Fatwa Misterius, Ajaran NU Dianggap Sesat (1)

Qunut, Dzikir, dan Wirid Tak Perlu

Fatwa Misterius, Ajaran NU Dianggap Sesat (1)

Waraga NU Jawa Timur Jombang khususnya dan Indonesia pada umumnya, beberapa waktu lalu sempat dikejutkan dengan munculnya fatwa yang mengatasnamakan ulama Jombang. Fatwa itu berjudul “Fatwa Ulama Jombang Dalam Berbagai Ibadah/Amalan”. Dengan cepat, ulama yang bertentangan dengan ajaran ahlu sunah waljamaah itu menyebar kemana-mana, bahkan sampai di Kalimantan maupun Lampung. Ulama yang jauh dari Jombang pun bereaksi dengan keras. Bagaimana sebenarnya fatwa yang menyesatkan itu bisa beredar dan siapa yang membuat? Berikut ini beberapa catatan HARIAN BANGSA yang diturunkan secara bersambung.

 

TIDAK hanya ulama yang jauh dari Jombang saja yang terkejut, ulama yang berada di Jombang pun sempat terkajut dengan fatwa tersebut. Anehnya, selebaran ini diambil dari “Mimbar Dakwah” asuhan H Ahamd Abduh SH. Yang lebih mengejutkan lagi, di dalam selebaran fatwa tersebut terdapat nama 9 kiai yang seolah membenarkan fatwa tersebut. Para kiai itu adalah KH Abdullah Shidiq, KH Mahfudz Shidiq, KH Abdullah Hasyim, KH Hasyin Basdan, KH A Ridwan Hambal, KH Fathurrochman Sujono, KH Cholil Anshor, dan KH Tantowi.
Nama-nama kiai itu sangat melekat dan akarab di telinga para nahdliyin. Sontak mereka pun langsung mempertanyakan kebenaran fatwa tersebut. Padahal mereka sudah mengamalkan ajaran ahlusunah wal jamaah itu secara turun temurun. Jika ditelesik lebih jauh lagi dari model selebaran tersebut jelas dibuat bukan dari kalangan warga nahdliyin. Apalagi isinya banyak yang menyerang amalan-amalan warga NU.
Dalam selebaran itu disebutkan agar warga NU meninggalkan kebiasaan membaca Usholli dengan suara keras. Alasannyaa, kerana niat itu pekerjaan hati, jadi cukup di hati saja. Yang lainya soal membaca wirid, atau dzikir adalh ba’da shalat. Imam tidak perlu perlu membaca wirid, dzikir dengan suara keras, cukup dalam hati atau dilalafadzkan masing-masing dengan suara pelan. Imam ba’da shalat, juga tidak perlau memimpin dizkir dan doa bersama dengan jamaah lain. Jamaah shalat tidak perlu mencium tangan imam.

Demikian juga soal qunut shalat Subuh juga tidak perlu. Dalam selebaran itu, disebutkan tidak perlu memabca doa qunut, kecuali ada sessuatu bahahaya terhadap kehidaupan umat Islam, secara keseluruhan. Semenatra membaca qunut dibaca setiap sholat bila ada sesuatu bersifat darutat, tidak hanya dalam sholat subuh saja.

Sementara soal shalat sunat rawatib, disebutkan shalat sunat qabliyah dan ba’diyah adalah sebagai berikut” qabla subuh, qabla dhuhur, ba’da dhuhur, shalat Asar tidak ada rawatib, ba’da maghrib dan ba’da Isya. Sementara dalam shalat Jumat, tidak ada adzan sebelum khotib naik mimbar.

PB NU Diminta Bersikap

Menyikapi maraknya peredaran selebaran gelap yang mengatasnamakan ulama-ulama Jombang di beberapa daerah, ditanggapi datar oleh Rais Syuriah PC NU Jombang KH. Nashir A. Fattah beberapa waktu lalu. Ia hanya menyebut beredarnya selebaran yang melarang praktek ubudiyah yang sudah menjadi tradisi NU tersebut sebagai resiko dari kebesaran NU yang semakin tidak tertandingi. Meski merasa sedikit gerah, pihaknya mengaku tetap berfikir realistis dan tidak emosional.
“Dalam kontek ini, kita tidak perlu menduga-duga dan mencari siapa yang mengedarkan selebaran tersebut. Itu akan kontra produktif dengan tujuan perjuangan NU yaitu amar ma’ruf nahi mungkar. Kalau ada yang klarifikasi atau tabayun terkait dengan selebaran tersebut ya kita layani dengan baik bahwa tidak ada ulama Jombang yang pernah mengeluarkan intruksi seperti itu” tegasnya ditemui HARIAN BANGSA di kediamannya.
Menurut Nashir, dilihat dari banyaknya surat klarifikasi yang dikeluarkan oleh PCNU yang tembusannya ditujukan ke PWNU dan PBNU, sudah selayaknya saat ini baik PWNU maupun PBNU mengambil inisiatif klarifikasi dan tabayun ke semua pihak.
“Akan sangat efektif bila langkah klarifikasi diambil alih oleh PWNU maupun PBNU dan sebarkan secara nasional ke seluruh pihak” katanya.

Sementara Katib Syuriah PC NU Drs H Taufiq A. Jalil ditemui di ruang kerjanya mengaku tidak menduga bila soal selebaran tersebut akan berkepanjangan. Karena dianggap sebagai aksi ‘dadakan’, menurut Taufiq, langkah klarifikasipun hanya diambil secara parsial. “Karena kita tidak menduga kalau jadi panjang begini, melalui surat maupun fax kita hanya menjawab surat-surat klarifikasi yang masuk ke PCNU” tandasnya menyesalkan.
Melihat makin banyaknya reaksi dari ualama berbagai daerah maupun masyarakat yang bertanya secara langsng, PCNU Jombang minta agar PWNU maupun PBNU segera mengeluarkan sikap maupun imbauan. Sebab bisa jadi selebaran itu terus beredar kemana-mana di berbagai pelosok daerah. Jika tidak segera disikapi nantinya bisa menimbulkan masalah dikemudian hari.(sol)

 

Sumber:

http://harianbangsa.com/

About these ads

76 gagasan untuk “Fatwa Misterius, Ajaran NU Dianggap Sesat (1)

  1. terlepas siapa yang membuat fatwa,yang penting,hal tersebut bertentangan dengan acuan agama islam apa tidak? Kita umat muslim punya acuan yang baku adalah Qur’an dan Hadist.lalu apakah ada tuntunan yang membenarkan apa yang disebut dalam fatwa tersebut “tidak perlu”? kalau tidak ada,kenapa diributkan,bahkan dianggap menyesatkan? mana yang benar? Qur’an dan Hadist? apa adat kebiasaan? katakanlah yang benar adalah benar,yang salah adalah salah.

    –> Terima kasih n salam kenal .. mas aryanto. Orang2 NU pun berpendapat bahwa amalan-amalan mereka sesuai dengan Qur’an dan hadits. Saya kira ulama2 NU pun berani menghadapi pihak pembikin selebaran gelap ini untuk berhujah.

    Namun masalah sebenarnya adalah… kalau ingin berdakwah, kenapa harus memalsukan identitas dan bikin selebaran gelap, sehingga meresahkan masyarakat.

    Di mana teladan kanjeng Nabi saw yang jujur dan akhlakul karimah? Apakah metode seperti ini ada di dalam tuntunan al Qur’an atau hadits/sunnah Nabi saw?

  2. ass.wr.wb.
    inilah saatnya kita mulai meneliti amalan-amalan kita, apakah selama ini amalan kita telah sesuai dengan Qur’an dan Hadits atau amalan kita masih tercampuri amalan -amalan yang sifatnta bid’ah,kurofat dan tahayul dan kebiasaan-kebiasaan ataupun adat yang tidak ada dasarnya dalam Qur’an dan Hadits. adanya fatwa ulama jombang yang ada di internet baik benar ataupun hanya selebaran gelap tapi itu benar adanya dan menjadi amalan warga nahdliyin.
    menurut saya, PB NU harus segera memberikan penyelasan kepada umat dari fatwa ulama jombang itu mana yang salah dan mana yang benar dengan dasar Qur’an dan Hadits mumpung kita masih hidup dan masih ada waktu untuk merubah seandainya amalan yang dijalankan selama ini salah.”khasibu anfusakum qobla antu hasabu”.koreksilah diri kamu sebelum jika nanti Aku (A) yang mengoreksi.
    wass.wr.wb

    –> Wa’alaikum salam wrwb.
    Terima kasih komentarnya. Saya kira, orang-orang NU pun akan berpendapat bahwa amalan-amalan mereka telah selaras dengan Al Quran dan Hadits. Dan saya kira ulama2 NU berani berhujah dengan pihak pembuat selebaran itu.

    Setuju dengan .. “koreksilah diri kamu sebelum jika nanti Aku (A) yang mengoreksi”. Maka, cara dakwah pun harus sesuai dengan teladan Rasulullah saw. Knp harus memalsukan identitas, knp harus pakai selebaran gelap. Ini adalah cara-cara yang Bid’ah, Khurofat. Bukankah bid’ah/khurofat ini pula yang ingin diberantas?

  3. Ada beberapa teladan di dalam al Qur’an dalam hal dakwah. Ada contoh bagaimana Nabi Musa as menghadapi Raja Fir’aun. Teladan Nabi Ibrahim as dengan Raja Namrud. Atau teladan Nabi Isa as dakwah yang tidak kuasa melawan kekuasaan Romawi. Dan lain-lain. Serta teladan dari kanjeng Nabi saw sendiri terhadap pemuka-pemuka Madinah, dan kepada penguasa Romawi, Persi, Ethiopia, dll waktu itu.

    Selain itu, banyak metode/cara para ulama dalam berdakwah yang bisa dicontoh. Fakta sejarah, ada Syekh Yusuf Makasar, ada Syekh Maulana Ishak, ada Wali Songo, dan masih banyak lagi.

    Mereka para Nabi dan para ulama itu berdakwah dengan cara-cara yang diridloi Allah swt. Tidak menghalalkan segala cara. Tidak ada dengan cara seperti di atas. Bikin berita (bohong) yang seolah-olah dari Raja masing-masing.

    Itu adalah cara yang ditempuh oleh Snock Horgronje, untuk menghadapi perlawanan Aceh., dan untuk menipu para ulama di seluruh Nusantara. Cara-cara ini pula yang ditempuh oleh …… (anda tahu kan berita-berita ttg kristenisasi). Kalau demikian… siapa yang meneladani siapa ?

    Wallahu a’lam.

  4. ass.wr.wb.

    mohon maaf saya seorang nahdliyin yg secara turun temurun diwariskan dan dianut oleh nenek moyang saya. walaupun saya bukan seorang nahdliyin yg fasih dan menegenal secara detil semua ajaran NU berikut dalil2nya. saya sangat yakin bahwa ajaran NU benar adanya, kenapa? mulai dari kecil sampe saat ini sy bisa membandingkan dan merasakan betapa tentram dan damai ajaran islam yg di bawa oleh NU. soft, peace, and perfect dan yg paling penting alqur’an dan hadist sebagai tuntunannya.

    permohonan saya kepada semua kiai dan ulama NU panutan,

    segera meluruskan dan menegaskan bahwa selebaran itu tdk benar… secara terbuka dan mudah diperoleh oleh semua warga NU yg notabene tersebar hingga ke pelosok2 dimana sangat minim sarana informasi.

    terimaksih dan salam
    Pomo

    nahdliyin setia hingga akhir zaman. insya allah..aminnn

    wa’alaikum salam wr. wb

    –> Coba mas supomo baca kelanjutannya sampai akhir (6). Saya kira sudah diklarifikasi, dan ketahuan siapa sebenarnya si pembuat bid’ah ini.

  5. Cara dakwah dengan menjelekkan kelompok lain dan melakukan pemalsuan nama / mengatas namakan kelompok lain yang dijelekkan tersebut adalah sangat sangat sangat tidak islami.

    TRIMS

  6. Ping-balik: Mantan Kiai NU Menggugat « Catatan harian seorang muslim

  7. Assalaamu ‘alaikum.Wr.Wb
    Amalan yang diterima oleh Alloh adalah amalan yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits berdasarkan dalil “Wala taqfu ma laisalaka bihi ilm, inna sam’a wal bashoro wal fuadza kullu ulaika kana ‘anhu masula” artinya:Dan janganlah kamu mengerjakan pada sesuatu amalan yang tidak ada ilmunya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan ditanya dari yang diperbuatnya.dan “Man ‘amila amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun artinya:Barang siapa beramal pada suatu amalan yang tidak ada pada amalan itu perkaraku ( tidak ada dasarnya baik di Qur’an dan Hadits)maka amalan itu akan ditolak.dan “Aballooh anyaqbalu amalan lishohibil bid’ah hatta yada’u bid’atahu” artinya : Menolak Alloh jika menerima amalannya ahli bid’ah sehingga dia meninggalkan bid’ahnya.dan “Innalloha layaqbalu amalan lishohibil bid’ah,sholatan wala shodaqotan wala shouman wala hajjan wala umrotan wala sorfan wala ‘adlan wala jihadan yahruju minal islam kama tahruju sya’aroti minal ajn Artinya :Sesungguhnya Alloh menolak amalan ahli bid’ah, baik sholatnya,shodaqohnya,puasanya,hajinya,umrohnya,ibadah wajibnya,ibadah sunnahnya, jihadnya semuanya tidak diterima,bahkan keluar dari islam sebagaimana keluarnya rambut dari adonon kue.Jadi intinya sesuai dalil diatas amalan yang tidak sesuai Al Qur’an dan Al Hadits pasti ditolok nantinya berarti sia sia belaka, makanya jangan ikut-ikutan,rubuh-rubuh gedang, jangan kata kiayinya(kalau itu tidak sesuai dengan QH jangan diikuti)dan jangan syirik,bid’ah, khurofat dan tahhayul karena banyak kiayi panutan umat yang masih mengamalkan perbuatan seperti itu,kalau ada kesalahan mohon dimaafkan.
    Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb.

    –> Wa’alaikum salam wrwb. Salam kenal mbak (mas??) Yeni. Lain kali kalau menulis mohon pakai paragraf, dan tata bahasa yg baik (perhatikan huruf kecil, besar, koma, titik, dsb), untuk supaya mudah dipahami. Dengan demikian menjadi amal ibadah anda. Walau menulis dgn paragraf tak dicontohkan Nabi, tapi kalau tulisan anda spt di atas … pusing saya (ihiks .. saya kebetulan baru tak enak badan .. jadi tambah pusing). Dan kata guru kami pula bahwa menulis pakai paragraf itu jauh lebih baik. Anda boleh tak percaya, namun kenyataan membuktikan.

    Ada beberapa hal yg perlu ditanggapi. Setuju bahwa amalan ahli bid’ah akan tertolak. Namun bid’ah yg bagaimana yg dimaksud kanjeng Rasul saw. Para ulama sejak masa tabi’in telah mendefinisikan maksud kata bid’ah itu, untuk memperjelas maksud bid’ah dari hadits Nabi saw yg terkenal. Makna bid’ah didefinisikan dengan teliti, mempertimbangkan sunnah2/ hadits2 yg lain, serta sunnah2 para sahabat (sahabat Umar ra juga memakai kata bid’ah dalam hal tarawih yg anda pun pasti tahu) . Definisi ini dipakai dari zaman ke zaman tanpa ada perselisihan. Ada tercatat di blog ini. Silakan simak. Itulah pegangan kami.

    Jika kemudian ada sekelompok mendefinisikan sendiri kata bid’ah tanpa mengacu kepada ulama-ulama salaf.. dan kemudian menembakkannya ke semua kegiatan/ perbuatan yg tak disukainya, dan menjuluki pelaku-nya sebagai ahli bid’ah secara sembarangan .. maaf kami tak pakai itu.

    Maka dari itu saran saya .. simaklah maksud kata bid’ah ini baik2 agar tak tersesat. Definisi para Ulama tentang kata ini telah jelas, pilihlah definisi/ pendapat ulama yg muktabar, mayoritas, dari zaman ke zaman. Umat (para ulama) ini tak kan bersepakat dalam kesesatan. Ada hadits-nya kan. Hanya yg menyempal yg kemungkinan besar tersesat.

    Yang kedua, ttg “jangan ikut-ikutan kata kyai”. Kyai adalah sebutan untuk ulama bagi masyarakat desa (jawa). Mas (mbak) .. setiap manusia punya keterbatasan. Ada orang yg seumur2 tak pernah keluar dari kampungnya. Kalau anda melarang ikut kata kyai .. kepada siapakah mereka belajar agama? Kita patut bersyukur diberi karunia wawasan yg lebih luas. Namun kita belajar agama kepada siapakah? Ulama. Dari mana anda tahu ada dalil dari QH? Ulama.

    Jika anda ragu suatu perbuatan ada sumber dalilnya atau tidak, seharusnyalah anda tanyakan kepada ulama yg kompeten. Kyai kampung mungkin tak tahu (tidak sampai levelnya), namun kyai/ ulama yg kompeten masih banyak. Anda bisa temui dan berdialog dengan para ulama itu. Atau membaca buku2/ kitab2nya. Bacalah buku2 dari kedua sisi yg berseberangan. Para ulama NU itupun berani berhujah dengan amalannya. Orang-orang NU pun yakin bahwa amalan-amalan mereka selaras dengan Al Quran dan Hadits. So .. kenapa tak diserap hujahnya. Semoga kita selalu mendapat petunjuk-Nya. Amien.

    Mengatakan .. “jangan ikuti kyai” adalah salah satu target kampanye para missionaris, untuk menjauhkan umat dari ulama-nya. Ini langkah awal untuk selanjutnya menjauhkan umat ini dari agama-nya. Kalau ini berhasil, maka umat ini akan seperti buih diombak yg mudah diombang-ambingkan oleh mereka. Janganlah kita terjebak sehingga justru menjadi juru kampanye-nya, sadar ataupun tak sadar.

    Maaf kalau tak berkenan. Wallahu a’lam.

    NB: Penekanan kami dari artikel ini adalah,
    Justru ada sekelompok org2 yang malah bikin selebaran gelap, memalsu nama2 ulama, dan membikin fatwa-fatwa palsu pula. Inikah dakwah/ amal sesuai contoh baginda Rasul saw? NO way .. Maka telah ada tanda2, kelompok dari manakah yang merupakan ahli bid’ah yg sebenarnya.

  8. Ass.Wr.Wb
    Didalam sebuah hadits yang menjelaskan masalah bid’ah disebutkan:Wa syarol umuri muhdatsatuha wa kullu muhdatsatin bid’ah wa kullu bid’atin ndolalah wa kullu ndolalatin finnaro, yang artinya:Sejelek-jeleknya perkara adalah barunya perkara (syariat ibadah)dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid;ah adalah sesat dan setiap kesesatan masuk dalam neraka.
    Dalam hadits lain Nabi bersabda : Man ‘amila amalan laisa ‘alaihi amruna wahuwa roddun, artinya: barang siapa beramal pada suatu amalan yang tidak ada pada amalan itu perkaraku(N)(tidak berdasarkan Al Qur’an dan Hadits) maka amalan itu akan ditolak.Kiranya sudah jelas amalan yang benar itu yang sesuai dengan amalannya Nabi yaitu islam yang murni,muhlishina lahu din.Maaf kalau ada tulisan yang salah atau tidak berkenan.
    Wass.Wr.Wb

    –> Wangalaikum salam wrwb.
    Hadits yg sangat populer tetapi sering diamalkan melupakan hadits yg lain. Bagaimana dengan hadits Muadz ketika diutus ke Yaman. Bagaimana dgn hadits Muslim bahwa orang-orang yang membuat sesuatu yg baru yg baik akan mendapat pahala selama diamalkan oleh orang-orang yg mengikutinya.

    Hadits anda ini sangat pas jika diarahkan ke pihak orang2 yang bikin selebaran gelap, memalsu nama2 ulama, dan membikin fatwa-fatwa palsu itu. Karena sudah jelas perbuatan orang-orang itu sesat, tidak sesuai dengan contoh baginda Nabi saw yang murni, muhlishina lahu din.

    Itu skala kecil yang dilakukan oleh kroco-kroconya. Dalam skala besar, ulama2 mereka pun mengacak-acak kitab-kitab salafiyah, mengeditnya, memalsukannya, kemudian mencetak ulang dengan isi yg sudah berubah, agar sesuai dengan pemahaman (nafsu) mereka. Na’udzubillahi min dzalik.

    Maka telah ada tanda2, kelompok dari manakah yang merupakan ahli bid’ah yg sebenarnya.

    • beginilah kalau belum bljr tafsir hadist. jgn menafsirkan hadist hanya secara harfiyah mba..
      ucapan nabi itu sangat agung. butuh pemahaman mendalam..
      contoh soal hadist bahwa ada segolongan umatku yg menghalalkan zinah, alat musik dan khamr.
      KH. ahmad dahlan aja jawab gini saat ditanya muridnya “yg kafir kan orangnya, alat musiknya tidak”, jadi maksudnya selama musik tidak membuat kita lupa kepada Allah ya gpp..beda lg klo dengerin musik pas adzan,lupa solat itu baru haram.
      lalu hadist soal isbal. semua akan masuk neraka kalo berisbal. jaman skrg kan dimana2 celananya bnyk yg isbal, kasian donk umat nabi jaman skrg..jaman nabi dulu isbal menunjukkan kesombongan, menunjukkan derajat. beda ama
      jaman skrg, mau buruh petani presiden, semuanya isbal. tidak akan masuk ke surga org yg didalam hatinya
      masih ada kesombongan walau sebesar biji zarrah. itu intinya.

      skrg kita bahas soal hadist yg mba sodorkan.
      Memberi makna “kullu” hanya satu macam, yaitu “tiap-tiap/semua”. Padahal arti “kullu” itu ada dua, yaitu : “tiap-tiap” dan “sebagian”

      Dengan rahmat dan hidayah Allah, ana paparkan kesalahan “kaum wahhabi”:

      1. Tidak memperdulikan sabda Sahabat Umar “Ni’matul bid’atu hadzihi” (alangkah bagus bid’ah ini).

      2. Memberi makna “kullu” hanya satu macam, yaitu “tiap-tiap/semua”. Padahal arti “kullu” itu ada dua, yaitu : “tiap-tiap” dan “sebagian”

      Seperti kita maklumi, menurut istilah ilmu manthiq:

      - “kullu” yang berarti “tiap-tiap” disebut “kullu kulliyah”

      - “kullu” yang berarti “sebagian” disebut “kullu kully”

      contoh “kullu kulliyah”

      firman Allah: “Kullu nafsin dza’iqotul maut” yang artinya “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”

      contoh “kullu kully”

      firman Allah: “wa ja’alnaa minal maa’i kulla syai’in hayyin” yang artinya “Dan telah kami jadikan dari air sebagian makhluk hidup”.

      kalau “kulla syai’in” di sini diartikan “tiap-tiap/semua” maka bertentangan dengan kenyataan, bahwa ada makhluk hidup yang dijadikan Allah tidak dari air, seperti malaikat dari cahaya, dan jin juga syetan dari api.

      firman Allah: “wa kholaqol jaanna min maarijin min naar” yang artinya “Dan Allah telah menjadikan semua jin itu dari lidah api”

      Jelaslah bahwa arti “kullu” itu ada dua yaitu “tiap-tiap” dan “sebagian”.

      Kesalahan kaum Salafi wahhabi, karena mengartikan “kullu” hanya satu macam, yaitu “tiap-tiap”, sehingga dengan
      dalil “kullu bid’atin dlolalah” mereka menganggap semua bid’ah sesat tanpa kecuali.

  9. Assalamualaikum

    permisi bang..

    Semoga kita dijauhkan dari sifat munafik, sebagaimana pepatah bilang “Maling teriak maling” atau jelasnya ahli bid’ah yg teriak bid’ah pd Saudarnya yg lain. Ya Allah jagalah lisan kami dari menjelekkan saudara, dan hidayahkanlah para saudara kami yg mengorek kekurangan saudaranya sendiri. Allahu akbar, bangkit para pengikut dan pecinta Baginda Rosulullah SAW.

    wallahu a’lamu bishowab
    wassalamualaikum wr wb, salam ukhuwah

    • maaf bukan maksud saya bersombong, demi Allah hanya berbagi pengalaman. selama 5tahun saya di pesantren yg lingkungannya NU, blm pernah sekalipun saya mendengar ustad2 saya menjelekkan muhammadiyah(yg tidak setuju bidah hasanah) memang pernah ada penjelasan soal perbedaan ibadah, tp kami dianjurkan untuk saling menghargai perbedaan pendapat. masing2 ada argumentasinya. knp harus dibesar besarkan? urusan ibadah, Allah yg menentukan diterima tidaknya.

  10. kenapa selalu menampik kebenaran ? coba anda jelaskan 1 per 1 tentang fatwa palsu ulama jombang itu. setidaknya tulisan fatwa palsu itu lebih benar dari ucapan anda.

    lihat saja di situs “majelisrasulullah”, hampir seluruh jawaban itu keliru memahami hadits dan riwayatnya. begitu teledor dan asal2an

    misalnya doa selesai sholat, Rasulullah SAW melakukanya dengan suara keras “hanya” sampai para sahabat faham , anda ga tau itu kan ?. apa ga tau klo 2 adzan di lakukan di 2 tempat yg berjauhan ? qunut dilakukan Rasulullah SAW hanya 1 bulan di setiap sholat saat terjadi perang , lalu Rasulullah meninggalkannya ,apakah anda juga ga tau atau ga ngerti atau ga pengen ngerti?

    dalam hal bid’ah,munzir mengatakan , “tidak ada larangan”. lalu apa boleh dilakukan ? lalu bagaiman dg sholat menggunakan bahasa indonesia ? boleh ga ? anda ini getol beribadah tp bodoh dalam ilmu dan riwayatnya. asal cocok, hadits palsu pun di embat .ga ngerti yg di maksud bid’ah dalam dien , asal semua baru , lalu bilang bid’aaaaaaaah hehehehe

    –> Duhh .. mas. Para Ulama NU itu pun pakai dalil. Dan mereka mestinya berani berhujah (dgn anda) memperlihatkan/ mempertahankan dalil2 amalannya. Ehm .. kami mmg tak pakai istilah bid’ah dien. Agaknya anda langsung ketemu halaman ini .. dan langsung labrak. Jangan gitu dhong mas… Ada banyak artikel yang lain di sini. Silakan simak.

    Di sini, tekanan kami sejak awal.. ada satu golongan tertangkap basah memakai cara2 bid’ah sesat dengan memalsu fatwa, memalsu nama kyai, dll. Golongan ini dari mana .. ihiks .. anda pun pasti tahu. Tidak ada contoh baginda Nabi saw berdakwah memalsu tokoh-tokoh, memalsu fatwa, membikin resah, mengadu domba umat, dll. Cara spt ini adalah contoh dakwah oleh m********s.

    Catatan: Justru yg mengherankan, dari komentar2 yg ada, tak da satupun (dari pendukung kelompok penyebar selebaran gelap itu) yg mengakui bersalah.. dan/ atau memintakan maaf, atau menunjukkan penyesalan. Justru pihak yg terdzolimi masih saja divonis2/ dituduh2 sebagai pelaku bid’ah (dengan tetap mencoba masuk ke materi selebaran gelap). Padahal dari peristiwa penyebaran selebaran gelap ini sudah jelas kelihatan … siapa yg melakukan bid’ah sesat.

    • Kayaknya si ujang ini merasa lebih hebat dari ulama2 yang sudah melakukan ijtihad bersama sepanjang zaman…
      Dikira ulama ngomong ga pake dalil pa? mereka tu belajar puluhan tahun, kemudian menentukan fatwa juga ga sendirian tapi bersama banyak ulama yang lain….
      Ulama tuh waratsatul anbiya’… klo ga da mereka mungkin kita masih menyembah pohon atau batu… agak modern dikit, mungkin nyembah facebook…. (hehe just kidding)

      mohon maaf, jangan menyalah2kan orang toh… kecuali mereka yang sengaja ingin menyesatkan, baru kita lawan… wong sama2 yakin, ya hormati lah…

    • kayanya si ujang nih… orang paling hebat dari ulama kali…. kaya orang yang paling benar dari ulama.hehehhe,,,
      wihhhhh…. hebat coyyy….. rajin rajin belajar yah….. tapi…. ati2 kecemplung.

      • Apa yg dikatakan Ujang itu memang BENAR,umumnya org NU hanya taqlid kepada Kiyai walaupun ajarannya kdg2 ada yg menyimpang dan sesuai dgn tuntunan Rasulullah SAW. Pada hal sudah jelas dikatakan bahwa “Setiap bid’ah adalah SESAT dan seti ap yang SESAT itu akan masuk Neraka”. Efek dari perbuatan sesat itu adalah di akhirat,dimana semua orang akan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatannya selam hidup di Dunia. Silakan saja kalau ANDA2 yg keras kepala masih tetap ber-BID’AH-ria !!

        –> Umumnya org wahhabi hanya taqlid kepada syaikh-syaikhnya walaupun ajarannya kdg2 ada yg menyimpang dan sesuai dgn tuntunan Rasulullah SAW. Pada hal sudah jelas dikatakan bahwa yang jelas bid’ah sesat tanpa perdebatan lagi, membuat fatwa palsu dan mencatut nama ulama. Efek dari perbuatan sesat itu adalah di akhirat,dimana semua orang akan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatannya selam hidup di Dunia. Silakan saja kalau ANDA2 yg keras kepala masih tetap ber-BID’AH-ria !!

  11. Assalamualaikum Wr wb,

    MasyaAllah…Si Ujang nih siapa siih..? aPa si ujang ini merasa lebih pinter dari ahli2 Hadist sekelas Imam Malik Ra,Imam Syafe’i Ra,Imam Hambali Ra dan Imam Hanafi Ra dsb sehingga berani menilai Guru Mulia kami Hb.Munzir bin Fuad AlMusawa yang selalu berhujah dgn Nash2 yg jelas dan bersanad/bersambung dgn Imam2 diatas hingga Rosulallah saw.Sungguh Guru kami tidak berhujah dgn Nafsunya tapi Beliau berhujah dgn mengikuti pendapat para imam tsb.

    Koreksi Islam anda jang.. apa uda sesuai dgn salah satu Imam Mazdhab besar tsb yg telah diakui pendapatnya oleh ulama2 & Mayoritas Kaum Muslimin, karena imam2 tsb AHlussunah Waljamaah.klo belum perbaiki deh mumpung blm terlambat…atau ente emang mau nambain jadi imam mazdhab yg baru..?

    Udah deh yg jelas Fatwa itu sdh terbukti PALSU, ga usah melebarkan masalah dgn menghina yg lainnya,keterangan Guru Kami Sudah jelas&Gamblang bagi yg mau mencari KEBENARAN.

    Wassalamualaikum Wr Wb.

    –> Wa’alaikum salam wrwb. Sudah lah mas … sebenarnya kurang tepat masalah2 materi selebaran itu didiskusikan di topik ini. Topik di sini titik beratnya adalah adanya kelompok dakwah dengan cara bid’ah sesat.

    Ada banyak artikel lain di blog ini yg membahas masalah2 itu. Silakan diskusi panjang di sana, sesuai materi topiknya/ isi halamannya. Selama taat aturan, saya tak kan mensensor-nya.

    Membahas masalah2 ke materi selebaran di halaman ini dengan mengabaikan perbuatan tercela ttg tata cara dakwah itu hanyalah membelokkan masalah.

  12. assalamu’alaikum Wr. Wb.
    hendaknya kita sebagai warga nahdhiyin menyikapi hal ini dengan kepala dingin, tidak perlu emosi. ingsya allah kalau suatu ibadah itu dilandasi oleh dasar hukum yang jelas ngapain kita sewot. biarkan orang komentar, kafilah tetap berlalu. warga NU Wiridan, tahlilan, yasinan dll dah punya dasar dan ittiba’ kepada para sesepuh kyai. selebaran itu hanya ulah orang yang mungkin pemahaman Islamnya terpotong-potong dan doa kita, semoga yang membuat selebaran tersebut mendapat petunjuk sehingga dapat menerima pandapat dan ritual ibadah di luar golongan mereka. wallau’alam…
    wassaa

  13. sy hanya berdoa, semoga Alloh mengampuni org2 yg membuat selebaran gelap, dan membuka hatinya utk berperilaku baik…

    hati2 dg org yg mengatasnamakan islam, tp justru lebih suka menyerang islam… semoga kita tdk menjd golongan org munafiq dan fasiq. semua org akan dimintai pertanggungjwbn sesuai amalnya masing2.

    biarkan mrk memilih, sampaikan dg baik dasar2nya… wallahu a’lam bimurodih

  14. assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh..saya hanya ingin menegaskan.baik madzhab safi`i,hanafi,hambali dan maliki pasti ajaran-ajarannya punya usuludin sendiri2.selama usuludin tersebut tidak lepas dari al qur`an dan hadits.insya allah tidak sesat ajarannya..Jangan kita membuat tertawa kaum yahudi dan nasrani melihat umat islam berperang antar golongan. Kini saatnya kita lawan yahudi dan nasrani dengan bersatu, menjadi muslim yang kaffah..kita jemput kemenagan islam dengan bersatu,,dan semuanya kita kembalikan pada ALLAH SWT penguasa alam..wassalamu`alaikum,,

  15. Assalamu ‘alaikum wr wb

    Kalau saya perhatikan, mereka yang disebut ahlul bid’ah kok malah lebih santun dalam berkomentar. Mereka juga lebih tahu bagaimana berdiskusi yang baik. Bahkan sampai soal “paragraf”, tata bahasa pun mendapat perhatian. Semoga Allah merahmati kita.

    Wallahualam

    Wassalamu a’laikum wr wb

  16. Nakhnu Anshorulloh….segala sesuatu yg baik pasti dapet balasan baik,yg buruk juga pasti ada balasanya … Gitu aja kok repot… ( Sory kang saya ABG tulen ) “Anak Buah GusDur”

  17. Kalo menurut saya, bagi mereka yang berbeda pandangan dengan orang2 NU jangan menghina..kok kayaknya iri dengan kebesaran NU, kalo kepingin punya organisasi besar, berpikirlah yang cerdas, jangan sukanya menjelek-jelekkan.

  18. Anda mengatakan ummat islam harus berdalil dgn hadist yg shohih.

    Pertanyaannya: adakah hadist shohih yg benar-benar shohih dgn bukti hadist tsb disetujui (disohihkan) secara explisit oleh Rasulullah? (tak mungkin ada khan?).
    Bukankah menurut anda beragama hanya boleh mengikuti rasul dgn dalil yg benar-benar shohih?
    Kalau begitu anda hanya bermimpi.

    –> perasaan .. saya tak pernah mengatakan demikian mas..

  19. assalamualaikum wr. wb.

    Saudaraku semuanya.. sungguh diskusi yang bagus. tapi janganlah sampai terbawa emosi, karena saya yakin semua membawa dalilnya masing masing dan paling benar menurut masing masing dengan guru dan ustadnya. Tapi yakinkah kalian yang paling benar???? sebaiknya silakan kalian membuka diri dan perluas wawasan belajarlah kelain daerah/negara. Akan banyak sekali ilmu yang belum pernah kita ketahui. dan marilah kita berdoa agar di tunjukan jalan yang paling benar.

  20. Dah, yg salah tu yang ga solat… yang ga puasa… yg ga zakat… mari ingatkan mereka… yg udah solat (apapun mazhabnya) mari saling dukung sesama muslim untuk kejayaan islam yang lebih mardotillah

    amiin

  21. Assamualaikum wr wb, Semoga Allah swt mengampuni dosa orang2 yang menyebarkan selebaran sesat,amien. Gak perlu berdebat dng org2 yg selalu mendiskreditkan kaum NU, Allah maha tahu.

  22. assalamualaikum wr. wb…

    bwt semua umat islam yg menganut ajaran NU,, semuanya harus tau,, bukan kah itu tanda2 dari dekatlah sudah hari kiamat ,meskipun kiamat kecil,,,,, banyak manusia yg merasa pintar,, merasa pandai dalam agama,,, sehingga muncul fatwa2 yang belum pasti sumber hukumnya,,,
    Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR Bukhari).

    –> wa’alaikum salam wrwb. hadits anda benar. Ciri2 kelompok itu bahkan jelas tertera di dalam hadits. Silakan terka sendiri kelompok manakah itu: Muda, bodoh (cethek akalnya), suka berfatwa (mengatakan sesuatu dari firman Allah), serta iman yg sangat dangkal. Sangat jelas.

  23. Saya adalah orang awam, yang sedikit ilmu agama. Saya pengen tanya kepada saudaraku semuanya. Kalau Yasinan itu nggak dasarnya apa ya. Terima kasih sebelumnya

    –> yasinan ada dasarnya. lihat artikel kami: keutamaan yasin. Silakan search kanan atas.

  24. assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
    saudara-saudara sekalian. saya mengerti jika saat ini pro dan kontra adalah sesuatu perbuatan yang memusingkan karna tidak ada habis-habisnya dan tidak ada solusinya. semua sama.. sama-sama berpendapat “saya yang benar”
    oleh karna itu disini saya ingin mengajak saudara dari organisasi NU. untuk membuktikan apa yang saudara anggap benar itu memang benar dengan menjawab pertanyaan. tidak usahlah kita berdebat dengan mengikuti ego dalam diri karna iblis selalu dan selalu membisiki telinga kita.
    hmm begini saudaraku. jika memang sampean merasa bahwa perbuatan-perbuatan bid’ah itu benar. tolong jawablah pertanyaan saya dengan sebaik-baiknya.
    ,
    1. pernahkah rasulullah melakukan tahlilan 1 kali saja? dan adakah dalil yang menganjurkan kita untuk berkumpul dan membaca surat yasin dirumah orang yang baru saja meninggal. baik itu 1 hari, 3hari, sampai 40 hari setelah orang tersebut meninggal? jika memang ada maka tidak satupun manusia dimuka bumi ini yang behak menentang kebiasaan tersebut,

    2. jika anda menganggap qunut itu benar dilakukan setiap sholat subuh. apa alasan kuat anda sehingga menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang benar? padahal rasullulah tidak pernah melakukan qunut kecuali jika hendak berperang. jika kita berpikir secara kepala dingin. maka kita akan berfikir bahwa ini adalah sesuatu yang salah. dan jika kita tetap memaksakannya, bukannya kita telah melampaui batas dari apa yang telah rasulullah lakukan?

    3. Di masjid dekat tempat tinggal saya. Saya menyaksikan sebagian orang-orang yang shalat berjamaah seusai mereka shalat, mereka selalu berdoa bersama-sama, Imam setelah sholat membacakan doa dan dzikir sementara makmum tinggal mengikuti dan membaca amin. sering kali saya melihat makmum tersebut mengikuti tapi dengan bacaan yang salah dan seperti orang yg mengantuk, pernah setelah sholat saya tanyakan kepada mereka kenapa hal tersebut selalu dilakukan. padahal keinginan dan permintaan seseorang kepada Allah tentu berbeda-beda. tapi mereka malah menertawakan saya dan menganggap saya ini anak kecil yang belum tau apa-apa. tapi pikiran positif saya mengatakan mungkin mereka hanya orang” yg mengikuti tanpa tau apa sebab mereka mengikuti.
    yang saya ingin tanyakan. apakah hal seperti ini ada di zaman rasulullah.. apakah dijaman rasullulah setelah selesai sholat sang imam membaca dzikir dan doa sementara makmum mengikuti dan diakhiri dengan bersalam-salaman? adakah hadist dari rasullulah yang menyuruh atau menganjurkan kita untuk melakukan hal tersebut?

    Berilah kami penjelasan yang pasti agar orang” yang menganggap anda sebagai ahlul bid’ah terdiam.

    sedikit dari pesan saya disini. . jika kita berpendapat tradisi seperti diatas itu telah dilakukan oleh nenek moyang kita secara turun temurun. tanpa berpikir terlebih dahulu benar atau tidaknya. dan hanya berfikir kita harus mengikuti dan meneruskannya. bukankah kita sama saja dengan alasan orang” kafir yang hendak disadarkan oleh nabinya? saya tidak berbicara kalo orang” salafus shalih adalah nabi. tapi sekedar mengingatkan saja. jika tradisi” seperti yg anda lakukan itu benar. dan ada hadist serta dalil yang sahih. pastilah saya akan membela NU sampai titik darah penghabisan.
    karna saya tidak membela organisasi atau pihak manapun. kecuali hal yang jelas-jelas telah diridhai oleh Allah Ta’ala

    –> wa’alaikum salam wrwb.

    Anda membelokkan masalah. Lihat jawaban kami terhadap komentar-komentar yang masuk sejak awal.

    Bagaimana pendapat anda terhadap isi artikel? Mengedarkan fatwa palsu atau menggunakan nama palsu atau memalsu nama tokoh/ulama masyarakat, itu bid’ah sesat nggak yaa mas?

    • kepana pertanyaan saya tidak dijawab? jawab dulu mas pertanyaan saya jangan hanya bilang membelokan pertanyaan
      pertanyaan saya masi 1 tema kok dengan judul diatas. masi membahas bid’ah.

      saya justru bingung dengan komentar diatas yg menyebutkan “Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR Bukhari).

      jika yg anda maksud sesat itu adalah orang” yg menentang bid’ah. apakah mungkin orang” itu adalah orang” yg mengerjakan amal ibadah sesuai dengan apa yg diajarkan al-qur’an dan sunnah. tanpa menambahkan dan mengurangi 1 bagian pun dari apa yg disyariatkan oleh rasullulah?

      Saudaraku –yang semoga dirahmati Allah-, seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat,

      فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

      “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18] : 110)

      Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

      Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

      مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

      “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

      coba lihat hadist” diatas. jika anda mengatakan bahwa apa yg anda lakukan itu benar. mau dikemanakan hadist” ini? apa anda berani menentang printah rasulullah? apa anda siap jika di hari kiamat nanti anda tidak termasuk jajaran umat rasullulah. sedangkan panutan umat diakhir jaman hanyalah nabi muhammad.saw
      perlu diketahui bahwa setiap umat manusia pasti akan merasakan mati. dan di alam kubur kita akan ditanya tentang amal perbuatan kita selama didunia. jika ada amal perbuatan yg tidak pernah rasul lakukan. sementara rasullulah telah memberikan perintahnya melalui hadist diatas. lalu kita mau bilang apa?

      na’uzubilah minzalik
      kesempatan untuk bertaubat masih terbuka saudaraku. jika kita ingin menjadi umat islam yang sesungguhnya. bukan islam yang ditambah tambah atau islam versi indonesia. maka kita harus mengikuti semua syariat rasullulah tanpa menambah, mengurangi, atau mengubah 1 apapun dari apa yg telah rasullulah syariatkan. rasul adalah utusan allah. semua perintahnya adalah langsung dari Allah.swt. bukan dari hasil musyawarah, buah pikiran, ataupun dari perbuatan manusia. itulah yg membedakan agama islam dengan agama lainnya.

      perlu diketahui 1 hal lagi saudaraku. banyak sekali diantara kita yg salah paham dengan pengertian bid’ah seringkali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya. Tulisan ini -insya Allah- akan sedikit membahas permasalahan bid’ah dengan tujuan agar kaum muslimin bisa lebih mengenalnya sehingga dapat mengetahui hakikat sebenarnya. Sekaligus pula tulisan ini akan sedikit menjawab berbagai kerancuan tentang bid’ah yang timbul beberapa saat yang lalu di website kita tercinta ini. Kami harapkan pembaca dapat membaca tulisan ini secara sempurna agar tidak muncul keraguan dan salah paham. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

      AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA

      Saudaraku, perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada.

      Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,

      الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

      “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

      garis bawahi kata AGAMA dari hadist rasullulah diatas. dari hadist tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa selain dari urusan agama. maka segala sesuatunya yg tidak ada pada zaman rasulullah halal untuk kita lakukan.
      seperti :
      - naik pesawat terbang
      - naik kereta api
      - menggunakan laptop
      - menggunakan handphone
      - belajar ilmu” dunia dari orang kafir
      - mendengarkan musik
      - melihat siaran televisi
      - menciptakan sesuatu yang baru selama itu masi dalam batas” tertentu
      dan urusan duniawi lainnya itu semua tidak termasuk bid’ah yg terlarang.

      Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan pembaca sekalian. Saya disini hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan. Tidak ada yang dapat memberi taufik kepada kita sekalian kecuali Allah. Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik-Nya ke jalan yang lurus.

      assalamu a’laikum warahmatullah wabarokatu

      –> wa’alaikum salam wrwb. maaf.. khotbah anda panjang lebar, tapi membelok dari masalah di artikel. Dan tidak menjawab pertanyaan. Fokus artikel ini adalah ada orang (yang katanya) berdakwah, tetapi dengan cara berbuat bid’ah sesat. Padahal katanya mau memberantas bid’ah.

      Maaf.. agar tetap fokus, saya tak bersedia membahas isi selebaran gelap-nya di sini. Silakan cari masalah yang ingin anda diskusikan di artikel lain yang topiknya sesuai .

      maaf kl tak berkenan.

      • biar saya yang jawab ……………
        1, jawabanya ada 3 perkara yang mengalir terus setalah meninggal dunia….. salah satunya itu …. terus bagai mana menurut anda tentang membaca yasin itu salah ????bukankah sebuah pahala telah di janjikan untuk seseorang membaca al-quran….
        2, apakah anda tidak sadar sesungguhnya orang yahudi telah memerangi kita berbagi cara …. klasifikasi perang itu berbagai macam . kenapa anda tidak membuka pemikiran secara luas ….jika itu di sebut bid’ah …… harus anda pahami dulu bid’ah itu terbagi berapa bagian
        3. anda mempermasalah kan sebuah pekerjaan yang baik …… seperti ada sebuah kata bagus tapi ada yang lebih bagus …….. kenapa yang anda permasalahkan sesuatu yang bagus nya bukan orang ketika setelah solat berjamaah mereka terus ngobrolo di mesjid …….. coba anda bandingkan dengan pake motor bebek ma pake motor harley davidson ……… seperti itulah ……..

    • Yg dibaca itu adalah Al-Qur’an keseluruhannya,bukan hanya Yasin,memangnya isi Qur’an hanya surah Yasin saja? Apa saja yang berkaitan dgn masalah ibadah yg tidak ada dalil atau tuntunan dari Rasulullah SAW disebut bid’ah. Kenapa harus repot2 melakukan perbuatan yg masuk kategori Bid’ah yg disebut dalam selebaran itu,apakah yang sesuai sunnah nabi tidak cukup? Atau merekia yg mempertahankan kerja/perbuatan BID’AH merasa lebih pintar atau lebih super ibadahnya dari yg dicontohkan Nabi Muhammad saw? Sebaik apapun yang anda lakukan,kalau meng-ada2 tetap saja BID’AH namanya bung! Ganjaran nya adalah masuk Neraka!!!

    • hamba Allah yg baik.,
      saya mau tanya dulu sebelumnya ;
      1. apakah anda selama ini selalu takziah / datang melayat setiap ada tetangga anda yg meninggal? bahkan sampai mengantar ke kubur?
      2.Apakah anda selama ini selalu tepat shalat subuh dan tak satupun subuh anda terlewat? anda sengaja/ tidak anda sengaja.
      3.apakah setiap shalat 5 waktu anda selama ini selalu aktif shalat berjamaah?
      TOLONG dijawab dulu mas., kalo jawaban anda atas ke3 pertanyaan saya jawabannya YA., anda berhak untuk mendapatkan jawaban atas ke 3 pertanyaan anda., tapi kalau jawaban anda TIDAK., saya kira anda juga TIDAK BERHAK atas jawabannya. toh mau dijawab / atau tidak dijawab sama saja bagi anda., saya yakin tidak tidak akan ada gunanya buat anda.
      terima kasih.

  25. @Hamba Allah itu benar. mengapa anda tidak menjawab pertanyaan dari beliau?
    jika antum benar seharusnya antum bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang. dan yg saya lihat antum seperti orang panik. sungguh aneh sekali.
    semoga antum diberi kesadaran oleh Allah.Swt

    –> Mas Ridwan atau Hamba Allah, anda tak perlu berganti-ganti nama. Tak papa kok. Apakah anda ingin memalsukan indentitas agar seolah-olah tampak ada dua (atau lebih) pendukung. Itu pemalsuan mas. Identik dengan topik pemalsuan identitas di artikel yg justru dibahas di sini. Anda melakukan bid’ah sesat dengan berusaha menipu pembaca lain.

    Lihat jawaban thd komentar2 dari awal (#1). Sejak awal memang tidak membahas isi selebaran gelap, tapi tentang perbuatan bid’ah sesat dari orang yang mengedarkan selebaran gelap itu. Isi dibahas di artikel lain. Jika semua dibahas di sini, maka topik melebar ke mana-mana. Padahal sudah ada di artikel lain.

    Terima kasih doanya. semoga demikian juga dengan anda.

    Mohon maaf kl tak berkenan.

  26. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    @Admin maaf saya lancang membalas komentar dari Saudara kita Hamba Allah
    @hamba Allah:
    1. Maaf saya tidak tahu karena saya tidak hidup di zaman Rosululloh SAW, yang saya ketahui yang namanya TAHLILAN versi NU itu kita memintakan ampunan agar dosa² si Alm/Almh diampuni oleh ALLAH SWT. biasanya dibarengi dengan SHODAQOH itupun kalau ada Rejeki dari ALLAH dan TAHLILAN 3, 40 bahkan 1000an sifatnya tidak WAJIB.
    >>> Apakah anda mendo’akan orang tua anda jika udah meninggal….???

    2. yang saya ketahui Do’a Qunut itu terbagi menjadi dua. Pertama; qunut nazilah yaitu qunut yang dilakukan atau dibaca saat adanya bencana. Kedua; qunut shalat yaitu qunut yang dibaca pada waktu i’tidal (berdiri setelah ruku’) setiap akhir roka’at pada shalat subuh dan shalat whitir (secara umum) karena dalam masalah qunut ini para imam dan ulama mazhab berbeda pendapat tentang pelaksanaannya. Sedangkan hukum doa qunut itu sendiri adalah Sunnah Muakkad/ab’ad atau sunnah yang diperkuat.

    3. Dzikir yang dibacakan Imam pada habis Sholat itu sifatnya Global semua orang pasti berdoa seperti itu. dan jika mau menambahkan do’a/ keinginanya diluar do’a yang di baca imam kita bisa berdo’a sendiri sehabis doa IMAM.

    dan Insya’allah apa yang diajarkan oleh NU tidak menyalahi dari isi AL-QUR’ANUL KARIM dan HADIST karena mempunyai dasar² yang mungkin belum Anda ketahui.

    Saya Mohon Maaf jika ada kekeliruan karena saya hanya manusia biasa dan kesempurnaan Hanya Milik ALLAH SWT.

      • skrg zaman ny kita sok merasa benar… tp kita hrs mengacu kepada perintah Rosululloh beliau berpesan kl kita menemukan permasalahan kembalikan kepada Alqur’an dan hadist. disitu saja kita saling mengingatkan karna kita sama2 beragama islam…

      • kalau berdzikir sendiri sebaiknya tidak dengan suara keras, kalau berjamaah baiknya dikeraskan, supaya menuntun org yg blm bs menjadi bs. ini terjadi kepada anak saya yg msh 4 tahun. saya kaget dia bs mengucapkan shalawat, pdhl blm prnh mengajarkan, ternyata dia sering dibawa ke pengajian oleh neneknya. begitulah hikmahnya..

  27. Sudah selayak nya kl NU mengatas nama kan Ahlus sunnah waljaamah hrs membuktikan kl dia cinta sunnah, suruh dong jamaah ny untuk berjenggot, jgn isbal,mana yg mjadi hadist shahih tolong di imani… hal2 yg syubhat jgn terlalu di jadikan amalan no. 1 pdhl msh banyak amalan yg shahih yg wajib di amalkan… kl kita Ahlus sunnah mari kita tegakkan sunnah dan kita berantas bid’ah secara bersama2… Islam kan hrs bersatu bukan bercerai berai dgn sibuk membuat msg2 golongan yg mengatas namakan islam atau ahlus sunnah

  28. aku jg dari keluarga NU,menurutku solawat nariyah emang ada syiriknya,coba lihat,disitu ada tawasul kpd nabi saw,pdhal beliau sdh wafat,ktk nabi saw msh hidup para shohabat beliau memintanya berdo’a pd Alloh untuk turunkan hujan,stlh dido’akan akhirnya turun hujan, stlh nabi saw wafat para shohabat tdk dtg ke kuburan nabi saw ktk msm kmarau tp dtg kpd ibnu abbas paman nabi spy dido’akan agar turun hujan

  29. saya masih awwam dalam perkara dien. namun dari komentar-komentar di atas, bisa dilihat bahwa memang benar, orang2 NU sangat dangkal ilmunya, jawabannya sangat tidak ilmiah, tanpa dalil, dan tidak mengerti hadits sama sekali. mungkin perlu belajar ilmu hadits kali ya.? terbukti jawabannya banyak yang dibelokkan, dan terkesan panik.. yang lucunya justru ngebahas pelajaran bahasa indonesia… biasa, saya sering nemuin orang kayak gitu di kampus. itu udah nunjukin kapasitasnya yg kosong.

    di daerah saya, saya banyak kenal kyai muda nu, yg pulang dari mesir, saudi, dll… terus dia bilang sama saya, sebetulnya selama belajar di sana, dia tau ajaran yg selama ini melekat pd warga nu kebanyakan perkara baru yang diada2kan, padahal justru perkara yang sangat penting yaitu perkara aqidah, tp dia bilang, “kalau saya mengatakan yg sebenarnya bisa2 saya ditinggalkan semua orang, bahkan orang tua saya sendiri. padahal mereka berharap banyak, dengan menjadi kyai muda, martabat keluarga akan berubah”.

    saya bilang padanya, ikuti rasulullah, beliau tidak takut mengatakan al haq walaupun diusir oleh kaum quraisy.
    lama tak berjumpa, saya dapati orang2 telah banyak menghadiri majelis dia, sambil membawa botol air untuk ditiup minta barakah dari dia… innalillahi wa inna ilaihi rojji’un

    jadi menurut saya perdebatan seperti ini tidak perlu dilanjutkan, hujjah sdh cukup banyak, tidak ada gunanya, ibarat berbicara pada mata yang telah buta, telinga yang telah tuli, dan hati yang telah membatu… na’udzubillahi mindzalik…

    –> kalau menurut saya yang masih awwam dalam perkara dien. dari artikel dan komentar-komentar di atas, bisa dilihat bahwa memang benar, orang2 wahaby sangat dangkal ilmunya, jawabannya sangat tidak ilmiah, tanpa dalil, dan tidak mengerti hadits sama sekali.

    jadi menurut saya memang sudah jelas, bukti sdh cukup banyak, siapa yg memalsu dalil siapa yg memalsu fatwa, siapa ahli bid’ah yg sebenarnya. ibarat berbicara pada mata yang telah buta, telinga yang telah tuli, dan hati yang telah membatu… na’udzubillahi mindzalik…

    • Untuk Saudara Abdulloh,

      Komentar Anda :

      di daerah saya, saya banyak kenal kyai muda nu, yg pulang dari mesir, saudi, dll… terus dia bilang sama saya, sebetulnya selama belajar di sana, dia tau ajaran yg selama ini melekat pd warga nu kebanyakan perkara baru yang diada2kan, padahal justru perkara yang sangat penting yaitu perkara aqidah, tp dia bilang, “kalau saya mengatakan yg sebenarnya bisa2 saya ditinggalkan semua orang, bahkan orang tua saya sendiri. padahal mereka berharap banyak, dengan menjadi kyai muda, martabat keluarga akan berubah”.

      Tanggapan saya :

      Kalau lulusan Saudi hampir dipastikan mereka berkata semua bid`ah sesat tapi kalau lulusan Masr dan Yaman Insya Alloh tidak seperti itu. Karena di sana di ajarkan perbedaan dalam bermadzhab, sedangkan mesir adalah pusatnya ahlu sunah wal jamaah, kalau tidak percaya lihatlah fatwa2 ulama besar mereka.

      • untuk soal ini, apa yg saya saksikan sendiri, itulah fakta. termasuk segala yang ada di blog ini. semua bid’ah sesat bukanlah perkataan ulama saudi, namun perkataan rosulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sendiri… bahwa setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka… tentunya yang dimaksudka di sini adalah bid’ah dalam perkara agama. afwan, saya cuma mau kasih koment aja, nggak butuh dongeng… butuhnya dalil. sebutkan ayat dan hadits… bahkan kakek saya yang seorang kyai nu dan ceramah kemana2pun tidak bisa membawakan satu ayatpun dan hadits tentang amalan2nya. kalaupun ada, kebanyakan dhoif.

      • Mas Abdulloh,

        Anda mengatakan hanya membutuhkan dalil tapi pada kenyataannya Anda sendiri tidak bisa menafsirkan sebuah dalil yang Anda bawakan sendiri.

        Ini tulisan Anda :

        setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka

        Tapi pada kenyataan Anda membagi bid`ah dalam perkara agama, bukankah Anda mengatakan SETIAP BID`AH ADALAH SESAT ?

        Inilah kerancuan pendapat Anda dan madzhab Anda itu.

        Kemudian mengenai hadits doif itu bukanlah hadits palsu, jadi masih bisa dijadikan dalil yaitu untuk fadooil al-a`maal.

        Kalau ada yang menganggap hadits doif sama dengan hadits palsu ini adalah pendapat yang Syad/ nyleneh dan bukan pendapat jumhur ahli hadits.

        Kalau Anda suka yang nyleneh2 ya silakan saja itu pilihan Anda…..

    • Assalammu’alaikum…
      hadduhh., masalah ini kok jd berkepanjangan yaa??
      saya orang awam., terpenting bg saya ISLAM , bersyahadat , bertauhid dan bisa semaksimal mgkin melaksanakan rukun islam dan rukun iman., bisa sempurna aja syukur alhamdulillah.
      Hanya Allah yg sempurna ( MAHA sempurna ) , kalian kok pada bertengkar sesama saudara sendiri, dan berebut bahwa diri kalian msg2 yg plg baik/ sempurna dan menyalahkan orang yg tidak sepaham dgn anda derajatnya lebih rendah dari diri kalian??. naudzu billah.. kalau kalian sdh sreg dgn ajaran/ faham yg saat ini kalian anut ya sdh., the show must go on., tp jgn menyalahkan org lain yg beribadah kpd Allah tp tdk sepaham dengan anda.
      Di luar masalah itu masih banyak tempat untuk kalian semua melakukan amal dan perbuatan baik lainnya dp kalian ribut masalah ini. Kenyataan yang ada di masyarakat yang saya temui., baik di NU maupun di Muhammadiyah saya menemukan ORANG yg tidak baik dan orang orang yang baik. TIDAK SEMUANYA orang Muhammadiyah itu benar/ baik semuanya., begitu juga orang NU, TIDAK SEMUANYA Orang NU itu jelek semuanya. Wong Muhammadiyah sing elek kelakuane iku yo onok ( gk kabeh apik )., wong NU yo ngono sing kelakuane elek yo onok ( gk kabeh apik )., gak usah eker”an, pinter2an., ayo sing podho rukun ngudi kabecikan, iku luwih utomo.
      Al kisah ada dua orang yg hidup bertetangga yg satu orang Muhammadiyah dan satunya lagi orang NU., walaupun beda paham 2 orang ini dlm bertetangga rukun” saja gk pernah berselisih / berdebat mengenai doa qunut , boleh dipake apa gak saat sholat subuh.
      Tahu nggak kenapa ?? kok bisaa??., ternyata ke duanya saling menyadari kalau mereka selama ini sama” jarang shalat subuh.
      Rukun bertetangga lebih utama dp memperdebatkan masalah yg menurut kita paling benar sendiri dan menyalahkan orang lain.
      Wassalamu’alaikum warrahmah.

  30. @abdullah. kalo bener kakek anda kyai NU kok bisa ya tidak bisa membawakan satu ayatpun dan hadits tentang amalannya? kok beliau bisa jadi kyai? apa jangan2 anda mengada2 kali? dan anda sudah menjelek2an kakek anda sendiri. Bukankah itu dilarang Nabi? Kalo anda mau belajar banyak tentang apa yang anda permasalahkan buka aja situs majelisrasulullah.org dan buka link forum tanya jawab. kasihan anda yang mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Nabi.anda alergi sama orang zikir, baca Yasin (yang merupakan salah satu surah al Qur’an), shalawat, maulid. tobatlah sebelum anda mati

  31. Baca juga artikel sejarah siapa itu abdulwahab sama sa’ud gan khususnya kaum wahabi… Membunuh anak2 pada perebutan mekkah wanita juga dibunuh.. Apa itu ajaran yg rasulullah ajarkan? Apa itu bukan bid’ah? ini yg dikatakan maling teriak maling.. Dikit2 bid’ah.. Padahal kalianlah yg bid’ah sesatt…

  32. amaliah (yang dinisbatkan kepada waga NU) yang dihukumi bid’ah, syirk, khurofat, oleh sebagian orang islam, menurut hemat kami bukan monopoli hak NU saja, jauh sebelum NU berdiri amaliah tersebut telah dilakukan oleh orang orang islam yang bila dirunut sambung menyambung dari tiap thobaqoh ke thobaqoh yang lain. adakalanya masuk katagori uhadiyyah, namun juga ada yang mutawatiroh baik yang amali ataupun yang i’jazi. orang islam yang bukan NU juga berhaq untuk memiliki dan mengamalkan amaliyyah tersebut. perbedaan (furu’) yang diakibatkan oleh cara pandang nash, dan atau manhajul fahmi sumber-sumber agama seyogyanya tidak dijadikan sebagai saling menghukumi antar sesama muslim yang sangat disesalkan oleh Rosulullah sendiri sebagai mana kisah kholid bin kholid yang di utus ke bani Jadlimah, dan kisah usamah bin zaid bin kharitsah. kita juga dapat mengambil tarbiyyah, dari perbedaan para Salafu Sholeh antara Abu Hurairoh VS Abu Dar al Ghifari, Shohabat Ali VS A’isah dan Muawiyyah, Ibn Abbas VS yazid dan Ibn musa atsaqifi, dan perbedaan paradigma para aimati madzhab dalm istimbatul Hukmi. mereka semua tidak saling meng-kufrkan Dll. diskusi bisa dilanjutkan dengan lebih sehat dengan mencontoh sikap Muhammad bin abdul wahab sebagaimana surat beliau yang di kirim kepada penduduk qosim mengenai risalah sulaiman bin suchaim yang di nisbatkan pada beliau dan surat yang disampaikan kepada suwaidi dan para ulama’ iraq. semoga kita semua tetap dalam rahmat Allah dalam mensikapi perbedaan ini, kama qouluhu saw. “ikhtilaful ummatii rohmatun”, so “rohmatul ummah fi ikhtilafil a’immah”. atau kita memilih berdebat sampai ” go to hell ”

    –> artikel ini mengungkap fakta tentang cara-cara licik yg ditempuh sebagian (kelompok) tertentu untuk memaksakan pendapatnya. Ini point di artikel ini.

    Namun masih saja banyak yg terjebak untuk mendiskusikan isi selebaran (gelap) itu di sini. Ini sangat tidk pass dan membelok dari esensi artikel. Padahal diskusi ttg masalah-masalah itu ada banyak di artikel (halaman) lain. silakan menyesuaikan.

    maaf kl tak berkenan.

    • Sejuktiadatara :
      Tujuan, niat, ataupun maksud baik/benar tentunya harus diperoleh atau diusahakan dengan cara, wasil, ataupun manhaj yang baik/benar pula. Tujuan, niat, ataupun maksud baik/benar akan jadi rusak, bahkan bertentangan dengan niat atau tujuan itu sediri bila metode, cara, wasil, ataupun manhaj, untuk memperolehnya atau mencapainya tidak baik/yang tidak benar.

      Oleh karena itu, kami sebagai etnis minoritas di Indonesia yang muslim (sekalipun mayoritas etnis kami belum Islam, tapi kami sudah muslim sejak _+ 500 th yang lampau sejak kedatangan nenek moyang kami di negeri Indonesia) sangat, sangat menyayangkan dan menyesalkan maraknya peredaran selebaran gelap yang mengatasnamakan ulama-ulama Jombang.

      Kejadian ini akan menjadi tarbiyyah buat kami untuk bermawas diri supaya tidak terjerumus pada perbuatan atau mengadakan pendustaan atas pihak yang lain dengan berpegang pada firman :
      “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.” (Q.S. An-Nahl : 105)

      dan sebagai penutup dari Comment kami adalah apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Abdul wahab: ”Tersebarnya kebohongan adalah hal yang membuat orang yang berakal merasa malu untuk menceritakannya apalagi untuk membuat-buat hal-hal yang tidak ada faktanya.”

      ( sebagai orang yang minim peng. agama Islam, (ndak bisa baca tulis arab gundul), dengan latar belakang kami yang jauh dari itu semua kami mencoba ikut belajar mencermati dari semua pihak untuk di ambil manfa’atnya, semoga Allah memberkahi… amien !!! )

  33. orang nu itu kalo berdalil tidak konsistent
    kadang2 membolehkan berbohong,mencuri dll

    raden said itu di benarkan mencuri karna untuk fakir miskin
    lalu sipitung merampok itu dibenarkan

    apa semua cerita itu bukan dari pemahaman kalian
    pada zamanya sunan kali jogo

    jadi kalo dilihat dari cara mereka berda’wah berbohong pakai nama orang lain, itu sudah jelas ya dari orang nu sendiri,dan lagi pula mereka jelas mengambilnya dari mimbar dakwa,yg jelas namanya

    lalu anda mau menuduh pada siapa?????
    dan lagi pula selebaran itu isinya benar

    seorang ulama kadang2 memakai hadis doif dalam masalah yg tidak prinsip kalo dinilai isinya benar

    apa lagi dikalangan orang nu itu hadis doip dan palsu juga diembat
    kamu lihat seputar fadilah surat yasin mereka mengambil dari hadis maudu’lpalsu
    seharusnya ini yg dipermasalahkan

    dusta itu sudah jadi ciri dari golongan nu sendiri
    ngak usa pura2cari kambing hitam

    tak kasih contoh
    perkataan dusta habib mundir,
    dia bilang dia diajari sholawat oleh nabi langsung dalam keadaan tidur /jaga
    nanti ana nukilkan postinganya

    dan masih banyak lagi kedustaan orang2 nu
    SEPERTI MENGERTI SESUATU YG GOIB DLL

    –> wahduh.. kok malah orang NU yang jadi dusta..hehe. Pemalsuan fatwanya gimana mas..?? itu orang NU juga yaa… wahduh.

    • seseorang yang membangun rumah diakan paham banget kekuatan yang mereka bangun,,,sehingga dia tidak akan perna takut dengan goncangan gempa atau gelombang

      begitu juga dengan keislaman yng kita miliki karna islam dibangun diatas Alqur’an dan sunnah,,sehingga kita tidak pernah takut kalo amalan kita dibid’ahkan atau di anggap syirik
      bahkan disesatkan,,,itulah pemahaman kami salafi wahabi

      dan kami akan tanggapi secara ilmia bukan mengadaada seperti caranya orang2nu yg selalu anarkis
      lihat dimana2 kekerasan biang keladinya aswaja palsu/nu

      karna orang2 nu aqidahnya di bangun diatas kurafat dan bid’ah
      sehingga mereka takut kelompoknya pindah kekelompok lainya
      tapi percayalah kedustaan pasti akan terungkap,,

      pada dasarnya nu adalah kelompok mayoritas,,yg dibangun ratusan tahun yg lalu kami memang minoritas tapi kami dibangun seribu empat ratus tahun yg lalu
      misi kami untuk mengikis kesyirikan dan kurafat yng selama ini di belah mati2an oleh kelompok mayoritas,,

      nu hanya butuh kwantitas tidak butuh kwalitas sehinggah dia akan berteriak lantang kalo amalan bid’ah dan kurafatnya diusik,,
      sehingga dia menempu jalan apa saja demi mempertahankan kelompoknya
      seperti membikin selebaran kaleng, yang dituduhkan kepada kelompok lain,inilah akal bulus kelompok ahli bid’ah
      yang selalu dalam ketakutan,

      kami senang sekali dengan hadirnya blog semacam ini
      karna akan membantu untuk meluruskan kesesatan ditubuh umat nu sendiri

      –> lahh kok … Pemalsuan fatwanya gimana mas..??

      • buat admim
        ini sebagaian dari isi fatwa
        berisi tuduhan terhadap kelompok lain
        disamping para kiyai yg tercantum dalam selebaran itu mengelak

        Jika ditelesik lebih jauh lagi dari model selebaran tersebut jelas dibuat bukan dari kalangan warga nahdliyin. Apalagi isinya banyak yang menyerang amalan-amalan warga NU.
        ini potongan fatwanya
        sebagai resiko dari kebesaran NU yang semakin tidak tertandingi.
        bukankah kalimat ini mengandung tuduhan

      • coba maksud bid’ah itu apa ??? berapa klasipikasinya bidah itu ?? maaf sekali lagi kami belajar tentang sebuah riwayat yang menerrangkan sanad dari sebuah hadis atau yang meriwayatan hadis itu shohih atau doif ……. jadi jakalau anda membicaraan hadis doif itu di embat .. maaf ata itu tergatung situasi kalau hadis bersangkutan tidak ada yang sohih maka kita mengambil hadis yang doif untu menyelesaikan masalah jikalau dari alquran belum bisa di beresan ………… saya rasa orang wahabi lah yang se enak nya ngomong dan merasa paling semua yang baru bidah . tivi baru baju yang anda pakai baru . kendaraan yang anda pakai baru …… pasilitas rumah bangunan rumah ……………apakah anda tidak malu mebesar2kan masalah bid’ah…… koreksi dulu llingkungan di sekitar anda ……….

  34. السلام عليكم

    Untuk Saudara Sukirno,

    Anda itu kalau menulis kometar banyak tidak menjaga lisan Anda dan disertai tuduhan -tuduhan yang asal bunyi, saya misalkan komentar Anda :

    -orang nu itu kalo berdalil tidak konsistent
    kadang2 membolehkan berbohong,mencuri dll

    dengan berdalil Raden Said dan Sipitung, kalau berdalil itu bukan dengan ini tapi dengan Al-quran dan Hadits mas.

    Ingat dalam kondisi tertentu sesuatu yang diharamkan oleh Islam dapat berubah menjadi halal untuk dikerjakannya dalam hal ini kita mendapat keruhsohan. ( Untuk konteks Raden Said dan cerita sipitung saya tidak berkomentar karena saya tidak tahu bagaimana kondisi pada saat itu ).

    Kemudian,

    Penggunaan hadits doif oleh para ahli hadits adalah diperbolehkan untuk fadoilul a`mal dan ada yang berpendapat selama bukan untuk masalah aqidah.

    Sedangkan untuk seseorang yang bermimpi bertemu Nabi dan kemudian diajari suatu hal oleh Nabi dalam mimpinya, yang sumbernya berasal dari seorang yang dikenal dekat dengan Alloh, maka kita boleh percaya ataupun boleh tidak.

    Kalau saya sendiri menyikapinya kalau mimpi itu berasal dari seorang yang dikenal dekat dengan Alloh dan isinya tidak bertentang dengan al-quran dan hadits, kenapa saya tidak percaya ?

    Karena adanya hadits yang isinya menyebutkan mimpi bertemu Nabi adalah benar adanya.

    • buat mas imam
      wealaikuum salam

      menjaga lisan untuk perkara yang hag adalah khianat
      munuduh tanpa bukti adalah kejji

      apakah ada yang salah dengan comentku
      sehinggah anda mengatakan tidak menjaga lisan
      benarkah cerita yg tanpa sanat itu dari golongan agama antum

      mungkin saja mimpi itu benar
      tapi yang tidak benar isi dalam mimpi itu
      sebab nabi sudah meninggal mana mungkin wahyu masih turun
      yang diajari hanya babib munzir apa agama memanghanya milik kang musawa aja

      apakah ini bukan perkataan dusta atau perkataan seorang penipu
      kalo memang benar setelah wafat nabi masih mengajarkan urusan agama
      ini mungkin di katakan oleh para sahabat

      anda minta dalil alqur’an dan hadist untuk apa
      bukankah anda memilih dalilnya wali songo

      mana ada dalam kematian ditahlili hari 1,3,7,40,100,bahkan amalan ini tidak pernah dilakukan oleh imam arba’ah
      tapi kan dilakukan oleh wali songokan

      makanya saya bawakan dalil raden said dan sipitung
      masih salah lagi lalu maunya apa sih

      • lalu bagaimana menurut anda tentang al ulamau warisul anbiya … apakah level anda cukup dengan membandingkan diri anda dengan para wali ????? anda membicarakan hal sebagian kecil kenapa yang bagus nya tidak di ceritakan seperti syeh abdul qodir jaelani . jelas 2 anda mencari kelemahan … jadi kalau slah di mana letak salah nya kalau orang yang mendoakan emang tidak boleh ??? kalau begitu tidak usah aja anda berdoa ………..

      • Al-Ulama warasatul anbiya adalah orang yang BENAR2 ulama,yg ilmunya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw, bukan ulama palsu dan sombong,apalagi mem-bangga2kan Habaib keturuna Nabi,mimpi ketemu Nabi dll,dsb. Banyak sekarang ini menjadi ulama hanya ingin di-sanjung2 dan tujuannya adalah Fulus. Sadarlah Anda2 dari melakukan Bid’ah seumur hidup!!!

    • buat mas imam

      seorang awam berkata sama sang habib
      4.klw Habib berjumpa dngn Rasul saw. tolong sampaikan salam dr saya untuk beliau saw.?
      Krna sudah hampir 2tahun sya tidak prnah brjumpa lg dngn beliau saw.

      sang habib pendusta menjawab
      Insya Allah jika Allah swt mengizinkan saya bermimpi Rasul saw saya akan sampaikan salam anda

      kalo kita masih waras berfikir
      masa dalam mimpi bisa kirim salam dari orang lain
      perkataan seperti ini tidak lain hanya perkataan seorang penipu terhadap orang bodoh

      kita semua menghormati kepada ahlu bait,tapi bukan pada seorang pendusta
      lalu kalo kita berbicara sesuai dengan kenyataan seperti ini
      masih juga dibilang gak bisa menjaga lisan
      lalu kita bilang apa??????mendiamkan???????????????????????

      • mimpi itu kan perkara gaib. apapun bs terjadi kalo Allah berkehendak…
        orang kafir pun mungkin ga bakalan percaya mukjizat nabi muhammad bs mengeluarkan air dari tangannya, membelah bulan. padahal itu kan diluar rasional kita

  35. sumber hukum islam kan ada 3. quran, hadits, ijma.
    baca nih ampe berbusa. punya hak apa kita ampe melarang bidah. udah hafidz quran? hafal ribuan hadist?

    berikut ini beberapa pendapat dan fatwa dari ulama kaum Muslimin yang dikutip dari kitab-kitab ulama muktabar, namun masih banyak lagi yang belum sempat kami kutipkan ;

    Pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashriy Qaddasallahu Sirrah (wafat 116 H) yaitu generasi salafush shaleh dan ayah beliau adalah pelayan Sahabat Zaid bin Tsabit (penulis wahyu). Imam Hasan Al-Bashriy pernah berjumpa sekitar 100 sahabat Nabi. Menurut Qatadah, Imam Hasan paling tahu tengtang jala dan haram, pendapatnya seperti Sahabat Umar bin Khatththab radliyallahu ‘anh, menjadi rujukan dalam bertanya. Menurut Hisyam bin Hasan, Imam Hasan Al-Bashriy adalah paling pandai dimasanya dan menurut Abu Umar bin al-‘Ala’, orang yang sangat fashih. Beliau mengatakan tentang betapa istimewanya Maulid Nabi,

    قال الحسن البصري، قدس الله سره: وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لانفقته على قراءة مولد الرسول “Seandainya aku memiliki emas seumpama gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya (semuanya) kepada orang yang membacakan Maulid ar-Rasul”. [1]

    Pendapat Al-Imam Ma’aruf Al-Kharkhiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 200 H), beliau juga termasuk generasi salafush shaleh yang alim, zuhud dan terkenal dikalangan fukaha’ sebagai orangyang fakih. Beliau mengungkap peringatan Maulid Nabi yang terjadi dimasa beliau, keistimewaan serta balasan bagi orang yang memperingati Maulid Nabi,

    قال معروف الكرخي قدس الله سره: من هيأ لاجل قراءة مولد الرسول طعاما، وجمع إخوانا، وأوقد سراجا، ولبس جديدا، وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الاولى من النبيين، وكان في أعلى عليين “Al-Imam Ma’aruf Al-Kurkhiy Qaddasallahu sirrah, barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, mengumpulkan saudara-saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahirannya (Maulid Nabi), maka Allah akan membangkitkan pada hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi-Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi”. [2]

    Pendapat Al-Imam Agung Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i Rahimahullah (wafat 204 H). Beliau menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berjamaah dan disediakan makanan sebagai rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, serta beliau juga menuturkan keutamaan orang yang memperingatinya,

    قال الشافعى رحمه الله من جمع لمولد النبى صلى الله عليه وسلم اخوانا وتهياء لهم طعاما وعملا حسانا بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين “Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم) karena kecintaan (ikhwanan) secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin”.[3]

    Pendapat Al-‘Arif Billah Al-Imam As-Sirriy As-Saqathiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 257 H). Termasuk generasi salafush shaleh yaitu generasi tabiut tabi’in, seorang yang sangat berpendirian teguh, wara, sangat alim dan ahli ilmu tauhid. Beliau mengungkapkan keutamaan memperingati Maulid Nabi karena kecintaan kepada Rasulullah dan kelak akan bersama dengan Rasulullah,

    وقال السري السقطي: من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة “Imam As-Sirry As-Saqathiy berkata, barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم), maka sungguh dia menghendaki “Raudhah (taman)” dari taman-taman surga, karena sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Sungguh Rasul (صلى الله عليه وسلم) bersabda : “barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku didalam surga”. [4]

    Pendapat Al-Imam Junaid Al-Baghdadiy Rahimahullah (wafat 297 H), masih termasuk generasi shalafuh shaleh. Beliau menuturkan beruntungnya keimanan seseorang yang menghadiri Maulid Nabi,

    قال الجنيدي البغدادي رحمه الله: من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان “Imam Junaid al-Baghdadiy rahimahullah berkata, barangsiapa yang menghadiri Maulid ar-Rasul dan mengagungkannya (Rasulullah), maka dia beruntung dengan keimanannya” [5]

    Pendapat Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah, beliau menuturkan tentang keutamaan Maulid Nabi sebagai berikut,

    قال ابن الجوزي رحمه الله تعالى من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام “Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah berkata, diantara keistimewaan Maulid Nabi adalah keadaan aman (pencegah mushibah) pada tahun itu, kabar gembira serta segala kebutuhan dan keinginan terpenuhi” [6]

    Pendapat Al-Imam Abu Syamah Rahimahullah (wafat 655 H). Beliau ulama agung bermadzhab Syafi’i dan merupakan guru besar dariAl-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz Asy-Syekhul Islam An-Nawawiy Ad-Damasyqiy Asy-Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam Abu Syamah menuturkan,

    قال الامام أبو شامة شيخ المصنف رحمه الله تعالى: ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل في كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده (صلى الله عليه وسلم): من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور، فإن ذلك مع ما فيه من الاحسان إلى الفقراء يشعر بمحبة النبي (صلى الله عليه وسلم) وتعظيمه وجلالته في قلب فاعل ذلك، وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين “dan sebagus-bagusnya apa yang diada-adakan pada masa sekarang ini yaitu apa yang dikerjakan (rayakan) setiap tahun dihari kelahiran (Maulid) Nabi dengan bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf, menampakkan rasa kegembiraan, maka sesungguhnya yang demikian itu didalamnya ada kebaikan hingga para fuqara’ membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkan beliau, dan bersyukur kepada Allah atas perkara dimana dengan (kelahiran tersebut) menjadi sebab adanya Rasul-nya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam” [7]

    Pendapat Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Al-Musnid Al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad Ibnu Abdullah Al-Jazariy Asy-Syafi’i (wafat 660 H). Beliau adalah guru dari para Qurra’ (Ahli baca Al-Qur’an) dan Imam Qira’at pada zamannnya. Beliau memiliki karya Maulid yang masih berupa manuskrip (naskah tulisan tangan) yang berjudul “ ‘Arfut Ta’rif bi Al-Maulidi Asy-Syarif”. Beliau mengatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi sangat pantas untuk menampati surga yang penuh kenikmatan,

    فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى اله عليه وسلم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى الله عليه وسلم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم، لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم “maka jika Abu Lahab yang kafir yang diturunkan ayat al-Qur’an untuk mencelanya masih diberi ganjaran kebaikan didalam neraka karena bergembira pada malam Maulid Nabi, lantas bagaimana dengan seorang Muslim yang mentauhidkan Allah, yang merupakan umat dari Nabi (صلى اله عليه وسلم) yang senang dengan kelahiran Beliau dan menafkahkan apa yang dia mampu demi kecintaannya kepada Nabi (صلى اله عليه وسلم). Demi Allah, sesungguhnya yang pantas bagi mereka berupa balasan dari Allah yang Maha Pemurah adalah memasukkan mereka dengan keutamannya kedalam surga yang penuh kenikmatan”[8]

    Pendapat Al-Imam Yafi’i Al-Yamaniy Rahimahullah (wafat 768 H) turut menuturkan keutamaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam,

    وقال الامام اليافعي اليمنى: من جمع لمولد النبي (ص) إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم “Dan berkata Imam Al-Yafi’iy Al-Yamani : “Barangsiapa yang mengumulkan saudara-saudaranya untuk (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan makanan, beramal yang baik dan menjadikannya untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, maka Allah akan membangkitkan pada hari Kiamat bersama para Shadiqin, Syuhada, Shalihin dan menempatkannya pada tempat yang tinggi” [9]

    Pendapat Al-Hafidz Al-Imam Al-Muhaddits Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqiy (777 H – 842 H) yang telah mengarang kitab Maulid, diantaranya kitab Jami’ul Atsar fi Maulidin Nabiyyil Mukhtar (terdiri dari 3 jilid), Al-Lafdzur Roiq fi Maulidi Khayril Khalaiq (bentuknya ringkas), Mauridush Shadi fi Maulidil Had. Beliau mengatakan (dalam sebuah syair),

    إذا كان هـذا كافرا جـاء ذمـه وتبت يـداه في الجحـيم مخـلدا أتى أنـه في يـوم الاثنين دائـما يخفف عنه للسـرور بأحــمدا فما الظن بالعبد الذي طول عمره بأحمد مسرورا ومات موحـــدا “Jika orang kafir yang telah datang (tertera) celaan baginya (yakni) “dan celakalah kedua tangannya didalam neraka Jahannam kekal didalamnya” ; “Telah tiba pada (setiap) hari senin untuk selamanya diringankan (siksa) darinya karena bergembira ke (kelahiran) Ahmad ; “lantas bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang usia, karena (kelahiran) Ahmad, lantas ia selalu bergembira dan tauhid menyertai kematiannya ???”[10]

    Fatwa Al-Imam Asy-Syeikhul Islam Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (773 H – 852H), yang telah mensyarah kitab monumental Imam Bukhari (Shahih Bukhari), dan beliau beri nama dengan kitabnya tersebut dengan nama Fathul Bari ‘alaa Shahih Bukhari. Beliau memfatwakan bahwa amal Maulid termasuk ke dalam bid’ah Hasanah (perkara baru yang bagus) dan beliau juga mendapati dasar syara’ yang sangat terang mengenai peringatan Maulid Nabi,

    أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة، وإلا فلا “Asal amal Maulid adalah bid’ah, tidak pernah ada perkataan (perbincangan) dari salafush shaleh dari kurun ke tiga, dan akan tetapi bersamanya mencakup (mengandung) kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barangsiapa yang mengambil kebaikan-kebaikannya pada amal Maulid dan menjauhi keburukannya maka itulah bid’ah Hasanah (بدعة حسنة), dan jika tidak (menjauhi keburukannya) maka tidak (bukan bid’ah Hasanah)” [11]

    Lebih lanjut lagi, beliau memfatwakan dasar yang sangat jelas tentang peringatan Maulid Nabi,

    وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم؟ فقالوا: هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنَّ به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم “dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan (hokum Maulid), sebagaimana yang ditetapkan didalam Ash-Shahihayn bahwa sesungguhnya Nabi datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)? Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena menerima sebuah kenikmatan yang besar atau penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa diulang-ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah dapat dilakukan dengan bermacam-macam Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah dan tilawah (membaca al-Qur’an). dan sungguh adakah nikmat yang paling agung (besar) dari berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari (peringatan Maulid) itu ?” [12]

    Pendapat A-Imam Al-Hafidz Muhammad bin Abdurrahman Al-Qahiriy, dikenal dengan nama Al-Imam As-Sakhawiy (831 H – 902 H), beliau juga dikenal sebagai Ahli sejarah di Madinah, penulis kitab Adh-Dhaw’ul Lami’. Beliau juga telah menyusun sebuah karya Maulid yang diberi judul “Al-Fakhrul ‘Ulwi fil Mawlidin Nabawiy”

    لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ “Tidak pernah dikatakan (perbincangkan) dari salah seorang ulama Salafush Shaleh pada kurun ke tiga yang mulya dan sungguh itu baru ada setelahnya. Kemudian umat Islam diseluruh penjuru daerah dan kota-kota besar senantiasa memperingati Maulid Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ) dibulan kelahiran Beliu. Mereka mengadakan jamuan yang luar biasa dan diisi dengan perkara-perkara yang menggembirakan serta mulya, dan bershaqadah pada malam harinya dengan berbagai macam shadaqah, menampakkan kegembiraan, bertambahnya kebaikan bahkan diramaikan dengan pembacaan (buku-buku) Maulid Nabi yang mulya, dan menjadi teranglah (jelaslah) keberkahan dan keutamaan (Maulid Nabi) secara merata dan semua itu telah teruji.[13]

    Selanjutnya,

    ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ “Kemudian (beliau) berkata : “aku katakan : adanya (tanggal) kelahiran Nabi Asy-Syarif yang paling shahih adalah pada malam Senin, 12 Rabi’ul Awwal. Dikatakan (qoul yang lain) : pada malam tanggal 2, dikatakan juga pada tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari-hari ini dan malam-malamnya dengan persiapan (kemampuan) yang ada bahkan bagus dilakukan pada hari-hari dan malam-malam bulan (Rabi’ul Awwal)”[14]

    Fatwa Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy (849 H – 911 H), didalam kitabnya beliau menuturkan bahwa sangat jelas dasar syara’ mengenai peringatan Maulid Nabi,

    وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر، وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد النبوة، مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته، والعقيقة لا تعاد مرة ثانية فيحمل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى الله عليه وسلم إظهار للشكر على إيجاد الله إياه رحمة للعالمين، وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه، لذلك فيستحب لنا أيضا إظهار الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات “dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal yang lain (dari pendapat Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dari Anas bahwa sesungguhnya Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan (riwayat) bahwa kakek beliau Abdul Mutthalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh kelahirannya. adapun aqiqah tidak ada perulangan dua kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh Nabi (صلى الله عليه وسلم) menerangkan tentang (rasa) syukur beliau karena Allah telah mewujudkan (menjadikan) beliau sebagai rahmat bagi semesta alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Oleh karena itu, maka juga boleh (mustahab/patut) bagi kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan makanan dan semacamnya dari (sebagai) perwujudan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan kegembiraan (karena kelahiran beliau)”. [15]

    Fatwa beliau lainnya menyatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi akan mendapatkan pahala dan peringatan Maulid Nabi termasuk kedalam bid’ah hasanah. Beliau ditanya tentang Maulid Nabi,

    فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟ الجـــــواب عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف وأول من أحدث فعل ذلك صاحب اربل الملك المظفر أبو سعيد كوكبرى بن زين الدين علي بن بكتكين أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد، وكان له آثار حسنة، وهو الذي عمر الجامع المظفري بسفح قاسيون “Sungguh telah ada pertanyaaan tentang peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul awwal, tentang bagaimana hukumnya menurut syara’ dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan serta apakah orang yang memperingatinya mendapatkan pahala ?” Jawabannya, menurutku pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusai, membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an, riwayat hadits-hadits tentang permualaan perintah Nabi serta tanda-tanda yang datang mengiringi kelahiran Nabi kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka bubar setelah itu tanpa ada tambahan-tambahan lain, itu termasuk kedalam Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena perkara didalamnya adalah bagian dari pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan merupakan menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran yang Mulya (Nabi Muhammad, dan yang pertama mengadakan hal semacam itu (perayaan besar) adalah penguasa Irbil, Raja al-Mudhaffar Abu Sa’id Kaukabri bin Zainuddin Ali Ibnu Buktukin, salah seorang raja yang mulya, agung dan demawan. Beliau memiliki peninggal yang hasanah/baik (آثار حسنة), dan beliau lah yang membangun al-Jami’ al-Mudhaffariy dilembah Qasiyun”. [16]

    Al-Imam As-Suyuthiy juga memfatwakan ketika ada syubhat yang menyatakan bahwa memperingati wafatnya Nabi itu lebih pantas daripada memperingati Maulid Nabi, dalam hal ini beliau membantahnya sebagai berikut,

    إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وهي إظهار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته “Sesungguhnya kelahiran Nabi (صلى الله عليه وسلم) adalah paling agungnya kenikmatan bagi kita semua, dan wafatnya Beliau (صلى الله عليه وسلم) adalah musibah yang paling besar bagi kita semua. Adapun syariat menganjurkan (menampakkan) untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan. Dan bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah. Dan sungguh syari’at memerintahkan untuk (menyembelih) beraqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya, dan tidak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain ketika kematiannya, bahkan syariat melarang meratap (an-niyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan). Maka (dari sini) jelas bahwa kaidah-kaidah syariat menunjukkan yang baik baik (yang paling layak) pada bulan ini (bulan Maulid) adalah menampakkan rasa gembira atas kelahirannya (Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم) dan bukan (malah) menampakkan kesedihan (mengungkapkan) kesedihan atas wafatnya Beliau” [17]

    Bantahan beliau, sebagaimana juga pernyataan Al-Imam Ibnu Rajab,

    وقد قال ابن رجب في كتاب اللطائف في ذم الرافضة حيث اتخذوا يوم عاشوراء مأتما لأجل قتل الحسين: لم يأمر الله ولا رسوله باتخاذ أيام مصائب الأنبياء وموتهم مأتما فكيف ممن هو دونهم “dan sungguh telah berkata Ibnu Rajab di dalam kitab “al-Lathif” (اللطائف) tentang celaan terhadap ‘Ar-Rafidlah’ bahwa mereka telah menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung (bersedih) karena bertepatan dengan hari (pembunuhan) wafatnya sayyidina Husain : Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari-hari mushibah dan kematian para Nabi sebagai hari bersedih, maka bagaimana dengan orang derajatnya berada dibawah mereka ?” [18]

    Lebih jauh lagi, Al-Imam As-Suyuthiy menjelaskan keutamaan tempat dan orang yang memperingati Maulid Nabi,

    قال سلطان العارفين جلال الدين السيوطي في كتابه الوسائل في شرح الشمائل: ما من بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) هلا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور – يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون – فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم “Berkata Shulthan Al-‘Arifin Jalaluddin As-Suyuthiy didalam kitabnya “al-Wasail fiy Syarhi Asy-Syamil” : “tiada sebuah rumah atau masjid atau tempat pun yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم) melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan penghuni tempat itu (menyelubunyi tempat itu) dan Allah merantai Malaikat itu dengan rahmat dan Malaikat bercahaya (menerangi) itu antara lain Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, ‘Aynail, ash-Shaafun, al-Haafun dan al-Karubiyyun. Maka sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang mendo’akannya karena membaca Maulid Nabi” [19]

    Lanjut lagi,

    قال: وما من مسلم قرئ في بيته مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق. والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت، فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير، وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر “tiada seorang Muslim pun yang didalam rumahnya dilakukan pembacaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam kecuali Allah akan mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan pendengaran yang jahat, (terhindar) dari pencuri ahli-ahli rumah tersebut. Maka jika apabila mati, Allah akan memudahkan baginya dalam menjawab (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka akan ditempatkan didalam tempat yang benar pada sisi-sisi raja yang berkuasa” [20]

    Pendapat Al-Imam Ibnu Al-Hajj Al-Maliki Rahimahullah (ulama madzhab Malikiyyah),

    قال ابن الحاج رحمه الله تعالى فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وسلم “Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabi’ul Awwal karena Dia (Allah) telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang sangat besar dengan lahirnya Al-Musthafa Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam” [21]

    وقال أيضا: ومن تعظيمه صلى الله عليه وآله وسلم الفرح بليلة ولادته وقراءة المولد “berkata lagi, dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah gembira pada malam kelahirannya dan melakukan pembacaan Maulid Nabi” [22]

    Pendapat seorang Imam yang besar, tokoh yang sangat terkenal, penjaga Islam, tumpuan banyak orang, tempat rujukan para Ahli hadits yang sangat terkenal, Al-Hafidz Abdurrahim bin Al-Husain bin Abdurrahman Al-Mishriy yang terkenal dengan Al-Hafidz Al-Iraqiy (wafat 808 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang dinamakan dengan “Al-Mawridul Haniy fiy Mawlidis Saniy”,

    إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت، فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الشهر الشريف، ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها، فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجب “Sungguh melakukan perayaan (walimah) dan memberikan makan disunnahkan pada setiap waktu, apalagi jika padanya disertai dengan kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada bulan yang mulya ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan bahkan diwajibkan” [23]

    Pendapat Al-Imam Ibnu ‘Abidin didaam kitab syarahnya atas kitab Maulid Imam Ibnu Hajar,

    قال ابن عابدين في شرحه على مولد ابن حجر اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه صلى الله عليه وسلم، وقال أيضاً: فالاجتماع استماع قصة صاحب المعجزات عليه أفضل الصلوات وأكمل التحيات من أعظم القربات لما يشتمل عليه من المعجزات وكثرة الصلوات “Ketahuilah olehmu bahwa sebagian dari perkara baru yang terpuji (bid’ah mahmudah) adalah amal Maulid Nabi Asy-Syarif pada bulan yang mana Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di lahirkan didalamnya”,,,[24]

    Pendapat Asy-Syekh Husnain Muhammad Makhluf (Syeikhul Azhar) Rahimahullah,

    وقال الشيخ حسنين محمد مخلوف شيخ الأزهر رحمه الله تعالى إن من إحياء ليلة المولد الشريف، وليالي هذا الشهر الكريم الذي أشرق فيه النور المحمدي إنما يكون بذكر الله وشكره لما أنعم به على هذه الأمة من ظهور خير الخلق إلى عالم الوجود، ولا يكون ذلك إلا في أدب وخشوع وبعد عن المحرمات والبدع والمنكرات، ومن مظاهر الشكر على حبه مواساة المحتاجين بما يخفف ضائقتهم وصلة الأرحام، والإحياء بهذه الطريقة وإن لم يكن مأثور في عهده صلى الله عليه وسلم ولا في عهد السلف الصالح إلا أنه لا بأس به وسنة حسنة “Sunggung barangsiapa menghidupkan malam Maulid Nabi Asy-Syarif dan malam-malam-malam bulan yang mulya ini yang menerangi didalamnya dengan cahaya Muhammadiy yaitu dengan berdzikir kepada Allah, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada umat ini termasuk dilahirkannya makhluk terbaik (Nabi Muhammad) ke ala mini, dan tidak ada yang demikian itu kecuali dengan sebuah akhlak dan kekhusuan serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, amalan bid’ah serta kemungkaran-kemungkaran. Dan termasuk menampakkan kesyukuran sebagai bentuk kecintaan yaitu menyantuni orang-orang tidak mampu, menjalin shilaturahim dan menghidupkan dengan cara ini walaupun tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak pula ada dimasa salafush shaleh adalah tidak apa-apa serta termasuk sunnah hasanah” [25]

    Pendapat Asy-Syekh Muhammad Mutawalla Asy-Sya’rawiy Rahimahullah,

    قال الشيخ محمد متولي الشعراوي رحمه الله تعالى وإكراماً لهذه المولد الكريم، فإنه يحق لنا أن نظهر معالم الفرح و الابتهاج بهذه الذكرى الحبيبة لقلوبنا كل عام، وذلك بالاحتفال بها من وقتها “Melakukan penghormatan untuk Maulid yang mulya ini, maka sesungguhnya itu hak bagi kita untuk menampakkan kegembiraan dan ..[26]

    Pendapat Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy Rahimahullah,

    قد قال ابن حجر الهيثمي رحمه الله تعالى والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك، أي بدعة حسنة “walhasil, sesungguhnya bid’ah hasanah itu selarasa dengan sebuah kesunnahan, dan amal Maulid Nabi serta berkumpulnya manusia untuk memperingati yang demikian adalah bid’ah hasanah” [27]

    Pendapat Al-Imam Al-Hafidz Al-Qasthalaniy Rahimahullah,

    فرحم الله امرءا اتخذ ليالي شهر مولده المبارك أعيادا، ليكون أشد علة على من في قلبه مرض وإعياء داء “maka Allah akan memberikan rahmat bagi orang-orang yang menjadian Maulid Nabi yang penuh berkah sebagai perayaan…”[28]

    الإمام القسطلاني ت 922 هـ من جواز الاحتفال بالمولد النبوي بما هو مشروع لا منكر فيه، واستشف هذا الجواز من حديث البخاري في باب الجنائز من كون أبى بكر الصديق تمنى الموت في هذا اليوم لكونه اليوم الذي ولد فيه الرسول صلى الله عليه وسلم و فيه توفي “sebagain dari kebolehan merayakan Maulid Nabi Nabawi dengan perkara yang masyru’ (disyariatkan) bukan dengan kemungkaran, [29]

    Pendapat Al-Imam Al-Alusiy dalam kitab tafsirnya,

    ما استنبطه الألوسى من تفسير قول الله تعالى “قل بفضل الله و رحمته فبذلك فليفرحوا” الآية 58 يونس. فالرسول صلى الله عليه وسلم رحمة كما قال عز و جل “وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين” الآية 107 الأنبياء. و كما جاء في الحديث: “إنما أنا رحمة مهداة” رواه الحاكم في مستدركه عن أبى هريرة. فوجب من هنا الاحتفال و الفرح بهذه الرحمة “Firman Allah, “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (Yunus : 58), dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah rahmat sebagaimana yang di firmankan Allah ‘azza wa jallah, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”, sebagaiman juga didalam hadits, “sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan Allah” (riwayat Imam Hakim dalam ktab Mustadraknya dari Abu Hurairah), maka wajib bagi sebagian dari kita untuk merayakannya dan bergembira dengan rahmat ini” [30]

    Pendapat Al-‘Allamah Asy-Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mantan Mufti Madzhab Syafi’iyyah di Mekkah,

    العادة أن الناس إذا سمعوا ذكرى وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم و هذا قيام مستحب لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم، و قد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين نقتدي بهم “Kebiasaan manusia ketika disebut tentang Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berdiri untuk menghormati beliau dan berdiri ini disunnahkan untuk menghormati Nabi, dan sungguh telah banyak ulama kaum Muslimin yang melakukan seperti yang demikian”’ [31]

    Pendapat Al-’Allamah As-Syekh As-Sayyid Muhammad Ibnu Alwi Al-Maliki Al-Hasaniy Rahimahullah,

    إننا نرى أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ليست له كيفية مخصوصة لابد من الالتزام أو إلزام الناس بها ، بل إن كل ما يدعو إلى الخير ويجمع الناس على الهدى و يرشدهم إلى ما فيه منفعتهم في دينهم ودنياهم يحصل به تحقيق المقصود من المولد النبوي ولذلك فلو اجتمعنا على شئ من المدائح التي فيها ذكر الحبيب صلّىالله عليه وسلّم وفضله وجهاده وخصائصه ولم نقرأ القصة التي تعارف الناس على قراءتها واصطلحوا عليها حتى ظن البعض أن المولد النبوي لا يتم إلا بها ، ثم استمعنا إلى ما يلقيه المتحدثون من مواعظ وإرشادات وإلى ما يتلوه القارئ من آيات “Kami memandang sesungguhnya memperingati Maulid Nabi yang mulya itu tidak mempunyai bentuk-bentuk yang khusus yang mana semua orang harus dan diharuskan untuk melaksanakannya. Akan tetapi segala sesuatu yang dilakukan, yang dapat menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan dan mengumpulkan manusia atas petunjuk (agama) serta menunjuki mereka kepada hal-hal yang membawa manfaat bagi mereka, untuk dunia dan akhirat maka hal itu dapat digunakan untuk memperingati Maulid Nabi, Oleh karena itu andaikata kita berkumpul dalam suatu majelis yang disitu dibacakan puji-pujian yang menyanjung Al-Habib (Sang Kekasih yakni Nabi Muhammad), keutamaan beliau, jihad (perjuangan) beliau, dan kekhususan-kekhususan yang berada pada beliau ; lalu kita tidak membaca kisah Maulid Nabi – yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan mereka menyebutnya dengan istilah “Maulid” (seperti Maulid Diba’, Barzanji, Syaraful Anam, Al-Habsyi, dan lain sebagainya), yang nama sebagian orang menyangka bahwa peringatan Maulid Nabi itu tidak lengkap tanpa pembacaan kisah-kisah Maulid tersebut- kemudian kita mendengarkan mau’idzah-mau’idzoh (peringatan-peringatan), pengarahan-pengarahan, nasehat-nasehat yang disampaikan oleh para ulama dan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh seorang Qari” [32]

    Lebih lanjut,

    أقول : لو فعلنا ذلك فإن ذلك داخل تحت المولد النبوي الشريف ويتحقق به معنى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ، وأظن أن هذا المعنى لا يختلف عليه اثنان ولا ينتطح فيه عنـزان “andaikan kita melakukan itu semua maka itu sama halnya dengan kita membaca kisah Maulid Nabi yang Mulya tersebut dan itu termasuk dalam makna memperingati Maulid Nabi yang Mulya. Dan saya yakin bahwa peringatan yang saya maksudkan ini tidak menimbulkan perbedaan serta adu domba antara dua kelompok”[33]

    Demikianlah yang bisa kami sebutkan mengenai fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat ulama-ulama besar nan agung Kaum Muslimin, masih banyak fatwa ulama lainnya yang dituturkan dalam kitab mereka seperti fatwa al-‘arif billah Abu Abdullah Muhammad bin Ibad, Asy-Syekh DR. Asy-Syarbasiy, Al-Imam Taqiyuddin As-Subki, Asy-Syekh Rasyid Ridla, Al-Imam Al-Wansyarsiy termasuk juga Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah * dan lain sebagainya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari tipudaya para penipu yang senantiasa mengincar umat Islam untuk dijauhkan dari ulama yang benar-benar mumpuni, yang lebih paham akan agama ini. Amin..!!! والله سبحانه وتعالى أعلم Abdurrohim ats-Tsauriy Catatan Kaki : 1. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 2. Ibid, hal. 415. 3. Kitab Madarijus Su’uud hal. 16, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh An-Nawawiy Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz) 4. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 5. Ibid, hal. 415. 6. Ibid, hal. 416 ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy. 7. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 8. Ibid, hal. 415 ; kitab Anwarul Muhammadiyah hal.20, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Yusuf An-Nabhaniy. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut – Lebanon. 9. Ibid, hal. 415. 10. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy 11. Ibid. 12. Ibid. 13. Tercantum dalam kitab Al-Ajwibah al-Mardliyyah ; Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy 14. Ibid. 15. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy. 16. Ibid ; kitab Al-Hawi Al-Fatawi hal. 189, karangan Al-Imam As-Suyuthiy ; kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج في شرح المنهاج) pada fasal (فَصْلٌ فِي وَلِيمَةِ الْعُرْسِ) karangan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy. 17. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy. 18. Ibid. 19. Kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 20. Ibid. ; Kitab Al-Wasail fiy Syarh Al-Masaail lis-Suyuthiy 21. Kitab Al-Madhkal, karangan Al-Imam Ibnu Al-Hajj jilid.1 hal. 261 22. Ibid. 23. Kitab Ad-Durar As-Saniyyah (الدرر السنية) hal. 190. 24. Kitab Syarah ‘Alaa Maulid Al-Imam Ibnu Hajar. 25. Kita Fatawa Syar’iyyah (1/131) 26. Kiab ‘Alaa Maidah Al-Fikr Al-Islami (على مائدة الفكر الإسلامي) hal. 25. 27. Pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy 28. Kitab Mawahid Al-Ladunniyah (1/148) –Syarh ‘alaa Shahih Bukhari-, karangan Al-Imam AL-Qasthalaniy 29. Ibid. 30. Kitab Tafsir Al-Imam Al-Alusiy 31. Lihat : Sirah An-Nabawiyah wa Atsar al-Muhammadiyah, catatan pinggir As-Sirah Al-Halabiyah . 32. Kitab Haulal Ihtifal Bidzikri Al-Maulidin Nabawi Asy-Syarif. 33. Ibid. *. Mengenai pendapat Imam Ibnu Taimiyah terdapat dalam kitab Iqthidha’ Shirathal Mustaqim dan perlu penjelasan lebih rinci. Secara garis besar, Imam Ibnu Taimiyah tergolong ulama yang sangat ketat dan tidak mentolerir perbedaan apapun. Beliau bukanlah wahabi (sekte yang dinisbatkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah). Mengenai perayaan yang disyariatkan, menurut beliau wajib mengambilnya, namun mengenai hari-hari istimewa seperti hari kemenangan perang badar, perang Hunain, kemenangan pada perang Khandak, hari Fathul Mekkah dan sebagainya, menurut beliau tidak wajib diambil, demikian juga Maulid Nabi, namun merayakannya akan mendapatkan pahala disisi Allah.

    • Da,wah yang akan membawa kebaikan dunia akherat hanyalah manakala yang kita b. Dakwahkan AMALMAKRUF NAHIMUNGlKAR versii Al-Qur’an bukan versi selannya.Ingat sesuatu yang baik belum tentu benar. Hati-hati dengan kebiasaan yang bersifat tradisi belaka. Kita hidup hanya sekali, bila salah langkah sangat beresiko bagi kehidupan Akherat kita.

      –> Benar. Dakwahkan AMALMAKRUF NAHIMUNGlKAR versii Al-Qur’an bukan versi selainnya. Memberi fatwa dengan nama palsu, dan/atau memberi fatwa palsu jelas bertentangan dengan al Qur’an. Hati-hati lah dengan kelompok ini. Kita hidup hanya sekali, bila salah langkah sangat beresiko bagi kehidupan Akherat kita.

    • Tidak ada hadits yg menyatakan para sahabat memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Tradisi peringatan Maulid Nabi ini mulai ada pada zaman kerajaan Dinasti Fathimiyah yg beraliran Syi’ah. Nabi sendiri tidak ingin dirinya di-sanjung2,karena tak ingin diper lakukan seperti orang Nasrani yang membuat Hari Natal dan mempertuhankan Nabi Isa as. Mencintai Nabi adalah dengan cara me neladani semua ajaran dan Sunnah nya, bukan buat acara barzanji.dan makan – makan.

  36. Amalan dalam beribadah mesti PROPOSIONAL. Menambah amalan yang tidak terdapat pada Al-Qur’an dan Al-Hadis. Menurut saya mengandung ma’na menganggap Ajaran Alloh belum sempurna. Agar lebih aman dan tidak terjebak BID’AH proposional saja. Sempurnakan shof gak boleh acak-acakan, rapatkan barisan sholat jangan saling menjauh, kompakkan ruku’sujudnya jangan mendahului atau bersamaan dengan imam. Giatkan sunnah rawatib jangan sesepuhnya saja.

    –> Di sini, yang jelas2 bid’ah sesat adalah memberi fatwa dengan nama palsu, dan/atau memberi fatwa palsu. Jelas ini adalah amalan yang tidak terdapat pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Tak ada dalilnya. Maka seluruh fatwanya menjadi tidak syah dan si pemfitnah adalah si pembid’ah sesat itu sendiri.

    Agar lebih aman dan tidak terjebak BID’AH, maka jangan ikuti dan berhati-hatilah dengan kelompok pemberi fatwa bid’ah sesat ini. Gampang kan.

  37. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

    aduh para kiayi lagi debat nih ceritanya,
    nukil Hujjah sama dalilnya dari Syekh Google. ckck

    ini urusan para kiayi, ulama, Ustadz yang sanadnye jelas.
    kita berpegang pada fatwa mereka. kita belajar Penafsiran dari mereka, bukan dari google, atau kitab translate (belajarnye dikamar sendirian pula), ckck

    abis baca dikit, berfatwa, baca dikit lagi berfatwa lagi, baca dikit lagi, jadi ustadz dadakan, baca dikit lagi, jadi kiyai dadakan, ngatain orang syirik, baca dikit lagi, ngatain orang kufarat, sesat, musryik!!

    Semangat Mas Admin (orgawam.wordpress.com) :)
    Maaf ya bercanda nih :P

    Semoga kebahagiaan dan kesejukan Rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala menaungi hari-hari kita. Amin. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s