoog besar, artinya orang yang mengetahui ilmu jiwa dari rakyat jelata, Salahuddin memerintahkan tiap tahun peringatilah maulid nabi.

Sebagaimana dijelaskan dalam amanat Bung Karno di atas, peringatan maulid nabi untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriah) dari Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama “Saladin”. Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Pada masa itu dunia Islam sedang mendapat serangan-serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja! Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual.

Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw., 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal. Sebenarnya hal itu bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjadi atabeg (semacam bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan maulid nabi, cuma perayaannya bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa.

Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Bagdad, ternyata khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji*). Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid nabi.

Ternyata peringatan maulid nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.

Jika kita membuka lembaran sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa, perayaan maulid nabi dimanfaatkan oleh para Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan maulid nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.

Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga, Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan maulid nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, “Dia mengampuni”).

Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan maulid nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata gerebeg artinya “mengikuti”, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan maulid nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idulfitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Iduladha).

…………………………………..

*) Ada yang aneh di sini. Syaikh Ja’far Al-Barzanji hidup 1126-1184H jauh setelah era Salahudin Al Ayubi (532-589H). Tidak mungkin Syaikh Al Barzanji memenangkan lomba karya tulis di era Salahudin.

Yang benar adalah, karya al-Barzanji merupakan salah satu karya besar riwayat Rasulullah saw (Maulid) yang pernah ada, dan digubah bukan di era Salahudin, namun jauh sesudahnya.

.

.

Tulisan di bawah adalah tentang kapan dan siapa yang memulai Maulid. Dari http://sidogiri.com

Saya cut sebagian karena bukan bagian dari sejarah Maulid. Dalil-dalil bolehnya Maulid kami sampaikan dalam tulisan lain.

A. Fauzan Amin (fafa@sidogiri.net)

“Andai aku punya emas sebesar gunung Uhud, aku akan lebih suka menginfakkannya untuk merayakan Maulid Nabi” (Hasan al-Bashri)

Perdebatan mengenai tradisi Maulid telah mengemuka sejak abad kedelapan Hijriyah. Perdebatan ini bisa dibaca dari banyaknya karya para intelek kontemporer (ulama khalaf) yang berbicara mengenai tradisi ini. Diantaranya, al-Lafzh al-Ra’iq fi Maulid Khair al-Khala’iq, karya al-hafizh Muhammad bin Abi Bakrar bin Abdullah al-Qisi al-Dimasyqi al-Syafi’i (w. 842H). Al-Mauridu al-Hani fi al-Maulid al-Sani, karya Al-hafizh Abdurrahim bin al-Husain bin Abdurrahman al-Mishri, yang dikenal dengan al-hafizh al’Iraqi (w. 808 H). Al-Maurid al-Rawi fi al-Maulid al-Nabawi, karya Al-hafizh al-mujtahid Mulla ‘Ali al-Qari bin Sulthan bin Muhammad al-Harawi (w. 1014 H) dan masih banyak karya lain yang tidak perlu disebut.

Bila dirunut sejarahnya, ada dua pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi Maulid. Pertama, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriyah. Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Sakhawi (w. 902 H), walau dia tidak mencantumkan dengan jelas tentang siapa yang memprakarsai peringatan Maulid saat itu.

Kedua, Maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H yang mengadakan acara Maulid besar-besaran. Saat itu, Mudhaffar sedang berpikir tentang cara bagaimana negerinya bisa selamat dari kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227 M.) dari Mongol. Jengiz Khan, seorang raja Mongol yang naik tahta ketika berusia 13 tahun dan mampu mengadakan konfederasi tokoh-tokoh agama, berambisi menguasai dunia. Untuk menghadapi ancaman Jengiz Khan itu Mudhaffar mengadakan acara Maulid. Tidak tanggung-tanggung, dia mengadakan acara Maulid selama 7 hari 7 malam. Dalam acara Maulid itu ada 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas. Kemudian, dalam acara itu Mudhaffar mengundang para orator untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin. Hasilnya, semangat heroisme Muslimin saat itu dapat dikobarkan dan siap menjadi benteng kokoh Islam.

Sejatinya, dua pendapat di atas sama-sama benar. Alasannya, karena peringatan Maulid tidak pernah ada sebelum abad ketiga dan diadakan pertama kali oleh Mu’iz li Dinillah, dan ini hanya bertempat di Kairo dan masih belum tercium ke lain daerah. Sedangkan Mudhaffar adalah orang pertama yang memperingati Maulid di Irbil, yang dari Mudhaffar inilah peringatan Maulid mendunia.

…………………………

About these ads

78 thoughts on “Sejarah Maulid Nabi

  1. tarikh yang belum aku temukan di bangku sekolah, namun melalui tulisan mushonnif ini benar-benar berguna bagi dan insya Allah seluruh umat islam semuanya sampai akhir zaman

  2. Ping-balik: harifzah.com » Blog Archive » Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

  3. maksih byk tas rubbrik ini sehingga diantara manusia yg tidak tau sejarah bs mengetahuinya….
    mudah-mudah ini mua bs jd faedah bagi sya khususnya dan pembaca rubrik ini umumnya…..
    bagus buaget

  4. sulton salahudin yang justru membongkar dan mentiadakan maulid itu bukan mendukung, sebelum perang salib pasukannya memerangi kaum syia rofidho dimesir karna mereka sangat membantu kaum musrikin,katanya bagaimana kita berperang dengan akidah yg sama dgn kaum musyrik

    –> sebuah pendapat yang aneh.

    Walau mungkin bukan yang pertama, tetapi sudah masyhur tercatat dalam sejarah bahwa Sultan Salahuddin Al Ayubi yang mempopulerkan Maulid Nabi saw untuk memicu semangat umat islam dalam menghadapi perang salib.

    Maaf .. pelajarilah kembali sejarah Sultan Salahudin al ayubi dari berbagai sumber.

  5. AssWw. Yang perlu diluruskan sekarang ini adalah pelaksanaan Maulid Rasulullah SAW di Indonesia. Kita lihat bgm perayaan maulid di keraton-keraton jawa yang diisi dengan memandikan jimat-jimat, terus dikirab, dlsb. Sampai-sampai “kotoran/tai kerbau” diyakini membawa berkah karena berasal dari keturunan kerbau keramat. Dan keyakinan tsb meluas kepada praktik-praktik kehidupan sehari-hari, dalam hal berziarah, pengobatan, ibadah, dll.

    –> Bung .. ini berarti anda setuju kan dengan peringatan Maulid Nabi saw.

    Sedangkan yang anda sebut di atas itu .. apakah anda yakin itu peringatan maulid Nabi saw. Ataukah itu peringatan yang lain?

    • Itu Tulisan versi Wahabi Penguasa Kerajaan saudi Arabia, dulu namanya bukan Saudi Arabia tetapi HIJAZ negara Rasulullah SAW!!! Ibnu Saud seenaknya aja ganti2 nama, mana pake nama keluarga dia lagi…NARSIS!!!….. ulama2 yg disebut disitu kagak ada yg ana kenal dalam dunia Ahlus Sunnah wal jamaah. Juga disitu mrk menyebutnya Ahlus Sunnah… bukan… Ahlus sunnah wal jamaah…. jadi nggak nyambung. Coba ente baca tulisan ulama2 ASWAJA pasti berbeda jauh…. Jauh panggang dari api… seperti tulisan Imam Suyuthi, Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Zaini Ahmad Dahlan, Syaikh Bakri Syatta, Syaikh Abu Hamid Isfarani dll, smg dapat berjiwa besar

  6. mau nanya gus, ini Hasan alBasri zaman salaf atau khalaf? kalau yg dimaksud Hasan alBasri periode Umawi berarti sudah pernah dilakukan pada zaman itu dan yang diekspos hanya yang besar-besar doank

    –> Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:-
    Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”.
    Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.

    Ada catatan di sini. Lihat juga di sini. Tengok juga di sini.

    wallahu a’lam.

  7. dari apa yang tertulis diatas bisa diambil kesimpulan tradisi maulid adalah kegiatan syiar islam yang memiliki dampak positif bagi persatuan umat,,,dan hal ini bisa dijadikan penuolakkan bagi orang-orang yang mengkategorikan maulid nabi sebagai bid’ah,,,,

  8. kami berterrima kasih banyak, karena sudah tahu sejarahnya Maulid,bagi kami ini juga baik karena maulid Nabi ini untuk syiar islam dan meramaikan masjid dan jg supaya orang islam bersholawat dan mencintai Nabinya lewat Sholawat berjanji. sekali lagi makasih.

  9. maaf..
    sharusnya, ente pelajari kitab-kitab ulama ttg hal ini dr brbagai sisi..
    jgn hny mlihat yg mndukung hawa nafsumu, akan tetapi, carilah kbenarn..
    bhw smw itu adl hal yg dituduhkan thd sholahuddin al-ayubi..
    bskh ente kabarkn dr mn ente dpt prkataan hasan al-bashri..
    lhtlh biografi ny wahai org yg smga engkau sllu drahmati Allah..
    tdk takutkh qta brbicara ttg apa yg qta tdk mmpunyai ilmu thd ny??
    tanggal ny aj dprselisihkn, bgmn mgkn sorg tabi’in yg jarakny hidup ny dg Rasulullah bbrp puluh tahun aja bs mmpringati ny??
    klo mw dblg muslim, qta mesti mneladani Rasulullah, dab Beliau tdk prnh mrayakn hari raya klahirn ny sndri..
    brpikirlh wahai saudara ku..

    abu ahnaf,,

    –> tak ada yang menganggap maulid itu sebagai hari raya. Anda ini aneh .. anda sendiri yang mengatakan sebagai hari raya, kenapa pula menembakkannya ke kami. Mengenai Hasan al Bashri .. lihat #7.

    eh..eh .. maaf.. tulisan anda yg penuh singkatan itu.. apakah itu teladan dari Rasulullah saw? Kami pusing dibuatnya..

    • ga usah pusing mas lihat hadits tinggalkan logika

      “Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang menjadi ajang permainan kalian pada masa jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fithri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Shahih)

      Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, sementara masyarakat Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bersenang-senang atau bermain-main di hari tersebut. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab: “Kami bermain-main di dua hari ini di masa jahiliyyah”, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengganti dua hari raya (mereka) dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu hari raya ‘idul adh-ha dan hari raya ‘idul fithri.” (HR. Abu Dawud)

      –> kagak nyambung mbak… kami pusing membaca tulisan yg penuh singkatan itu. Apa menulis dengan cara seperti itu adalah teladan dari Rasul saw, itu pertanyaan kami.

    • Allahhu Akbar.
      Mari bersama-sama menyemarakkan maulid..

      Jadi teringan Habib Syeikh bin Abdul Qodir dari Solo..
      Salah satu cucu Rosululloh yang selalu melantunkan sholawat dan maulid Simtudduror…
      memang cucu Rosululloh yang cinta kepada Rosululloh..

  10. kami pusing membaca tulisan yg penuh singkatan,jadi saya yang malah binggung maksude singkatan apa?

    ya sudahlah yang penting bagi saya sampaikan yang pro,lagi pula aku kwatir niat ini bukan mencari wajah Alloh namun malah niat karena yang lain,sekali lagi marilah niatkan iklas,bukan selainya

  11. anda telah berdusta tentang maulid nabi. tidak ada maulid nabi dalam islam. tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa salam dan para sahabatnya yang mulia, juga tidak di zaman 4 imam mazhab, bahkan sholahuddin al-ayyubipu tidak pernah menjalankan atau mnganjurkan hal itu.
    karena perbuatan itu adalh bid’ah yang menyesatkan. dan penuh dengan kesyirika kepada Allah .
    jika anda seorang penuntut ilmu yang tulen dan benar-benar mengharap ridho Allah maka bukan dengan berdusta tapi dengan berjalan diatas syariatnya dengan tuntunan Rasulullah bukan dengan bid’ah.
    sebagai literarut buat anda baca:bid’ah-bid’ah dalam setahun,Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha

    juga literatur dibawah ini.

    1. Nashir ibn Yahya al-Hanini, dalam al-Maulid an-Nabawi, Tarikhuh, Hukmuhuh, Atsaruh)
    http://www.saaid.net/mktarat/Maoled/1.htm
    http://www.alsoufia.com/mawled/tareekh/index_tareekhl_mawleed.html

    2. Athiyah Shaqr, Fatawa al-Azhar (Maktabah Syaamilah 2)

    3. Jalaluddin as-Suyuthi, Husnul Maqshad fi Amalil Maulid, dalam kitab al-Hawi lilfatwa, Darul Fikr,1414,1/221-231.

    4. Samir ibn Khalil al-Maliki, Mukhtasar fi Hukmil A’yad al-Muhdatsah, http://www.alsoufia.com/mawled/tareekh/index_tareekhl_awal.html)

    5. http://www.alasr.ws/index.cfm?method=home.con&contentID=8819

    6. Shalih Suhaimi, al-Bida’ wa atsaruha fi inhiraf at-Tashawwur al-Islami, http://www.iu.edu.sa/Magazine/50-51/7.doc

    7. bulletin Qiblati (Vol.1 No. 3 Th 1430 H Maret 2009)

    –> Semua tulisan kami insya Allah mempunyai referensi yang kuat. Tunjukkan dan buktikan di mana letak kedustaannya.

    Maulid Nabi saw adalah kenyataan sejarah. Kitab maulid ditulis oleh banyak ulama. Tidak ada di zaman Nabi (tak dicontohkan) .. memang. Menulis kitab maulid tak dicontohkan sebagaimana menulis kitab hadits. Jika membaca maulid itu sesat, maka anda pun sesat membaca kitab hadits.

    Tahukah anda .. imam as Suyuthi (no.3 referensi anda) juga mengarang kitab tentang maulid ini. Lihat ini dan ini.

    Dan jika anda membaca sejarah, Salahuddin al Ayubi justru menggalakkan maulid untuk membangkitkan semangat umat islam dalam menghadapi perang salib. Sungguh aneh pendapat anda yang mengatakan beliau justru meniadakan maulid.

    wallahu a’lam.

    • Chusnul Yakin, seyakin apa anda akan keaslian kitab2 yang anda sebutkan itu..
      ada banyak kitab mazhab empat yg dipalsu Wahabi, yg asli bilang halal tapi versi palsunya bilang haram,
      jangan2 kitab yg anda pake itu juga begitu

    • yang jelas saja, perayaan nabi adanya ya setelah nabi wafat.. ketika Nabi masih hidup yang wajar kalau tidak ada..
      kareba para sahabat bisa melihat langsung nabi.. sekarang kita tidak bisa melihat nabi, jadi kita mengetahuinya lewat maulid..

      Allahu Akbar..

      bang chusnul yakin ikutan maulid yuk, dijamin kita makin cinta pada Rosul.. nih para habaib (cucu nabi) banyak yang hadir, memimpin langsung..

      bang chusnul yakin nggak mau gabung ma habaib yah? ikutan maulid, keturunan bani israel kali nggak mau ikutan cucu nabi (habaib yang menyemarakkan maulid)..

    • Orang alim dan saleh terlihat dari cara-cara berbicara dan mengemukakan pendapat. Kerap kali satu kalimat yang diucapkan mencerminkan keseluruhan ahlaq yang bersangkutan. Pak Chusnul Yakin begitu percaya bahwa hanya dia dan kelompoknya yang berada dijalan Allah dan RasulNya, sementara yang lain adalah golongan sesat dan masuk neraka. Sungguh pandangan yang bersangkutan hanya memancarkan nilai-nilai kibir, ananiyah dan ajalah. Hanya berbekal ilmu dan kepandaian tidak akan mengantarkan orang selamat dihadapan Allah…..

  12. Kalau mau konsekwen mengikuti apa yang di bawa Rosulullah mengenai syari’at,ikutilah hanya apa apa yang diperintahkan dan dicontohkan olehnya(Rasulullah),jangan malah meributkan yang nyata nyata tidak disyariatkan olehnya(Rasululloh),harus anda ketahui bahwa dalam ibadah harus sesuai dengan apa yang di perintahkan Allah dan Rasulnya,

    –> Benar kata anda .. namun dalam bermaulid ini, bagian manakah yang tidak sesuai dengan syariat? Kalau jawaban anda hanya karena tak diperintahkan .. maaf jawaban itu lemah sekali. Logika anda sungguh sempit. maaf.

    • Sebenarnya Rosululloh SAW memperingati hari kelahiran beliau sendiri (maulidan)

      Dalam kitab Riyadush sholihin hal 333 cetakan Berut, bab في استحباب صوم الإثنين والخميس disebutkan :

      No hadits 1253

      عن ابي قتادة رضي الله عنه أن رسور الله صلي الله علي وسلم سئل عن صوم الإثنين فقال ذلك يوم ولدت فيه ويوم بعثت أو أنزل علي فيه .. رواه مسلم

      “Dari Abi Qotadah ra bahwa rosululloh ditanya tentang puasa hati senen, maka Rosul menjawab: PADA HARI ITU AKU DILAHIRKAN, dan hari aku diutus atau diturunkannya (Al quran ) padaku .” Hr Muslim

      Pemahamannya adalah Rosul melakukan puasa senin karena antara lain alasannya,pada hari itu beliau dilahirkan. Sehingga dengan kenikmatan dilahirkan, beliau memperingatinya dengan ibadah puasa senen.
      Ini menunjukkan isyarat bahwa rosulpun memperingati maulidan atas kelahiran dirinya sendiri sebagai bentuk syukur kepada Alloh taala.

      Kemudian yang menjadi soal pernyataan golongan yang anti maulidan adalah pada pelaksanaanya yang tiap tahun.

      Mari kita buka Al quran yang berbunyi :

      ومآ ءاتكم الرسول فخذوه ومانهكم عنه فانتهوا

      “Dan apa2 yang rosul telah datangkan kepadamu (berupa perintah) maka ambillah dan apa2 yang rosul larang darinya maka jauhilah.

      Disini mengandung pemahaman bahwa perintah dan larangan itu jelas.

      Sekarang apakah perintah (walaupun berupa isyarat/implisit) tetang maulidan itu ada ? maka jawabnya ada (seperti keterangan di atas).
      lalu apakah peringatan maulid nabi tiap tahun sekali ada perintahnya? maka jawabanya tidak ada, yang ada tiap hari senen dengan berpuasa.
      Nah apakah peringatan maulid Nabi tiap tahun ada larangannya? maka jawabannya tidak ada larangannya. karena tidak ada larangannya maka boleh saja kita memperingatinya tiap tahun.
      Ingat perintah membutuhkan dalil dan laranganpun membutuhkan dalil ,sesuai bunyi ayat di atas.

      Persoalan yang lain bahwa rosul memperingati hari kelahirannya diisi dengan ibadah puasa tapi peringatan yang sekarang ada berupa yang lainnya. Maka jawabannya adalah puasa adalah ibadah,membaca Al quran adalah ibadah, sholawat adalah ibadah, ceramah ilmu adalah ibadah, shodaqoh memberi makanan pada acara maulid adalah ibadah jadi hematnya boleh2 saja mengisi maulid Nabi dengan ibadah lain, selain puasa.

      Jadi jelaslah bahwa peringatan Maulid Nabi mempunyai asal dalam agama, karena mempunyai asal maka itu bukan bid`ah, atau kalau tetap memasukannya dalam kategori bid`ah maka termasuk bid`ah khasanah.
      Ataukah akan ada yang menolak juga bid`ah khasanah dengan dalil كل بدعة ضلالة (semua bid`ah adalah sesat),apakah yang berpegang seperti itu memaknai KULLU adalah SEMUA ? coba anda tafsirkan hadits itu dengan Al quran sebagai rujukan utama sebalum hadits.

      Al Quran surat Al Anbiya ayat 30 :

      وجعلنا من الماء كل شيئ حي أفلا يؤمنون

      ” Dan dari air kami jadikan segala (KULLU) sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman.

      Walaupun menggunakan kata KULLU tapi tidak berarti semua mahluk diciptakan dari air. seperti jin dan malaikat, lihat QS Arrahman 15.

      Atau hadits Nabi :

      عن الأشعري قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم كل عين زانية

      “Dari Al Asyari berkata, bersabda Rosullulloh SAW Setiap (KULLU) mata berzina. (musnad Imam Ahmad).

      Sekalipun menggunakan kata KULLU namun bukan bermakna keseluruhan/semua, tapi bermakna sebagian yaitu mata yang melihat ajnabiyah.

      semoga bermanfaat. Amin…

      • Saudara Uut coba saudara ungkapkan secara ringkas disini atau di web ini tentang masalah peringatan maulid SAW yang menjadikan keberatan saudara atau kelompok saudara agar kami yang mendukung peringatan maulid Nabi dapat membahasnya, menurut saya itu lebih baik dari pada kami disuruh membuka web yang mendukung saudara dan agar kami juga tahu pendapat saudara yang disandarkan kepada mereka. Trimakasih.

    • yang jelas saja, perayaan nabi adanya ya setelah nabi wafat.. ketika Nabi masih hidup yang wajar kalau tidak ada..
      kareba para sahabat bisa melihat langsung nabi.. sekarang kita tidak bisa melihat nabi, jadi kita mengetahuinya lewat maulid..

      Allahu Akbar..

      bang sultan ikutan maulid yuk, dijamin kita makin cinta pada Rosul.. nih para habaib (cucu nabi) banyak yang hadir, memimpin langsung..

      bang sultan nggak mau gabung ma habaib yah, cucu rosul? ikutan maulid, keturunan bani israel kali nggak mau ikutan cucu nabi (habaib yang menyemarakkan maulid)..

  13. Saya rasa tidak ada yang salah dengan maulid. kelahiran kartini aja walo selalu kita peringati tapi tidak ada yang protes. hari lahir Indonesia tgl 17 agustus aja juga kita peringati dengan upacara dan tidak ada yang protes. Kelahiran Nabi SAW jelas lebih pantas untuk diperingati sebagai wujud kecintaan kita kepadanya. saya setuju sekali dengan adanya maulid. Semoga peringatan Maulid Nabi SAW tetap selalu ada hingga akhir zaman. lanjutkan !!!

  14. Islam itu rahmatan lil’alamin semoga apapun yang kita lakukan semata-mata karena Allah. Perayaan maulid adalah bentuk syiar agama kita, para wali juga menyiarkan agama dengan cara yang berbeda-beda tentunya dengan nilai-nilai positif begitu jg dengan maulid. semoga menjadi penyemangat bagi muslim yang pro maulid.

  15. pada tanggal 8 – 14 maret 1980 di Riyadh Arab saudi diadakan perayaan “MAULID” Muhammad Ibn Abdul Wahhab, yg dihadiri antara lain : Syeikh Abdul Aziz bin Baz..

    selama 7 hari.. (kenapa ga 3 hari atau 40 hari atau 100 hari ya?)

    selamat berkomentar…

  16. peringatan hari kemerdekaan…mau, peringatan ultah kantor oke…,peringatan hari jadi partai…ikut,peringatan ultah anak iya…,peringatan nabi rosul nya sendiri…??
    nggak mau…he..he…pie toh

  17. maaf. sy ijin share.
    iman itu rasa.silahkan anda berpendapat sesuai dg yg anda yakini. sy mau ngambil syiarnya saja agar suara islam nyebar di plosok dunia. yg sy sangat sayangkan,knapa th masehi yg jelas2 haram mengapa orang2 islam ramai skali yg mrayakannya?

    –> th masehi jelas2 haram??

  18. sudahkah anda semua belajar agama ini secara benar…?
    karena orang yg tak ber-ilmu tentangnya bisa mendebat dengan berbagai cara dan penafsiran yang akhirnya menyudutkan ummat Islam…
    mari saudaraku semua, kita instrofeksi diri… sudah sedalam manakah ilmu kita tentang agama ini????????
    wallaahuálam…

  19. ALLAH memuji Rasululloh SAW,dgn akhlaknya yg Mulia,
    ALLAH & Para Malaikat juga brsholawat..pd Rasululloh SAW,
    Seluruh Makhluk&seisi alam semesta sngt mncintai Rasululloh SAW,
    Andai saja Rasululloh SAW masih berada didunia&diatas bumi ini dgn jasad raga Beliau melintas lewat diacara Maulid&merayakan Kelahiran Beliau tentu Beliau senang karena ummatnya sedang hadir di Majelis Ilmu,Majelis Zikir, duduk brsama orang alim,brsama Ulama yg soleh, duduk brsama saudara muslimnya,
    wahai kaum Wahabi bukankah itu suatu yg diajarkan oleh Rasululloh SAW dlm hadist-Hadist yg shohih, buka mata,pikiran kalian baca Tafsir AL-Qur’an, baca Hadist Rasululloh SAW,
    contoh laennya ; suatu Ketika Rasululloh SAW sholat brjama’ah, ada salah seorang sahabat yg jd ma’mum setalah bangun dr Ruku’ Rasululloh SAW mengucapkan ”samiallohu liman hamidah” sahabat tersebut mengucapkan ; ”Robbana walakalhamd………..”
    Setelah salam Rasululloh SAW yg Mulia akhlaknya bertanya, kepada Jama’ah ; Siapa yg ucap ”Robbana walakalhamd …”!!
    Semua sahabat yang mnjadi makmum tidak berani menjawab,karena tau kalo itu tidak diajarkan oleh Rasululloh SAW,,maka ada seorang yang jawab&memang dia yang berkata demikian; Saya Wahai Rasululloh
    Maafkan saya,
    Rasululloh SAW menjawab; tahukah kamu&kalian Ketika dia berkata tersebut 70 Malaikat membawa kepada ALLAH & dituliskan Bacaan dr seorang Hamba ALLAH yg bersyukur…….!!!
    Subhanalloh,
    Imam Masjid-Masjid Wahabi banyak mengganti kata Samiallohu ………,dengan Robbana walakalhamd…….!!!Bukankah itu Bid’ah???
    Banyak istighfar deeh??Hehehe

  20. A. Fauzan Amin (fafa@sidogiri.net)

    “Andai aku punya emas sebesar gunung Uhud, aku akan lebih suka menginfakkannya untuk merayakan Maulid Nabi” (Hasan al-Bashri)……..siapa yang meriwayatkannya ??? mana sanadnya? Hasan Basri lahir dan wafat tahun berapa? bandingkan dengan terusan artikel di bawah ini

    Bila dirunut sejarahnya, ada dua pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi Maulid. Pertama, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriyah. Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Sakhawi (w. 902 H), walau dia tidak mencantumkan dengan jelas tentang siapa yang memprakarsai peringatan Maulid saat itu.

    Artikel di atas jelas2 kebodohan yang nyata….Saya minta satu DALIL shohih saja ttg PERNAHKAH SAHABAT, TABI’IN, TABIUT TABI’IN, mlekasanakan maulid nabi?????

    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al isro’ :36)

    –> Anda benar dengan kutipan al Qur’an anda. Namun insya Allah kami mengikuti kepada apa-apa yang kami punya pengetahuan tentangnya. Semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita. amien.

    ”Andaikata aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka akan aku dermakan semuanya untuk menyelenggarakan pembacaan maulid Rasul.” (I’anathuth Thalibin 3/255).

    Ini adalah perkataan Imam Hasan Al Bashri rhm, ulama generasi TABI’IN, lahir di Madinah 2 tahun sebelum wafatnya khalifah Umar bin khattab ra dan meninggal pada bulan Rajab tahun 116 H dalam usia 89 tahun. Sedangkan I’anatut Thalibin ditulis oleh syaikh Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Bikry, seorang ulama dalam madzab Syafi’i, yang insya Allah sanadnya bersambung hingga ke Rasulullah saw..

    Semoga keterangan kami menjawab pertanyaan anda. wallahu a’lam.

  21. Klo anda perhatikan, kata kata diatas jelas KONTRADIKSI, Hasan Basri wafat tahun 116 H, sedangkan di alinea berikutnya sejarah maulid PERTAMA KALI dilakukan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriyah, KENAPA MAULID PERTAMA KALI TIDAK DILAKUKAN OLEH HASAN AL BASRI????? DAN UNTUK MASALAH SANAD BERSAMBUNG , SAMPAI SEKARANG MASIH BANYAK ULAMA2 YANG MEMILIKI SANAD BERSAMBUNG HINGGA RASULULLAH…..EMANGNYA KENAPA? HADITS2 DHOIF PUN BANYAK YG SANADNYA BERSAMBUNG, MASALAHNYA, BIOGRAFI PERAWINYA GMANA?????????

    –> Ini masalah sejarah dan istilah. Jika anda mau menyimak, apa sihh yang ada di dalam peringatan/perayaan/majelis maulid. Itulah majelis yang membahas tentang baginda Nabi saw, riwayat hidupnya, akhlaknya, bukti kenabiannya, nenek moyangnya, dll. Dan banyak shalawat di dalamnya. Inilah yang terjadi.

    Majelis yang sekarang populer dengan nama Maulid Nabi, jika diruntut sejarahnya .. ini adalah majelis yang digalakkan oleh Sultan Salahuddin al Ayubi, untuk membangkitkan semangat umat islam dalam menghadapi perang Salib. Waktu itu sudah dikenal dengan istilah Maulid Nabi. Jika dirunut ke zaman lebih awal lagi, ternyata majelis ini telah ada sebelumnya. Sultan Salahuddin hanya menggalakkan, bukan menciptakan. Lebih awal lagi .. lebih awal lagi. Majelis ini akan bersumber kepada Rasulullah saw sendiri. Pada zaman Rasul saw ini hanya berupa embrio .. yang semakin lama semakin besar.

    Apakah anda pikir itu tidak terjadi di zaman sahabat? Ada riwayat bahwa sahabat memuji di hadapan beliau saw. Para sahabat membicarakan tentang kemuliaan baginda Nabi saw, akhlaknya, bukti kenabiannya, bershalawat, dll. Pasti di zaman sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in banyak majelis seperti ini. Apapun namanya, bahkan tanpa nama. Ada banyak hadits tentang (pribadi) baginda Nabi saw sendiri. Itu sudah merupakan bukti bahwa majelis yang membahas pribadi Rasulullah saw sudah ada sejak awal. Hadits-hadits (tentang pribadi Rasulullah saw) itu kan bermula diriwayatkan dari para sahabat Nabi saw kan mas yaach..

    Sedangkan kapan istilah maulid itu muncul, inilah yang dilacak oleh para sejarawan dan para ulama sebagaimana yang dikutip di artikel di atas. Ada perbedaan pendapat. Namun itu hanya masalah nama/istilah maulid, bukan kegiatan di dalam majelis maulid itu sendiri. Mungkin di masa awal (sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in,) hanya berupa kelompok kecil, dan belum punya nama. Mungkin pula ada yg memiliki nama. Kita di zaman yang hampir kiamat ini sama-sama tak tahu. Riwayat at tabi’in Hasan al Bashri di atas memberikan satu tanda bukti.

    Ada sungai besar .. anda tahu kan Bengawan Solo. Inilah sungai besar yang bermuara di pantai Gresik, Jawa Timur. Lagu tentangnya terkenal sampai manca negara. Namun di manakah hulunya? Di manakah awal sungai ini? Jika di runut lebih jauh, sebelumnya berupa sungai (hulu) yang lebih kecil di pedalaman Wonogiri, Jateng. Orang bisa saja menamakan sungai hulu itu sebagai Bengawan Solo, namun mungkin juga sungai itu bernama lain, bahkan tak ada nama. Mana batas mulai disebut Bengawan Solo .. tak jelas. Yang jelas, sungai itu satu jalur .. dari hulu sampai hilir. Lebih atas semakin kecil,.. paling atas hanya berupa parit kecil.

    Apakah anda akan membantah bahwa Bengawan Solo berasal dari parit kecil itu, hanya karena wujudnya tidak berupa sungai besar sebagaimana yang anda bayangkan? Anda akan ditertawakan banyak orang.

    Ada sungai-sungai lain yang punya nama lebih dari satu, walau itu satu jalur dari hulu sampai hilir. Sejak kapan dan dari mana awal berganti nama,.. tidak jelas.

    Oleh karena itu, dari pada anda sibuk mengurusi sejak kapan peringatan/perayaan/majelis bernama maulid ini, dan melabel-i sesat hanya karena peringatan/perayaan/majelis ini bernama maulid (karena tak ada istilah maulid di zaman sahabat), lebih baik anda menunjukkan kesalahannya saja jika memang ada kesalahan di sana. Bagian mana dari majelis ini yang tak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Itu jauh lebih bermanfaat. Jika memang benar temuan anda, maka umat ini dapat memperbaikinya. Dengan demikian majelis ini akan tetap mulia di sisi Allah, Rasul, dan umat islam.

    maaf kl ada salah. semoga manfaat. wallahu a’lam.

    • yang jelas saja, perayaan nabi adanya ya setelah nabi wafat.. ketika Nabi masih hidup yang wajar kalau tidak ada..
      kareba para sahabat bisa melihat langsung nabi.. sekarang kita tidak bisa melihat nabi, jadi kita mengetahuinya lewat maulid..

      Allahu Akbar..

      bang reza ikutan maulid yuk, dijamin kita makin cinta pada Rosul.. nih para habaib (cucu nabi) banyak yang hadir, memimpin langsung..

      bang reza nggak mau gabung ma habaib yah? ikutan maulid, keturunan bani israel kali nggak mau ikutan cucu nabi (habaib yang menyemarakkan maulid)..

  22. Masalah Peringatan Maulid Nabi tidak perlu diperdebatkan. Yang jelas INTI peringatan tersebut adalah melahirkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Shallaahu Alaihi wa Sallama. Melahirkan rasa cinta itu banyak caranya. Dan sepanjang cara itu tidak bertentangan dengan syari’at, tidak mengandung perbuatan-perbuatan haram, maka hal itu boleh-boleh saja. Apalagi cinta itu ditujukan untuk Nabi, maka itu sangat baik atau bahkan wajib.
    Kembali lagi kepada niyatnya.

  23. kasian Rasulullah,
    ilmunya diambil, hadisnya dipake, sahabat2nya dibuat sebagai rujukan.. tapi diri pribadi beliaunya sendiri diabaikan..

    ketika Bin Baz datang ke suatu majelis, atau Syeikh Utsaimin hadir di suatu ruangan, orang2 termasuk pengikutnya berlomba2 menunjukan penghormatan..
    pun begitu pula ketika pa cama/gubernur datang, bagaimana sambutan kita?

    tapi ketika ada acara penghormatan terhadap Rasulullah,
    ketika ada suatu majelis memuji2 akhlak pribadi Rasulullah,
    ketika ada pertemuan orang2 yg merindukan Rasulullah,
    dituduh sesat, bid’ah..

    alangkah kejamnya..

  24. Masalahnya, tidak ada satupun dalil yg shohih yang menunjukkan maulid pernah dilakukan oleh PARA SAHABAT NABI, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN YG MERUPAKAN GENERASI TERBAIK UMMAT INI….

    APAKAH ANTUM MERASA LEBIH BERIMAN DAN BERTAQWA DAN LEBIH BANYAK KEBAIKANNYA DARIPADA SAHABAT??? MUSTAHIL…..
    ATAU Apakah ANTUM lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang mulia?! LEBIH MUSTAHIL LAGI…..

    “Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan Kubra 2/466 dengan sanad yang shahih dan Sa’id bin Musayyib (Pembesar Ulama dari kalangan Tabi’in) bahwasanya beliau pernah meiihat seorang laki-laki melakukan shalat setelah terbitnya fajar lebih dan dua raka’at dengan memanjangkan ruku’ dan sujudnya. Melihat hal itu, Sa’id bin Musayyib melarangnya”, orang itu menjawab: “Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh akan menyiksaku karena sebab shalat?” Beliau menjawab: “Tidak!, NAMUN ALLAH MENYIKSAMU KARENA MENYELISIHI SUNNAH”.

    –> Ini masalah sejarah dan istilah. Jika anda mau menyimak, apa sihh yang ada di dalam peringatan/perayaan/majelis maulid. Itulah majelis yang membahas tentang baginda Nabi saw, riwayat hidupnya, akhlaknya, bukti kenabiannya, nenek moyangnya, dll. Dan banyak shalawat di dalamnya. Inilah yang terjadi.

    Komentar ; Memang klo ingin berbuat baik spt itu harus dikhususkan satu tahun sekali???? Klo memang benar2 mencintai nabi shollallahu a’laihi wasallam harusnya mempelajari hal2 spt itu dilakukan setiap hari, bukan setahun sekali RUWAIBIDHOH!!!

    Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata: “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. KARENA ITU BERPEGANG TEGUHLAH KEPADA SUNNAHKU DAN SUNNAH KHULAFAUR RASYIDIN yang lurus (mendapat petunjuk) dan GIGITLAH DENGAN GIGI GERAHAM KALIAN. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
    [Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676]

    Apakah maulid nabi, sunnah khulafaur rasyidin????…………MUSTAHIL

    Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS. Ash Shaaff : 156 – 157)

    –> Mengenai di zaman sahabat, tabi’in, dan para salafusshalih, saya kira keterangan saya di #27 telah jelas.

    Memang klo ingin berbuat baik spt itu harus dikhususkan satu tahun sekali???? Klo memang benar2 mencintai nabi shollallahu a’laihi wasallam harusnya mempelajari hal2 spt itu dilakukan setiap hari, bukan setahun sekali RUWAIBIDHOH!!!

    Jika anda mengira majelis maulid itu hanya diadakan satu tahun sekali,.. wahh .. anda salah besar mas …

    • buwat reza saya mau tanya waktu jaman nabi muhammad shollallahu a’laihi wasallam, al-qur’an ada patah domah n kasroh nya ga? kalo kamu tau coba jawab dong? jangan menghina maulid dulu waktu nabi dateng kemadinah aja disam but nabi ga bilang bid’ah

  25. Kenapa comment ana dihapus? takut y ternyata maulid itu kesesatan,ana bongkar kesesatannya……..

    –> komentar yang mana mas .. silakan tulis lagi. Lihat aturan komentar.

    • yang anti maulid saya mau tanya al’qur’an di jaman nabi MUHAMMAD SAW ada patah domah nya n kasoroh nya ga, kan sekarang ada, ada dalil nya ga dari nabi? setan beriman kepada ALLAH tetapi dia tidak mengakuwin nabi ADAM sebagai kolifa di muka bumi, karena dia sombong dan angkuh karena di lebih merasa segala nya dari pada nabi ADAM,begitu juga manusia yang tidak mau ber selawat kepada nabi MUHAMMAD SAW, ALLAH dan para MALAIKAT ya saja ber selawat, kan yang merayakan maulid ga melenceng di jalan ALLAH dan NABI nya, maulid kan berselawat kepada nabi, kenapa di debat kan.

  26. Begini sajalah, mari kita amalkan apa yang ilmunya ada pada kita, dengan landasan iman dan niat yang ikhlash lillahi ta’ala. Bukankah di dalam Alqur’an sendiri dinyatakan LANA A’MALUNA WA LAKUM A’MALUKUM (Bagi kami amal/perbuatan kami, dan bagi kamu amal/perbuatan kamu). Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kemampuannya, kemampuan dalam ilmunya, kemampuan dalam imannya, dan kemampuan dalam ikhlashnya kepada Allah SWT. Nggak usah ngotot-ngototan dirinya yang paling benar, padahal kebenaran mutlak itu hanya pada Allah Yang Maha Benar. Kita sebagai makhluk yang dho’if hanyalah berusaha mendekati kebenaran itu dengan bekal ilmu yang ada pada kita. Apakah kita menganggap bahwa ilmu kitalah yang paling benar ? Tanpa sadar telah meng-ilah-kan ilmu kita yang kata Allah SWT, “WA MA UTITUM MINAL ‘ILMI ILLA QOLILA (Dan kamu tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit saja)” ??? Mari kita jadikan islam itu rahmatan lil ‘alamin. Kalau masih tidak bisa juga, kepada masing-masing yang merasa paling hebat dan paling benar, silahkan kembali kepada Allah Yang Maha Benar, Hakim Yang Paling Adil. Disanalah baru kita tahu dimana posisi diri kita yang sebenarnya. HADANALLOHU WA IYYAKUM, WASSALAMU ‘ALAINA WA ‘ALAIKUM WA ‘ALA ‘IBADILLAHISHSHOLIHIN.

  27. Kalau melihat anda berkata seperti itu, malah kelihatan sekali anda itu orang yang sedang kebingungan, tidak tahu kebenaran….

    Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman :
    Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)

    Dan kalau kita kembalikan ke Al Qur’an dan Sunnah, perbuatan tsb tidak ada dalilnya…
    Tidak diamalkan pula oleh Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in bahkan sampai imam 4 madzhab????

    Bukankah Allah Ta’ala juga berfirman :
    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan MUHAJIRIN dan ANSHOR DAN ORANG ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

    padahal di ayat ini jelas2 disebutkan bahwa pemahaman agama kita harus mengikuti pemahaman para sahabat nabi Shollallahu a’laihi wasallam, karena Allah ridho terhadap mereka. Apakah mereka pernah melakukan maulid nabi??

    Atau apakah para sahabat masih kurang beramal sampai tidak melaksanakan maulid nabi??? MUSTAHIL….

    Masih kurang buktinya??
    Saya tambah, Bukankah Rasulullah shollallahu a’laihi wasallam juga bersabda
    Sebaik-baik umat adalah mereka yang sezaman dengan zamanku, kemudian generasi yang sezaman setelah saya, kemudian generasi yang sezaman setelah mereka (HR Bukhari: 5/199, 7/6, 11/460 & Muslim: 7/184-185)

    Dan wajib bagi kita untuk mengikuti pemahaman generasi terbaik ummat ini, yaitu tiga generasi pertama seperti yang disabdakan Rasulullah shollallahu a’laihi wasallam di atas…

    Masih kurang?

    Bukankah Rasulullah shollallahu a’laihi wasallam juga bersabda :
    “Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali TELAH DIJELASKAN KEPADA KALIAN SEMUANYA.” (H.R Ath Thabrani)

    Apakah maulid termasuk perkara yg mendekatkan kepada Al Jannah? Apakah pernah dijelaskan Rasulullah??? Apakah rasulullah LUPA menjelaskan fadhilah maulid nabi??? PADAHAL RASULULLAH SENDIRI DI DALAM HADITS DIATAS TELAH BERSABDA ” TELAH DIJELASKAN KEPADA KALIAN SEMUANYA”…..ATAU APAKAH ANDA MENGANGGGAP RASULULLAH BERKHIANAT KARENA TIDAK MENJELASKAN FADHILAH MAULID NABI?????????????????…..

    Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yg benar’.(QS Al Baqoroh : 111)

    Hanya orang-orang yang mau berfikir yang dapat mengambil pelajaran / manfaat ” (QS. Al Baqoroh : 269)

    • Masih kurang buktinya??
      Saya tambah, Bukankah Rasulullah shollallahu a’laihi wasallam juga bersabda
      Sebaik-baik umat adalah mereka yang sezaman dengan zamanku, kemudian generasi yang sezaman setelah saya, kemudian generasi yang sezaman setelah mereka (HR Bukhari: 5/199, 7/6, 11/460 & Muslim: 7/184-185)

      Dan wajib bagi kita untuk mengikuti pemahaman generasi terbaik ummat ini, yaitu tiga generasi pertama seperti yang disabdakan Rasulullah shollallahu a’laihi wasallam di atas…

      Penjelasan saya atas pernyataan saudara sebagai berikut :

      Bahwa peringatan untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang Alloh telah mengutusnya untuk rohmatal lil`alaminn, dengan cara membaca Al-Quran,dan untuk mengingat sejarah dan hal-hal yang berkaitan dengan Rosulalloh yang mulia itu adalah perkara yang mengndung keberkahan dan banyak kebaikan jika peringatan itu terbebas dari perkara bid`ah kobiihah /jelek yang tidak bersesuaian dengan syareat yang mulia.

      Anda telah pengatakan jaman yang terbaik adalah jaman saat rosul ada, kemudian jaman sesudahnya dan sesudahnya (ini uacapan ringkasnya), dan kata saudara juga kita wajib mengikuti jaman terbaik ini, dan ini saya katakan sangat betul ucapan saudara.

      sekarang ucapan saudara yang diambil dari hadits itu tinggal saya terapkan pada kenyataan/realita.

      Realitanya adalah Imam Syafii ( Hidup pada jaman terbaik) mengatakan :

      المُحدثـات من الأمور ضربان أحدُهما : ما أُحدث مما يُخالفُ كتابـاً أو سُنةً أو أثراً أو إجماعاً ، فهذه البدعة الضـلالة ، والثانيـة : ما أُحدثَ من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا ، وهذه مُحدثةٌ غير مذمومة “. رواه الحافظ البيهقي في كتاب ” مناقب الشافعي ” ج 1 ص 469

      Perkara baru (bid`ah) terbagi menjadi dua bagin : 1. Perkara baru yang berlawanan/melanggar kepada kitab dan sunah atau atsar atau ijma ulama maka ini disebut bid`ah sesat, 2. Perkara baru yang baik yang tidak melanggar salah satu dari Al-Quran dan sunah ,maka ini disebut bid`ah yang bukan tercela/ bid`ah hasanah. Al-Hafidz Al-Baehaki meriwayatkannya dalam kitab Manakib Asy-Syafii ( j: 1/469).

      Bagi siapa yang menghendaki lihat perkataan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-`aqolani rokhimahulloh dari kalimat :

      أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف بدعةٌ حسنة”

      Bahwa peringatan maulid Nabi Asy-Syariif adalah bid`ah hasanah/bidah yang baik.
      Tidaklah sah orang yang memberikan fatwa bahwa memperingati maudi adalah bid`ah muharromah/bid`ah yang haram, dan banyak dari kalangan ulama yang berfatwa seperti itu, misalnya : Al-Hafidz Al-`Iraqi, Al-Hafidz As-Sahowi, Al-Hafidz As-Suyuti, Syeh Ibnu Hajar Alhaetami, Syeh Muhamad Bahet Al-Muti

      • sambungan…..

        Syeh Muhamad Bahet Al-Muti`i, mufti negara Masri, Syeh Mustofa Naja mufti Baerut dan lain-lainya banyak sekali.

        Sesuai dengan pernyataan Anda juga bahwa kita wajib mengikuti pemahaman generasi terbaik maka saya bisa mengatakan :

        Hendaklah kita mengerti bahwa bahwa perkara itu haram atau halal itulah tugas dari para mujtahid seperti Imam Malik, Imam Safii, Imam Abu Hanifah , Imam Ahmad bin Hambal dan semua ulama salaf soleh. Maka tidak layak bagi penulis besar atau kecil membuat tulisan, menghalalkan dan mengharamkan tanpa melihat pendapat (bahkan membuang) para imam-imam mujtahid yang sudah jelas lebih baik dari pada ulama holaf/belakangan apalagi ulama sekarang.

        Orang yang mengharamkan dzikir kepada Alloh dan mengingat nabi pada hari kelahiran beliau dengan hujjah/alasan bahwa Nabi tidak melakukan /mengarjakan itu.

        jawab saya dan silakan juga Anda jawab:

        1. Apakah haram /mikhrob di masjid dan Anda ber`itiqad bahwa itu bid`ah dolalah?

        2. Apakah haram mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushof dan Anda akan mengatakan bahwa Nabi tidak melakukannya?

        Apabila Anda mengharamkannya maka Anda sesungguhnya telah mempersempit atas sesuatu yang Alloh luaskan untuk hambanya untuk membuat perkara baru yang tidak ada pada masa Rosulloh SAW.

        مَن سَنّ في الإسلام سُنةً حسَنَةً فلَهُ أجرُها وأجْرُ مَن عَملَ بها بعده من غير أنْ ينقُصَ من أُجورهم شىء ” رواه الإمام مسلم في صحيحه ، وقال سيدنا عمر بن الخطاب رضي الله عنه بعدما جمع الناس على إمام واحد في صلاة التراويح : ” نِعْمَ البدعة هذه ” رواه الإمام البخاري في صحيحه.

        Barangsiapa membuat perkara yang baru dalam Islam yang baik maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakannya sesudahnya dengan tidak dikurangi pahala mereka sedikitpun.
        Sayyidina Umar bin Khottob berkata setelah mengumpulan manusia untuk sholat taraweh berjamaah : sebaik-baiknya bid`ah adalah ini. Hr Bokhori dalam kitab Shohehnya.
        Mengumpulkan manusia untuk sholat berjamaah dari awal romadhon hingga akhirnya dengan imam satu.

  28. Penejelasan sedikit barangkai salah tafsir:

    maksudnya pendapat para ulama pada tulisan saya diatas :

    banyak dari kalangan ulama yang berfatwa seperti itu, misalnya : Al-Hafidz Al-`Iraqi, Al-Hafidz As-Sahowi, Al-Hafidz As-Suyuti, Syeh Ibnu Hajar Alhaetami, Syeh Muhamad Bahet Al-Muti`i,mufti negara Masri, Syeh Mustofa Naja mufti Baerut dan lain-lainya banyak sekali.

    Berfatwa mendukung pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-`aqolani rokhimahulloh dari kalimat :

    أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف بدعةٌ حسنة”

    Bahwa peringatan maulid Nabi Asy-Syariif adalah bid`ah hasanah/bidah yang baik.
    Sukron lakum.

  29. pasti klo ada perbedaan pandangan,ilmu, pengetahuan untuk mendebatnya pasti dengan nada kayak orang yg tidak islami,kenapa sesama islam perdebatannya selalu dengan nada yang kurang islami ? dimana hati yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW dalm menyikapi perbedaan ? mohon untuk direnungkan dalam menyikapi perbedaan,terutama kita sebagai sesama muslim…maaf saya orang Islam awam yg ingin agar kita sesama muslim untuk saling rukun dlm menyikapi perbedaan..

  30. kalau kita kembali kepada Allah dan RasulNya! Insya Allah kagak bakalan begini, saling merasa benar! coba kaji tafsir & sirah dengan benar, perbedaan itu sunatullah dan Sahabat Ra pun pernah berbeda pendapat namun tidak pernah saling menyalahkan dan merasa paling benar. nah sekarang mari kita berharap (berdo’a) agar Allah meluruskan yang tersesat (jika memang mereka itu sesat)dan kita merasa takut jika pendapat kita itu benar (karena belum tentu benar menurut Allah)bukankah iman itu antara Khauf & Roja'(eh dha’if gak tuh hadits nya?)
    di kami ada cerita yang Ana pun rada heran dimana seseorang lebih suka saudara Muslim meninggalkan shalat atau amalan agama lainnya dari pada mengikuti suatu amalan yang mereka anggap bid’ah. mereka menganggap amalan itu bid’ah tapi mereka banyak buat da’wah melalui Radio, mereka membacakan hadits tapi di kalangan mereka sendirin saling memurtadkan dan membid’ahkan dan ma’af…mereka juga ada yang makan dari makanan tahlilan loh(he he….lumayan) astagfirullah!!! Ana jadi ghibah. Ya Allah ampuni kami semua

  31. Ping-balik: Sejarah Maulud Nabi « Sharing

  32. Perkara baru (bid`ah) terbagi menjadi dua bagin : 1. Perkara baru yang berlawanan/melanggar kepada kitab dan sunah atau atsar atau ijma ulama maka ini disebut bid`ah sesat, 2. Perkara baru yang baik yang tidak melanggar salah satu dari Al-Quran dan sunah ,maka ini disebut bid`ah yang bukan tercela/ bid`ah hasanah. Al-Hafidz Al-Baehaki meriwayatkannya dalam kitab Manakib Asy-Syafii ( j: 1/469)……….

    Lebih baik antum belajar balaghoh dulu, ketimbang nanti mulut antum dimintai pertanggungjawaban masalah ini di akhirat nanti…
    Lihat penjelasan di bawah, ana bongkar kejahilan antum dalam memahami perkataan imam syafi’i

    Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan perkataan Imam As-Syafi’i ini :

    Pertama : Sangatlah jelas bahwasanya maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid’ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)”. Padahal telah diketahui bersama –sebagaimana telah lalu penjelasannya- bahwasanya sholat tarwih berjamaah PERNAH DIKERJAKAN oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Kedua : Kita menafsirkan perkataan Imam As-Syafi’i ini dengan perkataannya yang lain sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot (3/23)

    “Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah YANG MENYELISIHI Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469)

    Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

    Berkata Ibnu Rojab, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminology). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang SESUAI DENGAN SUNNAH yaitu YANG ADA DASARNYA DARI SUNNAH yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminology karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267)

    Ketiga : Oleh karena itu tidak kita dapati Imam Asy-Syafii berpendapat dengan suatu bid’ahpun dari bid’ah-bid’ah yang tersebar sekarang ini dengan dalih hal itu adalah bid’ah hasanah. Karena memang maksud beliau dengan bid’ah hasanah BUKANLAH SEBAGAIMANA YANG DIPAHAMI OLEH PARA PELAKU BID’AH ZAMAN SEKARANG INI.

    Yang Kedua

    Syaikhul Islam Hafizh di masanya, Ibnu Hajar ditanya mengenai amalan Maulid, beliau pun menjawab dengan redaksi sebagai berikut:

    “Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.” Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu. Kalau perkara yang dilakukan ketika itu mubah maka hukum merayakannya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.[7]

    Sanggahan untuk kerancuan di atas:

    Pertama: Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah ma’shum, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karenanya, seharusnya yang jadi pegangan adalah dalil. Janganlah bersikap mengambil pendapat mereka yang ganjil berdasarkan selera dan hawa nafsu. Jika ketergelinciran dan kekeliruan mereka yang diambil, maka pasti kita pun akan menuai kejelekan.

    Sulaiman At Taimi mengatakan,

    لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اِجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

    “Seandainya engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka pasti akan terkumpul padamu kejelekan.” Setelah mengemukakan perkataan ini, Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, ”Ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama, saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

    Al Auza’i mengatakan,

    مَنْ أَخَذَ بِنَوَادِرِ العُلَمَاءِ خَرَجَ مِنَ الإِسْلاَمِ

    “Barangsiapa yang mengambil pendapat yang ganjil dari para ulama, maka ia bisa jadi keluar dari Islam.” Asy Syatibi menyampaikan adanya ijma’ (kesepakatan para ulama) bahwa mencari-cari pendapat yang ganjil dari para ulama tanpa ada pegangan dalil syar’i adalah suatu kefasikan dan hal ini jelas tidak dibolehkan. (Kasyful Jaani, Muhammad At Tiijani, hal. 96, Asy Syamilah)

    Kedua: Ibnu Hajar rahimahullah telah mengatakan di atas: “Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama”, maka sebenarnya perkataan beliau ini SUDAH CUKUP untuk menyatakan tercelanya perayaan Maulid. Cukup sebagai sanggahannya,

    لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

    “Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

    وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

    “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”[HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid]

    Dan untuk Syeh Muhamad Bahet Al-Muti`i, mufti negara Masri, Syeh Mustofa Naja mufti Baerut dan lain-lainya, bantahannya cukup mudah, KARENA PERKATAAN SESEORANG BUKAN DALIL, bahkan ORANG YANG JAUH LEBIH ALIM DARI BELIAU2 DI ATAS TELAH BERFATWA SEBALIKNYA Dan ANA MENASIHATKAN UNTUK TIDAK MENDAHULUKAN pendapat siapa pun selain dari pendapat Allah dan Rasul-Nya.

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujuraat: 1)

    Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Alloh dan RosulNya, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Alloh telah memerintahkan kepada para hambaNya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Allah dan RasulNya, yaitu: menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah dan Sunnah RasulNya di dalam seluruh perkara mereka. DAN AGAR MEREKA TIDAK MENDAHULUI Allah dan RasulNya, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah berkata, dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah memerintah (Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1)

    Sahabat Nabi Abdullah Ibnu Umar rodhiyallahuanhu mengatakan,

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”[Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah]

    Sahabat Nabi Abdullah Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma mengatakan,

    “Hampir saja kalian akan dihujani hujan batu dari langit. Aku mengatakan ‘Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya dengan mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian.’ “(Shohih. HR. Ahmad).


    –> sebenarnya saya males menanggapi, tapi ada hal yang mengganjal.

    Pertama : Sangatlah jelas bahwasanya maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid’ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)”. Padahal telah diketahui bersama –sebagaimana telah lalu penjelasannya- bahwasanya sholat tarwih berjamaah PERNAH DIKERJAKAN oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Menurut riwayat yang shahih, shalat tarawih yang diprakarsai oleh Umar ra adalah mengumpulkan shalat tarawih para sahabat yang berkelompok-kelompok/sendiri-sendiri, semuanya disatukan dengan diimami seorang imam, dan jumlah rakaatnya 20 + 3 witir.

    Sangat jelas bahwa shalat tarawih adalah perkara ibadah (sunnah) … bukan perkara bahasa. Imam Syafii tak mengatakan seperti itu (bid’ah bahasa), demikian juga sayidina Umar ra. Bagaimana penjelasannya bahwa bid’ah sayidina Umar ra tentang tarawih (perkara ibadah) ini bisa anda belokkan menjadi bid’ah bahasa??? Tolong .. logika saya tak bisa nyambung.

    Maaf ya mbak .. seharusnya anda tegar di atas SUNNAH .. bukan membelok ke atas bahasa.

    Pertama: Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah ma’shum, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karenanya, seharusnya yang jadi pegangan adalah dalil.

    Ibn Hajar al Atsqalani (w. 852H) adalah seorang ulama bermadzab Syafii, menimba ilmu ke syaik al Hafidz al Iraqi, syaikh Sirajudin al Buqalini, syaikh al ‘iz ib Jama’ah dan ulama-ulama syafii lainnya. Beliau lebih dikenal sebagai ulama hadits yang terkenal dengan karyanya, Fathul Bari syarh sahih Bukhari.

    Beliau berfatwa pasti dengan dalil, sehingga kalaupun beliau dikatakan tidak ma’sum, kesalahan itu insya Allah sangat jarang dan sangat minimal. Oki .. kami lebih mengikuti pendapat syaikh ibn Hajar dari pada pendapat anda. Ketergelinciran lebih dekat menimpa anda.

    Kedua: Ibnu Hajar rahimahullah telah mengatakan di atas: “Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama”, …………

    Anda menguti fatwa Ibnu Hajar, tetapi mengguntingnya. Ibnu Hajar al Atsqalani memakai pendapat bid’ah terbagi lima macam .. sebagaimana kakek guru beliau, imam Nawawi. Imam As-Suyuti mengutip pendapat Imam ibn Hajar al Atsqalani sebagai berikut,

    “Pada dasarnya peringatan Maulid adalah bid’ah karena tidak seorangpun dari ulama salafusholih 3 abad pertama yang melakukannya. Akan tetapi, bagaimanapun peringatan itu telah mencakup kebaikan dan juga kejelekan, maka barangsiapa bisa mengambil baiknya dan membuang jeleknya, peringatan Maulid itu menjadi bid’ah hasanah; jika memang tidak maka tidak menjadi bid’ah hasanah. ”

    “Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

    Dalil ini sangat lemah, dan ini dalil bid’ah. Ada banyak perkara (amalan) baik yang tidak dikerjakan di mana sahabat. Pengumpulan dan penulisan hadits, penambahan harakat al Qur’an, penulisan riwayat baginda Nabi saw, dll. Masih banyak lagi.

    • Saudara tegar di atas SUNNAH,

      Kita bahas perkataan Imam Syafi`i ( dengan melihat terjemahan Anda dan saya, dan mana yag benar ), kontek aslinya sebagai berikut :

      قال الشافعي رضي الله عنه: المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة، والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة. رواه البيهقي في (مناقب الشافعي) (ج1/469)، وذكره الحافظ ابن حجر في (فتح الباري): (13/267).

      TERJEMAHAN SAYA :

      Berkata Imam Syafi`i ra : Perkara baru terbagi menjadi 2 bagian : 1. Perkara baru yang berlawanan /melanggar Al-quran,sunah,atsar dan ijma maka inilah yang disebut bid`ah sesat. 2. perkara baru yang baik yang tidak melanggar/menyelisihi/berlawanan dengan salah satu dari itu ( Al-quran,sunah,atsar dan ijma ), maka inilah yang disebut bid`ah bukan madzmumah/bukan tercela.

      TERJEMAHAN SAUDARA ( DAN TERMASUK NGAWUR ) padahal katanya sudah belajar balaghoh :

      “Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah YANG MENYELISIHI Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”

      Silakan lihat kesalahan Saudara dalam kalimat :( Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela ).

      khususnya kalimat : TIDAK SEORANGPUN ULAMA YANG MENYELISIHI HAL INI terjemahan dari kalimat : لا خلاف فيه لواحد من هذا
      Apakah sama makna wahid min hadza dengan wahid min ulama` atau wahid min hum dengan melihat konteks kalimat sebelumnya ?

      Baik, saya buktikan kesalahan Anda dalam terjemahan itu :
      Biasanya kan orang seperti Anda suka dan patuh dengan perkataan Ibnu Taimiyah, saya tulis disini :

      وقال ابن تيمية في كتابه المسمى الفرقان بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان ج1/162:

      قال الشّافعيّ ” البدعة بدعتان: محمودة ومذمومة، فما وافق السّنّة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم ” أخرجه أبو نعيم بمعناه من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشّافعيّ، وجاء عن الشّافعيّ أيضًا ما أخرجه البيهقيّ في مناقبه قال”المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابًا أو سنّة أو أثرًا أو إجماعًا فهذه بدعة الضّلال، وما أحدث من الخير لا يخالف شيئًا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة ” انتهى.

      Berkata Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Farqon baena Auliaya`i Ar-Rohman wa Auliya`i syaethon : 1/162 :
      Berkata Imam Syafi`i : Bid`ah di bagi 2 : Bid`ah mahmudah dan madzmumah, bid`ah yang sesuai dengan sunah disebut bid`ah mahmudah/terpuji, dan bid`ah yang menyalahi/berlawanan/menyelisihi sunah disebut bid`ah madzmumah /tercela………….dan datang penjelasan dari Imam yafi`i yang dikeluarkan oleh Imam Baehaki dalam kitab manaqibnya :
      Berkata Imam Syafi`i : Perkara Baru ada dua : Perkara baru yang bertentangan/menyelisihi kitab,sunah,atsar,dan ijma, maka inilah yang disebut bid`ah dolalah/sesat, dan perkara baru yang baik yang tidak bertentangan/menyelisihi sedikitpun dari itu semua (kitab,sunah,atsar, ijma )maka inilah yang disebut bid`ah yang bukan madzmumah/bukan tercela.

      Penjelasan terakhir inilah yang sama2 diambil dari kitab manaqib syafi`i 1/469 yang disebutkan Ibnu Taimiyyah dengan kontek sedikit berbeda mematahkan terjemahan Anda yang ngawur itu.

      Kalau terjemahan Anda juga salah berkaitan dengan perkataan Imam Syafi`i tentang bid`ah maka apalagi menafsirkan perkataan dari Imam Syafii itu ? tamatin dulu mas ilmu balagohnya.
      Jadi menurut hemat saya penafsiran Anda juga salah.
      Ini belum saya bahas soal sholat taraweh,lain kesempatan saya bahas.

      • mas Imam,

        terlalu kren kalau anda menuduh mas tegar belum tamat ilmu balaghoh, wong dia aja mengutip dari buku terjemahan yg sudah diedit dan dirubah2 redaksinya..

        sanadnya ya cuma sampe pada penjual buku itu..

  33. @ Tegar :
    Justru pikiranmu itu yang ngawur dodol!
    Ini sedikit contoh: “Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah YANG MENYELISIHI Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469)Di sini kamu memberi penekanan pada MENYELISIHI. Maksud menyelisihi itu apa? menyelisihi tidak sama dengan tidak ada keterangannya dalam sunnah. Menyelisihi maksudnya bertentangan dengan prinsip2 yg digariskan dalam sunnah. Lah, kalau semua perkara baru harus disebutkan keterangannya dalam sunnah, berarti tidak ada sesuatu yang baru donk? Ibarat begini, semua Perda itu sah selama tidak MENYELISIHI Undang-undang yang lebih tinggi. Nah, apakah bunyi Perda harus sama persis, plek dengan UU? kan tidak. Kalau harus sama apa gunanya ada Perda?
    Makanya punya otak itu dipake wooi Salah Fikir!

    –> mas .. di blog ini juga, telah banyak amat tentang artikel bid’ah. Semuanya merujuk ke paparan ulama salafus shaleh. Jadi saya males menanggapinya.

    • wahabi pun melakukan bid’ah,

      lantas pertanyaannya adalah apakah bid’ah yg dilakukan non wahabi itu sesat semua sedangkan yg dilakukan wahabi adalah sah2 saja??

  34. Hoi, Abu Wahaby, ente yang goblok, bin sesat….Agama kok dianalogikan dengan UU dan Perda???? GOBLOKMU…..

    • mas mantan,

      mengenai apa itu wahabi, silahkan search sendiri di blog ini, sudah pernah diulas oleh mas admin kok..

      di antara bidah wahabi adalah :
      – perayaan kelahiran Muhammad Ibn Abdul Wahhab, pendiri Wahabi pada tanggal 8 – 14 maret 1980 di Riyadh Arab saudi yg dihadiri antara lain : Syeikh Abdul Aziz bin Baz..
      – memalsu kitab2 mazhab non wahabi, misalnya kitab2 mazhab Syafii, merubah redaksi kata di kitab2 tersebut, menghapus redaksi kata yg bertentangan dengan paham wahabi..

      tapi tunggu sebentar,
      bid’ah versi anda itu gimana sih?
      kuatirnya ga sama dengan definisi bid’ah versi saya, kalau ga sama ya percuma saja saya beberkan..

  35. Perayaan hari kelahiran Muhammad bin Abdul Wahhab???? g salah niy? ENTE MW MEMFITNAH, ATAU ENTE MEMANG GOBLOK????????????

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang apa perbedaan antara “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullah” dengan “Perayaan Maulid Nabi”. Mengapa Maulid Nabi diingkari namun acara tersebut tidak diingkari?

    Beliau menjawab:
    Menurut hemat saya, perbedaannya dilihat dari dua sisi:
    Pertama, “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu Ta’ala” TIDAK DIANGGAP sebagai SUATU BENTUK TAQARRUB kepada Allah Azza Wa Jalla. Acara ini diadakan dalam rangka MELURUSKAN INFO INFO YANG RANCU MENGENAI PRIBADI BELIAU. Juga menjelaskan tentang nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin melalui tangan beliau (yaitu jasa-jasa beliau, pent).

    Kedua, “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu Ta’ala” TIDAK DIADAKAN SECARA RUTIN dan SEBAGAIMANA RUTINNYA HARI RAYA (Bandingkan dengan maulid nabi versi quburiyyun????). Isi dari kegiatan ini adalah memberikan menjelaskan dan merilis tulisan-tulisan beliau kepada masyarakat serta menerangkan tentang pribadi beliau. Karena penjelasan tentang hal ini banyak belum diketahui banyak orang. Hanya sebatas itu lah kegiatannya.

    Sumber: Majmu’ Fatawa Al Aqidah Li Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

    FITNAH KEDUA, BIAR ANA YANG JAWAB SENDIRI, NAMANYA JUGA KITAB DITAHQIQ DAN DITAKHRIJ, PASTILAH HADITS2 DHOIF DAN MAUDHU DI KITAB TSB YA DIBUANG, GITU AJA KOK BINGUNG DALAM MENYIMPULKAN…….GOBLOK

    –> Pertama, dalam Maulid Nabi saw, yang terjadi adalah dibacakannya sejarah tentang baginda Nabi saw, keutamaan-keutamaan beliau saw, nasehat-nasehat dan pengajian. Sehingga tak salah kalau kalimat anda di atas juga saya kutip kembali untuk acara Maulid beliau Nabi saw,

    Acara ini diadakan dalam rangka MELURUSKAN INFO INFO YANG RANCU MENGENAI PRIBADI BELIAU. Juga menjelaskan tentang nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin melalui tangan beliau (yaitu jasa-jasa beliau, pent).

    Sehingga sungguh aneh ketika ada standar ganda. Yang Maulid Nabi saw dihukumi sebagai acara sesat, sedangkan yang satunya lagi (Maulid syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab) sebagai acara yang baik.

    Kedua, anda (dan syaikh utsaimin) begitu yakin bahwa acara ini tak kan menjadi rutin. Bagaimana kalau acara Maulid syaikh ini diulangi lagi tahun ini (atau di masa mendatang). Argumen ini rontok seketika.

    Atau … apakah sebuah acara menjadi sesat hanya karena rutin? Sungguh pendapat yang aneh.

    KEDUA .. keterangan anda jauh panggang dari api. Catatan kami tidak seperti itu. Tidak nyambung.

    • Saudara Mantan penyembah Kuburan yang terhormat,

      Sebenarnya banyak fatwa2 wahabiyyin yang ikhtilaf atau nyleneh dengan fatwa ahlu haq ( ahlu sunah waljamaah),ya seperti tulisan di atas itu.
      Mau bukti? ini saya tuliskan :

      Tentang :

      1. Nabi Adam, menurut ahlu haq (ahlu sunah) : Adam adalah Nabi menurut ijma ulama sedangkan wahabiyin mengatakan Adam bukanlah nabi ataupun rosul ( الوهابية يقولون: ءادم ليس نبياً ولا رسولاً ), mau bukti lihat kitab mereka Al-Iman bil Ambiya karangan Abdullah bin Zaed maktabah islamiyah Baerut.

      2. Neraka, Menurut ahlu ahli haq (ahlu sunah) neraka tidak fana dan adzab terhadap orang kafir tidak akan berakhir ( النار لا تفنى ولا ينتهي عذاب الكفار فيها ) sedangkan wahibiyyin mengatakan neraka itu fana dan adzab terhadap orang kafir berhenti ( النار تفنى وينتهي فيها عذاب الكفار ), mau bukti lihat kitab mereka Al-Qaulul muhtar lifana`in nar , karangan Abdul karim al-khumaed : 7, Riyad.

      3. Asaairiyyah (gol Imam As`ari ) dan ma`turidiyyah, menurut ahli haq (ahlu sunah ) mereka adalah ahlu sunah wal jamaah ( هم أهل السنة والجماعة ),berkata Imam Murtado Az-zzubaedi : Apabila menyebutkan ahli sunah wal jamaah yang dimaksud adalah asaairiyyah dan maturidiyyah ( قال مرتضى الزبيدي” إذا أُطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية (إتحاف السادة2/6), sedangkan wahabiyyin mengatakan ( Sholeh ibnu fauzan )mengatakan : asaa`iriyyah dan maturidiyyah tidak lanyak untuk mendapatkan julukan ahli sunah wal jamaah ( قال صالح بن فوزان: الأشاعرة والماتريدية لا يستحقون أن يلقبوا بأهل السنة والجماعة ), mau bukti ? lihat kitab mereka من مشاهير المجددين في الإسلام: ابن تيمية ومحمد ابن عبد الوهاب” ص/32 الرئاسة العامة للإفتاء، الرياض .

      4. Abu Jahal dan Abu lahab, menurut ahlu haq (ahlu sunah) : Abu Jahal dan Abu lahab bukanlah seorang mukmin atau seorang yang bertauhid bahkan keduanya adalah kafir, sedangkan wahabiyyin mengatakan : الوهابية يقولون: أبو جهل وأبو لهب أكثر توحيدًا لله وأخلص إيمانًا به من المسلمين الذين يقولون لا إله إلا الله محمد رسول الله ويتوسلون بالأولياء والصالحين
      Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak (baik) ketauhidannya kepada Alloh dan lebih ikhlas imannya dibandingkan orang2 Islam yang berkata laa ilaaha illallah sedangkan mereka bertawasul kepada para nabi dan orang2 sholeh. Mau bukti ? lihat kitab mereka ( كيف نفهم التوحيد” لمحمد باشميل ص 16 الرياض، السعودية

      Itu semua hanya suatu contoh saja dan masih banyak lagi.terimakasih.

  36. Mana Buktinya pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diulang setiap tahun…
    Tidak anehlah, merutinkan sesuatu yang dianggap taqarrub yang tidak ada dalilnya dan tidak pernah diamalkan PARA SAHABAT, TABIÍN, DAN PARA IMAM AHLI HADITS ya jelas, bidáh dholalah…..GOBLOK

    Hei Imam, fitnahmu itu fitnah palsu…

    Ak bantah yang no 3 dan 4 dulu, untuk yang no 1 dan 2 ana perlu bukti dulu cari dan baca kitab aslinya baru ane bantah, dan ane tidak suka bantah tanpa bukti…..
    3. Asyári adalah ahlusunnah???
    Bagaimana dengan taubatnya Imam Abul Hasan Asyari dengan kitab Al Ibanah??? GOBLOKMU
    Apakah aqidah imam 4 madzhab, aqidahnya para sahabat, tabi’ïn, dan para imam ahli hadits seperti Al Bukhori dan Muslim adalah Asy’ari??
    Mustahil…..lahirnya duluan siapa????? Apa ada orang dinisbatkan dengan orang yang lahir setelahnya?? GOBLOK
    Dan statement ini cukup untuk membantah Az Zabidi….

    4. Sekarang ana tanya, adakah sahabat yang bertawasul dengan nabi pada saat beliau telah meninggal?
    Kenapa Umar bin khottob malah meminta Abbas bin Abdul Mutholib untuk berdoa agar turun hujan, Kenapa Umar bin Khottob tidak sowan ke Qubur Nabi untuk meminta hujan, spt yang BIASA DILAKUKAN OLEH GEMBONG2 QUBURIYYUN dari kalangan Kyai2 Ente???
    Firman Allah di bawah ini sudah cukup menjelaskan bahwa kafir Quraisy juga mengenal Allah, tp cukup hanya mengenal tanpa mentauhidkan Allah, sia2 belaka….

    “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)

    “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf : 87)

    “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. al-’Ankabut: 63)

    “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. an-Naml: 62)

    DAN TENTUNYA KITA TIDAK SEGOBLOK KAFIR QURAISY
    “Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.’” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

    sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik haji akan tetapi mereka justru berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani. Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah.

    Kalau ente tidak terima, kenapa ente tidak mengatakan kafir Quraisy muslim???????

    • Pekan milad Muhammad bin Abdul wahab diulang setiap tahun ( biasanya dibacakan sirahnya ), seperti juga peringatan hari HIV, peringatan kemerdekaan, peringatan /pekan mururiyah ( lalu lintas ),hari kesehatan ( ini dirumah sakit diperlombakan kerapian RS ) biasanya diperingati di qo`ah/majlis pertemuan atau di kampus2,mau bukti ? silakan lihat dan cari sendiri.

      Untuk melihat siapa Imam Abul hasan Al-asy`ari,termasuk taubatnya. SIlakan baca kitab :

      1. Wafayatul A’yan (2/446)karya Abul Abbas Ahmad bin Mu­hammad bin Khalikan
      2. al-Bidayah wan Nihayah (11/187 karya Al-Hafizh Ibnu Katsir
      3. al-Uluw lil Aliyyil Ghaffar karya Al-Hafizh adz-Dzahabi
      4. Thabaqah Syafi­’iyyah al-Kubra (2/246)karya Tajuddin as-Subki
      5. Ittihafu Sadatil Muttaqin bi Syarhi Asrari lhya’ Ulumiddin (2/3) karya Murtadha az-Zabidi

      Bagaimana sih menurut Anda taubatnya Beliau ?

      mengenai tawasul ? kalau tidak salah dalam blog ini sudah ada tulisanya.Silakan tanya ke admin.

      Pernyataan Anda ko berbeda dengan fatwa ulama wahabiyyin ?
      Komentar Anda : ( Firman Allah di bawah ini sudah cukup menjelaskan bahwa kafir Quraisy juga mengenal Allah, tp CUKUP HANYA MENGENAL TANPA MENTAUHIDKAN Allah, sia2 belaka ), ( LIHAT HURUF KAPITAL )

      sedangkan ulama Anda berfatwa :
      ( أبو جهل وأبو لهب أكثر توحيدًا لله وأخلص إيمانًا به من المسلمين / Abu Jahal dan Abu lahab ketauhidannya dan keimanannya lebih bagus dan lebih ikhlas dari orang2 muslim yang ….dst ). Aneh…..ataukah karena anda diliputi emosi untuk berkomentar ? wudlu dululah…..

      Dan mengenai bid`ah sudah banyak dibahas di blog ini. silakan saudara lihat.

  37. to Mantan penyembah Kuburan

    diskusi dengan orang seperti anda hampir tidak pernah sepi dengan kata2 keji semisal kafir, sesat, atau goblok..

    saya maklum, karena mungkin anda diajari guru atau orangtua anda sedemikian tidak santun..

    anyway,
    pertama,
    apapun bentuk dan formatnya, entah namanya “Memorial” kek, “Maulid” kek, “perayaan” kek, tapi isi dan esensinya tetap sama..

    mau rutin atau ngga rutin, sejarah sudah mencatat ketidakkonsistenan wahabi ketika ngadain acara itu..

    kedua,
    “FITNAH KEDUA, BIAR ANA YANG JAWAB SENDIRI, NAMANYA JUGA KITAB DITAHQIQ DAN DITAKHRIJ, PASTILAH HADITS2 DHOIF DAN MAUDHU DI KITAB TSB YA DIBUANG, GITU AJA KOK BINGUNG DALAM MENYIMPULKAN…….GOBLOK”

    kalau seandainya saya menghapus beberapa ayat atau surah didalam alQuran karena menurut saya ayat tsb dhaif/maudlu, lalu saya cetak ulang Quran editan saya itu, saya namai alQuran yg telah DITAHQIQ DAN DITAKHRIJ,
    apakah perbuatan saya akan anda terima?

    ketika wahabi mengedit, menghapus redaksi kata atau hadis dalam kitab RIADHUS SHALIHIN, kemudian mereka menerbitkan kitab editan tersebut,
    apa perbuatan itu bisa diterima??

    ktika syeikh anda berfatwa bahwa mataharilah yg mengelilingi bumi, barangsiapa meyakini sebaliknya maka ia kafir,
    apakah anda menerimanya??
    percayalah bahwa Syeikh Bin Baz telah memfatwakan fatwa nyeleneh itu..

  38. lagi, untuk Mantan penyembah Kuburan,

    pertama,
    mengenai pertanyaan anda :
    “Sekarang ana tanya, adakah sahabat yang bertawasul dengan nabi pada saat beliau telah meninggal?”

    jawaban : ADA
    “penduduk Madinah pernah dilanda kekeringan yg sangat parah. Mereka mengadu kepada ‘Aisyah. ‘Aisyah berkata, ‘pandangilah makam Nabi SAW dan buatlah jendela melalui makam itu menuju langit, sehingga tidak ada batas antara makam itu dan langit’.
    kemudian mreka melaksanakan saran ‘Aisyah tersebut. Tidak lama kemudian hujan turun, hingga……”

    ada lagi :
    “pada masa ‘Umar bin Khaththab, kaum muslimin pernah ditimpa paceklik. kemudian ada seseorang yg berziarah ke makam Nabi SAW dan berkata,’wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu, karena mereka telah menderita’. kemudian beliau mendatangi orang itu dalam mimpinya dan mengatakan,’datanglah kepada ‘Umar, sampaikanlah salam dariku untuknya, dan kabarkanlah kepada kaum muslimin bahwa mereka akan diberi hujan. dst…”

    kedua,
    sepertinya anda mencuplik ayat Quran secara parsial, setengah2, akibatnya kesimpulan tentang TAWASSUL yg anda peroleh pun terlihat konyol,

    lihatlah,anda mencomot QS. Yunus [10]: 31 yg menekankan bahwa rezeki berada di tangan Allah,
    TAPI ANDA LUPA ada ayat: “berilah mereka rezeki dan pakaian dan ucapkanlah kepada mereka kata2 yg baik”,
    lihatlah bahwa kita bisa memperoleh rezeki lewat PERANTARA manusia.. TAWASSUL LEWAT MANUSIA..

    ada lagi ayat bahwa pencabutan nyawa ada di tangan Allah, tapi ada lagi ayat bahwa pencabutan itu lewat malaikat (QS. al-An’am : 61)..
    LIHATLAH, INI LEWAT PERANTARA MALAIKAT

    ada lagi, bahwa syafaat itu HANYA kepunyaan ALLAH, tapi ada ayat bahwa ORANG YG DIKEHENDAKI ALLAH bisa memberi SYAFAAT (QS an-Najm :26)

    ketiga,
    mengenai kisah sahabat Umar yg anda kutip, itu jelas sekali bahwa S. ‘Umar bertawassul lewat paman Nabi, S. Abbas.. bukan ke Nabi SAW..

    kenapa anda menjadikannya dalil untuk mencela ziarah dan tawassul kepada Nabi? aneh anda ini..

    ga nyambung..

    sebenarnya kalo mau lebih aneh lagi, sekalian saja anda bertanya kepada S. Umar, “kenapa anda (S.Umar) ga minta langsung aja ke ALLAH?” “kok lewat S. ABBAS?”

  39. to Mantan penyembah Kuburan

    mengenai koment anda :
    ““FITNAH KEDUA, BIAR ANA YANG JAWAB SENDIRI, NAMANYA JUGA KITAB DITAHQIQ DAN DITAKHRIJ, PASTILAH HADITS2 DHOIF DAN MAUDHU DI KITAB TSB YA DIBUANG, GITU AJA KOK BINGUNG DALAM MENYIMPULKAN…….GOBLOK””

    saya kira akan lebih mudah jika pake contoh begini :

    saya punya buku fisika karangan si fulan.
    seandainya isi buku itu saya edit, beberapa bab saya hapus, beberapa rumus saya ganti/hapus karena menurut saya rumusnya salah, kemudian buku editan itu saya terbitkan kembali, persis seperti aslinya..
    kebetulan buku itu dibeli anak anda,

    pertanyaannya :
    kira2 kalo anak anda ga lulus ujian fisika, anda akan marah ke siapa?

  40. Dalam beragama, kita harus betul betul mengikuti pendapat yang bersumber dari dalil yang kuat (ath`i), bukan pada kebiasaan yang dianggap baik. Kalau beragama menurut perkiraan saja, maka agama ini akan hancur, karena baik bagi sekelompok orang belum tentu baik bagi kelompok yang lain. Kita hanya ikut apa yang diajarkan oleh Rasul saw. tidak menambah dan tidak mengurangi, karena islam itu sudah sempurnn

    –> sejarah maulid ini sumber referensinya kuat mas..

  41. “Kita hanya ikut apa yang diajarkan oleh Rasul saw. tidak menambah dan tidak mengurangi, karena islam itu sudah sempurnna”
    ya iyalah kalo Islam mah, dimana kekurangannya dalam Islam, “tidak ada”.
    Maulid merupakan salah satu bentuk ekpresi orang yang mencintai dengan yang dicintainya yaitu: “Rasululloh SAW”. meskipun Nabi sendiri tidak melakukannya. banyak hal memang yang Nabi sendiri tidak mencontohkannya.
    Diantara contoh yang tidak dilakukan oleh Nabi adalah: Sholat Tarawih berjamaah..tapi hal itu dilakukan oleh Khalifah Umar RA. Nabi tidak melakukan pembukuan al-Qur’an, tapi oleh Umar dan Usman dibukukan, sehingga ada mushaf al-imam…
    saya fikir, ariflah dalam berpandangan melihat orang yang mencintai kekasihnya yaitu Rasulullah SAW…bagaimana bentuk kecintaan anda kepada Nabi, itu terserah anda, …tapi tolong tidak usah usil dengan saudara anda sendiri yang seiman dan seaqidah…bisa-bisa kita malah berpecah belah

  42. makasi tas rubrikx moga brmanfaat…
    n moga xg mnentang prayaan maulid bisa mmahami hakikat dari pringatan maulid tds…
    amin jazakallah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s